Misteri Panreng

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 25 May 2016

Setiap kali melewati tempat ini.. setiap kali itu juga anjing menyalak dengan penuh semangat, jika diperhatikan tempat ini cukup menyeramkan, rumah panggung khas bugis makassar, namun di sana-sini kayunya sudah lapuk termakan rayap, pencahayaan pun redup remang, hanya beberapa buah lampu bohlam menghiasai. Ditambah lagi sarang laba-laba yang membentang di sekitaran timpaq laja yang tersusun 3 itu. Aku menggedor-gedor gerbang besi berwarna hitam legam dengan ujungnya mulai patah karena karat.

“Haloo ada orang di dalam?!” seruku.
Ini adalah kali pertama sebagai Koordinator Kecamatan mengunjungi posko Panreng, beberapa posko lain telah ku kunjungi lebih dari sekali.
“Halooo?!” sekali lagi seruku menyuar ke arah rumah yang remang temaram itu.
15 menit menunggu seorang sosok pria yang tingginya sama denganku, badannya kekar di wajahnya ditumbuhi jenggot tipis.

“Kenapa?” tanyanya singkat dengan nada suara yang dingin, sedingin suasana malam ini.
“Bukan kamu itu Nasrun?” tanyaku kepadanya, beberapa detik ku tatap bola matanya yang sedikit kemerahan.
“Iya,” jawabnya singkat, dan dingin.
“Boleh saya masuk?” tanyaku sekali lagi padanya. Sebelum ia menjawab pertanyaanku aku merasakan aura dingin mengitari area tengkukku, dan ku rasakan seseorang memegang pundakku.

“Tumben kamu ke sini Ulil,” sebuah suara berasal dari belakangku, sepertinya ku kenal siapa dia.
“Kau mengagetkanku saja Herman!” sahutku, Herman hanya memasang wajah datar, tidak seperti biasanya wajahnya kali ini pucat.
“Silahkan masuk pak Korcam,” sahut Herman dan berlalu begitu saja bersama Nasrun meninggalkanku yang berdiri di depan pagar.
“Hei tunggu,” aku mengejar Herman dan Nasrun yang sudah berjalan menyusuri halaman rumah yang cukup luas itu.
“Mari naik Pak Korcam,” sahut Nasrun, dan masih tetap saja nadanya begitu dingin, entah kenapa suasana posko ini cukup menyeramkan, sesekali anjing menyalak, burung gagak berkoar-koar, sesaat sebelum menaiki anak tangga aku mencium sebuah aroma yang khas, aroma melati.

Aku, Nasrun dan Herman duduk di ruang tamu, aku mengambil posisi berhadapan dengan Nasrun sedangkan Herman berada di samping Nasrun, mereka berdua menatapku dengan tatapan tajam, dingin dan sedikit mencekam, aku merinding melihat mereka berdua.
“Jadi Pak Korcam apa gerangan engkau ke sini?” sahut Herman yang merupakan Koordinator Kelurahan Panreng.
“Maksud kedatanganku ke sini untuk menyerahkan undangan menghadiri acara Tabligh Akbar,” aku kemudian menyerahkan sebuah sampul surat kepadanya.
“Hmm baiklah,” sahutnya singkat.

Entah mengapa saya merasa ingin sesegera mungkin meninggalkan posko ini, bukan tanpa alasan, suasana yang dingin, remang-remang, anjing menyalak dengan keras, burung gagak bersuara lantang, itu semua membuatku merinding. “Pak Korcam sebelumnya mari kita menikmati makanan dan minuman yang telah disediakan ibu Posko,” Nasrun berdiri dan menghampiriku, senyuman tersungging di wajahnya, tapi bukan senyum ramah namun senyumn yang begitu penuh kesinisan.
“Baiklah,” sahutku.

Kami bertiga berjalan dari ruang tamu menuju ruang dapur di ruang itu penuh dengan lukisan-lukisan potret wajah bangsawan belanda, perempuan bangsawan bugis, dan potret seorang gadis berbaju merah. Yang membuatku sedikit merinding ekspresi wajah lukisan-lukisan itu dingin, ekspresinya datar, dan tatapannya seolah nyata menatap tajam ke arah kami yang kini duduk bertiga di meja makan. Di hadapanku tersuguhkan minuman berwarna merah, mungkin anggur pikirku dan beberapa steak daging. “Silahkan dinikmati,” sahut Nasrun mempersilahkanku makan. Suasana sedikit canggung antara saya dan kedua pria ini. Kordinator Kelurahan dan Sekretasis Kordinator kelurahan. Setelah santap malam itu usai aku pamit kepada mereka. “Terima kasih sudah menjamu saya,” sahutku kepada dua pria itu. Nasrun dan Herman hanya mengangguk dan melepaskan kepergianku.

“Syukurlah,” sahutku, aku mempercepat langkahku meninggalkan posko ini sesampainya di pagar aku membalikkan badanku, ku lihat Herman dan Nasrun yang berada di balkon rumah itu menatapku dengan tajam, aku sekali lagi merinding dibuatnya. Sebelum aku menaiki motorku ku rasakan Handphone-ku berdering, kulihat sebuah nama tertera ~Bulan Purnamasari.

“Ya halo kenapa?” tanyaku di ujung linephone kepada Bendahara Korcam.
“Maaf Pak Korcam saya mau melaporkan, jam 5 sore tadi Pak Sekretaris menelepon, katanya dia berada di rumah sakit bersama Pak Korlurnya Panreng beserta anggotanya, sampai sekarang Nasrullah, Nasrun, Herman dan kawan-kawan dari Posko Kelurahan Panreng masih berada di rumah sakit,” aku sedikit kaget mendengar pernyataan Bendahara ini.

“Aih jangan bercanda saya baru-baru ini bertemu dengan Korlurnya Panreng,”
“Loh gimana sih, tidak mungkin.. semua anggota Posko Panreng ada di Rumah Sakit Agus Arifin Nu’mang menjengeku Agus yang lagi kena Tifus,”
“Kamu jangan bercanda yah,” aku sedikit menaikkan nada bicaraku kepada perempuan yang ada di ujung linephone sana.
“Saya ini baru-baru ketemu dengan Pak Korlur dan sekretarisnya mana mungkin dia berada di dua tempat sekaligus!!!” aku memutuskan linephone dengan sedikit rasa jengkel.
“Itu anak mau nakut-nakutin atau bercandanya kelewatan,” sahutku sambil menatap hp yang ku genggam. Aku membalikkan tubuhku kembali ke arah posko Panreng, namun..

Betapa kagetnya aku ketika aku mendapati diriku telah berada di depan Pekuburan yang gelap dan menyeramkan, sontak aku memacu motorku dengan kencang karena ketakutan akan kejadian yang ku alami, ku pacu motorku di malam hari yang gelap menjauh sejauh-jauhnya dari pekuburan itu hingga motorku menabrak sebauh batu, aku terjatuh dan tak sadarkan diri.

Sayup-sayup mataku terbuka, mataku menatap langsung sebuah langit-langit rumah. “Kamu sudah sadar Nak,” sahut seseorang. Aku bangun dari pembaringanku dan memegang kepalaku. “Saya di mana?” sahutku.
“Kamu di rumah Bapak Iman Desa,” sahut seorang pria tua yang berdiri di sampingku, ku lihat di samping pria itu seorang lelaki berumur memandangiku dengan tatapan hangat.
“Saya kenapa bisa berada di rumah Bapak?” tanyaku pada sosok pria tua yang ada di sampingku.
“Kamu pingsan Nak, di jalanan dekat kuburan, lagian kamu malam-malam kenapa bisa berada di tempat seperti itu?” tanya Pria tua itu, dan aku menceritakan kejadian yang menimpa diriku, kedua orangtua itu hanya memandangiku dengan penuh keheranan.

Cerpen Karangan: Ilyas Ibrahim Husain
Twitter: @adilbabeakbar
Facebook: Ilyas Ibrahim Husain
Nama Ilyas Ibrahim Husain, lahir di Sungguminasa 06 April 1993, cerpen berjudul Misteri Panreng adalah cerpen ke-10 dari kumpulan Cerpen saya yang berjudul Tabularasa Sidenreng-Rappang.

Cerpen Misteri Panreng merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sosok Cantik Dalam Mimpi

Oleh:
Akhirnya bel sekolahku berbunyi. Pelajaran matematika pun otomatis berakhir. Setelah lama rasa penat mengumpul di otakku. Buku-buku yang tadinya berserakan, kurapihkan segera dan kumasukkan ke dalam tas. Aku pun

Jingga di Ujung Senja

Oleh:
“Nja, senjanya! The most perfect one!” “Hah? Mana? Huuh, nggak ah nggak. Biasa aja. Jingganya kayak kemarin. Nggak ada yang spesial.” “Duh, kamu! Kamu mau senja yang gimana, sih?”

Patung Manekin

Oleh:
Hari itu, aku tidak percaya dengan apa yang aku lihat. Rasanya seperti mimpi! Aku tidak ingin melihat ini! Aku ingin bangun!. Siapapun tolong keluarkan aku dari sini!. — “Risya,

Misteri Kertas Hilang

Oleh:
Aku, Icha, Anisa, Endhita dan Leony adalah satu regu di ekstra kurikuler sekolahku. Aku dan teman-teman sepakat untuk memberi nama kelompok kita dengan nama “Melati”. Setiap ada kegiatan Pramuka

Kucing dan Beruang

Oleh:
Seekor burung pipit terbang rendah. Mengeja kata membentuk kepakan berirama untuk menuju sarang. Di sarang, beberapa anaknya telah membuat sebuah penantian dengan mulut menganga, tanda lapar. Tangis anak pipit

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *