Love? Just Be Patient (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Cinta Segitiga, Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 18 September 2016

Rain datang ke rumahku, membawa parcel buah, aku sedang menghibur diri di depan rumah melihat bunga-bunga. “Hi! Rain!” aku setengah terkejut. “Nona sudah terlihat membaik.” Rain membuka pembicaraan. “Iya begitulah, aku juga sebenarnya sudah mulai bisa berjalan tanpa tongkat, tapi kalau lagi malas menahan sakit, aku pakai kursi roda seperti sekarang.” Jelasku. Kemudian, hening. Tak ada pembicaraan. Rain terlihat kaku sekali. Tapi ketampannnya membuat silau mataku dipagi hari ini. Tuhan! Aku selalu dikelilingi lelaki tampan. Hahha.. “Aku sebenarnya hanya penasaran, kenapa namamu Rain dan dibaca dalam ejaan inggris bukannya ejaan indonesia?” Tanyaku. “Oh itu, dari ibu saya. Kata ibu, waktu saya lahir hujan turun begitu indah dan sejuk, jadi ibu saya memberikan nama itu dengan harapan supaya terus memberikan kedamaian dan kesejukan untuk bumi.” Jelasnya dengan mata berbinar. “nama nona juga bagus. Jarang sekali saya dengar nama itu.” lanjutnya. “Terimakasih.” Aku berlagak sok manis membuat Rain tertawa malu juga.
“Rain, aku ingin meminta pendapatmu. Apa yang harus aku lakukan atas kejadian yang menimpaku ini? kau tahu persis, ini adalah percobaan pembunuhan bukan kecelakaan atau keteledoranku. Seperitnya Arkan melaporkannya pada polisi padahal aku tidak memintannya.” Tatapanku kosong menatap tanah dengan rerumputan hijau. “Arkan itu siapa?” tanyanya polos. “Oh, dia sahabatku, mungkin pelindungku juga.” Jawabku sumringah. “Kau menyukainya?” kedua kalinya Rain bertanya polos. “Entahlah. Kami bersahabat lama sekali. Loh aku minta pendapatmu, Rain.” Tukasku. “Hm? Menurutku itu bagus. Agar mencegah kejadian yang sama dimasa yang akan datang.” Pendapat Rain tidak jauh beda dengan Arkan. Para lelaki ini hanya tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk lagi nantinya. “aku belum menyatakan setuju untuk mempersidanagkan kasus ini. aku bisa mencabut gugatannya. Tapi aku harus pikir-pikir lagi lebih dalam.” Jawabku.
Setelah makan di rumahku, Rain pulang dan menggantikanku dalam setiap rapat di kampus. Aku seperti ingin mengundurkan diri saja, tidak ingin menjadi panitia lagi, aku punya alasan sakit. Rain juga mumpuni untuk mnggantikan aku.

Seminggu berlalu, aku mulai ke kampus, meski masih diantar oleh Arkan. Untunglah sahabatku itu sangat baik. Ini sudah hampir sebulan setelah kejadian itu, aku juga harus tetap kontrol ke dokter. “Jangan terlalu banyak menggantungkan aktifitasmu di kaki, banyak duduklah.” Arkan menasehati hal itu entah sudah berapa puluh kali. “Hm..” jawabku. “Baiklah! Aku tidak bisa jemput, harus mewakilkan kakakku rapat di kantor. Aku pergi.” Arkan masuk ke mobilnya. Aku masih trauma dengan kejadian itu. Menganai siapa yang menjatuhkanku dari tangga, sampai sekarang masih kami bincangkan. Semua yang berada di pihakku menginginkan kasus ini diselidiki oleh kepolisian, aku yang menjadi korban malah enggan. Orangtuaku tidak tau menau soal ini, mereka hanya tau aku terjatuh. Syukurlah, kalau saja mereka tau, masalah ini akan semakin besar.

Seminggu lalu…
Tidak lama setelah Rain pergi, Arkan datang setelah aku telepon sebelumnya, aku ingin menceritakan hal penting berkaitan dengan kecelakaan di tangga itu. Kami mengobrol di ruang tamu. Hanya berdua saja.
“Arkan, alasan aku tidak ingin membesar-besarkan masalah ini, atau bahkan sampai membawa masalah ini ke polisi, alasanku adalah..” aku berhenti bicara, membuka laptop dan membuka file rekaman cctv yang Rain berikan. Aku dan Arkan kembali melihatnya.
“Ada apa, sebenarnya? Adakah sesuatu yang kau sembunyikan?” tanya Arkan .
“Lihat saja dulu. (mempause video) ini, perempuan ini, aku tau siapa dia, aku benar-benar tau siapa dia.” Aku gemetar sambil memegang lutut, pandanganku kabur seketika, air mata tertahan di kelopaknya.
“Nona, kenapa? Ada apa?” Arkan duduk mendekapku.
“Coba perhatikan dengan detail siapa dia, Arkan! Kau belum menyadarinya!” aku memeluknya. “Astaga! Di..a” ucapan Arkan sudah terbata-bata, hendak dikata apa, tak ada satu pun di antara kami yang menyangka siapa sesungguhnya perempuan itu. Yang tega mendorongku hingga jatuh dari belasan anak tangga.
Setelah Arkan mengetahui hal itu, Arkan tidak banyak berargumen lagi. Sekarang dia paham atas diamku.

“Aku ingin menemuinya, aku bukan ingin meminta pertanggung jawaban darinya, aku hanya ingin menemuinya, mengajukan banyak pertanyaan padanya. Jika aku pikir lagi, aku memang pantas mendapatkannya, aku benar-benar pantas mendapat hal ini sebagai pembalasan! Aku! Aku dapat hidup dalam ketenangan selama ini setelah apa yang aku perbuat kepadanya bertahun-tahun silam! Aku bodoh Arkan, bodoh sekali.” Ujarku.
“inikah yang membuatmu mencampakkan aku selama ini? dan kau berbuat demikian demi memenuhi egomu?” Ketus Arkan.
“Arkan! Arkan dengar, aku mohon jangan malah kau benci padaku setelah aku ceritakan semua ini padamu! Aku mohon Arkan!” Aku memegang erat kedua tangannya, meski aku menangis tersedu-sedu, Arkan tidak menatapku sama sekali.
“aku tidak masalah jika aku menerima kenyataan bahwa aku tidak bisa dicintai olehmu, Nona, tapi aku tidak bisa menerima kenyataan bahwa, bahwa orang yang selama ini aku cintai itu, bertahun-tahun lamannya, orang yang aku cintai hanyalah..” Arkan berhenti bicara, dia mengangkat kepalanya, menatap ke depan, air mukanya berubah sekali, penuh kekecewaan dan kemarahan, baru kali ini aku menatap wajah Arkan yang seperti itu, aku gemetar melihatnya. Perlahan, aku lepaskan tangannya, Arkan berdiri dan berjalan ke pintu, tak lama suara mobilnya terdengar semakin jauh dan jauh.

Satu jam sebelum Arkan pergi
“jadi pelakunya adalah Selly, adikmu?!” mata Arkan hampir keluar.
“hmm..” jawabku mengangguk.
“Ini sulit dipercaya, lalu, selama setahun ini, dia menghilang seperti ceritamu, kemudian dia muncul, kenapa dia melakukan hal ini. jika dia menghilang, namun dia tahu kamu persis dimana, sedang apa, berarti selama itu juga dia mengawasimu. Pasti juga dia telah mengumpulkan keberanian untuk melakukannya. Seorang adik yang mendorong kakak kandungnya setelah menghilang dan bersembunyi. Tapi, apa alasan dia pergi dari rumah? Dan juga, alasan kemunculannya, lalu selama setahun ini, kenapa kalian juga sebagai keluarganya tidak mencari?” Arkan dipenuhi rasa penasaran.
“ceritannya panjang, tapi aku yakin kau pun akan membenciku setelah ini.” ujarku
“loh, ada apa sebenarnya? Apalagi yang kau sembunyikan?” Arkan menatapku tajam.
“Sebenarnya..” Aku mulai bercerita pada Arkan hal apa yang setahun ini aku pendam.
“Setahun lalu, kurang lebih, aku hidup seperti manusia yang kehilangan arah, entah kemana, aku hanya tau hidup harus terus dijalani, aku tidak peduli terbawa angin kesana kemari, aku merasa hidupku sudah dicabik-cabik, cintaku yang aku pertahankan, yang aku bangun sejak aku di sekolah menengah pertama, konyol memang, aku mencintai anak kelas 6 SD. Benar-benar konyol, dia kupanggil Dafi. Aneh memang, harusnya cintaku bukan untuknnya, tapi saat itu aku hanya berpikir perasaanku ini seriring waktu akan hilang juga. Tapi semakin kami sama-sama beranjak dewasa, kami semakin dekat dan aku semakin takut kehilangannya, aku bahkan ingin terus melindunginnya kapanpun dan dimanapun, juga dengan semua kemampuanku dalam cara apapun. Aku pernah terbang bolak balik dalam sehari demi menjenguknya di rumah sakit. Hahha, padahal waktu ayahku sakit, aku menjenguknya setelah ayah dirawat tiga hari. Awalnya aku bingung, rasa cintaku padanya sampai batas mana, tapi saat aku coba mencintaimu, hatiku menolak, aku hanya membayangkan Dafi yang bersamaku, makan denganku, hidup denganku. Begitulah aku mencintai dia. Hingga waktu itu datang, dimana aku harus sadar bahwa Adikku, Selly, juga mencintai Dafi. Dan yang menyakitkan lagi, disaat satu persatu kisah cinta terlarang timbul bukan hanya dariku, Dafi juga muncul dengan pengakuan bahwa ia juga mencintai salah satu dari kami, dan bukan aku orangnya, tapi adikku, Selly. Awalnya aku sedikit lega, bukan hanya aku yang gila karena mencintai saudara tiri, ternyata kami tiga bersaudara sama gilanya. Hahhaa” aku tersenyum getir dalam tangis. Aku sempatkan menatap Arkan dalam-dalam, dia masih mendengarkan dengan baik, menatapku penuh kasih dan kehangatan. Aku paham dia pasti punya banyak pertanyaan, namun menahannya karena menghargai dan menjaga suasana. Kemudian aku melanjutkan, “empat tahun setelah mengetahui kenyataan bahwa aku bukan orang yang diinginkan oleh Dafi, aku hidup tanpa arah, tanpa keinginan lebih lama hidup, aku iri melihat mereka diam-diam berkencan dengan alasan mencari buku, Selly belum sadar kalau aku mencintai Dafi jauh sebelum dirinya, aku enggan memberitahunnya, karena aku malas berdebat. Selama empat tahun itu aku hidup jauh dari mereka kuliah disini, demi menjauhi mereka. Menjauh dari kehidupan mereka. Hingga muncul dalam pikiran kotorku untuk membuat mereka berpisah. Saat itu sedang masa liburan panjang, kami berlibur ke luar kota. Dari awal niatku ikut berlibur untuk menghancurkan hubungan mereka, aku ingin melampiaskan pada adikku Selly, aku ingin dia merasakan sakit hati yang selama ini aku rasakan. Aku mengadukan semuannya, semuannya, dengan bukti-bukti yang aku punya selama ini. Ayah sangat marah, benar-benar marah, bunda juga menangis di ujung sofa. Aku bahkan sedikit mengarang cerita, Selly sudah hamil, namun digugurkan. Pada hari itu, liburan yang sangat berkesan buruk dalam hidup keluarga kami, ayah berkali-kali menampar Selly, dan menendang Dafi. Dan untuk meyakinkan keadaan, aku ikut memaki Selly, Selly tidak terima dengan semua ini, namun ayah dan bunda hanya percaya padaku, Selly menarikku menjauhi Dafi yang dipukuli Ayah tapi dia tidak melawan, hingga tak sadarkan diri. Aku kehilangan kendali, aku ingin menolong Dafi yang dipukuli ayah, saat itu aku berpikir bahwa itu kesempatanku untuk menarik simpati Dafi, pikiranku sempit, dengan sengaja aku mendorong Selly ke dinding dan saat hendak berlari ke arah Dafi, saat aku berbalik Selly sudah jatuh berguling-guling di tangga. Aku tetap berlari ke arah Dafi tanpa menolong Selly. Bunda berlari ke Selly karena mendengar teriakannya. Dafi pingsan di tangan Ayah, Selly juga hampir mati di tanganku… sejak saat itu Dafi mengalami trauma parah, dia harus dirawat di rumah sakit kejiwaan, Selly setelah koma dan dirawat intens, dia kabur. Dalam hati kecilku, aku bersorak gembira karena Dafi sudah bukan milik Selly lagi… dan setelah beberapa waktu berlalu, aku dihinggapi rasa bersalah yang teramat dalam, bunda begitu kehilangan Selly yang tak kunjung pulang, Dafi dirawat di rumah sakit dengan biaya yang besar, ayah berbesar hati menerima kembali Dafi yang baru, yang penuh ketololan, tidak bisa mendengar kata ayah dan selly, jika dia dengar dia akan mengamuk tak terkendali, ini karena aku semuanya. Namun ini belum berakhir, aku bahkan, aku bahkan memberikan…” ceritaku berhenti.
“Apa? memberikan apa?” Arkan bertanya
“Aku juga sengaja memberikan obat yang melumpuhkan kedua kaki Dafi waktu itu, supaya Dafi tetap bergantung padaku! Aku tidak ingin dia pergi lagi! tapi, tapi itu tidak lama, hanya beberapa bulan kelumpuhannya, Arkan.” tangisku pecah. Dan Arkan menjauhiku beberapa langkah.
“Kau! Kau penjahat Winona!” itu yang dikatakan Arkan padaku setelah mendengar itu.

“Winona! Bangun, sudah jam berapa ini!” aku baru bisa membuka mata dari mimpi yang sangat buruk! Aku menangis memeluk Selly yang berada di hadapanku. Aku menangis! Menangis sedih, takut namun bahagia, aku berhasil bangun dari mimpi yang buruk. “Selly, aku ini kakakmu kan? Hah? Hm?” tanyaku menyentuh pipinnya. “yah, kakak, kenapa? Jelas kau kakak tersayangku, Winona Cempaka.” Jawabnya, “Dimana aku?” tanyaku, “hey, kak! Ada apa? Setelah kakak menjenguk Dafi di rumah sakit, lalu kakak tidur dan sudah hampir 12 jam kakak tidur!” jelasnya. “ah benar, Dafi di rumah sakit, dia memang sedang sakit. Kau, kau tidak berencana meninggalkan rumah kan? Apa kau mencintai Dafi?” tanyaku lagi “Hey! Apa mungkin!! Ya ampun, kakak sudah tidak waras!” ledeknya. Lalu dia mencubitku, sakit sekali sampai aku mengeluarkan air mata. “Ah! Sakit!” “berarti ini bukan mimpi, cepat banguuun! Ayo ke rumah sakit jemput Dafi, dia keluar hari ini.”
Oh tuhan! Terimakasih ini hanya sebuah kisah pahit dalam mimpi.

Aku masih terduduk di ranjang, hampir setengah mati antara percaya dan tidak percaya mimpi semalam. “Arkan!” aku teringat padannya, hatiku berdesir kencang, berdegup seperti akan perang. Aku meneleponnya. “Arkan! Ayo kita makan malam secepatnya sekembalinnya aku ke Malang. Arkan, apa kau sayang aku? Cintakah itu? apa kau berencana meninggalkan aku?” tuturku lewat telepon. “Apa yang kau bicarakan, aku hari ini mengambil penerbangan ke bandung, untuk menjemput ayah, dan segera menjemputmu, kita makan bersama dengan keluargaku. Bagaimana?” tanya Arkan. Aku bahagia sekali. Entah kenapa, Arkan membuat hatiku terus berdebar. “Baiklah.” Aku tutup telepon dan aku menggigit selimut dan berteriak. Aku sangat berterimakasih karena semalaman aku mendapatkan mimpi yang menyadarkan aku.. pada akhirnya aku dapat mengambil pokok dari mimpi itu, mimpi itu mengajarkan aku, menyadarkan aku, akan kehadiran Arkan.

Setelah makam malam bersama keluarga Arkan di Jakarta, aku kembali ke Malang, aku tentunnya sudah resmi menjadi tunangan dari Arkan Wiguna Setya. Sebelumnya aku tolak cinta dari Rain, meski hati ini pernah goyah karena Rain, karena mimpi itu, sekali lagi karena mimpi itu, aku menyadari akan kehadiran Arkan, kesempurnaannya yang menyilaukan mata, kini membuatku luluh dan bersimpuh untuknya.
Arkan menyadarkanku, kesabarannya yang menantiku, hm, bukan, bukan hanya menantiku dalam diamnya, tapi terus berada di sisiku sampai aku menyadarinya, baginya, cinta? Hanyalah untuk bersabar.

Cerpen Karangan: Eka Septiani Prayudi
Facebook: Septiani Prayudi

Cerpen Love? Just Be Patient (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Detektif Kaca

Oleh:
Telah kuperhatikan kaca itu, penuh retakan, dan ku lihat bayanganku tak sempurna. Tercipta di otak ku rasa keingintahuan akan retakan kaca itu. Ku selalu ingin tahu apa dan bagaimana

Jejak Kematian di Lorong Sepi

Oleh:
Di lorong gelap, sepi dan dingin, tubuh kaku menelungkup itu menyeruakkan bau amis darah yang mengalir dari pangkal lehernya. Luka terkuak lebar hingga hampir memisahkan kepala dengan tubuh. Cairan

Kalung Liontin Merah (Part 1)

Oleh:
“Aku nggak akan menangis. Hal itu hanya dilakukan oleh orang lemah,” ucapku dalam hati. Tapi ternyata pikiranku tak sejalan dengan hatiku yang telah tergores sekian lama. Tersirat banyak luka

Akhir Penantianku

Oleh:
“Aaaaa!! akhirnyaa!! Hari yang ku tunggu tiba juga!” Teriak Nasha dari balik selimutnya. hari itu, tanggal 2 Desember 2013 menjadi sejarah bagi hidup Nasha. Hari ulang tahunnya yang ke

Garis Alger

Oleh:
Jantung yang berdegup kencang, semakin aku sadar ia bukan milikku, membawa ku pada realitas yang ada. Aku melihatnya berdiri disana sama kakunya, seperti telur rebus yang dipertontonkan. Aku selalu

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Love? Just Be Patient (Part 2)”

  1. faridah says:

    Ceritanya bagus bengetttt,mengharukan,aku kira kejadian nona merebut dafi itu kenyataan ternyata mimpi.
    Aku salut sama perjuangan arkan pada nona.
    Aku suka cerpennya,bagus dan menarik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *