Manusia Manusia Gunung (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 13 September 2015

Mengisi waktu liburan, aku menemani Mama mengurusi tanah Nenek yang ingin dikelola menjadi kebun teh di daerah Gunung Talang, Solok. Selama dua hari aku selalu mengikuti kemanapun Mama pergi. Tapi hari ini, aku lebih memilih tinggal di vila Nenek yang menjadi tempat tinggal kami selama di sini, sendirian. Ternyata aku membuat keputusan yang salah. Beberapa menit yang lalu Mama menelepon, mengecek keadaanku yang sebenarnya baik-baik saja.

Lalu terlontarlah, “Zi mau muter-muter ya Ma”. Mendengar itu, Mama melarangku dengan keras untuk ke luar rumah dengan berbagai alasan. Pertama, takut aku nyasar. Yang kedua, hawa di luar bukan main dinginnya dan Mama takut aku kena flu. Alasan ketiga, vila tidak aman ditinggal, karena memang tidak ada pembantu atau penjaga rumah. Dan yang keempat adalah MANUSIA–MANUSIA GUNUNG.

Baru saja Mama menelepon, pintu rumah sudah diketok seseorang. Segera aku berlari membukanya, dengan sedikit takut. Ternyata apa yang Mama bilang benar, lelaki berjaket hitam dan bertopi gunung itu datang. Seketika bulu kudukku merinding. Sebelum sempat lelaki itu berbalik badan dan memperlihatkan wajahnya, ku banting pintu kembali tertutup dan menguncinya. Ketakutanku bertambah saat tersadar kalau aku sendirian di vila Nenek ini. Tiba-tiba pintu diketok lagi. Terbirit-birit aku menjauh dari ruang tamu, berlari menuju kamar dan meringkuk di bawah selimut hingga Mama pulang.

Apa benar cerita ‘khayalan’ Mama itu. Mulanya aku mengira Mama hanya menakut-nakutiku. Mama sempat bercerita tentang manusia-manusia gunung. Mereka bukan sembarang manusia. Manusia-manusia gunung adalah mereka yang terjebak dan mati di dalam hutan, karena tersesat, karena hewan buas, karena hawa dingin, karena kelaparan, dan karena kelelahan. Mama bilang, mereka suka ke luar tidak tentu waktu untuk mencari sosok teman yang akan dibawa ke dalam hutan. Mereka susah dikenali karena pakaiannya sama dengan para pendaki gunung biasanya. Jaket, topi gunung, tas ransel. Saat mendengar Mama bercerita, seketika aku bergidik ngeri. Ku harap itu bukan kisah nyata karena aku tengah sendiri di sini.

Di balik selimut aku tidak henti-hentinya membaca doa. Tubuhku masih gemetaran ketakutan. Tiba-tiba aku mendengar pintu rumah diketok lagi setelah setengah jam hening. Jantungku langsung berhenti berdetak. Mulutku kembali komat-kamit. Pintu itu diketok lagi. Makin keras, makin emosi. Aku makin membenamkan kepalaku di balik bantal, sama sekali tidak berminat mendengarkan ketukan itu.

“rrrrgghhh” Hp-ku bergetar. Aku singkirkan bantal dan selimut meraih Hp-ku. Dari Mama.
“Mama di mana? Cepet pulang! Zi takut!” ucapku emosi.
“Gimana Mama mau cepet pulang?! Dari tadi pintu Mama ketokin nggak dibuka!” jawab Mama nggak kalah emosi. Aku sedikit lega setelah tahu bahwa yang dari tadi mengetok itu Mama.
“Ma, tadi manusia gunung itu datang!” repetku langsung ketika Mama melangkah masuk.
“Bener? Kok bisa ketemu? ke luar ya kamu? Kan udah Mama bilang kalau di luar itu…” belum sempat Mama melanjutkan kalimat ‘basinya’, aku lanjut bicara.
“Nggak Ma. Boro-boro. Abis denger cerita Mama, bukan cuma bulu roma yang berdiri, bulu irama juga. Manusia gunung itu ke sini, ma. Ngetuk pintu.”

“Ckckckck” Mama cuma berdecak menanggapi ucapanku.
“kok cuma ckckckckck?”
“Kagum aja. Hantu ternyata tahu sopan santun. Kalau di film-film kan nyelonong aja” jawab Mama asal. Aku jadi keki.
“Ma, sebenernya cerita Mama itu beneran nggak sih Ma? Tadi itu, habis Mama nelpon aku, ada laki-laki datang. Pakai jaket, pake sepatu boat, pakai topi gunung. Ya persis kayak manusia gunung yang Mama ceritain itu. Aku serius Ma” Aku meyakinkan Mama dengan ceritaku tentang kejadian menyeramkan barusan.
Mama menatapku agak serius. Jadi takut.
“Ya ampun Zi Kamu itu udah gede. Masih percaya sama cerita begituan. Sayang itu semua fiktif. Not real. Jangan terlalu lugu gitu dong. Mungkin aja itu tetangga kita. Mama mandi dulu. Sebentar lagi relasi Mama datang. Oh iya, Mama lupa. Di dalam mobil ada nasi kotak. Kamu ambil, terus makan. Nggak usah nunggu Mama.” Kemudian Mama berlalu.

Halaman vila ini sangat luas. Hanya kurang perawatan saja. Rumput ilalang tumbuh di mana-mana. Sebagian pagar kayunya sudah berlumut dan lapuk. Sangat jelas terlihat vila ini tidak diurus pemiliknya. Ya, semenjak Nenek meninggal, sudah jarang kami berkunjung ke sini. Tukang bersih-bersih hanya datang seminggu sekali. Kadang-kadang tetangga yang akrab sama Nenek dulu, dengan suka rela membersihkan halaman ini. Jalan di depan vila bukanlah jalan aspal. Tapi jalan tanah liat berkerikil. Jarang ada motor apalagi mobil yang lalu lalang. Keseringan sepeda. Baik itu sepeda onta ataupun sepeda gunung.

Siang yang cukup terang, meski hawa tetap dingin, pemuda-pemuda yang tinggal di sekitar daerah ini asyik berkeliling bolak-balik dengan sepeda gunung mereka. Saat melihat aku ke luar mobil setelah mengambil nasi, salah seorang dari mereka melihat ke arahku dan tersenyum. Aku balas dengan senyum yang lebih manis. Dia malah mengayuh sepedanya memasuki pekarangan vila. Agak gelagapan aku berusaha tenang. Ternyata laki-laki ini manis sekali. Tubuhnya agak kurus, kulitnya putih pasi, senyumnya manis karena gigi-giginya berjejer rapi dan bersih. Dia hanya menggunakan celana jins oblong, kaus tipis dan jaket.

“Baru pindah ya?” tanyanya sopan, masih duduk di atas sepeda gunungnya. Aku menggeleng dan tersenyum semanis mungkin alias tebar pesona.
“Nggak. Cuma stay beberapa hari aja.” Jawabku sesingkat mungkin supaya tidak ketahuan kalau lagi grogi.
“Oh. Aku Dyllan.” Ia mengulurkan tangannya dan langsung ku sambut.
“Zizi” aku pun memperkenalkan namaku. Dia sedikit lama menggenggam tanganku, membuatku panas dingin.
“Bukannya udara di sini dingin ya?” pertanyaan aneh menurut telingaku. Tapi tetap ku jawab sopan.
“Iya, dingin banget”

“Tapi kok tangan kamu keringetan? Nggak lagi sakit, kan?” ternyata itu maksud pertanyaan Dyllan tadi. Aku gelapan tapi berusaha tenang.
“Nggak. Aku nggak sakit. Cuma em, itu, baju aku ketebalan.” Jawabku asal. Belum sempat Dyllan menanggapi jawabanku, aku siap-siap menjauh.
“aku masuk dulu ya. Mau makan. Kapan-kapan kita ngobrol lagi. Dah, Dyllan” aku langsung masuk ke dalam tanpa berniat melihat ekspresi Dyllan. Lebih lagi ketika sadar ternyata aku hanya menggunakan dress tipis selutut!

Tok! Tok! Tok! baru saja aku menghabiskan suapan terakhir, pintu rumah diketok. Mungkin relasi Mama. Setelah cuci tangan, setengah berlari aku membuka pintu. OMG! Lelaki itu lagi. Bukan si manis Dyllan. Tapi manusia gunung! Kali ini wajahnya benar-benar tepat di hadapanku. Keningnya keriput, berkumis dan berjenggot tebal yang sudah mulai beruban. Badannya agak berisi dan tidak terlalu tinggi. Kulitnya pucat pasi. Tatapannya tajam. Ia membawa ransel lusuh, menggunakan sepatu boot kumuh dan jaket kusam.

“Maaaamaaa!!!” aku berlari sekencang yang aku bisa sambil beteriak memanggil Mama. Aku mendengar langkah kaki mendekat dari kamar Mama. Aku peluk Mama ketika bertemu sosoknya. “adaa anu maa..nusia gunung!”
“Zizi! Jangan bercanda dong” Mama malah menanggapiku santai dan berjalan mendekati ruang tamu. Aku mengikuti Mama dari belakang. Lelaki itu masih berdiri di luar! Aku harus pastikan bukan hanya aku yang bisa melihatnya.
“Mama bisa lihat laki-laki itu kan?” bisikku.
“Ya bisalah! Selamat siang Pak Johan” Dengan ramah Mama menyapa lelaki itu. Dia membalas sapaan Mama dengan senyuman manis, bukan seram seperti di tv.

“Maaf ya Pak. Anak saya ini suka ngkhayal yang nggak-nggak.”
“Indak ba’a do buk. Muko ambo seram condo hantu tu takuik anak ibuk.” Pak Johan tertawa renyah. “tadi ambo kasiko, anak ibuk jo nan buko pintu. Dek takuiknyo, ambo tunggu sajo ibuk pulang karojo.” (tadi saya ke sini, anak ibu juga yang buka pintu. Karena takut dia, saya tunggu saja ibu pulang kerja.)
“Maaf sekali lagi Pak. Anak saya nggak tahu. Bapak bisa mulai kerja hari ini.” Lagi-lagi Mama minta maaf karena kebodohanku. Kemudian Pak Johan berlalu.
“Jadi?”
“Iya. Pak Johan tukang kebun yang Mama hubungi kemaren. Kamu sih jadi malu sendiri, kan?” Syukurlah kalau manusia gunung itu hanya cerita khayalan Mama saja. Aku bisa lega tinggal di vila sendirian kalau Mama kerja.

Pagi ini aku juga memilih tinggal di vila, lebih lagi setelah tahu ternyata ‘manusia gunung’ itu hanya cerita.
“Jangan ke mana-mana ya Zi. Sebentar lagi Pak Johan kesini, kerjaannya belum selesai kemaren. Daripada nggak ada kerjaan, mendingan ntar kamu ikut bantuin aja. Mama pergi dulu.”

Setelah Mama pergi, aku segera mandi dan berpakaian rapi. Bukan bermaksud melanggar pesan Mama, aku hanya ingin keliling pekarangan vila saja. Aku lihat ada ayunan di depan bagian kiri. Di sini aku duduk dengan jaket tebal. Menikmati sejuknya udara pedesaan. Di depan vila terhampar hutan pinus yang luasnya berhektar-hektar. Di samping kiri dan kanan memang tidak ada rumah penduduk. Namun beberapa meter saja berjalan, sudah terlihat permukiman penduduk yang tidak terlalu padat. Termasuk rumah Pak Johan di antaranya.

Pagi-pagi begini, jalan tanah di depan vila sudah lumayan ramai. Ada tukang sayur dengan sepedanya. Ada juga petani dengan kerbaunya. Pemuda-pemuda kemarin siang juga lalu lalang. Ada Dyllan di antara mereka. Dyllan menghentikan sepedanya di depan gerbang vila. Dia memandangku. Sepertinya kali ini dia yang ingin dihampiri.

“Kok pagi-pagi udah main sepeda?” tanyaku heran ketika sudah tiba.
“Main? Aku abis ngantar sayur-sayuran ke pasar.” Jawabnya sambil tertawa.
“Oh. Maaf. Aku kirain kamu emang main sepeda dari pagi sampe sore”
“Jalan-jalan yuk!” Ajaknya tanpa basa-basi. Tawaran yang bagus. Tapi, bagaimana dengan pesan Mama? Em, aku izin saja sama Pak Johan.
“Pak aku keliling-keliling sebentar ya nggak lama kok” aku berteriak memberi tahu Pak Johan. Beliau hanya mengangguk dan melanjutkan pekerjaannya.

“Kita mau ke mana?” tanyaku pada Dyllan saat kami sudah beberapa meter menjauh dari vila.
“Kamu rugi kalau ke sini tapi nggak tahu apa yang istimewa di tempat ini.” Hanya itu jawabannya, dan tambah semangat mengayuh sepeda.
“Jangan laju-laju dong. Aku kan jalan kaki” teriakku saat tertinggal jauh darinya. Aku hawatir juga kalau sampai kehilangan jejak, karena kami memasuki gang-gang kecil. Dyllan spontan menghentikan sepedanya dan menungguku.

“Dari tadi aku yang enak. Kamu deh, yang naik sepeda. Gantian” Dyllan langsung turun dari sepeda ketika aku berhasil menyusulnya. Dengan senang hati aku naik dan berniat balas dendam.
“Dada Dyllan aku duluan” aku mengayuh sepeda gunung itu dengan kencang dan sekuat tenaga sehingga Dyllan tertinggal jauh di belakang.
“Zizi..” Dyllan berteriak memanggilku. Barangkali cape.
“Cape ya? Kamu kan laki-laki. Lari dong. Masa gitu aja nyerah.” aku malah menggodainya.
“Bukannya gitu. Harusnya kamu belok sini” Dyllan menunjuk tikungan di sampingnya. O..ow aku lupa kalau aku sama sekali tidak tahu jalan!

Dyllan membawaku ke tempat yang benar-benar indah. Sebuah sungai yang jernih dan dangkal. Ini baru petualangan namanya. Kami duduk di atas batuan besar di tepi sungai itu. Suara aliran arus sungai membuat suasana jadi romantis.

“Kapan kamu balik ke Riau?” tanya Dyllan. Aku yang tengah menikmati alam sedikit kaget.
“Lusa mungkin. Kok tahu aku dari Riau?”
Em, kira-kira sudah sejauh apa ya Dyllan tahu tentang aku? Diam-diam ternyata dia menyelidiki juga. Atau mungkin dia nanya-nanya sama Pak Johan tentang aku. Aduh kok jadi GR gini ya?
“Oh. Ya tahulah. Plat mobil kamu” Gubrak!!! Ternyata dari situ. Ternyata memang aku yang ke-GR-an.
“Iya, ya Ngomong-ngomong, rumah kamu di mana Lan?” aku berusaha menutupi rasa maluku.
“Nggak jauh dari sini kok. Kapan-kapan aku ajakin deh.” Setelah itu dia mengajak aku bermain air di sungai. Awalnya aku takut. Nanti kalau Mama pulang duluan dan melihat aku basah-basahan, malah disangka ngapa-ngapain. Tapi rugi juga kalau tidak mencoba air sejuk ini. Mungkin besok aku tidak punya waktu lagi.

“Aduh dingin banget airnya” baru memasukkan satu kaki ke air, rasanya seluruh tubuhku beku.
“Nanti juga terbiasa. Kenapa sih, takut-takut gitu?”
“Mama, dia ngelarang aku ke luar sebenarnya.” Ujarku kaku. Malu karena membuka kartu kalau sudah melanggar janji.
“Kok nggak bilang dari tadi?” Dyllan terlihat agak kecewa.
“Maaf. Aku cuma bosan di rumah.” Ujarku penuh penyesalan.
“Ya udah nggak apa-apa. Pulang yuk. Ntar malah keburu pulang Mama kamu.” Kami pun pulang dan terus bercengkrama sepanjang perjalanan.

“Kok segitunya Mama kamu ngelarang ke luar rumah?” tanya Dyllan setiba kami di gerbang vila. Sepertinya Pak Johan sedang istirahat dan kembali ke rumahnya.
“Alasan-alasannya kurang logis. Takut aku kena flu lah, takut aku kesasar lah, takut ada manusia gunung lah, macem-macem deh pokoknya.”
“Haha. Wajarlah Mama khawatir sama anaknya. Manusia gunung? Cerita itu emang terkenal di sini. Kamu tahu kan? Mereka yang mati saat mendaki Gunung Talang, ada yang tersesat, ada yang kelaparan dan kedinginan. Konon, sewaktu-waktu mereka berkeliaran di sekitar kita mencari seorang teman.” Mendengar cerita itu kembali, membuat takutku datang lagi.
“Jadi cerita itu bener? Kata Mama Cuma fiktif aku sampai malu karena ngira Pak Johan itu manusia gunung.”
“Terserah kamu. Boleh percaya atau tidak. Tapi aku sarankan hati-hati. Terkadang dia terlihat tidak mencurigakan. Tapi di balik itu, dia menyimpan sesuatu.”

Pernyataan terakhir Dyllan membuat aku bergidik ngeri. Bayangan Pak Johan menghantui kepalaku. Hingga malam ini aku jadi sulit tidur. Besok aku berencana ikut Mama. Aku tidak mau lagi ditinggal dengan orang yang belum jelas alias Pak Johan.

Akibat tidur terlalu larut, aku jadi bangun agak kesiangan. Ditambah lagi pagi ini cahaya matahari tidak sampai menembus jendela kamar. Kabut pekat menyelimuti kecamatan Gunung Talang yang menyebabkan mataku susah membedakan antara jam 6 pagi dan 9 pagi. Aku berniat ingin ikut Mama hari ini. Aku berjalan mendekati kamar Mama yang ternyata sudah kosong. Aku berlari ke dapur, ternyata juga kosong. Aku lihat jendela depan, mobil Mama sudah lenyap. Aku ditinggal sendiri ‘lagi!’. Segera aku mandi dan memakai jaket yang paling tebal. Aku ke luar dan ku kunci pintu rumah. Aku mau menunggu Dyllan saja. Aku tidak mau tinggal di rumah bersama Pak Johan.

Bersambung

Cerpen Karangan: Dhea CLP

Cerpen Manusia Manusia Gunung (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Misteri Jasad Dalam Air (Part 2)

Oleh:
Dari sorot matanya, Lazuardi jelas tak suka dengan pertanyaan itu. Namun memandang nenek itu adalah guru spiritualnya sejak dia masih menjadi bromocorah hingga kini dia pensiun karena usia serta

Story of Ma’ndu

Oleh:
Malam ini, aku dan kelompok supranatural kami pergi untuk memenuhi panggilan dari salah seorang warga. Ia menginginkan kami untuk mencari tahu kebenaran dari keberadaan “Ma’ndu”, sosok yang baru-baru ini

12th Secret

Oleh:
Suasana pemakaman yang ramai dan sumpek membuat Wanda ingin kabur dari keramaian walaupun sebenarnya merasa cukup tega dengan almarhumah temannya yang telah di alam sana. Wanda duduk di sebuah

Misteri Sebuah Lukisan (Part 1)

Oleh:
Seperti pagi ini mentari sudah menempati janjinya menyinari bumi tanpa menuntut balas… “jelita… Kamu mau kemana pagi-pagi udah cantik begini..” tiba-tiba mama sudah berada di sampingku ketika aku selesai

Imajiner

Oleh:
Duduk di kursi kamarku, sangat merasa bosan hari ini, “huft.., apa yang akan kukerjakan hari ini…”, terlintas di benakku, kemudian kucoba membuka salah satu media sosial favoritku di telepon

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *