Megalomania

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Misteri, Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 11 February 2016

Semua orang itu bodoh. Mereka tidak tahu apa-apa dan mereka sukanya menilai orang. Mereka tidak tahu apa-apa tentangku dan mereka sudah membenciku. Kecuali dia. Jessica, dia adalah segalanya bagiku. Dia yang mengerti aku. Perempuan yang sangat menawan di mata semua orang dan dia adalah pacarku. Dia cantik, polos, imut, pintar, dan berbakat. Semua murid laki-laki di kelasku pada iri denganku. Setiap aku berada di kesusahan, dia selalu datang dan menerangi kegelapanku. Kita selalu berjalan pulang bersama, bermain game sama-sama, dan belajar sama-sama. Memikirkan saja sudah membuat pikiranku kunang-kunang. Seperti biasa, bel akhir sekolah berbunyi dan dia datang ke bangkuku.

“Besok ada ulangan Biologi, ayo kita belajar bersama-sama seperti biasanya. Kamu gak mau nilaimu buruk, kan?” Suaranya menyapa kelelahanku setelah sekolah.
Karena lelah, aku menolak. “Maaf, hari ini bukan hari yang tepat bagiku.”
“Tidak boleh! kamu tahu kan kalau aku khawatir sama nilai kamu. Bagaimana jika nilaimu jelek dan kamu dipindahkan kelasnya? Aku tidak mau! Kau akan ke rumahku dan belajar denganku!” Ajakan Jessica selalu sangat keras dan biasanaya dia selalu mendorongku melakukan hal-hal lain. Tapi aku tidak pernah menyesalinya. Aku senang menghabiskan waktu dengannya.

Kita berjalan ke luar dari sekolah dan menuju ke rumah Jessica. Saat di pertengahan jalan, kita melewati sebuah distrik perbelanjaan. Tiba-tiba Jessica berteriak.
“Oh ya! Aku lupa! Aku harus membeli sesuatu dulu sebelum pulang!” lalu dia berlari ke arah toko buku. Aku segera mengejarnya tetapi sebelum aku sempat masuk ke pintu toko buku, dia sudah ke luar sambil membawa sebuah buku. “Maaf telah membuatmu menunggu,” kata Jessica. Padahal dia hanya pergi selama 5 detik.

Aku bertanya, “Kelihatannya buku itu penting buatmu. Itu buku apa?”
Dia menjawab sambil senyum, “Pertanyaan yang bagus. Ini adalah buku memasak. Aku mempelajarinya supaya bisa memasak agar bisa menjadi istri yang cocok untukmu!” sambil juga bergaya aneh menunjukku. Orang-orang pada melihat kita. Situasi sangat memalukan. Aku memberitahu Jessica, “Hentikan itu. Orang-orang pada melihat kita dengan mata yang aneh.” “Hehe, maaf. Sekarang ayo kita pulang.” Jujur saja, aku nggak bohong mengatakan kalau orang sekitar melihat kita dengan mata aneh. Mungkin aku hanya alay tetapi aku merasa hal yang tidak biasa dari pertokoan tersebut.

Saat kita sampai di rumah Jessica, dia langsung menumpuk bermacam-macam buku biologi di atas meja dan kita langsung memulai. Terkadang saat kami belajar, aku suka mengantuk dan Jessica selalu mencoba hal-hal aneh bahkan cara yang tidak lazim untuk membuatku terus terbangun. Kali ini seperti biasa aku mengantuk dan tidak konsen, dan dia meraba mataku dengan dadanya. Aku pun merasa canggung. Setelah proses belajar yang “tidak lazim” selesai, aku merasa siap untuk ulangan besok.

Aku berpamitan dengan Jessica dan pulang ke rumah. Waktu sudah sore hari. Aku memutuskan untuk pergi mencari makan sebelum pulang ke rumah. Ayah dan Ibuku pada saat ini sedang bisnis ke luar kota jadi aku sendirian di rumah. Aku balik lagi ke distrik perbelanjaan tersebut dan masuk ke salah satu rumah makan. Aku memesan makanan dari penjaga toko yang berpakaian formal dengan jas.

“Rumah makan kecil ini kenapa melayani dengan memakai jas formal?” pikirku. Setelah aku selesai makan, aku membayarnya dengan uang lebih. “Ini kembaliannya dan terima kasih,” penjaga toko itu berbicara dengan suara yang sangat dalam. Aku ke luar dari rumah makan itu dan balik ke rumah dengan perasaan agak curiga.

Malamnya, setelah mandi, seperti biasa aku langsung ke meja komputer dan bermain Game kesukaanku, yaitu game-game yang berjenis Action yang sampai untuk umur 18 tahun ke atas. Saat aku lagi bermain, tiba-tiba HP-ku berdering. Tidak biasa ada orang yang meneleponku di jam segini. Aku cek dan ternyata Jessica yang meneleponku. Aku angkat dan menjawab.
“ada apa?”
“Cepat ke sini selamatkan aku! Mama… Papa… mereka… mereka…” lalu terdengar suara yang agak dalam.
“Tidak ada gunanya kabur. Kami akan memanfaatkaanmu menjadi lebih berguna lagi.” Teriakan Jessica terdengar.
“KYAAAA!!” lalu koneksi terputus.

Aku bergegas lari ke rumahnya. Setelah sampai, aku menemukan pintu depan rumah Jessica terbuka dan pegangannya rusak. Di dalam rumah aku melihat mayat dari kedua orangtuanya Jessica. Aku pun segera menelepon polisi dan melapor apa yang terjadi. “Tidak ada gunanya menunggu. Jessica pasti sedang dalam perjalanan. Aku harus mengejarnya!” Aku teringat dengan suara orang selain Jessica di telepon. Aku pernah mengenal suara yang dalam itu. Itu suara penjaga rumah makan yang sebelumnya ku jumpai tadi sore! Aku menyadarinya dan langsung berlari menuju pertokoan itu lagi dan pergi ke rumah makan yang sebelumnya.”

Ada kemungkinan kalau aku salah, aku memang orang yang keras kepala dan biasanya Jessica yang suka memarahiku. Tapi sekarang bukan waktu untuk berpikir. Aku harus menyelamatkan Jessica. Aku diam-diam merusak pintu rumah makan itu dan menyelinap masuk. Di dalam rumah makan, aku menuju ke belakang dan mendobrak pintu lagi. Lalu aku menemukan pintu besi di belakang lemari. Pintu besi di rumah makan? Bisa juga berarti kulkas penyimpanan bahan makanan.

Tetapi apakah membutuhkan 10 kunci yang berbeda? entah kenapa, pintu itu tidak terkunci. Aku masuk ke dalam dan apa yang ku lihat benar-benar menyeramkan. Ada banyak kandang-kandang besi dan di setiap kandang dalamnya dikurung perempuan. Tel*njang dan diikat. Aku berusaha mencari kunci untuk membebaskan mereka semua. Aku berhasil menemukan kuncinya dan mencoba membebaskan salah satu tahanan. Saat aku membebaskannya, dia terbangun dan mukanya seperti ingin memberitahuku sesuatu. Tiba-tiba sebuah pukulan menerjang kepalaku dari belakang. Aku pun tak sadarkan diri.

Aku siuman dan menemukan diriku diikat dan dikelilingi oleh orang-orang yang memakai topeng dan bersenjata. Dari kegelapan muncul orang memakai jas sambil mendorong sebuah TV. Orang yang mendorong TV itu sudah jelas penjaga rumah makan tadi sore. Aku teriak, “Dimana dia?! Beritahu aku sekarang!” Dia menghidupkan TV. TV menunjukkan gambar sosok orang jaket berwarna hijau dengan dasi biru. “Warna yang tidak cocok” pikirku. Wajahnya tidak terlihat sama sekali. Dia membuka mulutnya.

“Aku dengar kau sangat dekat dengan orang ini,”
Gambar TV menunjukkan gambar Jessica yang tel*njang, diikat dan tidak sadarkan diri.
Aku marah. “Lepaskan dia! Kalau lo apa-apain dia…” aku belum menyelesaikan kalimatku, dia lanjut bicara.
“Jika kamu ingin memastikan keadaannya, kamu harus melakukan apa yang kita inginkan dan kamu tidak boleh memberi tahu siapa-siapa. Atau nggak dia yang akan mendapatkannya.” Aku langsung tidak bisa berkata apa-apa.

Dia bertanya, “Nak, siapa namamu?”
Aku menjawab. “….Edgar,” dia lanjut bicara.
“Edgar, kamu ke sini lagi besok dan kita akan beritahu sisanya. Jika kamu peduli dengan cewek ini.” lalu TV dimatikan dan kepalaku ditutup karung.

Aku terbangun tepat di rumahku. Waktu menunjukkan jam 12. Aku memutuskan untuk masuk ke rumah dan tidur. Sebelum aku masuk ke rumah, seorang polisi dan detektif mengunjungiku dan memintaku untuk datang dengan mereka. Aku dibawa ke kantor polisi untuk diinterogasi tentang Jessica. Aku dengan sebisa mungkin menjawab semua pertanyaan mereka tanpa memberitahu apa-apa tentang para penjahat itu. Waktu sudah menunjukkan setengah 1 dan aku dibolehkan pulang. Detektif itu masih melihatku dengan mata curiga. Aku diantarkan pulang ke rumahku dan istirahat.

Keesokan harinya di sekolah, bangku Jessica kosong. Tes Biologi pun dimulai. “Aneh.” aku sudah belajar banyak dengan Jessica, tetapi aku tidak bisa mengingat apa-apa. Aku terlalu mengkhawatirkan kondisinya sehingga aku tidak mengerjakan tes biologi sama sekali. Pada saat waktu istirahat, semua cowok di kelasku datang ke bangkuku dan menanyakan keberadaan Jessica. Jessica memang populer di antara cowok-cowok. Saat itu, aku tidak bisa mengatakan apa-apa selain “tidak tahu.” Pulang sekolah, aku langsung menuju rumah makan kemarin. Rumah makan itu tutup, sepertinya aku tamu spesial. Aku masuk ke dalam dan disambut oleh Pria jas yang bersuara dalam itu. Aku ditutupi karung lagi dan sepertinya dibawa ke markasnya mereka.

Sampai di sana, karungku dibuka dan di depanku ada orang yang berjas hijau dari kemarin. Dia berkata, “Selamat sore. Kamu bisa panggil saya Genetov dan orang yang barusan membawamu ke sini adalah Berltol dan kita adalah sindikat penjualan manusia. Hari ini saya ada tugas untukmu.” Dia membawaku ke sebuah ruangan yang gelap. Tiba-tiba lampu menyala. Isi ruangan penuh dengan berbagai macam senjata api. Dia berkata, “Aku ingin kamu membunuh orang-orang yang menghalangiku.”

Setelah itu aku diberi instruksi oleh Berltol tentang penggunaan senjata dan aku disuruh menutupi mukaku dengan topeng. Genetov memberi tahu target yang harus ku bunuh, yaitu seorang CEO dari sebuah perusahaan marketing. Berltol mengantarku dengan mobil ke tempatnya dan aku menyusup ke ruangan CEO mereka. Aku menyergap dan menodong CEO itu. Aku sebenarnya tidak rela membunuh seseorang. Tetapi demi Jessica, aku menarik pelatuk pistolku dan segera masuk ke mobilnya Berltol dan kabur. Dalam perjalanan pulang, aku merasakan stres dan tekanan yang luar biasa. Saat aku balik ke markas, Genetov menyambutku lagi.

“Bagus, Edgar, kamu berhasil menyelesaikan tugasmu. Temanmu mendapatkan hadiahnya.” Tiba-tiba muncul TV yang menampilkan video Jessica yang berada dikurung di penjara sambil menerima sebuah makanan. “Temanmu akan mendapatkan makanan sehari sekali jika kamu berhasil menyelesaikan tugasmu.” Amarahku meluap. Mereka telah melakukan hal yang kejam. Aku marah dan berlari ke arah Genetov tetapi Berltol menahanku dan menyuntikkan obat bius ke badanku. Aku tak sadarkan diri. Lalu aku terbangun lagi di depan rumahku dan memutuskan untuk istirahat.

Keesokan harinya berita di koran muncul tentang Jessica dan beberapa perempuan lainnya diculik. Waktu istirahat, cowok-cowok di kelasku membawaku ke tempat sepi di sekolah sambil menganiayaku sambil memarahiku. “Kau pacarnya! Seharusnya kau yang melindungi dia! Malah bilang gak tahu!” aku dipukuli dan ditendang, tapi aku tidak bertindak apa-apa, mereka tidak mengerti apa yang telah ku alami, mereka hanya orang-orang bodoh. Selesai sekolah, aku memutuskan untuk pulang ke rumah untuk mengurus luka-lukaku sebelum pergi ke rumah makan. Saat sampai di rumahku, seorang detektif sedang menunggu di depanku. Dia ingin bicara denganku dan aku mengajaknya masuk ke dalam.

Detektif itu memperkenalkan dirinya. “Nama saya Detektif Feitton, dan bisa saya meminta waktu anda sebentar?”
Aku menjawab, “silahkan, ada yang bisa saya bantu?” dia menjelaskan. “Saya tahu kalau kamu bekerja dengan mereka, sindikat penjualan manusia. Dan saya butuh bantuan menangkap mereka” aku tercengang. Dia lanjut bicara, “kamu hanya perlu bawa ini. Ini adalah recorder dan kamu harus taruh ini di meja bosmu agar kita bisa mengetahui rencana-rencana mereka. Aku perbolehkan kamu melaksanakan tugas yang mereka berikan asalkan kita dapat semua rencana mereka.” Selesai bicara, detektif itu pergi meninggalkan rumahku. Setelah mengurusi lukaku, aku pergi ke markas Genetov secara tidak langsung dan melakukan pembunuhan lagi. Agak susah, penjagaan di tempat targetku agak ketat, tetapi aku berhasil menyelinap dan menyelesaikan tugasku. Tekanan dan stresku bertambah banyak.

Keesokan harinya, mereka tetap menganiayaku di sekolah. Saat tugas, aku menyelinap ke ruangan Genetov dan memastikan keberadaan kamera CCTV. Lalu aku memasang recordernya. Dan juga aku menyelesaikan pembunuhan lagi. Semakin banyak rasa sakit fisik dan mental yang ku tahan. Keesokan harinya lagi, tes ulangan biologiku ke luar, dapat nol dan guru memarahiku, murid-murid lain mengejekku, dan aku dianiaya lagi oleh mereka. Mereka hanya orang-orang bodoh. Hari ini aku tidak merasakan apa-apa dalam menyelesaikan tugasku.

Aku juga mendengar pembicaraan Genetov soal salah satu bisnisnya tertangkap polisi. Sepertinya Detektif Feitton melakukan pekerjaannya dengan baik. Hari berikutnya, semakin banyak aku diejek dan dianiaya, dan tugasku semakin susah. Saking susahnya aku memutuskan untuk melakukan cara yang lebih gampang. Aku bunuh semua penjaga dan orang-orang sekitar yang menghalangiku dari targetku. Aku benar-benar orang yang hebat. Tidak ada yang bisa membunuhku. Tugas selesai lagi dan aku semakin tidak merasakan apa-apa.

Sebulan telah berlalu, aku masih dianiaya lagi sama mereka. Kali ini aku sudah muak. Aku membalas balik mereka semua. Ku gunakan semua pukulan dan tendanganku sebanyak mungkin. Hasilnya 10 anak bermuka darah dan tak berdaya. Sangat gampang, seharusnya ku bunuh mereka semua saja. Dunia ini tidak butuh lebih banyak orang bodoh seperti mereka. Tapi seseorang murid melihatku dan melaporkannya ke guru.

Saat aku balik ke kelasku, di depan pintu kelas sudah ada guru, kepala sekolah, dan dua orang polisi. Sebelum aku dibawa polisi, Guruku menyampaikan kekecewaannya padaku sementara Kepala sekolahku sedang menelepon orangtuaku dan mengeluarkanku dari sekolah. Aku sedikit merasa senang karena aku tidak perlu lagi ke tempat yang penuh dengan orang-orang bodoh lagi. Sekolah yang gagal mendidik anak-anaknya. Aku menunggu di kantor polisi. Tiba-tiba dari pintu datanglah Detektif Feitton.

Dia memberitahuku kalau aku bebas pulang dan memeringatkanku agar tidak membuat masalah lagi. Aku mengacuhkannya lalu meninggalkannya. Dia menatapku dengan mata curiga lagi. Malamnya, setelah selesai aku mandi, HP-ku berdering. Dari Ibku. Ku angkat, dan ke luar suara marah dengan nada besar. Ibuku berbicara dengan sangat cepat dan keras sehingga aku telinga terasa seperti mau meledak. Jika benar-benar ingin memarahiku, kenapa gak mereka menemuiku secara langsung? Oh ya benar, Pekerjaan mereka lebih penting daripada anaknya sendiri. Tanpa ragu aku mematikan teleponku. Tidak mau lagi mendengar cerewetannya lagi.

Hari sudah pagi, aku terbangun dari tempat tidurku tanpa perlu repot memikirkan tentang sekolah lagi. “Tugas” ku dimulai sore hari, jadi aku menghabiskan waktu sampai sore hari dengan bermain game. Akhirnya sore hari, aku menuju ke rumah makan seperti biasa. Aku masuk ke dalam rumah makan dan disambut oleh Berltol seperti biasa. Berltol mengatakan sesuatu dengan suara dalamnya. “Kau beraninya membuat kesalahan dengan kami,” lalu aku terkena pukulan keras dari belakang. Saat aku siuman, aku diikat dan berada di dalam sebuah penjara. Genetov tepat berada di luar pagar penjara menemui muka ke muka secara langsung.

“Kamu tahu kenapa kamu di sini Edgar? Aku menemukan ini di ruanganku,” Genetov melempar sebuah recorder ke arahku. “Kau tahu seberapa repotnya aku hanya karena benda kecil itu? Jangan kira kamu akan lari begitu saja. Kamu akan membayarnya.”
“Kemarin kau menyelesaikan tugasmu dengan cara yang tidak ku inginkan. Aku tidak butuh orang yang tidak benar dalam kerjanya. Karena itu aku akan buat kau lebih bermanfaat lagi dengan menjualmu ke orang lain.” Dia akan menjualku? Dia punya nyali untuk berhadapan denganku. Akan ku beri mereka pelajaran untuk bermacam-macam denganku. Sebelum dia pergi meninggalkanku, dia menambahkan, “Oh ya, soal temanmu. Dia akan kujual juga.” Teman? Apa yang dia bicarakan? Aku rasa aku telah melupakan seseorang tapi aku tidak bisa mengingatnya.

Menjual aku? Kenapa? Bukan salahku kalau bisnisnya hancur. Itu salahnya Feitton. Orang-orang bodoh, mereka itu sama sampahnya dengan setiap orang yang ku temui. Kelahiran mereka adalah sebuah kesalahan besar. Aku harus segera memperbaikinya. Pertama-tama, aku lepaskan ikitan tali di tanganku. Entah kenapa aku bisa melepaskan talinya. Tepat di depan pagar penjaraku ada seseorang bersenjata yang berdiri mengawasi penjaraku. Pengawasan yang sangat salah. Dia bahkan tidak melihat orang yang seharusnya dia awasi. Kesalahan fatal.

Aku dengan cepat mengikat lehernya dengan taliku ke pagar penjara dengan kencang. Ia tidak sempat melawan balik dan tidak bisa bernapas. Wajahnya makin lama memerah. Lalu dia tidak bergerak. Aku selidiki pakaiannya dan menemukan kunci dari penjaraku. Aku ambil kunci itu dan membebaskan diriku sendiri serta mengambil pistol miliku. Aku ke luar dari penjara dan sampai di sebuah gudang penyimpanan. Aku melihat meja dan di atasnya ada gergaji mesin. Aku pegang gergaji itu di tangan kananku dan menyalakannya. “Aku siap!” pikirku. Genetov, kau adalah targetku selanjutnya.

Aku mendobrak sebuah pintu dan sampai di tengah-tengah markas sindikat penjualan manusia. Semua penjaga yang ku temui memakai topeng anti peluru, jadi ku tembak dan potong lehernya saja, sangat gampang. Aku terus membunuh setiap orang yang ku temui. Ku periksa setiap ruangan dan mengayunkan gergaji ke siapa saja yang ku lihat. Tiba-tiba dari belakang ada yang menodongkan senjata api ke kepalaku. Terdengar suara yang dalam.

“Anak kurang aja…” belum selesai Berltol berbicara, aku menundukkan badanku dan menghadap ke belakang, lalu mengayunkan gergajiku ke atas. Dari selangkangan sampai kepala, ada goresan besar di tubuh Berltol. Muncrat darahnya, lalu dia jatuh dan mati. Gerakanku seperti sudah terlatih. Semua terjadi dengan sangat cepat. Tapi bajuku jadi merah, warna yang buruk. Setelah itu aku lanjut mencari Genetov. Akhirnya aku menemukan Genetov di sebuah ruangan yang sangat besar. Dia sambil menodong pistol ke seorang perempuan yang diikat di sebelah kanannya. Perempuan itu terlihat senang melihatku padahal aku tidak mengenal siapa dirinya. Genetov mulai mengancam.

“Jika kamu mau nyawa orang ini..” Ugh, aku tidak mau mendengarkan lagi bukti kalau dia masih hidup. Dengan cepat aku mengarahkan pistolku dan menembak tangan kanannya. Genetov teriak kesakitan. Aku menghampirinya, lalu mengangkat gergajiku. Gentov ketakutan sambil mengatakan, “Tidak… tidak…” berulang kali. Tanpa ragu aku potong kepalanya sampai badannya. Akhirnya semuanya mati. Tidak ada lagi orang bodoh yang membuatku kesal. Aku melihat perempuan yang berada di samping mayatnya Genetov. Dia melihatku dengan muka syok. Tiba-tiba dia teriak. “MONSTER! PERGI DARI HADAPANKU!!” Mendengar teriakan itu, aku mengasumsi bahwa dia adalah orang-orang bodoh lain yang selalu membenci-ku. Aku arahkan pistol ke kepalanya lalu menarik pelatuk pistolku.

Badannya terbaring berdarah. Entah kenapa dari dalam hatiku yang selama ini tidak merasakan apa-apa menjadi merasakan sebuah penyesalan. “Aneh.” Aku sudah biasa membunuh orang, tetapi kenapa kali ini aku merasakan sesuatu? Mayat perempuan itu memegang sebuah kertas. Ku ambil kertas itu dan ternyata itu adalah sebuah foto. Foto itu berisi gambarku dan dia. Aku dan dia terlihat bahagia.

“Apa hubunganku denga…” Tiba-tiba aku teringat sesuatu. Aku mulai mengingat pengalamanku menhabiskan waktu dengan sebuah perempuan. Ternyata perempuan itu tak salah lagi adalah Jessica. Perempuan yang sangat penting di hidupku. Perempuan yang menjadi alasan kenapa semua ini terjadi. Perempuan yang telah aku bunuh dengan tanganku sendiri. Di saat itulah aku sadar. Tetesan air jatuh dari mataku. “Selama ini, ternyata akulah orang yang bodoh itu.”

Cerpen Karangan: Raega Tan
Facebook: Raega Tan
Saya adalah murid SMA kelas 1, umur 15 tahun, sukanya bermain Game.

Cerpen Megalomania merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Aroma Balasan

Oleh:
Perawakan tinggi langsing dengan rambut ikal sebahu sukses membuat kaum adam terpikat. Paras wajah yang cantik meski tanpa ada taburan bedak menjadi nilai tambah. Memiliki tampilan menarik adalah satu

Misteri Toilet Bandara

Oleh:
Inggris, 20 Juli 2012 Tasha gadis mungil ini telah tiba di bandara dua jam yang lalu bersama kedua orangtuanya. Ia pindah dari Indonesia ke Inggris karena Ayahnya akan meneruskan

Misteri Rumah Tetanggaku

Oleh:
Dengan gontai Aku melangkah menelusuri jalan setapak menuju rumahku. Malam ini dingin. Seperti biasa, lampu-lampu di sepanjang jalanan tak cukup membantu penglihatan dalam pekatnya kegelapan malam. Maklumlah suasana tempat

Bukan Aku

Oleh:
Suasana ketegangan, hati yang cemas dan gelisah serta perasaan takut seolah-olah sedang bersatu untuk menghantuinya. Bahkan semua pasang mata yang ada di ruangan itu tertuju pada gadis kecil usia

Ketika Cinta Datang dan Pergi

Oleh:
Cinta adalah sebuah anugerah dari tuhan, maka dari itu kita dituntut untuk menjaga cinta kita. Sudah sekian lama gua mengabdi sebagai pencari cinta dengan warna tinta yang tak pernah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *