Malam yang Panjang

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Misteri, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 30 August 2019

Sepertinya ini akan menjadi malam yang panjang. Suara jarum jam dinding pun terasa sangat lama. Seperti enggan berpindah dari satu angka ke angka yang lain. Sekarang, jam menunjukkan pukul 20.00 .

“Ahh.. Sial,”
Ketika kucoba untuk menyalakan hp smartphone-ku, yang ada hanyalah warna hitam pekat. Tidak ada tanda-tanda bahwa HP-ku memiliki baterai yang cukup banyak dan bisa dinyalakan. Sepertinya HP-ku memang benar-benar habis baterai. Ah, mungkin ini gara-gara tadi di sekolah. Aku menonton video-video di Youtube berjam-jam sepulang sekolah karena adanya wi-fi baru yang super cepat.

Oh ya, tunggu. Aku lupa memperkenalkan diri kepadamu. Namaku Clars, tinggal di Bumi, dan sedang di rumah sendirian. Jujur saja, aku paling malas kalau memperkenalkan diri. Tapi menurutku yang paling penting hanya nama saja kan?

Krieek…
Pintu kamarku terbuka disertai dengan decitan yang membawa aura horor. Suara decitan itu memang sering kudengar karena memang pintu kamarku sudah tua. Akan tetapi, sekarang berbeda. Aku di rumah ini sedang sendiri, terjebak dalam suasana yang sepi.

Tiba-tiba–saat bulu kudukku sedang berdiri akibat decitan pintu itu–lampu kamarku mati. Dari tempatku berada sekarang, kulihat di luar kamarku juga mati. Yang dapat kulihat sekarang hanyalah satu: warna hitam.

“Ya Tuhan.. Cobaan apa lagi yang akan Kau beri kepadaku?” ucapku pelan.
“Kenapa sih, hari ini aku sial banget? Udah ditinggal sendiri, waktu kerasa lama, batre hp abis, terus sekarang mati lampu.”

Sebuah ide kemudian tebersit di otakku.
Daripada aku harus ke bawah untuk mencari lilin atau senter, lebih baik aku membuka jendela saja. Siapa tahu ada cahaya dari rumah depan, begitu pikirku.

Sreet! Aku membuka tirai jendela. Hufh, beruntungnya aku karena rumah depan tidak mati listrik juga. Mungkin karena gardu listrik rumahku dan rumah depan berbeda. Aku pernah mendengar bahwa rumahku termasuk gardu listrik pertama sekaligus tertua di kompleks ini.

Saat aku akan membuka jendela, spontan aku berteriak. Pasalnya, aku melihat seorang kakek di jendela lantai dua rumah depan tersebut. Yang lebih membuatku kaget adalah, kakek itu menatap ke arahku.
Siapa dia? Bukankah di runah depan itu tidak ada seorang kakek yang tinggal di sana? Refleks jantungku berdetak kencang.

Aku langsung menutup tirai jendela dan mengempaskan badanku ke kasur.
Segera kutarik selimut, membukanya lebar-lebar, lalu menutup seluruh badanku dengan selimut. Langkah selanjutnya yang kulakukan adalah menutup mata, berusaha untuk tertidur. Namun, rasanya sulit sekali untuk bisa tertidur.

Perlahan kubuka mataku. Rupanya listrik yang mati kemarin sudah menyala.
Tapi.. Hei! Aku melirik jam dinding. Betapa terkejutnya aku ketika tahu bahwa sekarang masih pukul 21.00 . Berarti, aku hanya tertidur sebentar. Tapi mengapa rasanya aku sudah tertidur lama ya?

“Ugh, kayanya yang tadi aku katakan benar. Malam ini nungkin akan menjadi malam yang panjang,” gumamku.

Sedetik setelah aku selesai berkata, terdengar suara ketukan. Samar-samar terdengar suara orang juga, tapi aku tak tahu apa yang dibicarakannya.
Buru-buru kutarik selimut kembali. Tak lupa aku menutup mata. Sudahlah, biarkan saja orang itu mengetuk tanpa henti. Aku takut kalau itu ternyata adalah pocong keliling yang diceritakan oleh Zetta kemarin.

Terdengar sebuah suara-suara aneh yang masuk ke telingaku. Membuatku kembali terbangun. Anehnya, kali ini lampu kamarku kembali mati. Gelap.
Lagu lingsir wengi terdengar jelas. Suaranya seperti dari HP. Tapi, HP siapa? Bukankah HPku mati?

Jantungku berdetak semakin kencang. Ingin rasanya aku menangis. Kau tahu kan, kabar yang beredar tentang lagu lingsir wengi? Ahh sudahlah aku takuut…

“Paa.. Maaa… Cepetan pulangg. Kayaknya ini malam terakhir Clars,” kataku frustasi.
Aku pasrah, kalau ini adalah bagian dari kematianku. Aku mulai mengaitkan hal-hal yang tadi kualami. Dari mulai HP-ku yang mati, listrik mati, kakek di rumah depan, sampai lagu lingsir wengi.
“Hikss… Hiks…” pelupuk mataku sudah tak mampu lagi membendung air mataku.

Anehnya, setelah aku menangis terdengar suara tawa. Suaranya sangat kukenali sekali. Tak lama, lampu menyala bertepatan dengan berhentinya lagu lingsir wengi.
Ulala! Alangkah terkejutnya aku. Rupanya ada Papa, Mama, Kak Sher, kedua adikku dan sahabat-sahabatku.

“Happy birthday Claris.. happy Birthday Claris..,” mereka semua dengan bahagia menyanyikan lagu ‘happy birthday’.
Aku yang tadi menangis jadi tertawa. Ah, aku malu.

Sampai akhirnya, ada acara meniup lilin.
“Tiup lilinnya, Clars.”
Aku mengangguk. Dengan perasaan senang, aku meniup lilin yang berada di atas kue yang dipegang oleh Papa.

Oh, ternyata ini surprise mereka. Aku baru ingat bahwa hari ini adalah harin ulang tahunku. By the way, sekarang pukul 00.01 . Mereka semua sukses memberi surprise ulang tahun tepat di pukul 00.00 .

“Makasih semuaaa!” ucapku.
Aku memeluk mereka satu-satu.

“Oh ya, tadi Papa, Mama, Kak Sher, Zee, Flow, Viola, Zetta, sama Queen dateng ke sini jam 9 ya? Ngapain ngetuk-ngetuk?” tanyaku.
“Enggak,” mereka menjawab dengan kompak.
“Iya, lagipula ngapain kita ngetuk-ngetuk kan kita bisa lewat pintu belakang kalau pintu depan dikunci. Tadi juga kita lewat pintu belakang. Kalau pun jam 9 itu kita, pastinya ada suara mobil dulu. Tadi ga ada kan?”

Iya juga ya. Jadiii…

Kemarin memang benar-benar hari yang tak terlupakan. Mmm, tadi pagi aku bertemu Pak Stev, pemilik rumah depan. Ternyata kemarin beliau yang mengetuk pintu karena akan memberi undangan syukuran karena Ayahnya telah pulang dari Australia. Ayah Pak Stev pindah karena istrinya baru saja meninggal. Pak Stev pun sebagai anak pertama berniat untuk mengurus Ayahnya. Dan kakek yang kemarin malam aku lihat di jendela itu adalah Ayahnya Pak Stev. Oh ya, soal mati listrik itu ternyata itu memang kesalahan dari PLN-nya.

Hari ini, ketiga sahabatku yaitu Viola, Zetta dan Queen menginap di rumahku.
“Eh, AC nya matiin aja dulu. Saran aku sih anginnya angin alami aja,” saran Queen.
Aku mengangguk. Aku pun membuka tirai dan jendela kamarku.

Lagi-lagi aku terkaget. Aku melihat seorang kakek yang ada di jendela lantai 2 rumah depan.

“Ehh kaliaan. Ituu ada kakek di jendela rumah Pak Stev! Tapi beda sama Ayahnya Pak Stev!” seruku sembari mengempaskan badan ke kasur.
Viola, Zetta dan Queen penasaran dan melihatnya.
Zetta tertawa. “Oh, itu mah Kakek aku, Clars.”
“Hah? Sejak kapan kakek kamu tinggal di sini?”
“Sejak kemarin. Oh, aku lupa cerita ke kalian ya?”
Aku menggeleng-gelengkan kepala, bingung. Atau mungkin saja hari ini Kakekku yang datang ke sini. Hahahahaha…

Ditulis pada Jum’at, 7 Oktober 2016

Cerpen Karangan: Creafids
Creafids, remaja penyuka sastra yang memiliki mimpi untuk menjadi Akademia ARKI 2017. Sedang menikmati penghujung masa putih birunya. Cerita pendek “Malam yang Panjang” ditulisnya saat ia duduk di bangku kelas 8 SD, di aplikasi line karena sedang bosan. Lalu saat kelas 9, ia kirimkan cerpen ini ke cerpenmu.com

Cerpen Malam yang Panjang merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Unrequited Love

Oleh:
“Vi, ada gossip baru!” “Oh ya? Apaan?” “Renald ma Titi deket banget akhir-akhir ini. Mungkin mereka…” “Jadian??” “Mungkin.” “Baguslah.” Ada sedikit nyeri di hati ketika aku mendengar kabar burung

I Hate You, But I Love You

Oleh:
“JOY… BALIKIN BUKUKU ITU!!!” teriakanku menggema di seluruh antero sekolah, ini karena ulah Joy Ilcander. Musuh bebuyutanku dari SMP dan entah kenapa kami dipersatukan di SMA. Baginya jika tidak

Menatap Dari Belakang

Oleh:
Sudah 3 tahun sejak aku meninggalkan tempat ini. Tempatku menghabiskan 3 tahunku. Tempat yang aku pikir akan menjadi sangat membosankan untukku. Tempat yang siapapun tidak akan tahu pengalaman dan

SMS Harapan

Oleh:
Sore ini hari tidak begitu bersahabat, selepas asar, tiba-tiba aku dan muhayir tak bisa pulang ke rumah karena hujan. Sehingga kami menunggu di masjid hingga hujan reda, Alhamdulillah tidak

The Real Monster (Part 1)

Oleh:
“Presentasi kita kacau, parah banget! Ini gara-gara si Fajri nggak masuk,” Maya berujar kesal ketika Ia bersama teman-temannya baru saja beranjak meninggalkan kelas. Bibir ranumnya mengerucut, menandakan betapa buruk

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Malam yang Panjang”

  1. moderator says:

    So, cerpen ini buatan anak “SD” kelas “8” ya… eh’ Untuk ukuran anak “SD” cerpen cerpenmu selalu menarik loh Cre ^_^ ga pernah bosen baca semua cerpenmu…
    Makasih ya Cre…

    ~ Mod N

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *