Misteri Malam Balunan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 12 June 2017

Namaku Arin Mudiarani, umurku 17 tahun dan tanggal 12 bulan Desember umurku menjadi 18 tahun. Aku sekolah di salah satu SMA di kota Sukabumi, Jawa Barat.

November, dimana sekolahku akan ditutup karena ada masalah yang sangat dirahasiakan. Semua murid terpaksa diliburkan untuk beberapa minggu. Di rumah pun aku merasa sangat bosan, hanya ada Tv dan handphone yang bisa menghiburku. Akhirnya waktuku serasa terbuang sia-sia.

Aku pun berpikir untuk mencari tempat wisata yang unik dan cukup menantang. Beberapa menit kulalui dengan mencari tempat wisata di internet dan akhirnya kutemui tempat yang cukup membuatku penasaran. Dan tempatnya adalah Taman Nasional Baluran.

Aku mengajak 2 temanku untuk pergi kesana. Setelah 2 hari menunggu akhirnya mereka diizinkan untuk pergi termasuk juga aku. Awalnya orangtuaku sangat ingin pergi bersama kami namun, dia sangat sibuk dengan pekerjaannya sehingga dia menyuruh salah satu kenalannya untuk menemani kami untuk berlibur di sana.

Tanggal 21 November, kami siap berangkat menuju Taman Baluran. Kami pergi dengan menggunakan mobil ayahku. Selama di perjalanan kami hanya bernyanyi, dan memakan cemilan yang sebelumnya kami beli di salah satu minimarket.

“Kamu yakin mau pergi ke tempat sejauh itu?” Tanya tiba-tiba paman yang bernama Baza itu.
“Memangnya kenapa paman?” Tanyaku balik.
“Perjalanannya bisa dua hari loh” jawabnya membuat kami bertiga tampak sangat terkejut.
“Gak apa-apa deh, kan jarang-jarang kita jalan-jalan ke tempat yang jauh” ujar Nanda sambil memakan coklat karamel.
“Iya gak masalah, kan ada paman Baza yang jagain kita” tambah Dzikra.

Malam pun tiba mengelilingi perjalanan kami. Kami pun berhenti di satu penginapan kecil. Dzikra, Nanda dan aku tidur di kamar lantai dua dan paman Baza tidur di kamar lantai satu. Kami pun beristirahat semalam mengisi tenaga untuk perjalanan besok.

Keesokannya kami melanjutkan perjalanannya lagi.
“Gak mau pindah tempat wisata nih?” Tanya om Baza sambil menyetir.
“Memangnya ada apalagi paman?” Tanyaku penasaran.
“Tadi malam paman sedang ngobrol sama salah satu pegawai di penginapan, katanya ada mitos dulu ada orang sakti yang bernama mbah cungking, konon dia itu pernah mindahin ratusan kerbau dalam waktu sekejap… makamnya ada di sana, terus katanya pernah ada orang yang lewat sana malem-malem cuma pakai motor… eh ternyata dia hilang gak tahu di mana sampai sekarang.. terus kalau kita lewat sana waktu malam suka ada sosok wanita yang merhatiin kita” penjelasannya membuatku sedikit merinding.
Aku pun tidak percaya dengan kisah itu karena cerita-cerita dulu mungkin tidak akan terjadi di zaman sekarang.
Walaupun aku memang takut dengan hal seperti itu, aku mencoba untuk tidak percaya pada kisah-kisah misteri jaman dulu karena yang kupikir adalah kehidupan jaman dulu itu hanya orang-orang aneh dan tidak pintar.

Malam kedua pun datang dengan penuh bintang-bintang yang berkilau seperti permata yang mengelilingi perjalanan jauh kami.
“Paman, ini di mana? Kok kaya hutan savana?” Tanya Nanda sambil melihat-lihat sekeliling hutan.
“Ini hutan yang disebut little africa in java. Nah hutan inilah yang diceritakan paman tadi” jawabnya sambil tersenyum khas.
Aku mulai merinding sedikit ketakutan. Bagaimana aku tidak takut, semuanya gelap bahkan penerangan pun tidak begitu terang di sini.

Ciiit
Mobil kami tiba-tiba berhenti sampai kepalaku terkena kaca mobil.
“Paman! Berhentinya jangan mendadak dong!” Aku sedikit panik.
“Paman juga tidak tahu kenapa mobilnya bisa berhenti, coba paman cek dulu mesin mobilnya” paman pun keluar.
Aku hanya bisa duduk diam di kursiku sambil menatap langit.

Tuk tuk
Awalnya kupikir itu adalah suara paman sedang mengotak atik mesinnya.
“Eeh? Bukannya mesin mobil itu di depan ya? Kok paman gak periksa mesinnya sih?” Aku baru tersadar bahwa paman Baza tidak ada di depan mobil.

Tuk tuk
Suara itu muncul lagi. Aku melihat ke belakang untuk memastikan bahwa Dzikra dan Nanda tidak sedang bercanda di tempat yang seram seperti ini. Saat aku menoleh ke belakang ternyata mereka tertidur pulas.

“Paman Baza! Paman!” Aku berteriak sekencangnya dari dalam mobil.
Tak ada tanda-tanda suara paman Baza yang ingin menjawab panggilanku. Aku pun terus memanggil paman Baza sampai napasku hampir saja habis.

Srek srek
Suara yang berbeda mengejutkanku. Suara itu terdengar seperti ada yang sedang menyeret sesuatu.
Aku pun memberanikan diri untuk keluar dari mobil sambil membawa senter hijauku. Ku hanya bisa melihat kegelapan dan pohon-pohon yang cukup tinggi.

Krrt krrt krrt
Suara kecil membuatku merasa panik.
“Paman Baza! Paman!! Jangan bercanda di sini! Ayo dong ini sudah tengah malam!” Jeritku di malam yang cukup menyeramkan.
Aku terus menjerit memanggil paman Baza karena sangat panik.

Sst sst
“Kamu ngapain di sini sendirian? Bahaya loh di sini sst.. sst..” seseorang berbicara dengan nada berbisik.
Aku pun cepat-cepat masuk ke mobil dan menjatuhkan senterku di luar.
“Huf.. huf.. tadi itu apa? Siapa yang ngomong? Masa suara paman Baza sekecil itu?” Aku sangat terkejut dan ketakutan.
Jantungku berdegup sangat kencang dan serasa mau meledak. Aku pun berusaha untuk menutup mataku agar aku melewati malam yang seram ini dengan tidur.

Dug
Sesuatu barang tiba-tiba jatuh ke pahaku. Aku pun membuka mataku dan melihat benda itu. Ternyata itu adalah cermin indah seperti cermin-cermin kuno yang masih terlihat baru.
Kuposisikan cermin itu di depan wajahku. Ternyata cermin ini hanya cermin biasa. Lalu kubalikkan cerminnya menghadap ke belakang. Ternyata dua sisi cermin ini terdapat 2 kaca yang sama. Saat aku berkaca dengan kaca yang satunya lagi aku pun melihat sosok aneh.
“Graaaa!”
Aku langsung melempar cermin itu ke bawah mobil sampai pecah.
Praang

Sosok wanita berwajah hitam mengerikan muncul di cermin tadi.
Dan aku langsung pindah ke belakang dengan cepatnya. Aku bersembunyi di tengah-tengah Dzikra dan Nanda yang dari tadi tidak bangun-bangun juga.

Tuk tuk
Suara aneh itu muncul lagi dan membuatku semakin merinding.
Tuk tuk srrk pssst… psst..
“Psst… jangan mengganggu orang malam-malam di sini!” Bisikan seseorang dekat dengan telingaku.
Dan aku hanya bisa menangis teriak dan mengeluarkan banyak air mata.
Psst… sst.. krrk… srek.. srek.. tuk tuk tuk… krrk.. sreet
“Hei! Arin! Arin! Bangun hey! Jangan tidur di mobil” teriak seperti suara paman Baza.
Jantungku masih saja berdegup dengan cepatnya. Aku pun langsung membuka mataku.
“Paman dari mana sih!?” Tanyaku marah.
“Dari mana apanya? Ini udah sampe di hotel! Kamu dibangunin 2 jam gak bangun-bangun” paman ikut kesal.
“Hah? Masa sih? Bukannya tadi masih di hutan?” Tanyaku masih panik.
“Iya emang tadi kita ke sana, tapi nggak lama kok…”.
“Loh? Katanya mobilnya mogok?” Tanyaku semakin bingung.
“Ah kamu ngawur nih pikirannya, udah ayo masuk istirahat sama temen kamu”.
Paman Baza pun tidak percaya dengan apa yang aku alami.

Keesokannya…
Kami semua bermain kebeberapa tempat wisata yang cukup terkenal. Walaupun begitu, hanya akulah yang merasa tidak bahagia. Karena kejadian malam masih terngiang-ngiang di pikiranku. Aku hanya berdiam diri dan duduk di bangku rest area dan melihat teman-temanku bermain, berfoto dan melakukan kegiatan lainnya di sini.

Saat kami pulang pun semuanya masih terasa sama. Setiap malam kulihat sekeliling kamarku. Aku selalu membayangkan yang aneh-aneh. Aku takut bahwa ada makhluk aneh yang masuk ke kamarku.
Seharusnya aku percaya pada budaya dan cerita-cerita daerah di sana bahwa makhluk apapun yang hidup di sini pasti tetap hidup dengan tenang.
Sejak saat itu aku tidak berani untuk pergi ke tempat yang memiliki cerita mistis dan hal sebagainya.

Cerpen Karangan: Nabila Agihta
Facebook: Nabila Agihta

Cerpen Misteri Malam Balunan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sarinah (Part 1)

Oleh:
Dengan nafas yang terengah-engah Audy menutup pintu kamarnya lalu ia duduk di lantai sambil bersandar di balik pintu itu. Audy mulai mengatur nafasnya yang mulai menyesakkan dada, wajahnya pucat

Lelaki Misteri di Tepi Telaga Dewi

Oleh:
Siapakah yang punya pengalaman misteri di puncak Gunung Singgalang? Sepertinya mungkin baru aku, atau ada beberapa di antara para pendaki yang pernah mendengar, melihat, atau bahkan berjumpa sesosok lelaki

Perjanjian Maut

Oleh:
Sebelum membaca cerpen “Perjanjian Maut”, alangkah lebih baik lagi jika membaca cerpen “The Train”, dan “Deja Vu”. Karena cerpen ini adalah Trilogi dari kedua cerpen sebelumnya. Terima kasih. Saat

Ada Apa Dengan Perpustakaan

Oleh:
Bagi banyak orang perpustakaan adalah gudangnya ilmu, namun berbeda dengan yang ada di sekolahku. Suatu hari aku dan seorang temanku Nita, mendapat tugas merangkum cerita legenda untuk bahan ujian

The Valuable Shadow

Oleh:
Braaak!!! Aku langsung berlari menghampiri asal suara itu. Terlihat seorang gadis tergeletak di pinggir jalan dengan posisi setengah badan tertindih motor yang dikendarainya. “Kamu baik-baik saja?” Tanyaku sambil mendirikan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *