Keabadian Cinta

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Misteri, Cerpen Pengorbanan
Lolos moderasi pada: 16 December 2015

“Aku sayang sama kamu,” ucap Kak Vincent perlahan dengan tatapan penuh kesungguhan.
“A..a..akuu,” perkataanku dihentikan oleh jari telunjuk Kak Vincent yang menempel di bibirku.
“Kamu nggak perlu jawab apapun, karena aku juga nggak nembak kamu. Aku cuma mau mengutarakan perasaan aku sama kamu aja,” kata Kak Vincent lalu berjalan hendak meninggalkanku di lorong sekolah.
“Kak Vincent! Tunggu! Aku juga sayang sama Kakak,” kataku yang sempat membuat Kak Vincent diam di tempatnya. Tanpa menengok, ia pun meneruskan perjalanannya.

Aku dan Kak Vincent memang sudah lama dekat, tapi awalnya hanya sebatas Kakak adik biasa saja. Saat kami dekat pun, Kak Vincent juga sudah punya pacar, namanya Kak Sasha. Mereka putus 6 bulan yang lalu dengan alasan yang masih dirahasiakan Kak Vincent dariku. Yah seiring berjalannya waktu, aku dan Kak Vincent semakin sering ngobrol dalam chat maupun istirahat bersama karena kebetulan waktu istirahat anak kelas XI dan XII sama.

Entahlah, sebenarnya aku adalah seorang pribadi yang dari dulu tidak pernah merasakan atau pun mengerti yang namanya “cinta”. Namun semenjak dekat dengan Kak Vincent, aku mulai merasakan sesuatu yang berbeda. Awalnya aku tak terlalu cepat menyimpulkan bahwa yang aku rasakan ini adalah cinta. Aku bercerita kepada teman curhatku tentang hal ini dan dialah yang mengetahui hal itu pertama kali.

“Ah itu mah namanya cinta Clara! Kamu mah polos banget sih,” kata Vera sambil menepuk punggungku.
“Oh, itu cinta yah?” tanyaku sedikit ragu.
“Iyalah!” jawab Vera yakin.

Aku sebenarnya belum terlalu yakin bahwa yang aku rasakan ini adalah cinta. Pasalnya, aku tidak mengalami hal-hal layakanya orang yang sedang jatuh cinta. Aku sempat diceritakan oleh Vera rasanya jatuh cinta. Katanya, saat seseorang sedang jatuh cinta, dia akan memikirkan orang yang dicintainya setiap saat dan selalu ingin dekat dengannya. Nah kalau aku? Aku bahkan lupa tanggal ulang tahun Kak Vincent. Aku juga sering menolak ajakan Kak Vincent untuk pergi berdua, baik nonton konser maupun hanya sekadar makan malam. Aku merasa tidak nyaman saja jika hanya pergi berdua. Ah, aku semakin bingung. Apa sih cinta itu?

“Ma, Clara pulang,” ucapku saat membuka pintu rumah.
“Eh, princess Mama udah pulang,” sahut Mama setelah mendengar ucapanku.
“Ah, Mama bisa aja deh. Ya udah Clara langsung mandi ya ma, terus mau belajar nih ulangan Biologi sama Matematika besok,” kataku dengan terus berjalan dari ruang tamu menuju tangga lantai 2.
“Eits, makan dulu sayang,” ujar Mama tersenyum dengan bibir merah manisnya.
“Ah, iya ma entar aja, tadi Clara udah jajan sebelum pulang ke rumah,” jawabku sambil menaiki anak tangga.

Aku menaruh tasku di dekat rak buku dan bergegas menyiapkan pakaian gantiku setelah mandi. Tanpa menyia-nyiakan waktu, aku mandi lalu melanjutkan kegiatanku dengan belajar. Aku memang sudah terbiasa melakukan hal ini setiap harinya. Setelah selesai belajar, aku membuka handphone dan Kak Vincent sudah meneleponku sebanyak 10 kali. Dia juga mengirimkan pesan via media sosial. Aku merasa risih. Aku tak mengerti mengapa aku merasakan hal ini. Tapi yang jelas, aku tidak suka saja ditelepon sebanyak ini dan yang paling membuatku merasa risih adalah ketika aku membaca salah satu pesannya bertuliskan “I Love you.” Aaahhh.. aku benar-benar bingung. Mengapa aku malah merasa tidak nyaman dengan semua ini? Lalu mengapa tadi di sekolah aku mengatakan bahwa aku juga sayang padanya?

Jam wekerku mulai berbicara, pertanda waktu menunjukkan pukul 5 pagi. Aku mengucak mataku dan terdiam. Aku pun tersadar bahwa aku tertidur semalam. Handphone yang ku letakkan di samping bantal tiba-tiba bergetar. Aku membuka handphone-ku dan melihat beberapa pesan dari Kak Vincent yang berhasil membuat mood-ku rusak total. Bayangkan saja, masih pagi begini Kak Vincent memarahiku karena aku hanya membaca pesan-nya semalam. Ditambah lagi beberapa emoticon menyebalkan yang dikirimnya. Aku membuang handphone-ku ke kasur dan bergegas mandi. Aku tak peduli dengan pesan yang dikirim Kak Vincent.

“Ma, Clara berangkat sekolah dulu, ya,” ucapku kepada Mama sebelum pergi ke sekolah.
“Eits, wait,” kata Mama mencegah langkahku.
“Kenapa ma?” tanyaku heran.
“Nanti pulang makan di rumah ya, no jajan!” jawab Mama memperingatkan.
“Oke ma, tenang aja kalau itu mah,” balasku.

Aku masuk ke dalam mobil dan menikmati suasana sepanjang perjalanan ke sekolah. Belum terdengar suara kendaraan bermotor yang bising dan mengganggu telinga. Cahaya matahari pun belum terlalu terik sehingga masih memanjakan mata yang memandangnya. Getaran dari handphone-ku seakan merenggut segalanya. Kenyamanan yang baru saja ku rasakan hilang seketika. Aku teringat akan pesan dari Kak Vincent. “Huh, malas ah buka handphone, paling juga Kak Vincent yang marah-marah lagi,” gumamku dalam hati. Yah meski begitu, akhirnya aku mencoba mencari penyebab getaran handphone-ku. Ternyata, dugaanku salah. Ini bukan pesan dari Kak Vincent, tapi dari Rio, teman sekelasku. Aku memang cukup dekat dengannya. Kami sering belajar bersama dan kadang bertukar cerita. Rio menjabat sebagai ketua kelas di kelasku. Ia sangat tegas dan berwibawa dalam memimpin.

Rio :
“Selamat pagi, Clara! Hari ini aku belum bisa masuk sekolah nih, masih agak pusing, hehehe. Tapi tenang aja, besok pasti masuk kok. Oh ya, aku mau nanya, kira-kira aku ketinggalan catatan apa aja yah? Aku boleh pinjam catatan kamu nggak? Makasih.”
Clara :
“Selamat pagi juga, Rio! wah.. get well soon ya Ri. Emm.. kamu banyak ketinggalan beberapa catatan penting sih, gini aja, bagaimana kalau nanti sepulang sekolah aku ke rumah kamu membawa beberapa catatan? Sekalian aku jenguk kamu.”

Rio :
“Nggak ngerepotin Ra?”
Clara :
“Ya nggak lah! Kamu kan sahabat aku!”
Rio :
“Emm ya udah deh, thank you so much ya Ra!”
Clara :
“You’re welcome Rio!”

“Pak, nanti pas pulang sekolah, kita ke rumah Rio dulu ya,” ucapku pada Pak Dedi, sopir yang sudah mengabdi pada keluargaku selama 10 tahun terakhir.

Aku turun dari mobil dan berjalan menyusuri lorong kelas dengan mengendap-ngendap. Hihihi, keisenganku mulai datang. Aku hendak mengangetkan Vera yang sedang duduk melamun di bangku depan kelas. Vera sedang menatap suatu foto tanpa menengok ke arah manapun. Saat aku sudah dekat dengannya, aku pun mengambil foto itu. Betapa terkejutnya aku setelah mengetahui bahwa itu adalah foto Kak Vincent. Vera langsung berdiri dan merebut foto itu dari genggamanku.

“Ra, dengerin aku, ini semua nggak seperti apa yang kamu bayangin,” ucap Vera dengan wajah panik. “Aku tadi lihat foto Kak Vincent cuma buat.. emm.”
“Udah kamu tenang aja, aku nggak marah kok. Lagi pula, aku juga nggak punya hak untuk marah. Toh aku juga bukan siapa-siapanya Kak Vincent,” jawabku sambil menepuk pundak Vera.
“Beneran kamu nggak marah Ra?” tanya Vera kurang yakin.
“Bener Vera sahabatkuuu,” kataku sambil tersenyum.

Teng! teng! teng! Bunyi bel sekolah pertanda waktunya masuk kelas. Aku mengajak Vera masuk kelas dan mencocokkan beberapa jawaban PR matematika. Tak lama berselang, pak Andi datang ke kelas dengan membawa beberapa tumpukan kertas. Rasanya, tumpukan kertas itu tak asing bagiku. Benar saja, itu adalah hasil ulangan matematika minggu kemarin. Pak Andi memang paling cepat memeriksa ulangan jika dibandingkan dengan guru lainnya, namun ia juga terkenal guru yang pelit nilai. Salah sedikit saja langsung minus point banyak. Ia juga tak pernah memberi nilai andalan para siswa jika tak tahu harus menjawab apa, “upah menulis”.

“Kali ini saya sangat kecewa dengan kalian. Mengapa nilai ulangan kalian sebagian besar merah? Apakah kurang jelas materi yang saya terangkan di papan? Kalau kalian memang merasa materi yang saya terangkan kurang jelas, bertanya saja. Saya tidak akan marah kok. Bagi kalian yang mendapat nilai di bawah 65, remedial akan dilaksanakan minggu depan,” kata Pak Andi dengan kekecewaan yang tersirat di wajahnya. Jantungku berdetak kencang. Aku khawatir dengan nilai ulanganku. Aku menarik napas dan mencoba menenangkan diri, namun teteap saja tidak bisa. Aku mendengar suara Pak Andi menyebutkan nama temanku yang nomor absennya berada di bawahku.

“… Anastasia 45, Billy 70, Clara 90,…” aaaa.. Hatiku lega rasanya. Untung saja tidak merah, kalau tidak Mama bisa mengurangi uang jajanku. Setelah selesai membacakan semua nilai, pak Andi mengajar materi baru. Yah seperti biasalah, aku mengantuk saat pak Andi menjelaskan materi di depan. Entah, gaya biacaranya seolah menghipnotis orang yang mendengarnya, belum lagi didukung oleh suasana yang sunyi.
“Hoamm,” suaraku menguap.
“Clara! Kamu nggak sopan ya! Sekarang juga kamu di luar sampai jam pelajaran saya selesai!” kata Pak Andi marah.
“Ii..iya maaf pak,” kataku sambil berjalan ke luar kelas.

Di tengah kesuntukanku, aku memutuskan untuk berjalan-jalan keliling sekolah. “Yah, pak Andi tidak akan tahulah yah!” pikirku. Aku turun ke lantai 1 dan memastikan tidak ada guru maupun siswa lain di lorong. Setelah keadaan aman, aku mulai melangkahkan kaki melewati beberapa ruangan di lantai itu. Tiba-tiba aku mendengar suara seseorang yang berteriak dari ruangan yang baru saja ku lewati, ruang guru. Suara teriakan itu terdengar seperti suara bu Vivi, guru fisika di sekolahku.

Dengan cepat aku meraih gagang pintu ruang guru dengan maksud untuk memastikan apa yang terjadi di dalam. Aku membuka pintu itu dan terkejut melihat bu Vivi sudah tergeletak di lantai dengan darah yang terus mengalir dari kepalanya. Aku juga melihat seorang pria bertopeng dengan linggis yang penuh darah. Aku tak tahu apa yang harus ku lakukan. Aku hanya menatap mata pria itu dengan penuh ketakutan. Pria itu lalu mendekatiku dan berkata, “Gue rasa, cuma lo yang tahu hal ini, dan lo bakal tetap jadi satu-satunya orang yang tahu kan?”
Pria itu menaikkan linggisnya di depan wajahku.

“Iiii..yaa,” ucapku terbata-bata.
“Anak pinter,” pria itu tersenyum lalu memasukkan linggisnya ke dalam tas. Ia berjalan beberapa langkah ke luar dari ruang guru dengan ucapan peringatan, “Oh ya, gue rasa lo tahu akibatnya kalau hal ini tersebar.” Pria itu pun langsung berlari secepat kilat melewati satpam sekolahku yang ketiduran.
Aku menutup pintu ruang guru dan berlari ke kelas. Pak Andi baru selesai mengajar saat aku sampai di depan kelas dengan napas yang terengah-engah. Pak Andi menghampiriku dan bertanya,
“Apa yang terjadi? Mengapa kamu terlihat seperti ketakutan begitu?”
“Tidak ada apa-apa, pak,” jawabku sambil merundukkan kepala.
“Baiklah, jangan lupa tanya temanmu tentang PR yang saya berikan hari ini,” kata Pak Andi.
“Iya pak,” sahutku.

Aku masuk ke dalam kelas dan langsung duduk di kursiku. Tanpa disadari, keringat dingin membasahi tubuhku. Aku terus teringat akan perkataan pria itu. Tak lama terdengar suara mobil ambulans dan mobil polisi. Anak-anak berhamburan ke luar hendak mengetahui apa yang terjadi, kecuali aku. Aku tinggal sendirian di kelas ditemani penyesalan yang amat dalam. Andai saja aku tetap diam di luar kelas, mungkin aku tidak akan melihat hal itu. Aku juga tidak akan pernah bertemu dengan pria itu. Andai saja. Sehubungan dengan kejadian itu, seluruh siswa dipulangkan lebih awal. Aku masuk ke dalam mobil dan tak bisa berhenti mengingat kejadian tadi. Perasaan bersalah dan takut seolah terus mengejarku.

“Non, kita jadi ke rumah temennya non?” tanya Pak Dedi sambil melihat wajahku dari kaca depan mobil.
“Non? Kok diam saja? ” Pak Dedi pun sedikit mengeraskan suaranya.
“Non Clara, kita jadi ke rumah temennya non?”
“Eh iya pak, jadi. Bapak sudah tahu kan rumahnya,” jawabku pada Pak Dedi.
Aku pun sampai di depan rumah Rio. Aku mengetuk pintu dan kebetulan Riolah yang membukanya.

“Loh, Clara? Bukannya sekarang belum waktunya pulang sekolah ya?” ucap Rio heran. “Ayo masuk,”
Aku duduk di sofa ruang tamu dan Rio juga duduk di sampingku.
“Ada apa Ra? Kok dari tadi kamu diam aja sih? Terus kok kamu pulang sekolah jam segini? Ada apa sih sebenarnya? Ra, ayo jawab. Jangan diam saja, kau membuatku semakin bingung,”
“Sesuatu yang mengerikan baru saja terjadi di sekolah,” kataku.

“Mengerikan? Sesuatu apa?” tanya Rio semakin penasaran.
“Bu Vivi sepertinya…” Kelopak mataku tak sanggup lagi menahan air mata yang mendorong ke luar. Aku pun menangis.
“Bu Vivi sepertinya apa? Ayo Ra kasih tahu aku,” ucap Rio memaksa.
“Meninggal,” jawabku diiringi isak tangis yang semakin kencang.
“Hah? Gimana ceritanya?”

Di saat inilah aku tak tahu harus menjawab apa. Aku ingin sekali menceritakan semuanya pada Rio, tapi bagaimana kalau pria itu mengetahuinya? Bisa jadi bukan hanya aku yang terancam bahaya, tapi Rio juga. “Ra? Kok melamun sih? Ayo ceritain,” kata Rio.
“Aaaku.. nggak tahu,” ucapku tak berani memandang Rio.
“Ra, kita tuh dah temenan dari lama. Aku tahu kalau kamu sekarang lagi bohong. Ada apa sih Ra? Kenapa kamu bohong?”
Aku pun menceritakan semua yang terjadi pada Rio. Setelah mengetahui apa yang terjadi sebenarnya, Rio memaksaku untuk menceritakan hal itu pada polisi. Meski awalnya aku enggan untuk melakukan hal itu, namun Rio menyadarkanku akan pentingnya penegakan keadilan bagi bu Vivi.

“Jangan takut Ra, kamu harus mengungkapkan kebenaran itu. Tenang aja, aku bakal temenin kamu,” kata Rio menenangkanku.

Dalam perjalanan menuju kantor polisi, tiba-tiba ada sebuah mobil besar yang menghadang mobilku. Aku sama sekali tak mengenali mobil itu. Tak lama turun beberapa orang yang seram dan berbaju hitam dari mobil itu. Salah seorang dari mereka mengetuk kaca dekat Pak Dedi dan memaksa untuk membuka pintu atau mengancam akan memecahkan kaca dengan kayu. Pak Dedi pun terpaksa membuka pintu dan turun dari mobil. Mereka memukuli pak Dedi hingga lemas dan tak sanggup berdiri. Rio pun berusaha untuk melawan mereka, namun ia kalah dan pingsan. Mereka membawa paksa aku dan Rio ke suatu gudang tua.

“Vera! Kamu lihat Clara nggak? Dari tadi aku nunggu dia di depan gerbang,” kata Kak Vincent pada Vera yang baru saja lewat di depannya.
“Loh, Clara mah sudah dijemput dari tadi kak. Coba saja telepon handphone-nya,” jawab Vera.

Aku diikat dengan kursi dalam gudang itu sedangkan Rio hanya digeletakkan di lantai. Di tengah ketakutan dan kebingungan yang melanda, handphone dalam kantung saku rokku berbunyi. Orang-orang seram itu sedang berada di luar gudang. Dering handphone-ku selesai dan aku masih tidak dapat melepaskan tanganku. Aku terus berusaha sampai tali itu pun kalah. Aku membuka handphone-ku dan menelepon Kak Vincent. Aku menceritakan semua yang terjadi secara singkat dan memberitahunya tentang keberadaanku sekarang. Tiba-tiba handphone-ku ditarik dari genggamanku. Aku didorong oleh seorang pria bertopeng. Tunggu. Topeng itu.. Aku mulai menyadari bahwa dia adalah orang yang bertemu denganku tadi, pembunuh bu Vivi.

“Gue udah bilang sama lo, jangan sampai ada orang lain yang tahu selain lo! Tapi apa? Lo nggak dengerin kata-kata gue!” ucap pria bertopeng itu.
“Keadilan harus ditegakkan!” sahutku dengan berani.
“Gue nggak peduli! Apa gunanya keadilan buat orang penyebab ketidakadilan? nggak ada gunanya!” kata pria itu dengan sedikit tertawa.

Perkataan pria itu membuatku mereka-reka alasannya membunuh bu Vivi. Tapi siapa pria itu?
“Lo harus mati. Gue nggak mau ada orang lain yang tahu lagi,” Pria itu mengeluarkan linggis dari dalam tasnya.
“Hem.. tapi enakan yang mana dulu ya? kalau temen lo duluan gimana?”
Rio pun mulai sadar. “Ra, ada apa?” tanya Rio sambil memegang kepalanya.
“Udah nggak ada waktu lagi, minggir lo!” sahut pria itu mengangkat linggisnya.
“Engggaaaakk!!” teriakku keras.

Aku mendengar suara kesakitan dalam kejapan mataku. Aku yakin ini bukan suara Rio. Lalu suara siapa? Aku membuka mataku dan melihat Kak Vincent dengan kepalanya yang berdarah.
“Kak?” air mataku mulai berlinang. “Kakak ngelindungin aku?”
“Aku akan selalu melindungi orang yang aku sayang, Clara. Aku sayang sama kamu,” kata Kak Vincent sebelum memejamkan matanya.
“Vincentttt..!!” Pria itu membuka topengnya. “Maafin Papa sayang, Papa nggak sengaja,” ucap pria itu sembari menangis.

Semenjak kejadian itu, aku menyadari betapa pentingnya arti sebuah cinta. Cinta tak pernah memilih di mana dia bersemi dan berlabuh. Dia juga tidak pernah memaksa dan menuntut. Dan aku telah menemukan orang yang ku cintai, Kak Vincent. Satu hal yang ku sesali, aku menyadarinya saat aku kehilangannya. Tidak. Aku tidak kehilangannya. Cinta itu akan terus hidup dalam hatiku.
“Mengapa Anda membunuh saudari Vivi?” tanya polisi pada Ayah Kak Vincent.
“Karena dia adalah orang yang paling saya benci, mantan istri saya,”

SELESAI

Cerpen Karangan: Dea Faustine
Facebook: Dea Faustine

Cerpen Keabadian Cinta merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Bayangan Yang Hilang

Oleh:
Cahaya gelap kebiruan menembus kaca jendela kamarku. Kelopak mata yang masih melekat erat, aku paksa untuk membuka. Perlahan aku mencoba membuka kedua kelopak mataku, tatapan mataku tertuju ke arah

Tak Harus Memiliki

Oleh:
Satu yang aku tahu. Aku tak pernah suka tempat ini. Tempat di mana kakiku sedang berpijak saat ini. Entah mengapa kesan buruk selalu terlintas di pikiranku saat aku mendengar

Cinta Karin

Oleh:
Cinta bukan sekedar hasrat ingin memiliki kecantikan nya atau apapun yang dimilikinya dalam bentuk sempurna. Cinta berawal dari hati yang keluar tanpa sadar telah menyentuh sisi terbaik dalam menyampaikan

Terjebak Nostalgia

Oleh:
Hari itu sangat panas. Nazwa berlari menuju rumahnya sepulang sekolah. Di tengah perjalanan, ia bertabrakan dengan seorang lelaki bertubuh lebih tinggi darinya. “Aduhh!!” sahut Nazwa. “Ma… maaf.” sahutnya. “Aku

Melihat Bulan Menggantikan Sunset

Oleh:
Badan yang kurus kering, mengenakan baju biru yang kusut dan celana panjang dengan rambut yang sudah memutih dan mata yang sipit, sendu memandang ke arah lautan. Seolah ini adalah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *