Misteri Di Taman Meja Batu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 13 October 2015

Pluk!!! Aku membanting buku yang ku pegang.
“Kenapa? Gak suka bukunya?” Tanya seseorang. Sekilas aku melihat wajahnya, lalu aku menjadi acuh tak acuh. “Dia lagi, dia lagi!!” Batinku.
“Kepo ah!!” Kataku ketus sambil keluar dari perpustakaan. Ia hanya melihatku aneh.

Ku masuki kelasku. “Masih ada waktu 8 menit lagi,” batinku. Segera aku duduk di samping Adel, sahabatku. Nama lengkapnya Fadellia Putri.
“kenapa? Jumpa dia lagi?” Tanya Adel.
“Ya… Pake kepo segala!! BT ah!!” Jawabku ketus. Adel sudah biasa dengan sikapku.
“Udah deh.. Sabar aja kali.. Lagian juga dia pake ngebuntutin lo pas itu. Gak ada kerja banget!” Kata Adel.
“Tahu ah!!” Seruku kesal. Ya. Sifatku jika kesal selalu berkata, “ah!!”

“Hai, Del, Sal.” Sapanya.
“ngapain dari tadi lo asyik nyapa gue? gak ada kerjaan apa!! Ganggu orang aja!! Udah, pergi sana.. Arrgghh!!!” Teriakku. Kebetulan kelasku sedang gaduh, jadi tidak terdengar teriakanku.
“Maaf..” Ujarnya sambil menunduk. Lalu dia segera duduk di samping Chelfa.

Empat menit kemudian.
“Halo.. Apa kabar?” Tanya Bu Herra.
“Baik bu..” Teriak kami.
“Ya. Saking baiknya, sampe buat telinga Ibu budek..” Kata Bu Herra sambil tersenyum. Kami semua tertawa. Bu Herra termasuk guru favorit. Walau ia sedang BT, tapi dia tetap tersenyum, walaupun senyum kecut.
“Kita mulai pelajaran..” Kata Bu Herra kemudian menjelaskan pelajaran.

Kring! Kring! Kring! Kring! Bel berbunyi. Pulang!!! Yeay!
“Anak-anak, sebelum pulang, Ibu beri tugas kepada kalian untuk membuat lampion. Ok, Adel, Salbila, Chelfa, dan… Hmm… Shiby satu kelompok, hmm… Bla.. Bla.. Bla..” Jelas Bu Herra. Lalu, Bu Herra keluar.

Ku gandeng tasku. Lalu, aku berjalan pelan menuju parkiran.
“Sal.. Tunggu..” Teriak seseorang. Tangannya memegang tanganku. Aku menoleh padanya. “Lagi-lagi perempuan berambut sepinggang itu,” batinku.
“Apaan sih!! Lepasin!! Lepasin, By!!” Teriakku. Baru kali ini aku memanggilnya dengan nama semenjak kejadian itu.
“Kamu kenapa sih? Apa salah aku?” Teriaknya.
“Udah ah!! Lusa kita buat lampion di rumah Chelfa. Bilang ke yang lain!” Perintahku. Ia melepaskan genggaman tangannya. Lalu, ia pergi. Aku segera bergegas memasuki mobilku.

Sesampai di rumah, aku segera mengganti pakaian lalu segera makan. Menu makanannya nasi putih, lauk pauknya ada ayam bakar, ikan panggang, dan ada sate kacang dan sate ayam. Serta cupcake chocolate sebagai penutup. Minumannya Milkshake Choco dan Milkshake Berry. Aku segera menghabiskan cupcake-ku lalu segera meminum Milkshake Choco.

“Senang oh senang rasanya. Jadi perhatian semua. Kami selalu ada. Membuat ceria suasana” Suara dering hp-ku berbunyi.

“Halo.. ”
“Halo, ini dengan saya, Ibu Herra selaku kepala sekolah dan guru. Bisa berbicara dengan Salbilla?”
“Saya sendiri. Ada apa ya, Bu?”
“Kita libur 5 hari karena ada renovasi. Tapi, Ibu udah memilih Perbaikan Ekspres untuk sekolah kita. ”
“Oh.. Iya Ibu, saya akan kabarkan pada teman-teman. ”
“Oh.. Iya.. Makasih banyak ya, Sal.. ”
“Iya, Bu.. Wassalam..”
“Waalaikum salam.”

Tut.. Tut.. Tut.. Baru saja aku merebahkan diri, terdengar suara dering hp.

“Halo??”
“Ya.. Halo dengan siapa?”
“Dengan Adel. Ini Salbilla kan?”
“Iya.. Ada apa, Del?”
“Mama, Papa kamu ada?”
“Gak sih.. Kenapa?”
“Kita buat lampion di taman meja batu ya..”
“Oh.. Dekat rumah Chelfa?”
“Ya..”

“Kapan?”
“Kalau bisa sih, ntar malam. Mau gak? Semuanya sih setuju… ”
“Hmm.. Oke deh… Eh, udah tahu kabar kalau kita libur belum?”
“Udah dong… Dari kemaren..”
“Oh.. Gitu.. Ya udah.. Dadah.. ”
“Dah…”
Tut.. Tut.. Tut…

Aku tertidur lelap. Tuk… Tuk.. Tuk..

“Hoamm.. Iya, masuk.. Gak dikunci.” Kataku.
“Sal, kita berangkat bareng yuk..” Kata Adel.
“Oh? Udah jam berapa sih?” Tanyaku.
“Baru jam 06.00..” Jawab Adel.
“Oh.. Aku salat dulu ya..” Kataku. Adel mengangguk. Lalu, aku mengambil air wudu lalu salat.
“Bi.. Sala mau pergi dulu ya..” Teriakku. Hehe… Kalau di rumah, aku biasa di panggil Sala. Khusus di dalam rumah aja, ingat.
“Iya…. Hati-hati loh. Ndak nyeberang lihat kiri kanan to. Jangan lupa. Pulang jangan larut loh. Ya udah, neng pergi terus. Ingat, ndak nyeberang lihat kiri kanan…” Pesan Bi Salma padaku menggunakan logat Jawa-Indo.

Kami pun segera berlari kecil menuju Taman Meja Batu, aku dan Adel berusaha mencari Celfha dan Shiby, namun tak ada hasil. Karena lelah berkeliling, kami duduk sebentar. Adel mencoba untuk menelpon Chelfa, namun gak ada hasil. Begitu pula Shiby, baru sebentar kami duduk, tiba-tiba…

“Hai…” Sapa seorang perempuan berambut sebahu dan memakai seragam putih abu-abu.
“Oh? Hai…” Sapa Adel ramah. Aku terdiam, rasanya ingin aku kabur melihat perempuan itu. Tubuhnya kaku, tangannya dingin, poninya menutupi matanya, wajahnya menunduk namun masih terlihat bahwa ia sedang menangis.

Adel dan perempuan itu terus berbicara, mereka seperti orang yang sudah lama berkenalan. Beberapa saat kemudian.
“SAL…” Teriak Chelfa sambil menangis.
“Ada apa? Mana Shiby?” Teriakku pula.
Chelfa mendekat.
“Shib… Shi… Shii… Shiby.. Huhu..”
“Kenapa?” Bentak Adel kesal. Tampaknya, Chelfa sakit hati. Segera saja ia menarik tanganku lalu membawa pergi ke rumah Shiby yang sangat dekat dengan Masjid Taqwa, bahkan satu perkarangan.
“Ada apa sih, Fa? Kenapa kamu tarik-tarik aku begitu? Adel tertinggal..” Kataku.
“Masuk dulu ke Masjid. Nanti biar aku cerita semuanya..” Kata Chelfa.

Setelah masuk ke dalam masjid, aku melihat Shiby.
“Itu kan Shiby? Kenapa kamu tadi?” Tanyaku heran.
“Iya Shiby.. Dia sedang membaca yasin bersama Ustadzah Aminah dan Adel. Oh ya, kamu terkelabui. Di Taman Meja Batu itu, ada perempuan bukan?” Tanyanya.
“Iya sih.. Kenapa?” Tanyaku, seketika itu, aku merinding.
“Dia itu… Hiks…” Shiby menangis.
“Udah, udah… Dia itu, kakaknya Shiby…” Kata Chelfa sangat lembut. Padahal bisanya, suaranya 9 kali lipat dari itu.

“Ceritanya gimana sih?” Tanyaku.
“Jadi, nak.. Nama kakaknya Shiby adalah Sheby Fhatanie. Kakaknya meninggal karena saat itu, Sheby sedang duduk bersama Anga, temannya. Setelah agak sore, Anga pulang, sedang Sheby masih mengerjakan tugas sendirian. Pukul 05.00, Ibu menelpon Sheby, namun tidak diangkat. Sampai 21 kali, tidak ada jawaban. Ibu mulai panik. Ibu mencoba menelpon Anga, Anga bilang bahwa Sheby tadi sedang mengerjakan tugas, karena telah larut malam, Anga pamit pulang. Akhirnya, Ibu dan Shiby serta nak Chelfa yang kebetulan menginap di rumah Shiby pergi ke Taman Meja Batu…” Ibu Aminah menjelaskan panjang lebar. Lalu Ibu Aminah menangis.

“Kami melihat di meja nomor 13, terdapat perempuan sedang tertidur. Kami berlari menuju mereka, namun pemandangan buruk terjadi. Sheby telah… berpulang ke Rahmatullah..” Sambung Chelfa.
“Dan nenurut informasi, kak Sheby diantukkan kepalanya ke meja batu oleh ketua Geng Motor…” Ujar Shiby.
“Ketua Geng Motor siapa sih? Dan.. Kenapa Kak Sheby diantukkan kepalanya?” Tanyaku polos. Memang sih, aku belum seberapa paham dengan cerita mereka.
“Ketua Geng Motor itu Rangga, Rangga satu kelas dengan Kak Sheby dan… Herby, saudara kandungku..” Kini giliran Adel menerangkan.

Selesai

Cerpen Karangan: Riva Fitrya
Facebook: Riva Fitrya
Twitter: @rivafitrya123
Assalamualaikum. Namaku Riva Fitrya. Kini duduk di bangku kelas V-A /lima. Terima kasih.

Cerpen Misteri Di Taman Meja Batu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Bloody Love

Oleh:
5 Hari lalu di hutan ini telah terjadi pembunuhan yang sangat mengerikan.Mayat seorang gadis ditemukan berserakan, terpisah bahkan sampai ratusan meter. Sebagian banyak sudah dimakan anjing hutan yang kelaparan.

Gadis Dalam Gelap

Oleh:
Di dalam rumah yang tak pernah menyalakan lampu tersebut, ternyata ada seorang gadis yang hidup di dalamnya. Penduduk kampung mengira rumah itu telah kosong sejak kejadian tiga bulan yang

Buku-Buku yang Hilang

Oleh:
Malam semakin larut. Setiap malam, di saat orang-orang terlelap tidur, langit malam kota Gaston yang tadinya cemerlang dipenuhi oleh bintang-bintang, kini berubah gelap dipenuhi oleh sesuatu yang beterbangan. Apakah

Taman Labirin

Oleh:
Desa Ju, desa tumbal. Itulah yang selama ini kudengar mengenai desa Ju. Tapi, aku tidak mengerti apa yang dikatakan seorang nenek saat aku berlibur. Di desa Ju, ada satu

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *