Itu Kan Lukisan Wajahku

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Misteri, Cerpen Penyesalan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 8 April 2014

Boleh jadi aku dibilang kegeeran atau apalah… Tapi, aku yakin banget profil wajah yang dijadikan model dari puisi yang dipajang di majalah dinding itu adalah profil wajahku… Coba lihat saja dari model rambut sampai tatapan matanya juga sama. Tatapan mata yang selalu terkesan ngantuk atau bahasa halusnya sayu, itu kan jelas-jelas milikku… Hati Puspita diam-diam menggelembung terlebih saat matanya tertumpu pada goresan nama sang empunya puisi yang ada lukisan wajahnya itu.. Andika… wuiss, jadi…?

Puspita segera ingat pada kejadian di kelasnya beberapa hari yang lewat, saat itu kelas berisiknya minta ampun persis pasar malam pas malam takbiran. Biasa pelajarannya Pak Tarigan, guru asal Medan yang terkenal paling sabodo sama tingkah murid-muridnya. Baginya yang terpenting adalah menyampaikan materi pelajarannya hari itu dengan tuntas, kalau karena kebengalan mereka murid-muridnya tidak tahu atau tidak menguasai materi yang diajarkannya hari itu. Ya, salah mereka sendiri… Mungkin begitu prinsip beliau…

Kejadian yang seperti itu sudah terlalu biasa, jadi jelas bukan Pak Tarigan, Akuntansi atau kelas yang seperti pasar malam yang membekas dalam ingatanku. Ada kejadian lain yang membuat jantungnya berdetak lebih cepat dari biasa, dan itu terjadi saat tanpa sengaja Puspita menangkap sepasang mata yang menatapnya dengan tatapan yang belum pernah dilihat seumur hidup di kelasnya tercinta itu…

Aneh… padahal kita sudah hampir 3 tahun sekelas, kenapa baru hari ini Puspita menyadari kalau Andi punya sepasang mata yang lembut namun tajam menghujam hingga mampu membuat hatinya gelisah dan salah tingkah begini… “Puspita…!” Entah berapa kali Pak Tarigan meneriakan namaku sampai sahabatku Ecie mencolekku “Hei, Pus… Suruh maju tuh…!” Busyet mati kutu banget deh aku… “Eh eh… saya pak?” tanyaku memastikan sambil berusaha mengusir kegelisahanku. “Iya, kamu…!” kata Pak Tarigan dengan dialek Medannya yang khas… Dengan langkah lemas aku maju ke depan kelas.

“Kamu kerjakan yang ini…” Pak Tarigan langsung menyodorkan buku di hadapannya, masih dengan gugup dan tangan yang terasa dingin aku menerima buku dan membaca soal yang ada di dalamnya. Duuhh, musti bisa nih, malunya kalau sampai ketahuan bego. Sama siapa lagi, kalau bukan sama si pemilik sepasang mata yang baru saja membuat jantungnya jadi berdebar-debar… Si Andi… Untung saja otakku lumayan encer, dan soal yang diberikan Pak Tarigan pun sudah sering diulangkan. Jadi selamat… sukses terbebas dari ketiban rasa malu…, lalu bisa membalikkan badan ke arah kursiku dengan hati yang plong, terlebih plong lagi saat mataku sekali bertemu dengan seyum manis Andi…

“Cie… loe tadi perhatiin nggak puisi yang ada lukisan muka ceweknya?” Tanyaku mencoba mengorek pendapat Ecie. “Yang mana…?!” “Itu lohh, puisi yang tadi ada di mading… yang dibikin sama si Andi…” kataku lagi mengajak Ecie untuk mengingat… Sejenak wajah Ecie mengerut… “Ohhh… itu, ya gue inget kenapa? Tapi gue yakin itu bukan dia yang bikin, paling-paling dia nyuruh orang untuk buat puisi sama lukisan itu…” Kata Ecie santai. “Masa si… Cie?” tanyaku dengan perasaan kecewa. “Ya iya lah… Andi bangor gitu, aneh aja kalau dia bisa bikin puisi sama lukisan secakep itu…” Lanjut Ecie dengan amat lancar. Kalimat Ecie makin membuat hatiku menciut.

Kalau diingat-ingat lagi, apa yang dikatakan Ecie memang tidak ada yang salah. Selama hampir 3 tahun sekelas dengan Andi aku juga tahu bagaimana reputasinya. Biang ribut, tukang bolos, slenge dan dia demennya itu sama olahraga, terutama volly sama basket… bukan bikin puisi atau melukis kaya yang ada di mading tadi. Terus ngapain juga dia repot-repot naruh puisi disitu Apa alasan, apa maksudnya dan buat siapa isi dalam puisi itu ditujukan. Mengingat kalimatnya yang berisi soal jatuh cinta. “Yaelah Pus… buat Sintalah, emang elo belum denger kalau Si Andi tuh udah lama naksir sama Santi?” Ucapan Ecie kembali mengaung di benaknya.

Akh… Tapi Santi juga bukan tipe cewek yang suka dengan hal yang berbau-bau puisi, dia itu lebih tertarik sama masalah mode, gaya rambut, sepatu, tas dan shoping ke mal baru dia minat. Kalau yang seneng sama nulis menulis, puisi, cerpen ya cuma aku. Makanya hampir tiap minggu pasti ada tulisanku yang nangkring di Mading sekolah, lagi pula kalau memang bukan Andi yang bikin puisi masih bolehlah.. tapi lukisan itu. Itu jelas-jelas lukisan wajahku, sebagai pemiliknya aku tentu saja amat mengenal setiap guratan dan detail dari wajahku sendiri… Terus Andi minta tolong siapa, kalau minta tolong tentu dia harus memiliki fotoku. Sedangkan selama ini aku nggak pernah akrab dengannya…

Begitulah aku terus memikirkan hal itu. Sampai tidak menyadari kalau tinggal menghitung jari saja keberadaanku dan teman-teman di Sekolah itu. Karena sebentar lagi kan UN… diam-diam ada perasaan sedih kalau harus membayangkan akan segera meninggalkan sekolah ini, pisah dengan teman-teman dan tidak bisa melihat atau ketemu Andi lagi. Padahal pertanyaanku belum terjawab, padahal hatiku lagi berbunga-bunganya… Duh… kenapa musti telat begini…

Siang itu selepas memberi cap jempol pada Ijazah aku mengajak Ecie sahabatku menuju ke ruang OSIS, sekolah sudah sepi karena sebagian siswa ada yang langsung pulang begitu selesai membubuhkan cap jempol. “Ada apa si Pus..” “Udah elo ikut gue aja, ntar juga elo tahu…” lalu dengan langkah bergegas aku menarik tangan Ecie biar bisa mengikuti irama langkahku. “Nin… tulisan-tulisan yang ada di Mading udah kamu ambil semua ya…?” tanyaku cepat begitu sampai di hadapan Nina. Sekretaris Osis kami. “Iya tuh… masih ditumpuk di mejanya Upay…” Mata Nina mengarah ke meja tempat Upay biasa duduk.

Kedua mataku pun dengan cepat mengarah dan menemukan benda yang sedang dicarinya. Iya… lukisan dan puisi milik Andi… Untuk sedetik jatungku kembali berdebar. “Nin…” Nina menoleh “Apa Pus, kok kamu kelihatannya gelisah amat?” Nina menatapku dengan tatapan bingung. “Ahh gak…, aku cuma mau bilang kalau aku… aku mau…” “Mau apa Pus?” “Mau… boleh nggak kalau… aku…” Mataku segera tertuju pada lukisan dan puisi milik Andi, yang begitu menggoda, dan memanggil hasratku untuk memilikinya sebagai kenang-kenangan. “Apaan si Pus…?!” pertanyaan Nina begitu cepat dan mengagetkanku. “Boleh gak kalau aku mau ambil puisi puisi milikku…” Akhirnya hanya kalimat itu yang keluar dari bibirku.

“Duhhh, Pus… Pus.. mau nanya gitu aja kok lama banget, ya bolehlah.. Udah itu kamu ambil sendiri ya” kata Nina ringan sambil meneruskan kegiatannya… Satu lagi kesempatan pikirku, Nina kelihatannya tidak begitu memperhatikan barang-barang yang ada di meja Upay. Berarti kalau kalau hanya kehilangan satu tulisan saja pasti dia tidak akan ngeh… Kembali, lukisan dan puisi milik Andi melambai-lambai dan menggodaku untuk kuraih. Tapi… Ecie? Ecie, kenapa malah jadi sibuk mengikutiku… Dan rasa malu mengalahkan niatku untuk meraih kertas itu… Aku takut dan malu, kalau Ecie sampai tahu apa yang ada di hatiku…Kalau aku jatuh cinta pada pemilik lukisan dan puisi yang membuatku jadi pura-pura penting untuk mengambil tulisan tulisanku…

Apa kata Ecie, kalau sampai dia mengetahui isi hatiku yang sebenarnya… Maluuu… Kenapa Musti malu Pus, toh besok kamu udah gak ketemu Ecie lagi… Hatiku berbisik penuh sesal, sesaat setelah meninggalkan ruang Osis… Padahal kalau tidak aku ambil, paling-paling nasib kertas itu cuma akan jadi penghuni gudang sekolah… Sebaliknya benda itu begitu berharga, padahal aku sampai bertahun-tahun masih terus mengingatnya…

Cerpen Karangan: Dytautamie
Facebook: Dytamie[-at-]gmail.com

Cerpen Itu Kan Lukisan Wajahku merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Apa Sih Cinta? (Part 3)

Oleh:
“Hargai cinta yang datang, agar tak ada penyesalan. Waktu terus berjalan tanpa kau sadari. Jadikan dia sebagai kenangan indah.” “Gue gak tau kenapa Vino kayak gitu.” bisik Chika, mereka

Phobia (Part 1)

Oleh:
Aku berjalan dengan gagahnya sambil memegang buku dan satu pulpen, menuju taman kecil di seberang kelas. Aku duduk sambil memandangi sekeliling dan berkata, “apakah tempat ini aman untuk membuka

Setoples Lidah Kucing

Oleh:
Manis. Gurih. Renyah. Lembut. Hidup yang gue alami rasanya mirip kaya kue lidah kucing. Kue kesukaan gue. Sejak gue masih ngemut jempol sambil lari-larian cuman pake kolor sampe sekarang

Bunga

Oleh:
Bunga, siapa yang tak kenal dia… tak ada yang mampu berkata tidak untuk perempuan cantik yang satu ini. Bibirnya yang indah menawan kaum lelaki, pipi lesungnya yang memikat roh-roh

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

2 responses to “Itu Kan Lukisan Wajahku”

  1. Amyrah Putri Hartanto says:

    Jadi ending nya si puspita ama andi apa gak?

  2. dyta.utamie says:

    kayanya ngga, soal pas abis tamat sms g pernah ketemu lagi…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *