Mimpi Atau Bukan?

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 25 October 2017

Kamis, 27 Mei 2016
Di suatu pagi hari yang sunyi, handphoneku yang aku taruh di samping meja tempat tidurku bergetar, aku dengan serentak kaget atas geteran tersebut. Aku langsung terbangun dari tempat tidurku sembari memegang dadaku karena jantungku berdegup dengan sangat keras. “Siapa sih!” Aku berbisik dengan nada yang kesal. Kulihat jam yang berada di sebelah tempat tidurku dan aku semakin merasa kesal “huft, masih jam 4 pagi” bisik aku lagi.

Aku mengambil handphoneku yang membangkunkan aku dari tidurku yang nyenyak ini. Kulihat ada telepon dari salah satu teman baikku, Nadira. Dia menelepon aku sudah sebanyak empat kali di pagi hari ini. Aku langsung buru-buru menelepon dia kembali. Saat aku menelepon dia, pada panggilan pertama dia tidak menjawab, aku mulai merasa gugup dan khawatir karena, untuk apa Nadira menelepon aku di pagi hari sebanyak empat kali jika tidak penting? Pikirku. Panggilanku yang ke dua pun tidak dijawab olehnya, aku mulai jengkel dan sangat khawatir.

“Halo?” Sapa Nadira saat aku menelepon dia yang ketiga kali. “Halo, ada apa Nad mengapa kamu menelepon aku di pagi hari?! Ada masalah apa Nad?!” Aku langsung mengeluarkan kata-kata itu dengan cepat karena aku sangat khawatir. Nadira di sisi lain hanya ketawa. “Aku menelepon kamu karena aku punya informasi penting!” Katanya, aku dengan cepat membalasnya kembali “Informasi penting apa Nad sampai kamu menelepon aku di pagi hari?” “Aku menemukan tiket murah untuk ke Italy bareng! Kamu mau ikut kan ya pliss” kata Nadira. Perasaan aku langsung berubah 180 derajat. “kamu menelepon aku di pagi hari ini karena itu?! Aku sudah sangat khawatir dan kamu malah menawarkan aku tiket perjalanan?!” Nadira hanya ketawa, dia tidak tahu betapa jengkelnya aku. “Kamu doang yang belom jawab soalnya, yang lain udah bilang mau ikut dan tinggal kamu, jadi aku langsung menelepon kamu” katanya. Aku langsung menjawabnya kembali “nanti aku telepon kamu lagi ya, aku harus bilang ke mama papaku dahulu”. Aku ingin langsung kembali tidur oleh karena itu aku menjawabnya seperti itu. “Ya sudah aku pesenin dulu aja ya tiketnya bye byee” jawab Nadira dengan nada gembira sebelum dia menutup teleponnya. Dia tidak memberi aku kesempatan untuk menjawab kalimat terakhirnya, tetapi aku tidak telepon dia kembali karena aku sangat ngantuk. Aku meletakkkan handphoneku kembali pada meja di sebelah tempat tidurku dan aku kembali memasuki dunia mimpi lagi.

Ketukkan di pintu kamar tidur membangunkanku. Ketukan pertama terdengar sangat pelan, tetapi aku membiarkannya. Ketukkan kedua terdengar keras, cukup keras untuk membangunkan aku dari tidurku. Aku sudah bangun, tetapi aku sangat malas bergerak menuju pintu kamar tidurku. Ketukan tiga mengagetkanku, ketukan itu sangat keras seperti seseorang menggedor gedor pintu. Aku langsung lari menuju pintuku dan membukanya, tetapi saat aku membuka pintuku, tidak ada siapapun. Aku keluar dari kamar tidurku menuju ruang tamu rumahku, kudengar mama papaku masih tertidur di kamarnya, saat aku berjalan menuju ruang tamu dengan berjalan setenang mungkin, aku merasakan ada sesuatu yang lewat di sampingku. “Perasaanku saja itu” kubisikkan ke diriku sendiri, tetapi aku tau ada yang mendengarku.

Alarmku berbunyi dengan sangat keras dan langsung membangkunkanku dari tidurku. Aku langsung mengambil handphoneku dan mematikan alarmnya. “Huft, mimpi yang aneh” bisikku.
Hari itu adalah hari sabtu, jam 10 pagi. “Maaaa!” Teriakuku memanggil mamaku, “Apa nak?” Dia teriak kembali dari jauh. Aku mendatanginya dan menanyakan tentang kegiatan kita hari ini sambil makan pagi.

Setelah selesai makan pagi, aku berjalan balik ke kamarku dan melewati ruang tamuku. Aku bisa merasakan bulu kudukku berdiri karena kejadian semalam. Aku mencoba mengingat ulang apa yang terjadi semalam, tetapi ada yang memegang pundakku dan menyadarkan aku dari pikirkanku. “Kak, jangan bengong dong” kata papaku sambil mendorongku sedikit “ih papa” aku menjawab kembali dengan nada bercanda dan mendorongnya sedikit juga, dan langsung meninggalkan ruang tamuku dan bergegas mandi.

Saat aku menyalakan pancuran airku, aku masih memikirkan mimpiku yang tadi malam. Jujur, mimpi itu berasa sangat nyata dan aku tidak tahu mengapa. Memikirkannya saja membuat bulu kudukku berdiri, tetapi cipratan air hangat membuat aku rileks kembali.

Selesai mandi, aku menggunakan pelembab badan sambil menelepon Nadirs. “Nad jadi gimana?” sapaku lewat panggilan teleponku ke dia, “Kata mamaku aku boleh, dan yang lain juga boleh. Tinggal kamu saja” balas Nadira kembali, aku menghelakan nafas. “Apakah kamu sudah bertanya?” kata Nadira, “Ya aku akan tanya sekarang Nad” jawabku balik. Dengan kalimat terakhir itu, aku menutup panggilan teleponku ke Nadya.

“Mamaaaa!” aku teriak dari kamarku, “Kenapaa nak?” teriak mamaku kembali. Aku berjalan ke mamaku yang sedang menonton TV di ruang tamu. Mengingat kejadian tadi malam, aku masih merinding. “Mama, jadi boleh tidak?” tanyaku sambil mengedipkan mataku berkali-kali. “Bolehh, tapi izin dulu sama papa” jawab mamaku, “oke ma!” aku jawab sambil memeluknya. Ku langsung ambil telepon genggamku dan menelepon papaku yang sedang berada di luar kota.

Jumat, 6 Juni 2016
Waktu menujukkan jam 3 pagi. Aku terbangun dengan keringat dingin di seluruh badanku. Aku tidak ingat apa yang terjadi, atau aku mimpi apa, tetapi yang pastinya, jantungku berdegup sangat cepat. Aku berdiri dari tempat tidurku dan merasakan sakit kepala di seluruh kepalaku. “Aduh” aku berbisik ke diriku sendiri. Aku berjalan menuju keluar dari kamarku untuk mengambil obat sakit kepala dan kembali tidur. Saat berjalan menuju dapur, aku mau tidak mau harus melewati ruang tamu. Jujur, sejak kejadian malam itu, aku mencoba untuk menghindar melewati ruang tamu sendiri di malam hari, tapi sekarang apa boleh buat. Sampai ke dapur aku langsung lari kembali ke kamarku, menuju tempat tidurku dan langsung menarik selimutku, tetapi aku lupa menutup pintu kamarku dan aku merasa ada sosok yang memperhatikanku.

“Ayuk, Cepetan dongg!” teriak Nadira sambil mendorongku untuk mempercepat jalanku. “Iya, sabar dong barangnya banyak” teriakku kembali ke dia. Hari Jumat ini kita akan pergi ke Itali berlima. Teman-teman dekatku yaitu Nadira, Maya, Ela dan Tia akan membantuku packing baju. “Tangkap ini!” teriak Ela ke Maya sambil melempar baju lengan panjangku berwarna hitam. “Heh! Jangan diberantakin dong!” teriakku ke mereka berdua. Mereka hanya membalas dengan ketawa. “Kamu bawa makeup yang mana Na?” Teriak Maya yang membantuku packing semua riasan wajahku dan perawatan wajahku. “Yang mana saja!” kuteriak ke dia. Kita akan berangkat jam 4 sore dan sekarang waktu menujukkan jam 8 pagi. “Aduh cewek-cewek berisik banget sih” kata papaku sambil mengintip dari pintu kamar tidurku. “Ih papa” aku jawab kembali dengan nada yang meledek. “Jadi Om Andi mau bilang sesuatu. Jangan bandel, pergi selalu berlima, pulang jangan malem malem–” “Papa!” teriak aku yang diselingkan dengan ketawaku dan teman-temanku. Papaku hanya terdiam dan akhirnya ikut ketawa juga. “Om beneran. Dengerin lagi ya. Pulang jangan malam-malam–” “Om!” temanku berteriak dengan bercanda ke papaku. “Ya sudah” jawab papaku dengan nada pura-pura marah. “Pokoknya hati-hati, jaga kesehatan, nanti uangnya papa transferin-” papaku belum selesai berbicara, tetapi kita berlima mendorongnya ke luar dari kamar. “Nanti ya pa!” dan kita berlima langsung ketawa bersama.

Akhirnya, waktu yang kita tunggu-tunggu tiba. “dadah, ati-ati ya dek” “Jaga kesehatan Maya” “Kak, jangan pulang malam!” “Tolak anginnya udah dibawa kan?” semua ucapan itu disebutkan oleh mama dan papa kita berlima. Mereka semua mengantarkan kita ke bandara sampai dengan masuk imigrasi. “Hihii! Akhirnya kita jalan bareng” kata Maya dengan mencoba memeluk kita semua. Tak lama, kita berlima sudah duduk di dalam pesawat dan sudah setengah perjalanan menuju Italy.

Sabtu, 7 Juni 2016
Perjalanan di pesawat membuatku bosan duduk. Pada jam 3 pagi, aku bagun dari tempat dudukku dan berjalan di dalam pesawat untuk menggerakkan kakiku. Semua orang sedang tertidur, dan penerangan di dalam pesawat digelapkan untuk membuat penumpang tertidur. Beberapa cahaya dapat terlihat dari TV kecil di pesawat yang masih memutarkan film. Bahkan, beberapa pramugari dan pramugara bisa terlihat tertidur di kursi paling belakang, hanya ada beberapa yang masih berkerja.

Aku memutuskan untuk pergi ke toilet sebelum kembali ke tempat dudukku. Aku masuk ke ruangan kecil tersebut dan mengunci pintunya. Tiba-tiba saat aku ingin membuang air kecil, lampu di dalam toilet tersebut mati, dan ruangan kecil tersebut menjadi sangat gelap gulita. Aku mencoba membuka pintunya dengan membuka kunci pintu toilet tersebut, tetapi kuncinya tidak bisa dibuka. Disaat yang membuat panik itu, aku merasakan ada keberadaan seseorang di belakangku. “Tidak masuk akal!” pikirku, karena toilet ini sangat kecil dan hanya cukup untuk satu orang. Untuk aku memutar badanku, aku saja kesusahaan. Dan taunya aku salah, karena aku merasakan tangan di pundakku. “Ah!” aku teriak. Nadira di sebelahku langsung terbangun dan Maya di sebelah kananku kaget atas reaksiku. Aku langsung melihat ke belakang karena toilet di belakang barisan kursiku adalah dimana kejadian tersebut terjadi, tetapi saat aku terbangun, penerangan di dalam pesawat sudah terang, para penumpang lain sudah terbangun, pramugara dan pramugarinya sudah mulai berkerja kembali, beda dengan situasi yang sebelumnya. Aku melihat jam yang berada di TV kecilku. Waktu menunjukkan jam 6 pagi. “Tak apa Na, itu hanya mimpi” tutur Nadira yang masih setengah tertidur. “Apakah itu mimpi?” kutanya diriku sendiri.

Senin, 9 Juni 2016
Sudah dua hari kita berada di Itali. Negara yang indah dengan kultur yang sangat berbeda dengan Indonesia. Pastinya kita berlima belum dapat mengalami semua pengalaman yang seharusnya kita alami, tetapi pastinya kita sudah sangat bersenang-senang. Dua hari yang lalu, saat kita sampai di bandara jam 8 pagi. Kita berlima langsung menuju hotel dan bersih-bersih seperti biasa. Pada hari itu, kita berlima memilih untuk mempelajari daerah lingkungan hotel kita terlebih dahulu.
Pada hari itu, hari berakhir dengan sangat cepat karena kita berlima menghabiskan waktu bersama dan bersenang-senang bersama. Kita berlima mencicipi makanan itali seperti Pizza dan Risotto. Aku, Nadira, Maya, Tia dan Ela juga berbelanja ke toko-toko yang di dekat hotel.

Pada hari minggu, kita pergi ke salah satu pantai paling terkenal di itali, dan menghabiskan sisa hari kita di sana. “May! Kamu bawa sunblocknya kan?” Ela menanyakan Maya saat kita semua sudah selesai makan pagi. “Iya sudah La” jawab Maya yang sedang fokus ke handphonennya. “Gue gak mau item May” tutur Ella ke Maya, da Maya hanya menjawabnya kembali dengan ketawa. “Ada-ada aja sih kamu” sapa Nadira saat ia mendengar percakapan dua temennya ini.

Selasa, 10 Juni 2016
Alarmku berbunyi pada jam 6 pagi agar aku bisa bersiap-siap lebih duluan dari teman-temanku. Aku membagi kamarku dengan Nadira, sedangkan, Maya, Ela dan Tia berbagi kamar. “Nadiraa, bangunnn” kuucapkan sambil menggoyangkan badan Nadira agar Ia terbangun. “Ana sekaramg baru jam berapa?” tanya Nadira yang masih setengah tertidur. “Jan 6 pagi!” aku membalasnya dengan nada yang ceria. “kok kamu punya energi sih di pagi hari ini” jawab Nadira yang setelah itu menarik selimutnya dan kembali tidur. “hmmm, aku haurs mandi sendiri” bisikku ke diri ku sendiri.
Jujur, aku merasa ketakuttan jika tidak ada yang mandi sebelum konser dimulai. Menghabiskan waktu bersama teman-temanku adalah salah satu hal yang terindah aku pernah lakukan bersama mereka semua.

Hari ini kita pergi ke daerah yang punya banyak peninggalan masa lampaunya dan juga kita ke museum yang menujukkan sejarah itali. “Ayuk pulang yuk guys!” teriak aku ke mereka semua saat lagi menyeberang jalanan. “Sabar Na, kita lagi jalan” teriak Maya yang sudah mulai kehabisan nafas karena kita berlari dari tempat terakhir yang kita kunjungi yaitu museum, ke depan hotel. “Liat kanan-kiri kalo menyeberang Na” saut Tia, “Iya mama” kujawab balik dengan nada yang meledek. Tetapi tidak disangka, saat aku menyeberang, dalam hitungan detik aku bisa merasakan badanku tertabrak oleh sesuatu dengan sangat kencang dan badanku terlempar. Rasa sakitnya menjulur di badanku dengan sangat cepat dan aku hanya bisa tiduran. Aku tidak pernah merasakan sakit separah ini karena aku hanya ingin menangis. Penglihatanku udah mulai memburam dan aku bisa mendengar Tia berteriak kepadaku untuk tidak menutup mata. “ANA JANGAN TUTUP MATA!” aku bisa mendengar Tia, Maya dan Ela meneriakkan ini ke aku, sedangkan aku bisa melihat Nadira dari kejauhan menangis dan sedang berbicara pada orang-orang di sekitar. Rasa sakitnya sangat tidak bisa diceritakan. Nyeri mulai dirasakan di kulitku dan tiba-tiba seluruh badanku sangat sakit. Aku tidak bisa membayangkan apa yang sebenarnya terjadi tapi pastinya, aku tahu aku tidak bisa menggerakkan kakiku dan aku bisa merasakan darah mengucur dari kepalaku. Tidak lama kemudian, aku pingsan.

Bunyi sirene ambulans terdengar sangat keras dan kupingku merasa sakit mendegarnya. Aku bisa melihat beberapa suster dan dokter berkerja dengan panic saat mereka melihat kondisiku. Tetapi, aku sedang diinfus dan aku secara perlahan mendapatkan kembali pikiranku kembali yang sebelumnya kosong. Tetapi, di dalam kerusuhan itu, aku melihat satu bayangan di dalam ambulans yang hanya duduk. Ia tidak membantu dokter atau susternya, ia bukan teman saya dan pastinya saya tidak tahu dia. Tetapi, sepertinya ia sadar aku memperhatikannya.

“Kamu tahu siapa aku” tiba tiba ia bertanya kepadaku. Wajahnya tertutup oleh tudungan jacketnya, dan dari biasanya aku tidak merasa takut karena kondisi ambulans sedang ramai. “Tidak” aku menjawab kembali kepadanya. Aku tidak bisa membaca ekspresi mukanya, yang pastinya ia menyengir dan menjawab kembali dengan ini “Aku hanya pigmen di mimpimu, aku ini sejujurnya tidak ada. Aku selalu muncul di mimpimu untuk membangunkan dirimu, dan mengembalikan kamu ke dunia nyata” kata cowok itu yang sering bermunculan di mimpiku? atau kehidupan nyataku? dengan kondisiku yang baru tertabrak mobil, informasi seperti ini membuatku sangat bingung. “Maksudmu apa?” aku bertanya. Ia memegang tanganku yang sedang diinfus dan menariknya infus. “Maksudku ini” ia menjawab. Dan aku terbangun.

Hari: ?, Tanggal: ?, Bulan: ?, Tahun: ?
Aku baru terbangun dari mimpi teraneh yang pernah aku rasakan. “Semua itu hanya mimpi…” aku berbisik ke diriku sendiri. Aku terbangun di tempat tidurku seperti biasa, dan merasa keringatku mengalir deras. Aku menuju ke luar dari kamar tidurku untuk mengambil air minum. Saat ingin mengambil air minum dan melewati ruang tamu, aku bisa melihat sosok cowok yang sering bermunculan di mimpiku duduk di ruang tamuku, dan tiba-tiba ia berbicara “Jadi menurutmu sekarang mimpi atau bukan?” pertanyaan itu membuatku takut, dan aku tidak bisa menjawabnya. Jadi apakah sekarang mimpi atau bukan?

Cerpen Karangan: Alshiva Keisha

Cerpen Mimpi Atau Bukan? merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Raina!

Oleh:
“Jangan!! ku mohon, jangan lakukan itu, Raina!!” pekik seorang perempuan “matilah kau, Linda!!!” ucap perempuan lain yang tengah menghunuskan pisaunya di jantung perempuan itu Aaaa… lagi-lagi aku bermimpi buruk.

Make a Wish Berujung Petaka

Oleh:
“Happy birthday Selly… Happy birthday Selly… Happy birthday Happy birthday day Happy birthday Selly…” Ya hari ini ulang tahunku ke tujuh belas, aku berharap banyak di ulang tahunku yang

Gadis di Balik Jendela

Oleh:
“Eh, apa itu.. di balik jendela rumah sana?” “Apakah itu seorang gadis?” Tuk… Tuk… Tuk… “Gadis itu ngetuk-ngetuk jendela, ya? Dia manggil kita?” “Kita datangi, yuk.” GEDOR DORR DORRR

Five Islands

Oleh:
Jaka menyeka bulir-bulir keringat di keningnya sambil duduk di bawah salah satu Rock Mushroom yang menjulang di sekitar puncak Brahma. Rock Mushroom adalah bebatuan vulkanis yang tercipta dari lava

Beringin dan Lagu

Oleh:
Lagu itu mengalun begitu pelan, merdu. Tekanan-tekanan tutsnya begitu terdengar. Lagu itu menumbuhkan aura yang begitu negatif. Membuat bulu kuduk berdiri sehingga tampak dari permukaan. Rambutku terterpa oleh angin

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Mimpi Atau Bukan?”

  1. messy anggreni says:

    mimpi yang pernah aku alami.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *