Letter

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Korea, Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 28 September 2017

Lagi, lagi lagi ada. Sampah apa yang telah orang kirimkan padaku. Kubuka dan kubaca lalu kuremas dan kuhempas. Siapa sih dia itu, fans atau haters. Walau baru dua kali mengirim surat, dia sudah berhasil membuatku terhimpit kebimbangan. Hari setelah hari kemarin selembar kertas putih sudah tergeletak di depan kaca. Kubuka, kulihat, ku tak bisa membacanya.
“Tulisan macam apa ini?” gumamku. Tulisannya lebih jelek dari jejak kaki ayam. Tapi bukan masalah kaki ayam atau sejelek apa tulisannya. Dari mana? Dari mana datangnya. Hal yang lebih membuatku takut adalah tinta yang ia gunakan. Baunya aneh, tapi aku suka. Warnanya merah, merah sekali seperti darah ayam. Walau jelek tapi seperti seni tulisan china. Kuletakkan lagi.

Dan hari ini ada lagi. Kali ini lebih panjang dari sebelumnya. Yang sebelumnya hanya bertulis ???. Dan kini lebih mudah kumengerti, itu huruf hangeul. Aku pernah mempelajarinya, karena sampai sekarang aku masih mendengar dan membacanya. Walau aku tau huruf huruf hangeul tapi aku tak tahu arti dari setiap kata hangeul yang ia tulis. Sudah berulang kali kutranslate, bahkan aku sampai berkunjung ke tempat kursus bahasa hangeul tapi tak ada yang tahu. Saat aku tiba dengan sepucuk surat itu, aku mulai muak dengan surat, pengirim, ataupun kebodohanku sendiri yang mendesakku untuk mencari tahu. Jelas kalau tak ada nama pengirim, tiba-tiba ada di kamarku, bertuliskan hangeul, berwarna putih, tinta merah. Tidakkah seharusnya aku berfikir ini semua aneh.

Datang lagi. Kenapa harus di depan cermin ini? Dalam arti dia mengirim surat berarti dia sudah masuk ke sini tanpa izin. Terlebih kamarku, bagaimana kalau dia psikopat. Aku mengacak rambutku, mengetuk pintu solusi di kepala.
“Seharusnya ada lampu di sebelah kepalaku. Lampu yang bisa kupecahkan. Hari ini aku akan begadang!!” kataku semangat. Keputusanku bulat ingin bicara dengan orang itu. Bicara kalau masuk ke kamar orang untuk mengirim surat adalah tindakan yang tidak baik.

Sebelum begadang kusiapkan surat dan kuletakkan di tempat saat ia mengirimnya. Pukul 22.00, nafsu dan tekad bertarung. Mataku sudah tertutup sebagian, tinggal menunggu tenggelam di antara kelopak mata. Tapi otakku masih bekerja seperti mesin, masih banyak buku yang harus dicetak. Jadi tidak boleh lengah sedikitpun atau akan datang bahaya gagal terbit. Benar kata orang kalau yang namanya nafsu pasti menang. Saat sadar aku sudah tenggelam di awan selimut putih dengan cahaya orange terang.

“Bodohnya aku, seperti telur mata sapi di pagi hari” pikirku sambil memukul kasur dan kepalaku. Kubentur-benturkan ke bantal yang keras oleh kapas. Dengan terkejut, aku berdiri dan meraba semua bagian dari sel tubuhku.
“I’am fine.” kataku sambil meniup pony di atas dahi. Kuputar bola mata ke seluruh penjuru kamar. Kuperiksa lantai.
“Tidak ada jejak” pikirku. Beralih ke cermin. Lagi? Apa ini pasukan teroris ISIS atau abu sayaf. Kupandang lelah itu surat, tak jarang sambil menguap dan menggaruk kepala.

“Tak mau. Tak akan ku buka. Tidak tidak tidak. Camkan itu” teriakku menunjuk kesal ke arah surat yang sudah berganti balasan. Setelah keluar dari kamar mandi sambil menggaruk andik di atas kepala basah. Mataku terlalu banyak berkeliaran dan melihat lagi surat di meja. Masih bisa kuabaikan. Ku berjalan mendekat dan mengeringkan rambutku dengan hair dryer. Kuluruskan rambut dengan catok, lalu kutambahkan jepit hitam belahn pony samping. Ku berpose manis di depan cermin, merapihkan jepit. Dan mataku mencuri pandangan ke arah surat. Kuacak rambut yang semula halus. Kutendang tendang meja riasku.

“Uh. Eomma ya!!” teriakku sakit.
“Apa yang harus kulakukan” kuketuk kepalaku menatap ke atas plafon putih biru. Kugigit kukuku lalu berfikir.
“Kalau itu untukku. Aku berhak memilikinya. Termasuk kubuka dan kubaca.” pikirku, sambil tersenyum licik, kuambil. Kuterawang di bawah cahaya matahari. Hanya ada ccahaya yang putih. Ku frustasi lagi. Bahkan sudah muak, pada surat, pengirim, atau pada kebodohanku yangg mencoba ingin tahu.

Cerpen Karangan: Astrid
Facebook: Astrid Widia
hai!!! entah udah berapa banyak cerpen yang aku buat (yg gak pernah di bacaa orang) jadi semoga suka dengan karyaku ini (terlihat gaje yah. hhh 🙂

Cerpen Letter merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Bukan Cinta Segitiga (Part 1)

Oleh:
– Awal pertemuan – Si ratu facebook it’s me “rae ah”, begitu mereka memanggilku gara gara keranjingan ngefacebook, update status dan berbagi jempol atau nggak baca manga online sambil

Lukisan Pengintai

Oleh:
Suara kicauan burung-burung yang merdu, suasana hutan yang rimbun, persawahan yang luas. Menemani perjalananku menuju rumah peninggalan nenekku. Yang tinggal di situ hanyalah kakekku seorang. Sebenarnya aku tidak mau

We Are Artis Bangkrut (Part 1)

Oleh:
Pernahkah kamu punya sahabat? Aku pernah. Namanya Han Go An. Dia seorang laki-laki labil. Kalau bicara seperti perempuan. Dia suka memakai pakaian berwarna cerah yang sangat mencolok. Dia suka

Still Memories

Oleh:
Seorang ahjumma mengambil sebuah kotak kotor yang telah berdebu di gudang rumahnya. Ia meniup pelan debu-debu, membuat debu-debu itu berterbangan. Dibukanya kotak itu perlahan. Diraihnya isi kotak itu. Beberapa

Di Bawah Pelangi

Oleh:
Sore ini hujan begitu deras, aku menunggu bus di halte depan sekolah. Ada seorang laki-laki yang berlari ke arahku dengan tas di kepalanya. Aku tidak bisa melihat dengan jelas

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *