Mad

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 24 August 2015

“Kenapa sih kamu membawa kamera itu? Kamu tahu kan aku tidak suka direkam.” Kata si gadis yang berambut panjang berwarna merah itu dari sofa yang menghadap ke televisi yang sedang menyiarkan acara kartun. Si pembawa kamera, seorang laki-laki, membalas sambil tertawa di awal.
“Aku ingin merekam aksi kalian nanti. Aku ingin mengabadikan ini semua, nanti, di masa depan, kalau aku sudah punya anak, aku bisa mempertontonkannya kepada anakku, lalu berkata, ini loh, anakku, waktu ayah masih sekecil kamu, ayah mainannya kayak gini.”
“Haha”

Tiba-tiba terdengar suara seorang gadis dari depan pintu. Sambil tersenyum, ia merapikan rambutnya yang baru diwarnai warna kuning. Si gadis berambut merah dan si laki-laki langsung tertawa kagum, mereka langsung berjalan menuju pintu menghampiri si gadis berambut kuning.

“Wow! Keren. Kuning!” Kagum si laki-laki sambil membelai rambut kuning di gadis berambut kuning. Ia juga menyorot rambut si gadis berambut kuning sambil tertawa.
“Bagus, nggak?” Tanya si gadis berambut kuning sambil berpose-pose seolah ia sedang dalam sesi pemotretan.
“Bagus, kok. Kamu kelihatan… sangat riang” Kata si gadis berambut merah sambil berjalan mendekati si gadis berambut kuning. Semakin dekat. Dan menjadi sangat dekat.
“Oh, ya?” Tanya si gadis berambut kuning lagi sambil mengambil posisi duduk di sofa yang empuk dan nyaman.
“Ya. Sangat.”

Tiba-tiba terdengar suara hentaman dari lantai atas. Sangat keras.

“Apa itu?” Tanya si gadis berambut kuning.
“Aku nggak tahu.” Jawab si gadis berambut merah yang lalu turun dari posisi duduk menjadi posisi berdiri.
“Ayo lihat.” Ajak si gadis berambut kuning sambil merapikan rambutnya dan mengambil tasnya.
“Jangan! Jangan!” Kata si gadis berambut merah yang dengan cepat mengulurkan tangannya ke tangan si gadis berambut kuning yang sudah mengambil beberapa langkah.

“Kenapa?” Heran si gadis berambut kuning.
“Ya, pokoknya jangan. Aku… aku nggak mau kamu naik ke atas aja. Di atas ada nenekku, galak banget orangnya. Dia suka mecah-mecahin benda gitu terus ngehantam tubuhnya sendiri ke tembok…” Kata si gadis berambut merah sambil gemetaran.
“Kalau berarti dia terluka dong! Ayo cepat kita bantu dia! Nanti kalau dia mati bagaimana? Aku malas berurusan dengan polisi!” Ajak si gadis berambut kuning lagi. Yang akhirnya berjalan sedikit berlari menaiki tangga menuju lantai atas, diikuti si laki-laki dan si gadis berambut merah.

Namun, di saat si gadis berambut kuning benar-benar sudah berada di atas, tiba-tiba ia berteriak. Ia berteriak dengan sekencang-kencangnya. Ia ditarik. Tangannya menahan di anak tangga terakhir. Si laki-laki yang berada di belakangnya langsung panik, ia melihat makhluk aneh. Makhluk aneh. Namun hanya sekilas. Si laki-laki dan si gadis berambut merah lalu langsung berlari menuruni tangga. Mereka lalu menunggu di bawah sambil mendengarkan teriakan si gadis berambut kuning yang makin lama makin menghilang.

Dan, sedetik kemudian. Tubuh sang gadis berambut kuning terhempas dari atas dan pecah sampai di bawah. Darahnya muncrat kemana-mana. Si laki-laki dan si gadis berambut merah kaget. Lalu, mereka berjalan mendekat menuju mayat si gadis berambut kuning, diselimuti darah, dan… punggungnya yang tersayat pisau yang membentuk bintang terbalik.

“Aku akan naik ke atas.” Kata si gadis berambut merah.
“Mau ngapain?” Tanya si laki-laki.
“Dia haus, aku harus memberikannya sesuatu. Kau tunggu di sini, jangan kemana-mana, apalagi ke atas. Oke?” Ujar si gadis berambut merah sambil menaiki anak-anak tangga.
“Oke.” Jawab si laki-laki yang lalu berjalan menuju sofa dan menonton televisi yang sedang menayangkan acara musik.

Lalu, terdengar suara teriakan yang keluar dari makhluk aneh yang tadi ia lihat dan si gadis berambut merah.

Cerpen Karangan: Wahyu Tio

Cerpen Mad merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ghost Face

Oleh:
Hai namaku cindyana paraswati widyana nama yang panjang bukan?, biasa dipanggil cindy. Suara seseorang “eh kalian denger nggak? kalau siapapun yang mencari tahu tentang ghost face akan dibunuh”. Terus

Bak Mandi Merah

Oleh:
Naa.. Na.. Naaa~ Aku menyenandungkan lagu yang sedang kudengar melalui earphoneku ini, sambil mengerjakan PR matematika yang diberikan pak Cahya, pagi tadi. Inilah kebiasaanku, mengerjakan sesuatu sambil mendengarkan lagu,

Aku Lapar

Oleh:
Dia terbaring di kasur dengan tangan dan kaki terikat, menoleh ke kanan dan ke kiri. Tak ada cahaya, hanya pantulan pecahan kaca yang sesekali menyilaukan mata. Langit-langit tampak biasa

Diary Albert

Oleh:
Mobil Jeep berhenti tepat didepan teras balkon lantai satu. Aku turun seraya menghirup udara segar. Rasa penat hilang seketika. Hawa di bukit ini sungguh menyegarkan. Mataku mengitari sekeliling Villa

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *