James Alexander

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 7 June 2016

Mayat itu terbaring dengan kaku. Polisi masih mengumpulkan fakta dari kasus ini. Tuan Thomas Chang adalah pengacara yang cukup ternama. Dia juga telah memiliki perusahaan sendiri yang bergerak di bidang ekonomi. Namun pagi ini, ia ditemukan tewas bunuh diri di halaman belakang rumahnya sendiri dengan luka tusuk sambil memegang pisau di tangan kanannya. Dua detektif swasta, James dan Denny, berada di lokasi untuk menyelidik kasus tersebut. Sedangkan inspektur Lissa memeriksa keadaan si mayat yang membiru.

“Kematiannya sekitar lima sampai tujuh jam yang lalu.” Ujarnya. “ada luka tusuk di bagian perut dan memar di bagian dadanya.”
“Apa dia benar-benar dibunuh?” tanya Denny, rekan James sesama detektif.
“Bagaimana dengan pisau di tangannya? Bukankah jelas bahwa ini adalah kasus bunuh diri.” Tanya Daniel, anak lelaki tuan Chang.
Bukannya memperhatikan si mayat, James malah memperhatikan lokasi sekitar kejadian. “Boleh kupinjam penamu, tuan Daniel?” tanyanya pada anak tertua dari tuan Chang itu. Lalu James mencatat sesuatu di buku kecilnya dengan menggunakan pulpen tuan Daniel. “Ya, ini hanya kasus bunuh diri.” Sahutnya santai. Lalu dia berdiri dan hendak pergi meninggalkan mereka. Tapi anak perempuan dari tuan Chang menahannya.
“Tapi ayahku adalah orang yang bijaksana. Dia tidak mungkin melakukan hal yang sebodoh itu, tuan James. Dia tidak mungkin bunuh diri. Tolonglah bantu aku menyelesaikan masalah ini, tuan James.” Karista memohon dengan amat sangat.
“Aku akan berusaha semapuku.” Jawab James santai. Lalu dia pergi begitu saja. Denny tau persis watak sobatnya itu. mereka telah memecahkan banyak kasus bersama-sama. Denny yakin, dibalik wajah tenang James dia pasti menyimpan beberapa hipotesa.

Setelah James dan Denny kembali pulang, James langsung lenyap ke dalam rumahnya. Dan dia tidak ke luar seharian. Denny mendatangi rumahnya, bermaksud untuk mengajaknya minum teh bersama tapi ia mendengar suara benda jatuh dari kamar James.
“James, kau baik-baik saja?” tanya Denny sambil mengetuk pintu kamarnya.
“Sobatku, Denny, tenanglah. Kawanmu yang tercinta ini baik-baik saja.” Balas James dengan konyol.
“Sebagai tetanggamu aku hanya…”
“Jadi kau bukan temanku lagi?” potongnya.
“Baiklah, sebagai temanmu jujur saja aku peduli padamu.” Jelas Denny dengan sabar.
“Aku akan sibuk dalam beberapa hari ini, Denny. Pahamilah itu.” Balasnya.
“Baiklah, bocah tua. Nikmati masa pengasinganmu.” Balasnya dengan nada bercanda. Denny langsung meninggalkan rumahnya.

Dan James benar tentang perkataannya. Sudah tiga hari Denny tidak melihatnya ke luar rumah. Pembantunya bilang dia selalu pergi dan jarang sekali tidur akhir-akhir ini.
Tapi di suatu siang saat Denny sedang asik membaca. Bel pintu rumahnya berbunyi. Ia membuka pintu dan James berdiri di depan pintu lalu langsung menyerobot masuk begitu saja.
“Sudah bosan dengan rumahmu, James?” tanya rekannya itu
“Maaf, lama kita tidak bermain ya? Tapi Denny, ini penting. Aku akhirnya tau tentang misteri pembunuhan terhadap pengacara itu.” Katanya dengan semangat.
“Baiklah, jelaskan padaku, tuan detektif yang terhormat.” Balas Denny, menyindir.
“Aku memperhatikannya sejak awal. Aku sudah menarauh kecurigaan saat aku menemukan tetesan darah itu.” Katanya. Dan Denny sangat penasaran.
“Apa maksudmu. Siapa pembunuhnya, James?” desak Denny.
“Daniel Chang.” Jawabnya. Denny tercengang sambil mengerutkan keningnya. Ia kaget dengan analisa rekannya itu. Bagaimana mungkin tuan Chang dibunuh oleh anak lelakinya sendiri?
“Bagaimana mungkin James?” tanya Denny.
“Pertama, dari kata-kata yang dilontarkan dua anak itu. Daniel dan Karista. Mereka menyatakan pendapat yang berlawanan. Daniel menyatakan bahwa ayahnya kemungkinan bunuh diri. Sedangkan adiknya, Karista, memohon padaku untuk menemukan pembunuhnya. Bukankah itu aneh, Denny?” jelasnya.
“Ya, lumayan.” Balas Denny. Masih dengan rasa tidak percaya.
“Karista memohon padaku seolah dia yakin akan pembunuhnya. Tapi dia berpura-pura seakan tidak tau apa-apa. Dan disinilah hipotesa pertamanya. Daniel membunuh ayahnya dan memaksa adiknya untuk bungkam. Tapi noda darah dan memar itu sangatlah ganjil.” Ujarnya dengan tampang yang sangat serius.
“Apa yang ganjil, James?” tanya Denny yang masih tidak paham.
“Kemana saja kau? Apa saja yang kau selidiki? Seharusnya kau membantuku, Denny. Tidakkah kau perhatikan noda darahnya? Nodanya hanya ada di sekitar luka tusuk sementara tangannya bersih.”
“Maaf kawan, habis kau paling tidak bisa diajak bertukar pikiran. Tapi kau benar. Kalau dia bunuh diri paling tidak ada setetes noda darah yang menempel pada tangan atau jarinya. Berarti setelah pisau itu ditusukan ke perut korban, pisau itu lansung dicabut dan ditaruh di tangan korban lalu menimbulkan kesan seolah ini adalah kasus bunuh diri.” Ujar Denny, dan ia mulai paham akan titik terang kasus ini.
“Tepat. Dan aku justru menemukan noda darah di tempat lain. Aku menemukan tetesan darah sekitar satu sampai dua meter dari lokasi mayat ditemukan. Dan ada fakta lain. Aku menemukan noda kedua di saku kemeja Daniel. Aku melihat setitik noda darah itu ketika dia mengeluarkan pulpennya dari saku kemejanya yang tertutup oleh jas. Kedua noda tersebut pasti saling berhubungan. Noda darah itu pasti berceceran ketika si pelaku menyeret atau membopong si korban setelah selesai ditusuk.” Jelas James.
“Hebat, James. Aku juga memiliki kecurigaan tentang luka memar yang ada di dada si korban. Itu adalah luka pukul. Korban ditemukan dalam posisi berbaring telentang sedangkan memarnya ada di dada. Kalau memar itu memang disebabkan karena jatuh seharusnya memarnya ada di sekitar punggung bukan dada.” Jelas Denny yang semakin penasaran.
“Tepat sekali, sobat. Si korban dipukul sebelum dibunuh. Ketika dia hendak lari, si pelaku langsung menusukan pisaunya keperut si korban.” Tambah James.
“Lalu apakah kau sudah memberi tau inspektur Lissa tentang ini?”
“Pagi-pagi tadi aku sudah ke kantornya untuk menunjukan beberapa data yang kutemukan seputar keluarga si korban. Dan sebagai bonus, aku juga telah mendapat saksi atas analisisku ini.” Katanya dengan bangga.
“Oh ya? Siapa?” tanya Denny.
“Pembantu yang bekerja di rumah tuan Chang. Aku menyelidiki rumah si pengacara kemarin. Pembantunya menuturkan bahwa memang sudah lama dia berselisih dengan ayahnya soal perusahaan. Bahwa dia sangat menginginkan jabatan yang tinggi di perusahaan ayahnya. Dan diketahui juga bahwa dia begitu semenjak ibunya meninggal dua tahun lalu.” Jelasnya dengan serius.
“Jadi selama beberapa hari ini kau sibuk dengan bepergian untuk menelusuri kasusmu? Baiklah, James. Lalu apa selanjutnya?” tanya Denny dengan santai.
“Liburan. Kita butuh liburan, Denny.” Ujarnya sambil menepuk pundak Denny dan pergi begitu saja dari rumahnya seperti biasa. Denny hanya bisa menggelengkan kepala melihat keseriusan dan kekonyolan sobatnya itu.

Keesokan paginya Denny datang bersama James ke rumah tuan Chang. Inspektur dan beberapa polisi sudah di rumah tuan Chang untuk menangkap tersangka. Karista memandangi Daniel, kakaknya, yang sedang dibawa dan diringkus oleh inspektur dan anak buahnya.

“Selamat atas terpecahnya kasus kalian, tuan-tuan.” Ucap inspektur dengan senyuman bangga. Lalu lanjut menggiring si pelaku. Denny dan James hanya tersenyum simpul melihat wajah Daniel merah padam.
“Terima kasih tuan James, tuan Denny, karena telah membantu saya. Kakak saya memang selalu membenci ayah saya. Karena dulu sewaktu ibu kami masih hidup, ayah dan ibu selalu bertengkar dan seringkali memukul. Mungkin kakak saya membunuh ayah saya untuk membalas rasa sakit hatinya. Saya tidak berani terus terang karena bagaimanapun saya menyayangi kakak saya. Tapi ayah saya tetaplah ayah saya.” Jelas Karista dengan wajah yang begitu sedih. Sekarang dia kehilangan ayah, kakak, dan ibunya sekaligus. Tapi Denny segera menyingkirkan suasana duka itu.
“Hey, James. Kau kan sudah janji kita akan liburan.” Kata Denny sambil menyenggol lengan James.
“Oh, ya? Aku lupa soal itu.” Lalu seperti biasa dia pergi begitu saja. Kali ini dia pergi dengan menunjukan seringainya yang membuat Denny gusar memandangi sobatnya itu.

Cerpen Karangan: Marita Libranis
Facebook: Marita Libranis

Cerpen James Alexander merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sarinah (Last Part)

Oleh:
Audy, Andre dan July memalingkan pandangannya kearah kanan mereka begitu terlihat ada seberkas cahaya dan bayangan seseorang dari arah dapur. Mbok Surti berjalan pelan-pelan, tangan kanannya memapah Mbah sarinah

Memecahkan Misteri (Part 2)

Oleh:
Lanel, si murid baru nan misterius, mengalahkan kehebatan semua orang pandai di kelasku. Itu membuat kami curiga lalu kami mulai melakukan penyelidikan. Dan kami temukan antena, dua buah baterai

Novel Berdarah

Oleh:
Aku sedang duduk santai di teras rumah setelah menyelesaikan tugas bersih-bersih rumah yang diberikan orangtuaku sebelum pergi ke rumah Paman Wiko. Bibi Nur datang sambil membawa secangkir kopi panas

Sang Miliuner

Oleh:
Pernahkah kau bermimpi untuk menjadi dirimu sendiri? Pernahkah kau merasa tidak sanggup membedakan antara esensi diri dan batas imajinasi? Kutenggak kaleng b*r kedua yang kubeli sore ini. Setelah pulang

Misteri Seorang Gadis

Oleh:
Everyday is holiday. Maha, Aryo, Dani, Yuli, dan Vita mengawali liburan sekolah mereka dengan menginap di villa dekat perkebunan kopi milik orang tua Aryo. Mereka sengaja membangun villa itu

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *