Jiwa Kedua

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 17 April 2016

Suara yang ditunggu-tunggu akhirnya berbunyi, suara bel tanda pulang sekolah. Akhirnya pelajaran akuntansi 5 jam berakhir. Ku langkahkan kakiku ke musala sekolah, mengambil wudu lalu menghabiskan waktu berlama-lama dengan membasuh mukaku berulang kali. Aku menyalakan kipas angin dan salat asar di bawah kipas angin gantung itu. Suasana musala tampak sepi, hanya ada sedikit murid yang salat asar di sekolahan karena rumah mereka jauh sepertiku. Entah mengapa saat melewati rumah sakit Siti Khotijah di seberang jalan, sepedaku terasa berat. Aku tengok ban sepedaku tidak gembes, “Mungkin efek cape.” Pikirku positif. Seekor capung hinggap ke keranjang sepedaku. “Hush!” Aku mengusirnya, namun ia tetap di situ. Ku biarkan ia tetap di situ hingga ia menghilang dengan sendirinya.

Sesampainya di rumah, aku segera mandi, makan, lalu salat maghrib. Hari-hariku sangat melelahkan, aku harus mengayuh sepedaku 10 km untuk sampai ke sekolah, jika dihitung, aku bersepeda 20 km setiap harinya, yang membutuhkan waktu sekitar satu jam. Kebetulan besok hari minggu, aku bisa tidur lama-lama setelah salat subuh dan bangun agak siang untuk menghilangkan rasa cape. Sepertinya hujan akan segera turun, aku harus segera menyapu halaman rumah dan membakar sampahnya sebelum hujan turun. Ku ambil sapu lidi dan mulai menyapu. Tiba-tiba kepalaku terasa berat, pusing, pandanganku kabur dan aku terjatuh. Saat aku terbangun, aku sedang duduk bersandar di bawah pohon sawo sebelah tempat sampah.

“Kok aku di sini sih, aku kan tadi sedang menyapu terus jatuh.” Aku mengecek halaman, ternyata halaman sudah bersih. “Mungkin tadi Ibuku yang meneruskan menyapu karena melihatku terjatuh lalu menyandarkanku pada pohon sawo itu.” Pikirku positif. Aku pergi ke dapur korek untuk membakar sampah.
“Bu, koreknya aku ambil ya.”
“Ya, itu di atas meja.”
“Tadi ibu yang nerusin menyapu halaman ya?”
“Lah, kan kamu yang nyapu, dari tadi Ibu di sini kok, kamu kan yang nyapu sampai selesai, Ibu lihat dari sini.”

Mendengar jawaban ibuku aku jadi merinding. Ternyata aku menyapu sampai selesai. Aku mencoba berpikir positif, dan lucunya tidak ada jawaban yang tepat. Ku lanjutkan pekerjaanku yaitu membakar sampah. Kepalaku kembali pusing, dan aku terjatuh lagi. Lagi-lagi setelah aku tersadar aku sudah berada di aktivitas yang berbeda, seperti tidak terjadi apa-apa, tiba-tiba aku sedang makan. Ibu menepuk pundakku.

“Ka, kalau makan jangan sambil merem gitu.”
“Emang aku merem ya Bu?”
“Duh, anak Ibu sudah mulai pelupa ya, tadi kamu merem agak lama terus melek lagi.”
Deg! jantungku serasa berhenti berdetak. Sepertinya ada jiwa kedua yang menguasai tubuhku, dan mengambil alih ragaku dengan mudah.

Cerpen Karangan: Eka Wahyuni
Facebook: Eka Geminius

Cerpen Jiwa Kedua merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ketukan Misterius

Oleh:
Teett.. suara klakson bus berbunyi karena ada sebuah sepeda motor ugal-ugalan hampir menyerempet bus yang ku naiki. “Huuuhh untung aja gak apa-apa,” celoteh ibu-ibu yang duduk di belakangku. “Iya

Pucuk Kemuning

Oleh:
Pulang kerja Burkat segera memacu sepeda motornya dengan kencang, maklum dia ingat kalau hari ini dia hampir melewatkan janji untuk mengantar istrinya pergi melihat pasar malam di lapangan dekat

Park

Oleh:
Namaku Vany. Aku tinggal di sebuah perumahan di kota. Di perumahanku itu terdapat sebuah arena taman bermain milik seorang pengusaha bernama Alicca. Namun orang-orang tidak berani datang kesana apalagi

Hanya Cerita Sesaat (Part 2)

Oleh:
“Apa itu?” tanya Mieko kemudian ia menyeruput kuah mie. “Bukan apa apa. Apa itu lezat?” aku balik bertanya pada Mieko. Lalu kumasukkan jepit rambut yang kumainkan ke dalam saku.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *