Misteri Gudang Tua

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 23 November 2016

Namaku Karinna Sisillia, aku dan keluargaku baru saja pindah ke rumah baru kami. Rumah itu dibeli ayah 2 minggu yang lalu. Aku tinggal bersama mama, papa, kakak dan pembantuku. Rumah itu sangat indah dan megah. Halaman depannya pun sangat luas. Satu hal yang sangat mengherankan adalah ada sebuah gudang tua di samping rumahku. Gudang itu nampak lusuh dan sudah tidak terpakai lagi. Keadaan sekitarnya yang kotor dan gelap pun menambah kesan horor pada gudang itu. “Mah, itu gudang apa?” tanyaku pada mama sambil menunjuk ke arah gudang itu. “Gudang apa?” “Itu lo mah,” “ooowh mamah gak tau coba tanya sama papah kamu aja mungkin aja papah tau.” Ujar mamah. Ah sia-sia, mending aku masuk aja deh ke rumah.

“Kak, lo tau gak di samping rumah kita ada gudang kosong?.” “Gudang?, gudang kosong apaan?” Tanya kak virza. “iya kak gudang itu kosong, serem lagi. kayaknya udah ngak dipake lagi.” “Udah ceritanya? Kalo udah keluar dari kamar gua gih sana gua mau belajar, oh ya katanya mama sama papa mau ke luar kota tuh untuk beberapa hari.” “Apa? Ke luar kota? Kok dadakan sih…” ucapku seraya meninggalkan kamar kak Virza.

Mama dan papaku sudah pergi ke luar kota untuk beberapa hari. Aku di rumah bersama kakakku yang menyebalkan dan pembantuku.

Malam semakin larut, aku tidak bisa tidur. Kutatapkan mataku ke arah jam. Sudah jam 12.00. Kupejamkan mataku sebentar tetapi tetap saja aku tidak bisa tidur, kak virza sudah tertidur pulas di kamarnya. Bahkan dia mungkin sudah bermimpi indah. Aku benar benar tidak bisa tidur. “Aku ke luar aja deh cari angin malam. Kali aja nanti kalo ngantuk tinggal masuk deh” ujarku. Aku pergi ke teras rumah. “Wushh, anginnya segar” saat aku sedang menikmati angin malam seketika itu juga aku melihat seseorang anak perempuan dengan rambut tergerai sedang bermain bersama dua ekor kucing hitam di sekitar gudang tua itu. “Lho bukanya gudang itu kosong ya?” tanyaku kebingungan “siapa anak itu, kenapa dia ada di gudang itu, mau apa dia di situ bersama dua ekor kucing hitam?” Setiap pertanyaan selalu kulontarkan dari bibirku. Aku tidak bisa berhenti bertanya. Sampai akhirnya aku mulai mengantuk dan masuk ke dalam rumah dan mengunci pintu kamarku.

Hari sudah pagi. Aku bangun dari tempat tidurku dan bergegas mandi. Selesai mandi aku segera berpakaian dan turun untuk sarapan setelah itu pergi ke sekolah. Sekolahku tidak jauh dari rumahku. Aku juga tidak memerlukan kendaraan apapun untuk menuju ke sana. Hanya butuh waktu 15 menit untuk berjalan kaki. Aku sudah bisa sampai disana.

“Hai, kamu anak baru ya?” Tanya seorang gadis yang menghampiriku “iya” “dimana rumahmu?” “Rumahku tidak jauh dari sini, rumahku berada di samping gudang tua yang kosong itu” jelasku. “Apa, gudang tua?” “Iya, kenapa kamu terkejut mendengar kata gudang tua?” “Hmm, nanti deh aku ceritain. nanti aku pulang sekolah ke rumah kamu. Oh ya aku Dewi. Kalo kamu?” “aku Sisil. Salam kenal ya.” Ujarku. Bel pun berbunyi pembicaraan kita segera dihentikan. Kami pun segera masuk ke kelas kami.

“tingtong” “tingtong” berulang kali kupencet bel rumahku tetapi tidak ada yang membuka. Tak lama pembantuku membukakan pintu. “Dari mana aja sih bi, kok lama? Oh ya kak Virza udah pulang belum?” “Maaf non bibi tadi lagi masak makan siang, den Virzanya belum pulang non.” Ujar bi inah. “Oh, ya udah sisil ke kamar dulu ya bi.” Aku pun segera masuk ke kamar untuk berganti pakaian. “Non, ada temennya nih!” “Suruh ke kamar aku aja bi.” Ujarku. “Eh kamu, dewi” “iya” “wi, kamu kenapa sih dari tadi ngeliatin gudang tua itu?” Tanyaku heran. “Aku ngerasa aneh deh sama gudang itu. Setiap malam aku selalu dengar suara tangis dari dalam gudang itu.” “Oh ya, aku juga melihat sesosok anak perempuan tadi malam di gudang itu. Aku jadi penasaran deh sama gudang itu.” Ujarku “iya nih sil gua juga gimana kalo kita kesana aja” “gua setuju.” Kami berdua pun pergi ke gudang tua itu.

“Ih kotor banget, serem lagi.” gumamku. “Dewi, balik aja yuk, serem tau.” “Udah ayo, gak papa gak perlu takut.” ujar dewi. Kami pun menelusuri satu per satu ruang dalam gudang tersebut untuk menghilangkan rasa heran kami. Sampai ketika kami bertemu dengan seorang anak perempuan, anak itu sedang menangis sambil mengendong seekor kucing dan memegang sebuah pisau di tangan kanannya. Keadaan semakin meyeramkan kami mencoba untuk memberanikan diri. “Ka.. kamu siapa?” Tanya dewi pada anak itu. Seketika anak itu langsung menatap kami. Matanya yang merah dan menatap kami dengan tatapan tajam, membuat kami bergidik ketakutan. Ditambah lagi pisau yang ia pegang berceceran darah. Anak perempuan itu lalu mendekat ke arah kami. Sontak kami mulai ketakutan, karena ia memegang pisau di depan perutnya. Tangannya seakan akan mau menusukkan pisau itu di perut kami. Rambutnya yang tergerai panjang menutupi wajahnya. Ia semakin mendekat dan semakin mendekat. Kami terus bergidik ketakutan. “M…mau apa kamu?, jangan mendekat!” Ucapku. Tetapi anak itu tetap mendekati kami. Kami perlahan mundur untuk menjauhi anak itu. Tetapi sia-sia. Anak itu sekarang sudah tepat berada di hadapan kami. Kami masih terus ketakutan dan saling bergandengan tangan.

“Aku naina.” Kami terkejut mendengar jawaban anak itu. Kami saling bertatapan mata. “Lalu, kenapa kamu ada disini?” tanyaku. “Aku tinggal disini” “kenapa kamu tinggal disini apa kamu tidak punya rumah?” Tanya Dewi. “Punya, tetapi…” “tapi apa?” Tanyaku penasaran. “Sebenarnya gudang ini dulu bekas gudang gula terbesar di kota ini. Dan pemilik gudang ini papa aku. tetapi gudang ini bangkrut dan papa aku menjadi frustasi dan bunuh diri. Dan pisau ini adalah pisau yang digunakan papa aku untuk membunuh dirinya sendiri.” “Kenapa kamu tidak tinggal bersama ibu kamu?” “Sebenarnya ibu aku juga menjadi frustasi karena kematian papaku akhirnya dia menjadi gila dan dibawa di rumah sakit jiwa. Dan aku disini tinggal hanya bersama dua ekor kucing kesayanganku.”

Sejak saat itu aku dan Dewi tau asal suara tangisan di malam hari dan siapa anak perempuan itu

END

Cerpen Karangan: Gladys Ellnora Putri
instagram.com/@gladysellnora_29

Cerpen Misteri Gudang Tua merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Penunggunya Siapa?

Oleh:
Dodi menggigit jarinya gelisah. Bola kesayangannya masuk ke rumah kosong, yang angker. “Aku pulang ya Dod, mau main PS” ujar Tito yang malah kabur pergi ke rumahnya, padahal Tito

Seikat Mawar

Oleh:
Aku menatapnya kagum. Dave, lelaki yang ku kenal pendiam itu ternyata mahir memainkan sebuah lagu River flows in you. Jari-jarinya menari dengan lincah di atas tuts-tuts piano memainkan mahakarya

BeGard

Oleh:
Namaku Teddy Virasha Gultom. Aku anak seorang pengusaha di Canada, aku anak pertama dari tiga bersaudara. Adik pertamaku bernama Reva Stevany Gultom. Adikku yang paling kecil bernama Angelica aurora

Saman

Oleh:
Malam itu kira-kira pukul 19.30 di pertengahan juli.. Aku dikagetkan dengan dering hp yang kusimpan di saku kemejaku.. Drreettt… Siapa ini ganggu orang nonton bola saja.. Ku buka sms

Ayakarin

Oleh:
“Rin, katakan sesuatu padaku!” Hana memaksanya berbicara. “he’em” ia berdehem. “aku… aku begitu merindukanmu” ia mengatakan dengan air mata yang dia titikkan. “berikan lagi kalimat terakhir untukku!” “aku ingin

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *