Mengapa? (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 5 September 2017

Namaku Tissa. Aku tinggal di kota yang tidak pernah tidur. Bukan Jakarta maksudku, tapi kota Tangerang. Namun, tempat tinggalku berada di perumahan yang agak sepi.
Sering kubertanya-tanya, mengapa orangtuaku sering bertengkar, Kakakku sering keluar malam, dan aku seakan dibiarkan saja. Sempat kuberpikir, bahwa Papa dan Mamaku hanya sayang dan peduli pada Kakakku saja, yaitu Panji. Namun aku berusaha mengubur pikiran itu dalam-dalam. Karena aku tidak mampu membayangkan apa yang terjadi jika mereka tidak ada di sampingku.

Aku merasa masalah selalu membuntutiku dan mendampingiku. Entah itu masalahku atau masalah keluarga ini. Aku pernah berpikir untuk mengajak keluargaku pindah rumah karena aku merasa rumah inilah yang menjadi akar permasalahannya. Namun, Mama langsung menepis kata-kataku sebelum aku selesai mengatakannya.

Hari ini bukanlah hari yang indah untukku. Maksudku, semua hari yang pernah kulalui dan yang akan kulalui itu sama saja, membosankan dan menyeramkan. Hari ini pun sama saja bagiku.

Saat ku mematikan lampu kamarku, selalu saja ada bayangan yang melintas di depan pintu kamarku. Bayangan itu berjalan seakan membawa sesuatu yang berat, karena langkah kakinya yang menimbulkan suara yang menyeramkan untukku.
Seperti biasanya tak lama kemudian terdengar suara-suara aneh di dapur. Setiap kali aku memastikan apa yang terjadi di sana, semuanya terlihat baik-baik saja. Jadi, aku mulai membiasakan diri dengan suara itu dan mencoba tidur meski itu sangat sulit kulakukan.

“Tissa, bangun! Sikat gigimu lalu segera pergi ke dapur! Kita akan sarapan bersama.” Ucap Mama sambil menepuk pipiku agar aku terbangun.
“5 menit lagi Ma…” Jawabku.
“Cepat bangun atau tidak sarapan?!”

Dengan sangat berat, aku mencoba bangun dari tempat tidur lalu segera cuci muka dan merapikan rambutku yang terurai panjang. Segera membuka pintu kamar dan menuju dapur.
Sebuah hal yang membuatku terkejut. Sebuah garis memanjang berwarna merah yang tampak seperti darah ada di depan kamarku. Nampaknya garis itu ada mulai dari ruang tamu sampai dapur. Tentu saja aku heran.

“Apa ini Pa?” Tanyaku pada Papa saat melihatnya telah duduk di meja makan bersama Kakakku.
“Itu, itu adalah garis bekas darah…”
“Darah ikan yang Mama beli tadi.” Potong Mama.
“Darah ikan?” Tanyaku bingung karena darah itu tidak tampak seperti darah ikan.
“Nak, tolong ambilkan gula di dekat kompor! Jangan hanya melamun!” Perintah Mama.
“Baik Ma…”

Saat aku sampai di dekat kompor, aku lebih terkejut dengan apa yang aku lihat. Pisau masak milik keluargaku yang paling besar ada bekas darahnya. Bahkan darah itu banyak sekali. Darah itu benar-benar tidak terlihat seperti darah ikan.

Pada saat yang bersamaan, bel rumah berbunyi yang menandakan ada tamu yang datang. Aku langsung berlari dan membuka pintu rumah. Ternyata ada seorang perempuan paruh baya yang menangis dan 2 orang laki-laki.
“Apa ada yang bisa saya bantu?” Tanyaku.
“Apa orangtuamu ada di rumah?” Tanya seorang lelaki tua.
“Ada, silahkan masuk!”
“Tidak usah!” Kata lelaki yang lain.
“Ma…, Pa…, ada orang yang ingin bertemu…” Teriakku keras. Tak lama kemudian Papa dan Mama datang.
“Ada apa ya Pak?” Tanya Papa.
“Di mana putraku? Di mana? Jangan sembunyikan dia!” Teriak wanita paruh baya itu sambil menangis.
“Benar Pak, di mana putra kami? Apakah dia ada di sini?” Tanya seorang lelaki paruh baya yang nampaknya adalah seorang suami wanita itu.
“Apa yang kalian maksudkan? Kami semua baru saja terbangun, dan istri saya baru selesai memasak. Jadi, belum ada seorang pun yang datang ke rumah kami, apalagi anak-anak yang bermain…” Jawab Papa.
“Lebih baik, jangan membuat keributan di pagi hari! Kalian masuk saja agar lebih enak kita berbincangnya” Ucap Mamaku.
“Tidak usah! Aku tidak sudi! Lebih baik, aku pergi dari sini…” Teriak wanita itu yang langsung pergi dengan 2 orang laki-laki di belakangnya.

Kepalaku seakan terasa mau pecah melihat semua itu. Apa yang mereka sembunyikan dariku? Atau aku saja yang merasa berlebihan? Hari-hariku pun menjadi semakin tidak berwarna mendengar kejadian itu tadi.

Hingga malam tiba, kejadian itu berulang lagi. Aku tidak ingin menambah masalahku lagi dengan mencari tahu apa yang terjadi. Jadi aku acuhkan saja agar aku bisa segera tidur.

Sinar matahari mulai menyentuh pipiku. Embun-embun pagi mulai menetes membasahi tanah. Kicauan burung menambah keasrian dan keindahan pagi. Aku mulai terbangun, karena aku belum dibangunkan mamaku yang setia membangunkanku selama ini.

Kulihat, semua orang telah berkumpul di ruang keluarga untuk berlatih menyanyi. Aku baru ingat, bahwa hari ini akan diadakan konser untuk semua keluarga di perumahanku agar bisa menggalang dana bagi pengungsi Suriah yang mulai pergi ke Eropa. Terpaksa, aku harus sarapan sendiri.

Saat aku mencuci piring yang kugunakan, aku melihat ada lelaki tua itu sedang memandang ke arah dapur keluargaku yang berada di lantai dua. Aku mengalihkan pandanganku, namun saat kumencoba melihat ke arahnya lagi ternyata dia sudah tidak ada lagi di sana, entah menghilang ke mana.

“Kak, kok tidak ikut latihan menyanyi?” Tanyaku pada Kakak ketika melihatnya hanya membaca komik di sofa ruang keluarga.
“Kamu saja yang latihan, nanti Kakak nyusul…” Jawabnya.
“Tapi nanti Kakak ikut konser kan?”
“Tentu saja, mengapa tidak?”
Syukurlah, ternyata Kakak mau ikut. Setidaknya, kami sekeluarga ikut berpartisipasi dalam penggalangan dana. Semoga semua acaranya sukses.

Wow, malam yang kunantikan akhirnya tiba. Malam yang sangat ramai akan orang-orang. Ada pedagang kaki lima yang menjual makanan, pakaian dan mainan, ada pula pesta kembang api kecil. Tampak, sebuah panggung megah yang telah disiapkan warga untuk acara konser itu.

“Baiklah, para warga semua…, untuk keluarga yang berpartisipasi diharap segera berkumpul di belakang panggung. Acara ini akan segera dimulai…” Kata Pembawa acara konser.

Tak lama kemudian, akhirnya acara yang ditunggu-tunggu dimulai. Namun, sebelum pertunjukan pertama, ada sedikit masalah. Masalah itu langsung disampaikan oleh Pembawa acara.
“Untuk keluarga yang berpartisipasi dalam konser, saya dan para panitia mengucapkan terima kasih karena telah menyemarakkan konser ini dan mengisi acaranya agar kita mendapat uang untuk didonasikan. Namun, kami meminta maaf yang sebesar-besarnya karena pihak catering tidak bisa mengirim kue yang kami pesan karena pihak catering harus menutup toko mereka yang gulung tikar. Jadi, kami mohon maaf untuk seluruh keluarga yang ikut berpartisipasi, karena kami tidak bisa menyajikan apapun kecuali air mineral. Tapi, langsung saja ini dia penampilan yang pertama dari keluarga Gerald…”

Saat itu juga, Kakak menghilang. Papa dan Mama hanya asyik bercanda sendiri. Aku takut jika saat keluargaku akan tampil, kami belum memiliki persiapan yang matang dan Kakak belum kembali.

Perasaan itu kian membuatku takut. Belasan keluarga telah tampil, namun Kakak belum juga kembali. Akhirnya aku dan kedua orangtuaku mulai berlatih bernyanyi untuk terakhir kalinya sebelum kami tampil di panggung. Tiba-tiba…
“Semua keluarga yang tampil sangat elegant. Mereka menari, bernyanyi, berdansa, dan membuat pertunjukan music yang sangat spektakuler. Kini, giliran keluarga Husein yang akan tampil. Akankah mereka bisa lebih baik dari keluarga yang lain? Jadi langsung saja, ini dia penampilan dari keluarga Husein…” Ucap sang Pembawa acara.
“Bagaimana ini? Di mana Kakak?” Kataku.
“Tenang! Dia pasti akan segera datang.” Ucap Papa.
“Bagaimana keluarga Husein? Maukah kalian tampil?” Tanya Pembawa acara karena kami tidak segera naik ke panggung.
“Sudah, kita akan tampil tanpa Panji. Itu tidak masalah kan? Ayo, kita akan tampil bersama!” Bujuk Mama.
Baiklah, akhirnya aku harus menurut saja. Jadi, kami hanya bernyanyi bertiga.

Pada saat kami akan segera bernyanyi, saat itulah Kakak datang dengan baju yang tidak lagi rapi. Tentu saja aku terkejut. Apa yang dilakukan Kakak tadi? Tapi, aku tidak ingin ambil pusing memikirkan itu. Jadi, aku hanya ingin bernyanyi saja saat itu.

Keramaian terjadi saat musik lagu yang akan kami nyanyikan diputar. Semua warga tampak berkumpul melihat sesuatu. Kami seakan diacuhkan begitu saja. Lalu Kakak mencoba melakukan sesuatu.
“Hei para warga…, saya sudah ada di sini. Jadi, kami bisa mengisi acara sekarang…” Teriak Kakak yang tidak bisa membubarkan warga di tempat mereka berkumpul.
“Apakah kita akan bernyanyi sekarang?” Tanyaku. Namun, semuanya tidak ada yang menjawabku.
Aku tidak mengerti apa yang terjadi dengan para warga. Aku tidak bisa mencari tahu apa yang terjadi. Jadi, aku hanya bisa diam berdiri dan menunggu apa yang akan kami lakukan selanjutnya.

Saat itu juga, sang Pembawa acara naik ke atas panggung. Dia mencoba mengembalikan warga ke keadaan semula. Ia tak mau rencana yang telah disusun sedemikian rupa menjadi gagal.
“Maaf, kelihatannya mereka tidak bisa dibubarkan. Jadi, mungkin konser ini akan diakhiri sebelum waktunya habis atau mungkin akan ditunda. Kami mohon maaf ya” Kata Pembawa acara itu.

Aku dan keluargaku hanya bisa menunggu keputusan para panitia. Mereka semua mencoba mencari tahu apa yang terjadi di antara para warga. Panitia juga berusaha membubarkan warga meskipun mereka harus kembali pulang ke rumahnya masing-masing.

Sebuah hal yang benar-benar mengerikan terjadi di sana. Di dekat semak-semak ditemukan sepasang kaki bekas potongan yang daging atau ototnya sudah tercabik-cabik. Ada tulang rusuk, tulang tengkorak, dan beberapa potong bagian tubuh lainnya yang telah rusak dan telah terpisah perbagiannya.
Ada darah yang tercecer di mana-mana. Wajahnya tidak lagi bisa dikenali. Bahkan, pakaiannya tidak lagi terlihat warnanya. Yang terlihat hanyalah darah. Malam yang dingin menambah kesan menyeramkan di tempat itu.

Akhirnya, dengan sangat terpaksa, konser dihentikan. Hanya ada beberapa juta uang saja yang terkumpul dari para donator dan penyumbang lainnya. Dan kini, panitia tidak bisa membuat konser yang sama lagi atau dengan kata lain tidak akan ada lagi donasi.

Cerpen Karangan: Dikta Sumar Hidayah
SMPN 1 PURI

Cerpen Mengapa? (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Misteri Radio dan Telepon

Oleh:
Beberapa hari sebelum tahun baru tidurku selalu saja tidak nyenyak, mengapa dapat di bilang seperti itu? karena tiap jam setengah 2 pagi pasti saja terbangun dan suara-suara aneh kerap

Ternyata Dia

Oleh:
“Teng… Teng… Teng…” bunyi jam di rumahku tepat menunjukan pukul 00:00 wib, tiba-tiba, “Aaa…” terdengar suara jeritan dari sebelah rumahku. Aku ketakutan, dan tak dapat tidur semalaman… “Kriing… Kriiing…

Lukisan Hantu

Oleh:
Di suatu pagi yang cerah di Gedung Balaikota tempat lomba Melukis di Changford-Inggris akan diadakan Pengumuan lomba melukis yang sudah diadakan 2 Bulan yang lalu. Harry James salah satu

Ai dan Gadis Misterus

Oleh:
Ai memakai jaket tebalnya. “Mau kemana Ai?” Tanya Papa. “Ah, aku hanya ingin ke rumah Merry saja, kok, Pa.” Papa menggeleng, “Tidak boleh Ai. Rumah Merry jauh. Lagipula salju

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *