Misteri Kerangka Manusia di Lab IPA (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Misteri, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 15 December 2018

Namaku, Vreina Effendiana. Biasa dipanggil Vrein. Hari-hari Vrein di SMA Badhiyana Mukti berjalan seperti biasanya. Sampai suatu saat dia mendengar tentang suatu kisah misteri di sekolah. Vrein sedang berada di kantin dengan teman-temannya.

“Kudengar, ada kisah misteri di Lab. IPA ya? Cerita apa itu? Kok aku belum pernah dengar?” tanya Vrein penuh penasaran. “Ah, kamu sih kudet. Temenan ama anak-anak gaul, tapi sendirinya kudet” balas cibiran temanku, Rena. “Kamu mah, bukannya jawab tapi malah mencibir aku. Huuh..” balas Vrein dengan tatapan sebal. “Lagian sih, Vrein mah aneh. Ranking 1 satu angkatan, tapi otaknya yang encer cuma buat pelajaran doang, untuk kehidupan sehari-hari tidak. Atau jangan jangan, kamu dapat ranking 1 karena uang ya?” ledek Sisca. “Enak saja! Ekonomi keluargaku saja sudah melarat, bagaimana ingin mengeluarkan uang untuk nyogok agar rangking 1? Sisca, kamu juga sudah tahu kok masih nyinggung soal ini sih?” jawab Vrein malas. “Maaf, bercanda. Ya sudah, mau aku kasih tau tidak apa kejadiannya?” tawar Sisca. “Hm.. Iya deh, aku juga penasaran. Kamu kan taulah, aku kan orangnya ingin mencari hal yang menantang! Hehe..” jawab Vrein sambil terkekeh. Kami bertiga tertawa sejenak. “Jadi, gimana ceritanya?” tanya Vrein.

“Jadi gini…” saat Sisca ingin melanjutkan obrolan, tiba-tiba Kens, Putra, dan Jovan menyela pembicaraan. “Hai! Lagi ngobrolin apa nih? Kayaknya asik tuh! Lanjutin aja ceritanya. Maaf motong pembicaraan” ucap Kens. Kens, Putra, dan Jovan terkekeh. “Santai aja kali, Kens” balas Vrein. Mereka pun bergabung, dan kita berenam pindah duduk di meja kantin yang berkapasitas 6 orang. “Nah, lanjutin ceritanya!” seru Jovan.

“Jadi gini. Di sekolah kita Lab. IPA sudah tidak pernah terpakai lagi kan?” tanya Sisca. Kami semua mengangguk. “Banyak rumor yang beredar kalau kerangka manusia di Lab. IPA suka bergerak sendiri loh! Bukan hanya rumor saja. Aku pun melihatnya sendiri. Saat ingin salin baju tari, kan melewati Lab. IPA itu. Saat kulihat di jendela, aku melihat kerangka manusianya bergerak tak beraturan tanpa ada yang mendorongnya. Aneh kan? Aku saja sampai merinding melihat itu. Langsung kabur deh aku! Begitu ceritanya” jelas Sisca. Semuanya mengangguk ber-oh ria. “Berarti hanya ada satu kemungkinan, mungkin itu hantu!” duga Vrein. “Ih, apaan sih Vrein? Jangan nakutin deh!” protes Sisca. “Iya nih Vrein, nakutin aja.” kilah Rena. “Siapa kali yang nakutin. Kan baru kemungkinan. Lagi pula, aku ingin membuktikan ada apa dibalik semua itu. Aku yakin pasti ada alasan yang masuk akal di balik semua ini! Aku pasti akan menemukannya! Akhirnya aku menemukan sebuah tantangan di kandangku sendiri! Wahahaha!” jawab Vrein dengan semangat berkobar sambil berpura-pura tertawa jahat.
“Kau menyeramkan Vrein! Kau sangat aneh dan tidak normal. Anak cewek yang lain saja ketakutan. Sedangkan kamu, malah tertantang ingin mencobanya. Ya ampun!” ucap Kens sambil bertepuk jidat. “Entahlah Kens. Aku pun tak tahu. Mungkin Ibuku tadinya mau anak cowok, eh keluarnya cewek. Makanya jadinya tomboy begini. Hahaha” sanggah Vrei. Yang lainnya pun ikut tertawa.

“Gimana? Apa kalian ingin ikut denganku?” ajak Vrein. “Aku tidak mau. Aku takut.” jawab Rena. “Aku juga!” ikut Sisca. “Yaah.. Kalian tidak asik. Tenang saja! Aku pasti akan melindungi kalian. Kalau hantu itu datang, aku akan hajar dengan karate aku.” ucap Vrein percaya diri. “Ah, kamu mah selalu saja membawa kami ke pencarianmu itu. Walaupun aku menolak, pasti kamu tetap akan memaksa kami. Ya sudah, aku dan Rena ikut” ucap Sisca pasrah.
“Yaa.. Apa boleh buat. Kami bertiga juga akan ikut menjaga kalian dari lantai bawah. Kalian naik ke atas dan mengecek. Kami akan menjaga dari bawah. Jika ada apa-apa, panggil dan berteriak saja pada kami” ucap Kens. “Ekhem. Sepertinya ada yang ingin melindungi tuan putrinya sih, si tomboy tuh Kens. Cie cie..” seru Rena bersemangat. Teman-teman Vrein juga tak mau kalah menyorakiku dan Kens. Aku dan Kens tersipu malu. Kami sempat melirik bersama, setelah itu kita saling membuang muka. “Apaan sih kalian? Siapa juga yang ingin melindungi si tomboy aneh ini” protes Kens tak mau kalah.
“Halah, tak mau ngaku saja kamu Kens. Tidak usah gengsi! Turunin tuh gengsi! Entar kerebut orang loh! Iya kan Vrein?” Jovan tersenyum mengejek ke arah Vrei. “Kalian ngomong apa sih? Ngaco tau! Tidak usah aneh-aneh. Kami hanya teman, tidak lebih! Kalian juga tahu itu kan? Sudahlah, aku malas berdebat dengan kalian. Kalau kalian beneran ingin ikut denganku, pas jam olahraga kan bebas tuh. Kita pakai jam olahraga itu untuk mengecek Lab. IPA. Gimana? Kalau tak mau yasudah! Lagi pula tidak ada yang mengharuskan kalian ikut!” protes Vrein.

Pengunjung kantin sudah mulai memperhatikan kita. Ibu penjaga kantin pun protes. “Hei, kalian! Kalau kalian ingin berdebat, jangan di sini. Teman-teman kalian pun akan terganggu suasana makannya. Silahkan kalian pergi!” “Iya, maaf bu kantin. Baik, kami akan pergi!” ucap Vrein seraya membungkukkan badan, dan diikuti oleh yang lain. Sebelum kami pergi, kami membayar dahulu makanan dan minuman yang kami pesan, setelah itu kami pergi ke kelas.

“Vrein. Aku mau..” ketika Jovan ingin melanjutkan omongannya, tiba-tiba Vrein memotongnya. “Jangan ngomong apa-apa lagi. Sudahlah, aku tak terlalu memikirkannya. Aku dan Kens memang hanya teman kok! Aku duluan ya!” aku pun langsung berlari sendiri menuju kelas. ‘Kenapa sih aku ini? Rasanya aku menyesal telah mengatakan aku dan Kens hanya teman!’ pikirku.

Kens hanya menatapku dengan raut gelisah ‘Yaah.. Aku dan Vrein hanya teman. Padahal, kuharap lebih dari itu’ pikir Kens. Saat di kelas, kami pun tak berbicara.

Jam olahraga
“Ohh.. Rupanya kalian ikut. Yasudah, ayo kita periksa!” ucap Vrei. “Oke! Ayo!” seru Sisca. Aku, Rena, dan Sisca pergi menaiki lantai dua, menuju Lab. IPA. Sedangkan Kens, Jovan, dan Putra menunggu di lantai satu. Vrein berada di depan, Rena di tengah, dan Sisca di belakang. Aku menyuruh mereka berjalan mengendap-endap. Ketika aku melihat jendela, kerangka manusia tersebut diam saja. Sedangkan Rena dan Sisca tidak berani melihat ke jendela. “Ada apa di sana, Vrein?” bisik Rena. “Tidak ada apa-apa kok. Ayo! Kita akan mengecek ke dalam Lab. IPA kan?” ucap Vrein. “Apa? Tidak deh, Vrein! Aku dan Sisca tunggu di depan pintu saja, oke?” bisik panik Rena. Aku, Rena, dan Sisca diam di depan pintu. “Ya sudahlah. Aku yang akan ke sana sendiri. Lagipula aku tidak bisa melindungi kalian di dalam. Takut kalian diterkam duluan sama hantu. Hehehe…” bisik Vrein. “Kamu mah, Vrein! Senang sekali menakuti orang!” panik Sisca. “Hehehe.. Aku minta maaf. Aku cuma bercanda! Aku suka menjahili kalian sih! Ya sudah. Aku masuk dulu ya?” bisik Vrein. Rena dan Sisca mengangguk.

Vrein perlahan membuka Lab. IPA. Dinyalakan lampu, tetapi tidak melihat kejanggalan di sini. Hanya seperti Lab. IPA biasa. Saat menutup pintu, ingin dibuka kembali, tidak bisa. ‘Yaah.. Pake macet segala. Aha! Aku ada ide. Akan kubuat mereka teriak, dan anak-anak cowok akan mendobrak pintu ini’ pikir Vrein.
“Vrein, kau tidak apa-apa? Apa yang terjadi di sana?” teriak Rena. Vrein sengaja menjawab mereka, supaya mereka takut. Vrein mengambil patung sistem pencernaan, dan diangkat ke jendela.

Sisca melihat ke jendela, tiba-tiba ada patung saluran pencernaan disana. “Rena! Ada patung sistem pencernaan tiba-tiba disini!” panik Sisca. Rena melihat ke jendela dan melihat yang dilihat Sisca. “WAAA!” teriak mereka histeris dan langsung berlari ke bawah. Kens, Putra, dan Jovan mendengar teriakan mereka. “Apa yang terjadi?” tanya Kens. “Kita tanya pada mereka saja” ucap enteng Jovan. Sisca dan Rena menghampiri Kens, Putra, dan Jovan.

“Apa yang terjadi Sisca? Kenapa kalian berteriak? Kemana Vrei?” tanya Kens. “I-itu, Vrei masuk ke Lab. IPA. Terus, kami tanya ada apa. Eh, tiba-tiba ada patung sistem pencernaan. Kami lari kesini! Vrei masih terjebak di dalam! Cepat tolong dia! Aku akan memanggil Pak Budi” Rena dan Sisca langsung berlari ke arah kantor guru dan ingin memanggil Pak Budi.

‘Yes! Satu mangsa langsung tertakuti!’ pikir Vrein. Vrein melihat yang ada di Lab. IPA. “Nah, ternyata kau yang menakuti semua orang tukang nakutin mini!” Vrein mengambil tikus kecil yang menyebabkan kerangka manusia terdorong lalu membuang ke luar jendela. Vrein mematikan kembali lampu. Dan siap-siap ingin menakuti seseorang kembali. Vrein duduk di bawah jendela.

Kens, Jovan, dan Putra bergegas berlari ke lantai dua menuju Lab. IPA. Kens di depan, Putra di tengah, dan Jovan di belakang. Kens memberi aba-aba agar jalan mengendap-endap. Kens berteriak, “Vrein! Kau ada di dalam? Apa yang terjadi di dalam sana? Jawablah pertanyaanku, Vrein!”.

‘Lumayan nih, dapat mangsa baru untuk ditakuti’ pikir Vrein. Vrein mulai mengangkat patung sistem pencernaan itu.

Jovan melirik ke jendela, dan dikejutkan oleh patung sistem pencernaan. “WA! Siapa sih dalang di balik ini?” ucap lirih Jovan.

Jovan berjinjit melihat isi dalam jendela. Rupanya Vrein dalang di balik semua ini. Namun Vrein tidak menyadarinya melihat ke dalam jendela. Jovan sengaja tidak memberi tahu Putra dan Kens tentang ini. Biar mereka mengetahuinya sendiri. Saat Kens menarik kenop pintu. Ternyata pintunya macet. Kens tetap menarik kenop pintu dan mendorong pintu dengan bahu kanannya. “Ayo Kens! Dorong terus! Dobrak aja kalau perlu! Berusahalah menolong tuan puterimu!” support Jovan. “Berisik! Apaan sih kalian? Daripada kalian berisik, lebih baik kalian membantuku!” kilah Kens. “Tidak deh. Berjuang sendiri dong mendapatkan tuan puterimu!” protes Putra. “Bawel! Iya deh! Aku dobrak ya pintunya?” tanya Kens. Putra dan Jovan mengangguk. Kens terus berusaha mendobrak pintu itu.

Vrei merasa ada yang mencoba mendorong pintu Lab. ‘Sudahlah. Biarkan saja. Paling itu Kens. Terima kasih Kens, sudah menjadi teman sejak aku kecil. Berusahalah Kens!’ pikir Vrein.

“Hey kalian! Apa Vrein masih ada di dalam? Pintu ini masih belum terbuka?” tanya Pak Budi yang muncul seiringan dengan Rena dan Sisca. “Iya, gitu deh pak. Bapak tenang saja, tidak perlu repot-repot! Kami yang akan mengatasi ini! Saya hanya minta sama Bapak, untuk memperbaiki pintu ini saja. Agar tidak ada yang seperti Vrein” ucap Kens. “Baiklah Kens. Tolong temanmu itu ya. Bapak akan memanggil tukang bangunan agar memperbaiki pintunya.” Pak Budi bergegas pergi memanggil tukang bangunan.

Vrein sudah mulai bosan karena tidak ada yang berteriak ketakutan. ‘Udahlah. Tidak seru lagi. Aku balikan saja patung ini deh’ pikir Vrein. Vrein berjalan perlahan mengembalikan patung tersebut. Tiba-tiba..

Cerpen Karangan: Fitri Asri Nur Fatimah
Blog / Facebook: Fitri Asri Nur Fatimah
Silahkan membaca!
Semoga suka! ^_^
Salam hangat, Fitri Asriest

Cerpen Misteri Kerangka Manusia di Lab IPA (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cinta Tinta Biru

Oleh:
Hay gussy…!!! Nama aku Losy aku baru kelas 2 sma program SAINS. Di sekolah aku dikenal sebagai anak yang paling pintar or smart biasalah kan selalu dapat juara umum.

Catatan Alzi Si Berandal

Oleh:
Matahari mulai berayun ke arah barat, sinarnya mulai meredup tapi tetap memancarkan sinar pancarona yang indah terlihat mata. Sepasang pemuda dan pemudi nampak asyik masyuk bercakap-cakap. Mereka adalah Alzi

Syal Tuk Yang Tersayang

Oleh:
Jam dinding di kelas sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh, saatnya istirahat. Seiring bel berdentang tiga kali, semua siswa keluar dari kelas masing-masing. Ada yang langsung ke kantin, ke kamar

Kalian (Dika, Novi) Part 1

Oleh:
“Dika!!!” suara itu sangat jelas terdengar… Dia menyebut namaku… Kudengar itu dari belakangku, kutolehkan kepalaku ke belakang… Dan kulihat itu adalah dia, ya… Dia.. Namanya novi… Dia… “Lo ngerok*k

Handphone Pembawa Tidur

Oleh:
Mall misterius. Malam telah larut Fanny masih belum tidur ingatan yang menyedihkan selalu menghantuinya ejekan-ejekan yang selalu membisik di pikirannya selalu saja datang semua temannya selalu saja mengejeknya karena

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *