Love? Just Be Patient (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Cinta Segitiga, Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 18 September 2016

Sinar telah beranjak turun, bayangnya telah memanjang ke timur, kulihat sudah pukul 16.30 WIB. Baru pulang aku dari kampus karena jadwal kuliah dan kegiatan esktrakulikuler yang padat. Saat ini, aku berdiri dekat gerobak bubur ayam, hendak makanlah aku ini, perut sudah diajak kompromi sejak siang, dan kini menjadi haknya untuk diisi penuh.

“Satu mangkuk, disini, jangan pakai daun bawang dan kacang, oiya sambalnya banyak, saya tunggu disana ya mas, uangnya, pas! Makasih!” Aku pesan sudah, aku tinggal cari tempat duduk yang nyaman, aku pilih dekat taman kecil, kebetulan ada bangku taman. Saat hendak menyantap. Handphone bergetar, kukira hanya sms, tapi ternyata telepon dari orang yang aku sayang.
“Oh iya, apa? tumben telepon segala? Lagi makan, baru pulang kuliah. Sendiri. Enggak, langsung pulang. Boleh. Taman dekat kampus ya. Ada tukang bubur juga. Cepet ya” Kututup telepon dan melanjutkan makan bubur hangat khas Pak Salam. Kalau Sulam udah mainstream.

15 menit kemudian, dasar mangkuk dari bubur yang ku makan sudah terlihat. Mau habis, tapi yang ditunggu belum datang. Berkali-kali lihat jam tangan, sudah pukul lima sore lebih. Melamun dulu, sambil menunggu makanan dari kerongkongan turun ke lambung dengan baik. Tiba-tiba.
“Oh ya Tuhan!” Aku menengok ke belakang. “Bodoh! Jantungku hampir lompat keluar!” Makiku padanya. “Hahaha.. Lama yah? Enggak kan? Mobilnya terjebak macet, aku tinggal aja disana. Kamu pulang naik taksi aja berarti.” Tukas Arkan. “Loh, di telepon tadi bilang kesini mau antar aku pulang.” Jawabku bingung dan heran dengan apa yang baru dikatakan Arkan. “Kan kejebak macet. Mau antar dirimu dengan apa?” “Kalau gitu, dirimu nggak perlu suruh untuk tunggu dirimu.” Tegasku. “Aku kan nggak tahu kalau akan macet seperti ini.” balasnya. “Lupakan aja.” “Pahami aku dong!” Lanjut Arkan. “Maksudnya?” Aku heran. “Aish, Si kunyuk ini, berlaga dalam drama segala.” Lanjutku, kemudian canda tawa kita pecah. “Ah! Tidak berubah sejak dulu!” Peluknya melayang padaku, sudah sekian lama tidak bertemu sahabat tercinta. “Arkan juga nggak berubah, masih kaku dan tidak berperasaan pada perempuan.” Ledekku. “Loh kenapa aku nggak berperasaan?” “Masih saja bertingkah romantis seperti itu, kesan pertama saja sudah tidak menyenangkan. Duduk sini.”
Kami bincang-bincang tidak lama, aku harus pulang dan Arkan mengambil mobilnya yang dia parkir sembarang karena terjebak macet. Kami berpisah di tempat itu juga.

Pesan masuk dari Arkan
‘Besok ketemuan lagi yah. Belum puas tadi. Tapi nggak bisa jemput, sendiri aja ya. Taksi banyak. Hahaaha’
“Anak ini nggak ada bosennya.” Dalam hati bergumam. Kemudian, pesan masuk lagi.
‘Lupa bilang tempatnya, di dekt tmpat aku kerja. 4 sore. Htel Wjaya Ksuma. Restrnt. Me pay!’
Aku balas kemudian,
‘Mau mkan mkanan plng mhal klau gtu’
‘iya, gpp. Aku jg udh jd bgian htel. Jd nggak bakal boros.’
‘oh iya udh’
‘ok, don’t come late’
‘hmm’
Setelah itu sudah, tidak ada balasan lagi. Arkan dulu, sewaktu SMA, pernah memintaku menjadi kekasihnya, tapi kutolak karena alasan aku tidak suka pacaran. Itu akan merusak konsep persahabatan kami. Aku masih mengira sampai saat ini, Arkan masih suka padaku. Aku harap tidak begitu.

Aku sedang mempersiapkan berbagai event untuk tahun depan. Memusingkan sekali dan sangat menyita waktuku, persiapan harus benar benar dilakukan dengan sempurna. Meski tahun depan, sudah merepotkan dari tahun sebelumnya. Sesekali aku mengambil rehat dari rutinitas ini agar aku bisa istirahat sehari penuh di rumah sendiri.
“Besok aku juga ada janji dengan orang lain, bisa tidak rembuknya lebih awal sekitar jam satu siang?” Aku menjawab telepon dari sekretaris event kampus, aku penanggung jawab bagian dekorasi.
“Ahh.. menyebalkan!” aku merengek sendiri di ranjang sesekali terisak karena emosi yang tidak bisa dikendalikan. “Mending siap-siap tidur besok mulai aktifitas lagi dengan baik.” malam itu aku tutup dengan pasrah.

Keesokan harinya..
Selamat pagi dunia, selamat beraktifitas seperti biasanya. Hendak apakah aku hari ini? hendak menyibukkan diri? Tentu! Jam kuliah sedikit tapi jam bekerja numpuk. Pukul delapan sudah kuparkirkan mobil sedan toyota camry di tempat parkir kampus. Dengan blus cokelat dan cardigan koleksi musim panas, jeans hitam dan high heel menjadi pilihanku berbusana pagi ini, rambut kugerai. Karena aku termasuk mahasiswa senior, aku sedikit bertingkah semauku.

Jadwal hari ini aku ada pertemuan dengan salah satu pihak sponsor properti dan desain, tujuannya agar aku mampu memaparkan secara umum gambaran dekorasi even kampus agar mendukung pihak tersebut berbondong-bondong menjadi sponsor.

Pukul 09.00
Presentasi diadakan di gedung aula B. Dengan jumlah 47 orang sebagai pendengar. Ini jelas bukan hal yang sulit bagiku. Aku jelas-jelas sudah terbiasa menghadapi hal seperti ini.
“Konsep ini telah kami rancang sekitar 3 bulan lalu. Dan telah kami revisi sebanyak 4 kali dengan 2 kali mengubah bentuk panggung. Dekorasi kali ini adalah yang paling banyak me.. Maaf sebentar!” Handphoneku berdering mengusik keseriusanku, aku lihat dan itu Arkan. “Mari kita lanjutkan.”

Pukul 14.00
Pelaporan konsep pada ketua pelaksana sudah, aku juga telah mendapatkan pihak yang ingin sepenuhnya membantu untuk properti dan dekorasi, aku benar benar lega. Aku bersiap pulang. Sesudah di dalam mobil, aku telepon Arkan kembali.
“Ada apa? Tadi aku rapat.”
“Kayanya kita tidak jadi makan, aku ada masalah penting yang..”
“Aku tutup.”
Inti dari pembicaraan tadi satu, tidak jadi makan. Buat apa aku dengar lama-lama toh makannya tetap tidak jadi. Arkan memang sibuk dengan pekerjaannya, beruntung dulu dia ikut magang di tempat kakaknya bekerja setelah lulus sekolah, sedangkan aku, aku masih harus kuliah agar mendapatkan pekerjaan.

Arkan aku kenal sejak di bangku sekolah menengah pertama, entah dari mana aku mulai dekat dengannya, tapi yang aku ingat Arkan pernah menjadi lawan debatku dalam lomba waktu itu. Aku kalah atas dirinya. Dan sejak kalah darinya, aku membencinya dan enggan menjadi lawannya lagi, tapi Arkan malah mendekatiku dan berangsur-angsur sikap angkuhnya mencair jadi aku bisa menerimannya sebagai teman. Seiring berjalan waktu dia malah menjadi sahabat dekatku.

Matahari sudah berwarna jingga, aku masih di cafe dekat kampus mengerjakan tugas kuliah dan mencicil menyusun karya tulis dengan tema sosiologi. Aku angkat judul ‘Pengaruh pengawas dalam ujian terhadap prestasi murid’. Aku benar-benar tertarik dengan hal ini, aku terinspirasi dari cerita adikku bahwasannya dia tak heran dengan siswa mencontek di kelas saat ujian, dari ceritannya aku tangkap bahwa semua itu tergantung pengawas. Bicara tentang adikku, aku jadi merindukannya, kami hidup terpisah dan dia sudah setahun terakhir tinggal di rumah sakit, dia harus putus kuliah. Dia adalah adik terbaik, aku selalu dibantu olehnya saat aku banyak tugas sekolah dan tugas kuliah, dia sering memebersihkan kamarku. Dia yang barusan kuceritakan adalah adik yang bukan adik kandungku, dia laki-laki, dia anak tetangga yang ikut tinggal bersama keluargaku. Awalnya aku tidak suka dengannya, tapi saat sudah sama-sama dewasa, kami menjadi seperti kakak beradik. Aku sendiri adalah anak sulung dari dua bersaudara. Adik kandungku itu perempuan, seumuran dengan adik tiriku, kalau dipikir-pikir adik tiriku lebih baik dari pada adik kandungku sendiri. Aku dan dua adikku terpaut usia 4 tahun. Sambil mengurangi bosan, aku telepon adik tiriku dulu.
“Halo, Tampan!”
“Ay, pendek! Kenapa baru telepon! Untung susternya baik mau pinjamkan teleponnya selama ini. Bagaimana kabarnya? Pulanglah! Nona aku rindu!”
“Iya, nona pendek bakal pulang secepatnya. Nona juga rindu pada kaaliaan semuaa!”
“Nona, aku sudah lama sekali menunggu nona, aku bahkan tidak merindukan siapapun selain nona!”
“Aah si tampan ini! kulitmu bagaimana? Masih lebih putih dari nona? Kapan sebernarnya kau ini kecokelatan sedikit saja! Nona disini makin cokelat terbakar sinar mentari!”
“Nona, berjanjilah nona akan pulang dengan segera. Nona, Cuma nona yang aku sayang, nona juga sayangkan pada si tampan ini?”
“Iya, nona sayang sama si tampanku ini! ya udah, nona nanti telepon lagi ya, ada yang mau ketemu nona.”
“Ah? Siapa.. No..”

Aku tutup telepon dengan cepat karena aku mendapatkan tamu mendadak padahal aku tidak punya janji apapun. Laki-laki dengan kemeja putih dan celana biru tua, rambut hitam pendek sedikit tertiup angin dari balkon cafe, jam tangan lengkap dengan gelang di tangan kiri, di punggungnya membawa tas ransel merk Bean Pole, produk korea selatan yang mendunia aku bisa melihatnya dengan jelas. Wajahnya bersih putih, matanya indah dengan bulu mata yang lentik, garis alisnya ke timuran, seperti orang arab dicampur orang minangkabau, tinggi semampai, aku hanya setelinganya. Kaca mata hitam anti karat, anti gores, anti silau, anti sial dan anti cewek jelek melekat di kerah bajunya. Aku terpana sedikit dengan kesan pertama melihatnya.

“Dengan Winona Cempaka?” tanyanya penuh keramahan. “Hm, iya. Saya Nona.” Aku membalas dengan berjabat tangan. “Bagaimana bisa kenal saya?” tanyaku sembari menyuruhnya duduk di hadapanku. “Kemarin saya menghubungi teman saya, namanya Mizzan. Dia bilang kalau saya ada perlu dengan masalah dekorasi dan properti acara kampus, saya dapat menghubungi anda saja. Waktu saya ke fakultas anda, anda tidak ada dan kebetulan saya tidak bawa handphone, jadi saya kesini saja, itu pun diberitahu oleh teman anda.” Jelasnya panjang lebar. “Hm begitu. Kita bisa lanjutkan mengobrol kalau begitu. Nama anda dan dari fakultas apa? Supaya kita akrab kita harus saling kenal dong!” tambahku. “Saya Rain Surya Girindra, dari fakultas seni dan desain.” Jawabnya. “Pantas saya tidak pernah melihat Rain sekalipun, kita beda fakultas. Boleh ya saya penggil nama saja”

Obrolan kami seputar kepentingan acara fakultasku yang bekerjasama dengan fakultasnya. Rain tidak banyak bicara hal-hal yang tidak penting, kesanku selama berbincang dengannya, dia bukan tipe orang yang suka basa-basi. Hanya berbicara yang diperlukan. Tapi aku masih terkesan dengan sifat pemalu dan sikap ramahnya. Padahal dari gayanya dia terlihat seperti orang angkuh dan overaction, tapi ternyata tidak. Karena suatu kepentingan, Rain meminta nomor handphoneku. Dan kami berpisah. Dia jalan ke arah yang berlawanan dengan arah aku pulang. Dia jalan kaki, waktu kutanya dia jawab mobilnya ada di bengkel dekat sini. Hmm.. entahlah dia benar punya mobil atau tidak. Aku sempat berpikir jangan jangan dia hanya pura-pura bilang mobilnya di bengkel.

Sampai di rumah, aku cek lagi jadwal untuk esok hari, juga sampai sejauh mana persiapan untuk acara kampus. “Target persiapan acaranya sudah selesai untuk bulan ini, ada kesempatan libur dan pulang kampung” sambil kupegang agenda haRain, aku ke ranjang dan merebahkan diri. Buang nafas yang dalam, tarik nafas lebih dalam, kemudian bangkit dalam sekejap. Buka laptop pasang modem. Buka situs penerbangan dan memesan tiket pesawat untuk minggu-minggu ini. ‘Jakarta, I’m coming’ tulisku di Personal message bbm. Belum lima menit, pesan masuk sudah banyak, komentar-komentar teman yang menanyakan status bbmku.
‘Ting tong.. ting tong.. lalala..’ suara sms masuk. Aku bergumam dalam hati, yang sms kalau bukan Arkan siapa lagi. “Oh! Si Rain! Iya bener. Aku lupa kasih lembaran itu.”
‘Saya kirim softcopy lewat e-mail. Saya pulang ke Jakarta secepat mungkin. Besok tidak ke kampus. Minta alamat emailnya.’ Isi pesanku. Lama tak ada jawaban. Aku merasa bersalah karena salahku lupa memberikannya saat di balcon cafe. Tapi salah dia juga,dia pun lupa. Setelah hampir setengah jam baru ada bunyi pesan masuk lagi. Aku buka. ‘raingirindra@gmail.com’ isi pesan yang singkat. Setelah tau aku langsung mengirimkan file itu. Dan, terkirim. Aku balas pesannya ‘Sudah.’ Balasnya cepat ‘Terimakasih’. Singkat jelas padat.

Sebelum ke dalam pesawat, aku telepon bunda bahwa aku akan sampai sejam setengah kemudian. Dengan penerbangan lokal, biaya jauh lebih murah. Tadinya mau naik mobil sendiri ke Jakarta tapi menghabiskan waktu lebih lama. Di dalam pesawat aku tidur pulas. Dan ketika bangun pesawat telah mendarat. Aku ambil koper dan ke luar bandara dan pakai taksi sampai ke rumah. Rumah Sakit dulu yang aku kunjungi.

“Di sebelah sini mba.”
“Oiya, makasih suster.” Balasku pada suster yang mengantar ke tempat adikku di rawat inap. “Dafi!” teriakku dari pintu kamarnya yang kubuka sedikit. Dafi menengok dengan terkjut. Dengan cepat dia mengayuh kursi rodannya, “Nona!” Aku dan Dafi saling mendekat dan kami berpelukan. Dafi nampak berkaca-kaca, sesekali dia menutup mulutnya menahan haru. Aku mencium dahinya penuh kasih sayang, kulihat wajahnya, dia tetap setampan dulu, dia tetap putih dan wajahnya kekanak-kanakan. Rambutnya pendek dan berponi, hidungnya mancung, jika Dafi tertawa, giginya yang rapih dan gusinya akan terlihat sangat jelas, aku lebih suka dia tersenyum manis. Meski hanya memakai piyama rumah sakit, Dafi tetap tampan dan manis. Sayang, karena sakitnya itu dia harus tetap dirawat inap disini. Bunda dan Ayah tetap berusaha membiayai pengobatan Dafi. Aku juga ikut membantunya.

“Nona, apa, ini benar Nona?” Dafi menggenggam tanganku dan meneteskan air mata “Hey, Kenapa? Nona disini, di depan matamu, tampan.” “Nona, aku tidak menyangka kau pulang cepat. Padahal aku ingin kau pulang saat aku sembuh dan dari sini. Aku malu Nona melihatku seperti ini.” jelasnya. Perkataan Dafi menyayat hatiku, aku paham, Dafi pasti sangat malu dengan keadaannya sekarang.
“Nona tidak peduli, ah. Dafi tetap adik Nona, Nona tetap sayang Dafi.” Aku ingin menghiburnya terus. “Aku cinta Nona.” Kata Dafi polos. “Hmm?” aku menatapnya dengan kaget. “Aku sayang Nona, Nona adalah kakak terbaik.” Tambahnya. Aku kaget sekali saat Dafi melontarkan kalimat tadi. Aku kira Dafi cinta padaku sebagai wanita biasa, tapi aku hanya kakak baginya. “Nona, sedang menyukai siapa?” tanya Dafi saat aku menyuapinya makan malam. “Hmm, Nona suka sendiRain.” Jawabku. “Dafi bakal menjadi satu-satunya pelindung buat Nona, Dafi akan menjadi pahlawan buat Nona” dengan percaya diri dia katakan semua itu. “Hah! PD sekali!” tukasku. Aku menatapnya lama, terus kumasukkan lagi nasi dalam mulutnya. “Dafi senang sekali Nona main kesini. Sering-sering, ya, Nona!” Hey, Daf! Kapan kamu panggil aku kakak! Dasar anak ini!” aku cubit perutnya dan tertawa.
Setelah berlama-lama disana, dan karena terlalu lama, bunda sudah menelponku agar segera ke rumah karena sudah rindu dan makannya sudah dingin. Aku pamit pada Dafi, terhenyut hatiku, pasti Dafi juga ingin pulang ke rumah menikmati suasana keluarga yang menyenangkan.

“Sudah bun, aku kenyang.” Keluhku pada bunda yang memaksaku makan sebanyak-banyaknya. “Aku tadi makan sama Dafi.” Terusku “Ini lain, ini masakan bunda.” Potong ayah. “sudah bun, nggak baik makan setelah kenyang, gula darah naik bisa kena diabetes, aku belum siap untuk itu.” kami jadi saling melempar senyum, ayah dan bunda semakin menyadari kalau anaknya ini sudah dewasa dan bijaksana. Dulu aku diperlakukan manja sama seperti dua adikku. Itulah mengapa aku benar-benar belajar arti kasih sayang dari ayah dan bunda, aku ingin menjadi pribadi penuh kasih dan menyenangkan.

Setelah makan aku masuk kamar yang disiapkan bunda, kamar yang dulu sudah dipakai adikku, jadi aku tidur di kamar tamu. Sampai disana aku telepon Arkan. Dia kaget aku sudah di Jakarta tanpa memberitahunya. Arkan malah kembali mengajak makan malam sekembalinya aku ke Malang.

Aku membaringkan tubuh menatap langit langit aku bersyukur dapat kembali kemari, dan lusa aku sudah harus ke Malang lagi, ke kampus, menyelesaikan even, dan sekilas dalam bayang dan khayalku ketika memejamkan mata, seketika wajah Dafi muncul. Aku kasihan sekali padanya, benar-benar aku ini ingin sekali membantunya ke luar dari rumah sakit itu, kenapa dia harus dirawat disana bagitu lama hingga setahun lamanya, padahal penyakitnya hanya kambuh seketika saja. Hampir sepuluh bulan dia disana, pulang hanya sesekali. Aku harap dia segera mendapatkan kemampuan berjalan lagi, juga bisa sembuh total. Aku mengerti kenapa Dafi dipaksa masuk rumah sakit, dalam keluarga ini tidak ada yang mampu menjaganya ketika dia sedang marah, penyakit fisik dan jiwanya tidak bisa dikendalikan. Ayah dan bunda sudah kewalahan saat awal-awal masa sulit Dafi melawan penyakitnya. Ayah dan bunda juga meminta persetujuankku dulu waktu itu. Saat Dafi marah, dia akan melukai dirinya dan orang lain, bahkan semua benda yang ada di sekelilingnya. Kalau ayah sedang ada di rumah sih masih bisa terselesaikan, tapi saat hanya ada bunda, bunda bisa terluka juga. Itu sebabnya kami sepakat agar Dafi dirawat saja. Aku kira hanya memakan waktu sebentar, ternyata sampai sekarang Dafi belum boleh pulang. Tidak bisa aku pungkiri kalau Dafi adalah segalanya untukku, dia adikku, meski bukan adik kandungku, aku lebih menyayanginya lebih dari yang kalian tahu.

Lima tahun lalu
Di bawah rimbun dedaunan dan sejuknya udara di Puncak Bogor, aku, Dafi dan Selly, kami tiga bersaudara menikmati indahnya mentari terbit dengan balutan busana tebal. Disini kami tertawa dan ceria, melewati jalan setapak dan kebun teh yang terbentang luas. Selly memimpin di depan dan aku di belakang Dafi. Sampai di puncak dan aku dapat melihat seluruh kota dari tempatku berdiri, aku berteriak dan melepas semua kekaguman atas keagungan dari keindahan alam.
“Aku ingin cepat lulus kuliah!!!” teriakku sekuat tenaga meski terdengar sember
“Aku ingin cepat punya pacar!” teriak Selly
“Heiii!” kataku “Aku hanya ingin bersama dia selamanyaaa!!!” teriak Dafi. Hal ini membuat aku heran. “Dia siapa?” tanyaku. “Aku sedang mencintai wanita” kata Dafi. “Apa?” kaget. “Siapa?” tanyaku cepat. “Ada. Aku ingin cepat dewasa dan bersamanya.” Jawabnya datar dan tertunduk seperti hilang harapan. “terus kenapa langsung berubah ekspresi gitu?” tanya Selly. “Rasanya, tidak akan mungkin aku bisa bersamanya.” jawabnya sambil membuang nafas dan memetik-metik daun teh. “Kenapa tidak?” tanyaku sambil memasukkan tanganku ke dalam kantung jaket, udara semakin dingin saja. “Memang tidak mungkin sekali. Bahkan kalian pun tidak akan memahami situasi dan perasaanku saat ini” jelas Dafi. “Hmm, coba lihat ke depan, luas kan daerah ini, ini baru satu daerah belum seluruh dunia, ini baru di puncak, belum di lereng, hitunglah ada berapa banyak orang yang sedang merasakan jatuh cinta. Berkhayallah sebisamu untuk menyemanngati perjuanganmu. Masalah dia milikmu atau bukan, urusan nanti.” Aku meyemangatinya.
Setelah dari puncak kami ke hotel, aku ke kamarku sendiri, dan saat bermain dengan ponsel aku melihat kiriman gambar dari Dafi satu menit yang lalu. Dia mengirim gambar dengan judul pesan, ‘ini wanita yang kucintai’. Aku melihat gambarnya, dan bulir air mataku jatuh setetes demi setetes. Raut wajahku berubah seketika memerah dan mengerutkan dahi, menahan tangis dan sakit hati. Gambar itu adalah foto Dafi dan Selly di puncak tadi.

Sekembalinnya aku ke Semarang, aku bisa move on lagi dari kegelisahan mengenang masa lalu. Disana, aku hanya tebawa jejak kisah cinta yang aku alami, sudah gilakah aku, entahlah. Rutinitas kembali seperti semula. Ada pertemuan dengan Rain. Rain sudah menunggu di perpustakaan. “Maaf, menunggu Lama ya?” sapaku sambil menarik kursi di hadapan Rain. Kali ini Rain tampil dengan kaus lengan pendek dan celana panjang sederhana. Rambutnya disisir berdiri. Aku kaget dan keceplosan ngomong, “Selera fashionmu tinggi yah.” “Hahaha, tidak juga, saya hanya suka berdandan rapi dan nyaman.” Jawabnya. “Lalu, apa yang ingin dibincangkan?” tanyaku. “Mengenai hal ini.” Rain memaparkan laporan dari hasil surveinya selama aku di Jakarta. Aku memang memintanya untuk mensurvei seluruh bahan mentah properti juga mendatangi sponsor. Seiring berjalannya waktu, Rain dan aku semakin saling berbagi pengetahuan masing-masing. Di sesi latihan Rain sering bertanya padaku bagaimana baiknya dan apa solusinya. Dia juga tidak segan memberikan solusi bahkan memuji kinerjaku, aku pun sebaliknya.

Saat turun dari perpustakaan kampus saat sedang menuruni anak tangga tiba-tiba aku terdorong jatuh. Aku masih sedikit sadar dan mendengar teriakkan teman-teman yang kaget aku jatuh dari tangga, mereka berlari ke arahku, aku masih sadar dan merengek kesakitan di kaki dan kepala. Sampai pada akhirnya aku tidak sadarkan diri.

Saat aku buka mata, rupanya ada di klinik kampus. Ada dokter Sri di sampingku, juga ada Rain. “Hm” aku mencoba bicara. “Jangan banyak gerak yah, kakinya retak. Karena benturan di kepala atau trauma capitis hingga timbul hematoma. Dan untuk memastikan tidak terjadi commotion serebri atau gegar otak, anda harus dirawat di rumah sakit. Akan kami persiapkan sesegera mungkin. Untungnya tidak ada pendarahan luar maupun dalam di kepala. Saya tinggal, anda akan segera dipindahkan ke ambulan.” Kata dokter.

Aku ingin menangis atas semuanya. Kenapa harus terjadi padaku. Aku merengek sebisanya, badanku masih terasa sakit semua. Ada Rain yang berdiri di sampingku kaku, aku menatapnya penuh kesedihan, dari matanya aku melihat dia mengkhawatirkan aku. “Jangan pergi dari sisiku” Aku mencoba menyentuh jemarinya. Rain mengangguk. “Saya, saya melihat kejadiannya. Ini bukan karena kecelakaan biasa. Sebelum anda sadar, saya sudah meminta rekaman cctv dan terekam disana. Seseorang mendorong anda. Maafkan saya, karena saya tidak mengejar pelakunya, saya ingin menyelamatkan anda terlebih dulu.” Aku mendengarkannya dengan baik, aku hanya mengangguk. Tak lama, dokter dan asistennya dibantu dengan Rain membawaku ke ambulan dan memindahkan ke rumah sakit terdekat.

Setelah beberapa hari di rumah sakit
Ayah dan bunda datang menemaniku. Mereka berdua mengobati semua rasa sakit ini, keadaanku berangsur baik. Arkan juga datang. “Kenapa telat memberitahuku? Kau tahu betapa aku mengkhawatirkanmu, aku tidak bisa tidur karena mengkhawatirkanmu, aku ingin segera pulang dari Singapura waktu itu tapi kakakku melarangnya. Aku minta maaf.” Dia memegang tanganku, nada bicarannya seperti penuh penyesalan. Suarannya yang lembut kali ini, membuatku terbawa suasana juga. “Arkan, sebegitukah kau mengkhawatirkan aku?” tanyaku menyentuh tangannya juga. “Hm.” Jawabnya, sambil menyentuh pipiku. Aku tertunduk malu. Tak dipungkiri, Arkan begitu menyilaukan mata kaum hawa. Dia tampan dan cerdas, kekayaannya melebihi gubernur sekalipun. “Arkan?” aku kembali menatapnya. “Ya?” “Kau masih mencintaiku?” aku membenarkan kerah jasnya yang sedikit berantakan. Aku sering melakukan itu padannya saat masih SMA. Entahlah dia sahabat atau apa di mataku. Aku masih bingung karenanya. “Tentang itu, apakah aku harus mengatakannya. Kau pasti tidak bisa menerimaku, bahkan saat aku sudah menunggu selama ini.” jawabnya pelan dan kecewa, melihat Arkan yang periang berbeda ketika dia menjadi serius seperti saat ini. Aku benar-benar terbawa suasana saat itu, melihat Arkan aku meneteskan air mata. “Kemari, aku ingin memelukmu.” kataku. “Arkan, maafkan aku. Sekali lagi, maafkan aku.” “Sudahlah, aku tidak apa-apa. Bantu aku untuk bisa lepas darimu. Oke?” “Baiklah. Oiya, kau bawa laptop? Aku ingin melihat rekaman cctv dari temanku.” “Hm, sebentar, aku ambilkan. Rekaman apa?” tanya arkan. “Lihat saja bersama.” Setelah melihat rekaman cctv, Arkan kaget.
“Kamu nggak jatuh, ii.. ini percobaan pembunuhan!” Arkan terkejut.
“Arkan..” ucapku pelan. “Aku rasa, aku tahu siapa perempuan yang mendorongku.” Jawabku datar. “Huh?” respon Arkan masih tidak percaya.

Ayah dan bunda sudah pulang sehari yang lalu. Ini hari ketiga keluar dari rumah sakit. Belum berangkat ke kampus karena masih kesulitan berjalan ini sudah di bantu tongkat. Arkan sering ke rumah bahkan pernah sehari menginap. Malam ketika Arkan menginap itu menyenangkan. Aku ragu bahwa ini persahabatan atau sahabat menjadi cinta. Konyol sekali aku ini. Saat Arkan menginap
“Kan, ambilin susu di kulkas, sama obatnya juga, oh air putihnya tolong.” Perintahku sambil duduk di sofa. “Makan dulu yah.” Kata Arkan. “Hm boleh.” Jawabku. Arkan menyiapkan makanan yang dibelinnya sebelum kemari. “Hm, beli dimana, ini yang paling enak, asli deh.” Sambil menyendok nasi dan sop ikan yang benar-benar lezat. “Di Restaurant dekat hotel.” Jawab Arkan. “Oiya, kelanjutan dari rekaman cctv bagaimana? Mauku bantu untuk disidangkan, kakakku punya banyak kenalan pengacara, aku bisa memintannya, aku juga bisa mencari tau keberadaan dari pelaku itu, ayahku punya banyak bo..” belum selesai Arkan Bicara “Makan saja ini. Enak kan.” Aku memasukan nasi bercampur sop ikan ke mulutnya. Berantakan, kemudian aku ambil tisu untuknya. “Lap pakai tisu! Hahaa..” candaku. “Kau tidak berniat untuk membersihkannya dengan tanganmu kan?” goda Arkan. “Ya ampun. Tidak. Aku hanya anggap ini kecelakaan saja.” Tuturku. “Loh ini sudah jelas-jelas! Ada di rekaman cctv, saksi pun ada. Kenapa bisa kau sebut kecelakaan.” Beber Arkan. “Aku sedih.” “Kenapa kau sedih?” tanya Arkan. “Karena pemanasan global banyak penguin yang mati di kutub utara. Aku sangat sedih sekali.” Kataku “Aish ini anak!” Arkan mengacak-acak rambutku kesal.
Setelah kenyang dan mengobrol banyak aku memintanya membantuku berjalan ke kamar. “Bisa bantu aku?” “Hm tentu. Hati-hati!” Arkan merangkul pundakku. “Bolehkah aku menggendongmu saja, kalau jalanmu seperti ini sama saja seperti berjalan 1 mil. Boleh saja!” “Ti.. Aaaaa” belum selesai aku bicara Arkan sudah membopongku. Dia perlahan menaiki anak tangga. Suasana begitu tenang, “Hatiku sakit melihat kau berjalan seperti itu.” Ucap Arkan dengan pelan namun itu good timing. Aku menyandarkan kepalaku ke dadanya, tangan kiriku meraih lehernya dan aku katakan, “Aku mengantuk, cepat bawa aku ke kamar.”

Cerpen Karangan: Eka Septiani Prayudi
Facebook: Septiani Prayudi

Cerpen Love? Just Be Patient (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cinta Sejati Ku Telah Kembali

Oleh:
Ini cerpen tentang kehidupan ku mengenai CINTA. Cinta itu.. Bagiku adalah suatu hal yang sangat indah. namun, kita juga harus bersiap untuk merasakan pahitnya juga.. ya seperti hidup, kadang

Teman Terdekat Menjadi Cinta

Oleh:
“Besok jalan gak?” suara Yuda mengagetkan tiba-tiba “besok… hmm nggak dulu deh aku lagi capek, maaf ya Yud” suara ku memelas. “ohh ya udah gak papa, kamu istirahat aja”

Fred & Jam Kantong Ajaib

Oleh:
Fred… Terburu-buru melangkahkan kakinya di jalanan sempit, ia melirikan matanya pada sebuah jam yang berada di tangan kanannya. Pukul 23.30 malam aku pasti akan terlambat sampai ke stasiun, kereta

Senja Bersamamu (Part 2)

Oleh:
Drrttt.. Tak lama kemudian aku mendengar getar dari Hp ku. Aku rasa orang tadi membalas pesanku. ‘Ini aku adnan, Kanaya’ aku mengerutkan kening. Kanaya? Batinku. Untuk apa ia menghubungiku

End of Traveling

Oleh:
Pagi ini aku dan teman-teman sudah berkumpul di rumahku. Kami akan bertamasya ke salah satu hutan yang jauh dari kota. “Vir… Buruan lah ke rumahku, semua udah kumpul nih!

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *