Misteri Kerangka Manusia di Lab IPA (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Misteri, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 15 December 2018

BRAK! Pintu Lab. IPA terbuka. “Kens! Pelan-pelan atuh bukanya! Jantungan nih orang yang di dalam!” protes Vrein. “Vrein!” seru Rena dan Sisca berbarengan. Rena dan Sisca berlarian dan memeluk Vrein. “Aduuhh.. Kalau peluk jangan kayak nyekik dong! Sakit nih! Udah. Aku tidak apa-apa kok” ucap Vrein. Rena dan Sisca melepas pelukannya.
“Vrein, kamu yang menakuti Rena dan Sisca dengan patung kan? Hayoo.. Pinter banget nakutin orang!” seru Jovan. “APA!?” semuanya terkejut atas penyataan Jovan. “Benar itu Vrein?” tanya Kens. “Sebenarnya sih, iya. Maaf ya membuat kalian takut. Tapi, aku sudah menangkap dalang dari kerangka manusia yang bergerak itu kok! Hehehe…” nyengir Vrein. “Siapa itu? Beneran hantu?” tanya Rena. “Bukan kok! Ada tikus kecil yang mendorong kerangka manusia itu” jawab Vrein. “Ohh.. Gitu. Syukur deh bukan hantu” Rena dan Sisca bernafas lega. Vrein, Rena, Sisca, Kens, Putra, dan Jovan memberi tahu kepada Pak Budi semua yang terjadi.

“Teman-teman. Aku ke wastafel dulu ya sama Kens. Byee..” ucap Vrein. Vrein menarik tangan Kens dan membawanya pergi ke wastafel. “Ekhem. Ciee.. Ciee.. Akan ada pasangan baru nih!” ucap Putra.

Vrein dan Kens sudah tiba di wastafel. “Ada apa Vrein? Kok tiba-tiba mengajakku ke wastafel? Aku yakin kamu tidak benar-benar ingin ke wastafel kan? Ada apa Vrein?” tanya Kens.

‘Ayo Vrein! Katakan padanya! Harus berani!’ pikir Vrein. “Kens. Maaf ya sudah mendiamimu tadi. Aku tidak bermaksud seperti itu” ucap Vrein. “Tidak ada apa-apa kok Vrein. Aku mengerti perasaanmu” jawab Kens. “Tunggu sebentar. Aku akan segera kembali. Tunggu aku di taman” ucap Kens seraya melambaikan tangan. “Tung.. Yahh.. Sudah pergi” ucap Vrein. ‘Ada apa ya? Kok aku deg-deg an begini? Atau jangan-jangan dia ingin menembakku?
Vrein! Ya ampun, jangan ge-er!’ pikir Vrein. Vrein pergi ke taman dan menunggu Kens.

‘Mungkin sekarang waktunya aku menyatakan perasaanku padanya! Ayo Kens! Semangat! Jangan gugup!’ pikir Kens. Kens kembali ke kelas dan berniat ingin mengambil sesuatu.

Saat dia sampai di mejanya, teman-temannya langsung menghampiri Kens. “Ciee… Kens. Ternyata kamu orangnya romantis juga!” sindir Jovan. Semuanya tak mau kalah dan terus meledek Kens. “Kalian bisa diam sih? Aku sedang mencari sesuatau nih! Tapi belum ketemu” protes Kens. Rena mengeluarkan sesuatu dari balik badannya. “Apa ini barang yang kau maksud, Kens?” tanya Rena. Kens membalikan badan dan terkejut yang terdapat di tangan Rena. Ternyata itu adalah barang yang Kens maksud. Sebuah kotak berbalut kertas kado merah dan pita kuning. “Ya! Ini barangku! Bagaimana ini bisa ada di tanganmu? Kau menggeledah tasku ya?” tanya Kens. Kens berusaha merebut kado tersebut, namun Rena dan Sisca sudah lari ke depan kelas dan tangan Kens ditahan oleh Putra dan Jovan. “Lepaskan aku! Kembalikan kotak itu! Cepat!” amarah Kens. “Tenang dulu, Kens. Kami akan mengembalikan kotak itu jika kamu menjawab pertanyaan kami. Kens, kotak itu untuk siapa? Dan apakah kamu ingin menembak Vrein?” tanya Putra. “Lepaskan dulu! Akan kujawab!” protes Kens.

Putra dan Jovan melepas cengkeraman tangannya. Kens tersipu malu dan berkata, “Iya, itu untuk Vrein. Aku akan menembaknya sekarang di taman” ucap Kens.

Suasana kelas sedang sepi saat itu, hanya ada mereka berlima.

“Ciee.. Bakal ada pasangan baru nih! Kita ikut ah!” seru Jovan. “Siapa kata kalian boleh ikut? Kalian main aja sana di lapangan. Tidak usah kepo” protes Kens. “Yasudah. Kalau begitu… Kami tidak akan memberikan kotak itu. Gimana?” ledek Putra. “Jangan! Huuhh.. Iya deh. Kalian boleh ikut. Tapi ngumpet aja!” ucap Kens. “Oke! Ayo! Kita berangkat!” seru Jovan.

Kens, Putra, dan Jovan keluar kelas menghampiri Rena dan Sisca. Jovan memberi isyarat agar memberi kotak itu pada Kens. Rena pun memberikannya. Mereka berlima jalan menuju taman.

Di taman
Putra, Jovan, Rena dan Sisca sembunyi di balik dinding kelas. Kens menghampiri Vrein. “Lama sekali kamu di kelas? Ada apa sih? Tanganmu kenapa dikebelakangin? Ada apa itu?” tanya Vrein penasaran. “Ti-tidak ada apa-apa kok. Rahasia!” ucap Kens. Vrein penasaran. Vrein mencoba mengintip punggung Kens, namun Kens lebih cepat menghindar. “Apa sih Vrein? Tidak ada apa-apa kok. Oh ya Vrein, aku mau ngomong sesuatu” ucap Kens. “Huuhh.. Pelit! Tidak mau kasih tahu! Ada apa? Mau ngomong tinggal ngomong. Pake nanya segala. Kayak ngomong sama siapa saja.” ucap Vrein menyerah melihat apa dibalik badan Kens.

“I-itu.. Hmm.. Gimana ya ngomongnya?” gugup Kens. “Ya? Mau ngomong apa? Kok sampai gugup begitu?” tanya Vrein. “Se-sebenarnya, aku mau ngomong sesuatu sama kamu. Aku suka kamu Vrein. Aku mau kamu jadi pacar aku!” ucap Kens seraya mengeluarkan kotak yang disembunyikan.

Mendadak Vrein dan Kens blushing. “Apa? Aku tidak salah dengar nih? Ka-kamu suka sama aku? Tidak salah orang nih? Aduuhh.. Gimana ya?” gugup Vrein. “Kalau kamu mau tolak aku tidak apa-apa. Yang penting aku sudah mengungkapkan perasaanku. Terimalah hadiah dariku!” ucap Kens. Vrein menerima hadiah dari Kens. “Terima kasih Kens! Aku senang sekali! Tapi maaf..” Vrei menghentikan omongannya. “Aku tau kok kamu pasti menolakku. Aku terima kok” ucap Kens. “Ish.. Aku belum selesai bicara. Jangan dipotong dulu dong!” protes Vrein. “Maaf. Abis kamu bilang maaf. Berarti kamu tolak aku kan?” tanya Kens. “Dengerin dulu makanya. Aku akan mengucapkan ini sekali. Aku malu. Tapi, maaf.. Aku tidak akan menolak kamu. Karena aku juga suka padamu, Kens. Terima kasih!” ucap Vrein seraya tersenyum. “Terima kasih Vrein sudah menerimaku!” ucap Kens bahagia. Mereka berpelukan sejenak.

“Ciee.. Yang sudah jadian! Selamat kalian berdua!” ucap Rena, Sisca, Jovan dan Putra keluar dari dinding kelas seraya bertepuk tangan. Vrein dan Kens sama-sama terkejut. “Kalian! Kenapa kalian ada di sini?” panik Vrein. Kens menepuk dahi. “Oh iya Vrein. Sampai lupa karena suasana. Tadi saat aku ingin mengambil kadonya, ternyata kadonya diambil sama Rena sebelum aku di kelas. Aku ingin merebut, tapi syaratnya mereka harus melihat kita. Gitu Vrein. Maaf ya tidak bilang-bilang.” ucap Kens. “Apa? Ya ampun! Ya sudahlah. Semua sudah terjadi. Sekarang, kalian bubar! Sono kalian! Pergi jauh-jauh!” ucap Vrein sambil mendorong Rena dan Sisca. “Iya, iya! Kami pergi! Selamat bersenang-senang!” ucap Rena. Rena, Sisca, Putra, dan Jovan pun pergi meninggalkan Vrein dan Kens.

“Umm.. Kens? Boleh aku buka hadiah ini?” tanya Vrein. “Silahkan” ucap Kens. “Wahh! Ini kan benda yang kuinginkan! Tapi, ini kan mahal! Aku ganti aja ya?” ucap Vrein tidak enak hati. Yang ada di dalam kotak itu adalah sebuah kalung, gelang, dan cincin emas dengan liontin bunga mawar merah. “Tidak apa-apa kok. Tidak usah diganti. Aku ikhlas memberikan ini untukmu. Sengaja ku menabung untuk membelikan ini padamu, hehehe..” ucap Kens. “Mau dipakai atau dibuang?” tanya Kens. “Dipakai lah! Masa dibuang? Sayang, mahal-mahal dibeli malah dibuang” ucap Vrein. “Sini, kupakaikan!” ucap Kens. Kens mengambil kalung, gelang dan cincin lalu dipakaikan ke Vrein. “Makasih Kens! Ini hadiah terindah yang pernah kuterima!” ucap Vrei sambil tersenyum. “Sama-sama Vrein. Kuharap hubungan kita berlanjut terus” ucap Kens. “Ya. Semoga terkabulkan” ucap syukur Vrein. Vrein dan Kens kembali ke kelas.

END

Cerpen Karangan: Fitri Asri Nur Fatimah
Blog / Facebook: Fitri Asri Nur Fatimah
Silahkan membaca!
Semoga suka! ^_^
Salam hangat, Fitri Asriest

Cerpen Misteri Kerangka Manusia di Lab IPA (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Rumah Kosong

Oleh:
Ketika sang surya menyinari bumi, aku terbangun untuk melanjutkan kegiatanku di hari ini. Panggil saja aku Friska, aku baru pindah ke komplek ini karena lebih dekat dengan tempat kerja

Sebungkus Rindu Untuk Sahabat Wanita

Oleh:
Tadi siang, di sekolah aku memperhatikan seorang wanita berpipi chubby itu. Dia menari di hadapan banyak orang, dia kurang tersenyum dalam setiap langkah yang ia tap, tap, tap kan

The Shadow

Oleh:
Tetes air ke sepuluh. Aku melenguh. Menepi dari guyuran hujan. Hujan di bulan November ini membuatku cukup menggigil dan sial aku lupa membawa mantel. Tak ada pilihan lain selain

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *