Masker Pembawa hidayah

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Misteri, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 28 July 2018

Asap kelabu yang begitu putih membuat mataku begitu perih untuk memandang ke segala penjuru. Begitulah keadaan yang terjadi, desaku dilanda asap tebal yang menyelimuti ruang bumiku. Tiada lagi terlihat senyum mentari pagi dan sorenya. Aku hanya bisa termenung di kursi depan halaman rumahku sembari berpikiran yang tak menentu. Kulihat raut wajah para penjaja kaki lima tak lagi kelihatan kegirangan melainkan kesedihan yang mendalam, melihat dagangannya tiada satu orangpun yang membelinya. Kulirik pula burung-burung yang berterbangan tak lagi terbang dengan indahnya, mereka ditutupi asap tebal yang begitu menutupi mata mereka. Sempat air mata ini berlinang namun terhentikan oleh suara yang mengejutkanku saat itu.

“hei, Vanyo! kok kamu duduk termenung saja, entar kesambet loh!” terdengar suara Jodin yang menghentikan pikiranku yang terlarut cukup jauh dari ambang kesadaran.
“ehh, kamu Jod. Ngagetin aku saja kamu!, aku sengaja duduk sendiri sembari berhayal” lanjutku merespon jodin yang mulai duduk di sampingku.
“ahh, kamu Van hobinya berhayal yang gak jelas, mending kamu ikut aku ke rumah Joki” sela Jodin degan bermaksud mengajakku untuk pergi ke rumah Joki si Bandel Kampung, itu lah gelar yang tepat untuk Joki.
“emang kita mau ngapain ke rumah si Joki, kalau hanya untuk merencanakan hal yang buruk mendingan aku gak ikut deh” jawabku bermaksud menolak ajakan si Jodin.
“Siapa bilang mau merencanakan hal yang buruk, jangan suuzon kenapa sih kamu!. ayolah ikut aku, Cuma sebentar kok.” Lanjut Jodin yang mulai memaksa aku untuk tetap pergi bersamanya ke rumah Joki.

Tanpa penundaan apapun aku bersama Jodin pun melangkahkan kaki untuk pergi ke rumah Joki, dengan udara yang begitu kurang bagus, aku dan Jodin seperti tak menghiraukan semua itu. Selama perjalanan ke rumah Joki aku hanya diam membisu begitupun si Jodin. Entah apa yang Jodin pikirkan kulihat raut wajahnya begitu khawatir, namun aku tidak terlalu menghiraukan hal itu. “Mungkin Jodin ada masalah, tapi apa ya..?” Tanyaku dalam hati sembari meneruskan langkah kaki.

Beberapa menit kemudian kami pun sampai tepat di depan rumah Joki, kulihat pintu rumah Joki yang sudah tua dengan warna coklat tua yang dihiasi robekan triplek pada bagian atasnya, tertutup dengan rapi dengan ventilasi udara yang tertutup oleh jaring kawat yang berdiameter kecil. Aku mulai risih akan tutupnya pintu rumah Joki, karena aku pikir Joki tiak berada di rumahnya, hal yang membuat waktuku sia-sia jika datang ke rumah orang yang tidak ada di runahnya, hanya dapat lelahnya saja.

“apa-apaan ini jod..!, kok sepertinya rumah Joki kosong, huff membuang waktu ku saja berjalan ke sini..!” sewotku dengan melampiaskan penyesalan kepada Jodin.
“Mana aku tahu, kalau si joki gak ada di rumah” jawab Jodin yang merespon perkataanku.

Tidak menunggu waktu lama lagi, aku pun pergi dari tempat berdirinya Jodin di depan pintu rumah Joki. Dengan raut wajah yang kusam aku melangkah dengan cepat menuju arah pulang. Jodin pun mengikutiku dari belakang, tanpa mengeluarkan suara sedikitpun, begitupun aku. Waktu yang cukup lama menyita perjalanan pulang walau hanya 10 menit tetapi bagiku itu sudah sangat lama.

Sesampainya di depan halaman rumahku. Jodin pun berhenti sembari berkata “Vann, kamu kenapa sih..? aku perhatikan dari tadi kamu seperti banyak masalah saja.?” Jodin yang mulai bertanya dan membuat aku menjadi malas untuk menjawab pertanyaannya. “eleeh, sok nanyain orang. Padahalkan dia yang punya masalah” kataku dalam hati sambil duduk di kursi halaman depan rumahku. Pertanyaan Jodin tak aku hiraukan, jodin pun kembali duduk disampingku. Hening, hampa begitu lah yang terjadi disaat kami duduk berdua diatas kursi tua itu.

Kejauhan terdengar suara sepeda motor yang berlalu, kulihat pengendaranya memakai Masker berwarna coklat muda. Fikiranku pun terbawa akan beberapa pertanyaan yang membuat aku penasaran akan siapakah orang yang baru saja lewat dan menggunakan masker tersebut. Ketika aku larut dalam suasana di pikiranku terdengar suara jodin yang bermaksud pamit untuk pulang ke rumahnya. Mungkin dia merasa kurang nyaman di dekatku karena aku hanya diam membisu tanpa berbicara sedikitpun dengannya.

“van, aku pulang dulu ya.” Dengan tanpa basa-basi Jodin berpamitan untuk pulang.
“iya” jawabku ketus terhadap Jodin.
Jodin pun berlalu meninggalkan aku di kursi tua itu. Dari kejauhan aku melihat jodin melangkah dan terus melangkah sampai pada akhirnya yang terlihat hanyalah kabut asap yang tebal. Akupun masuk ke dalam rumah berniat untuk mandi dan melakukan hal apa yang nantinya untuk aku kerjakan.

Di sela aku melakukan pekerjaan rumah, entah kenapa aku mulai kepikiran anak yang memakai Masker tadi. Firasatku mengtakan ada sesuatu yang aneh dengan pemuda yang memakai masker tersebut. Entah hal aneh apa aku pun kurang begitu yakin dengan firasat itu.

Hari kemarin pun telah berlalu, kini aku sibuk membetulkan sepedaku di halaman rumah. Di tengah ketekunanku membetulkan sepeda, aku mendengar ada seseorang yang memanggilku dari kejauhan, suara sayup yang bisa membuat bulu kudukku merinding. Sesekali aku menoleh ke kiri ke kanan dan ke belakang tiada satu orang pun yang terlihat, suara itupun tidak lagi aku dengar. Kembali aku membetulkan sepedaku dengan kagetnya tiba-tiba bahuku dipegang oleh seseorang, ketika aku menoleh ke belakang ternyata yang memegang bahuku jodin.

“Huff, kamu ngagetin aku saja jod” kataku sambil kembali membetulkan sepeda.
“hahaha, gitu saja sudah terkejut, cemen lo van” sambung jodin yang mulai mengeledek aku.

Jodin pun mulai membantu apa yang aku lakukan tanpa aku pinta. Ditengah membantuku jodin sesekali membuat lelucon yang bagiku itu sangat garing ya lebih tepatnya tidak lucu sama sekali. Sepedaku pun sudah siap dibetulkan, aku dan jodin pun duduk di kursi tua yang ada di halaman rumahku. Jodin yang duduk di sampingku mulai sibuk menanyakan keberadaan joki, aku pun menjawab tidak tahu atas keberadaan joki sekarang. Ingin rasanya aku menceritakan kepada jodin akan keanehan yang aku rasakan baru-baru ini. Tapi aku urungkan karena takutnya jodin menganggap itu semua tidak penting. Sesekali aku juga menanyakan tentang joki kepada jodin. Tapi jodin seperti menyembunyikan sesuatu kepadaku, “kayaknya ada hal yang disembunyikan oleh jodin kepadaku” kataku berbicara di dalam hati.

Beberapa menit kemudian kami berdua mulai terdiam tanpa mengucap sepatah katapun. Lalu kami menyandarkan punggung kami di kursi tua itu. Aku pun mulai kepikiran akan hal apa yang disembunyikan jodin kepadaku, sesekali kulihat raut wajah joki yang sedang termenung seperti menyimpan rasa khawatir yang mendalam. Disaat itu dari kejauhan yang ditutupi asap, aku dan jodin melihat seseorang yang melangkahkan kaki menuju jalan setapak di dekat rumahku, yang kulihat langkahnya begitu pelan, orang itu menggunakan masker seperti orang yang kami lihat kemarin. Dengan penasaran aku pun berlari menghampiri orang terebut, sesampainya aku di dekat orang tersebut sepertinya aku mengenal postur tubuh dan tinggi badan orang tersebut, bagiku orang itu tidak asing lagi.

Jodin pun menghampiriku, dengan napas yang terengah-engah jodin berdiri tepat di samping kananku. Jodin membisikkan sesuatu di telingaku yang menanyakan siapa orang yang memakai masker ini sebenarnya, aku hanya bisa menggelengkan kepala tanpa bersuara. Orang yang memakai masker tersebut hanya diam membisu ketika kami berdiri di dekatnya. Jodin pun mulai bertanya kepada orang tersebut akan siapakah dirinya, kenapa dia kelihatan aneh sekali ketika jodin bertanya seperti itu, dia meninggalkan kami dengan melangkah sangat cepat, aku dan jodin hanya saling menatap mata kebingungan.

Jodin pun mengajakku untuk kembali ke rumah joki. Akupun mengiyakan ajakan jodin, kaki kami berdua mulai melangkah menuju ke rumah joki. Beberapa menit kemudian kami pun sampai di rumah joki. Alangkah terkejutnya kami berdua ketika melihat rumah joki yang dipenuhi beberapa orang kampung dan keluarganya. Apa yang sudah terjadi Tanyaku dalam hati sembari mempercepat langkah, jodin pun memandangiku dengan penuh rasa khawatir. Kulihat di samping sisi kiri jalan terlihat bendera putih yang terpasang. Jantungku pun bedebar dengan kencangnya. “siapa yang meninggal?” tanya jodin kepadaku, aku hanya menggelengkan kepala.

Kami bedua pun masuk ke rumah joki dari pintu belakang rumahnya. Kulihat ibu dan ayah joki menangis seperti kehilangan seorang anak, tapi aku tak melihat joki di mana, aku duduk tepat di sebelah adikknya joki yang bernama Kaila, di tengah orang-orang diruang tamu sibuk membacakan surah yasin untuk jenazah yang tidak kami ketahui sedikitpun siapa orang tersebut. Aku pun bertanya kepada Kaila siapa yang terbaring ditutupi kain kapan tersebut, dalam menagisnya Kaila menjawab “abang joki yang meninggal bang”. Alangkah terkejutnya aku dan jodin mendengar jawaban Kaila. Aku dan jodin pun saling menatap seakan tidak menyangka.

Setelah jenazah joki telah dimakamkan, aku dan jodin pun bertanya penyebab kematian joki teman kami yang malang itu, kepada ibunya. Menurut keterangan yang kami dapat kan dari cerita ibunya si Joki, bahwasanya semenjak asap melanda kampung kami Joki terkena sesak napas yang menyebabkan paru-paru Joki infeksi, dan semenjak itu Joki sangat berubah, dia yang dulunya melawan orangtua menjadi penurut dan patuh, dia yang sering keluar malam malah sering mengisi hari-harinya di dalam masjid sembari membaca AL-qur’an seusai sholat. “Joki pun selalu menggunakan masker, dia takut penyakitnya menular ke orang lain” ujar ibu Joki. Pernah joki berpesan kepada ibunya, bahwasanya jikalau dia sudah tiada dia ingin orang-orang segera menggunakan masker ketika asap datang melanda. Ibunya pun tak menghiraukan pesannya saat itu, karena ibunya tidak pernah berpikiran itu merupakan pesan terakhir dari anaknya tersebut.

Banyak hal yang telah berubah dari Joki, bahkan disetiap malam jum’at dia sering kali merasa sendirian padahal ibu dan ayahnya bersamanya. Bahkan Joki yang dulunya tidak pernah sholat dia menjadi rajin mengerjakan sholat 5 waktu. Dari keterangan ibu Joki maka aku dan Jodin pun merasa aneh karena beberapa hari yang telah lalu kami sering melihat seseorang yang ciri-cirinya seperti Joki yang selalu menggunakan masker. Padahal sudah hampir 2 minggu Joki dirawat di rumah sakit dalam keadaan kritis.

“mungkin itu Joki yang datang untuk menyampaikan sesuatu kepada kita van” ujar Jodin menjelaskan orang yang kami lihat tersebut. “mungkin Nak Jodin benar Nak” sambut ibu Joki yang menjelaskan maksud Jodin kepadaku, aku terdiam dan berkata dalam hati sendiri kenapa Joki datang? Ditengah aku berpikir Jodin pun menghentikan pikiranku dan berkata “mungkin dia ingin minta maaf kepadamu van, kan almarhum selalu jahatin kamu, bahkan mencuri uang kamu” jelas Jodin sambil menatap mataku dengan penuh keseriusan. “iya nak, ibu atas nama Joki mohon maaf sama kalian jika dia pernah berbuat salah kepada kalian terutama kamu Vanyo” terdengar suara ibu Joki dengan sedih mohon maaf kepada kami. “iya, bu. Aku sudah lama kok memaafkan Joki, aku sudah melupakan semua kesalahannya.” Jawabku dengan suara yang pelan meyakinkan ibu Joki.
“Syukurlah, nak.” Lanjut ibu Joki yang kelihatan lega sekali setelah mendengar maaf dariku untuk anaknya. Setelah lama berbicara dengan ibu Joki, aku dan Jodin pun berpamitan pulang ke rumah. Dengan tetesan air mata aku dan Jodin menyalami ayah, ibu dan adik Jodin, kami pun melangkah pergi meninggalkan rumah duka.

SELESAI

Cerpen Karangan: Md. Navri Zulirfan
Blog / Facebook: Nhavry Massivers

Cerpen Masker Pembawa hidayah merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Misteri Mitos Mimpi Makan Kue

Oleh:
“Rosa…” panggil seseorang dari belakangku. “Eh? Bu Nita… ada apa, Bu?” jawabku sambil tersenyum. “Tidak apa apa! Cukup menyapa saja sama mengingatkan padamu untuk besok ya?” kata Bu Nita

One Special Love For Mom

Oleh:
“Fel.. gue boleh nanya sesuatu nggak sama lo?” tanya Bram di tengah langkah mereka saat mereka telah melakukan rutinitas seperti biasanya. Yaitu, latihan band bersama. “Tanya aja pake izin.

Perpisahan Kita

Oleh:
Stefanny amelia larasati seorang wanita cantik, pintar, baik, berkulit hitam manis. Yang sering dipanggil fany. Fany tidak terlalu manja, namun cengeng. Dia single, dia sama sekali belum pernah mengalami

Terlalu Cepat Untuk Menilai

Oleh:
“Sial, siapa sih Aram?! Dari tahun ke tahun selalu dia.” Satu tahun telah berlalu dari kejadian itu. Sekarang, pada Tahun 2009. “Kriiiiiingg!” terdengar bunyi alarm. “Haaa, hari pertama sekolah,”

Mata Yang Sama

Oleh:
Pagi itu, aku datang dengan terburu-buru. Sampai di kelas, aku buka pintu yang tertutup rapat itu. Dan… BOOOM. Kelas masih kosong. Ah sial, ku pikir sudah terlambat, begitu kiranya

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *