Misteri Pesugihan di dalam Guci Tua (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 22 January 2019

Dari balik gorden jendela rumahku, aku melihat iparku dan istrinya keluar dari mobil mewah yang diparkir di depan garasi rumah mereka. Bak sedang berbulan madu, pegangan tangan mereka tak terlepas sejak turun dari mobil. Tergambar jelas senyum sumringah keduanya, tak henti-hentinya mereka mengelus-ngelus body mobil yang baru saja mereka tumpangi. Warna Mobil yang elegan terlihat makin mengkilap di bawah terangnya sang surya siang ini.

Masih berpelukan mereka masuk ke dalam rumahnya. Pemandangan itu membuat rasa iriku semakin mengaduk-aduk perasaanku. Hingga makin lama rasa iri itu berubah menjadi rasa benci dan muak! Betapa lebaynya gaya mereka untuk pamer mobil di depanku, meski mereka terlihat tak mengetahui jika sepasang mataku mengikuti gerak dan langkah mereka, namun aku yakin jika mereka memang sengaja pamer kemesraan dan kekayaan!

Baru sebulan yang lalu mereka ganti mobil, sekarang sudah ganti lagi dengan yang lebih heboh! dari mana pula mereka bisa mendapatkan uang sebanyak itu jika tak ada sesuatu yang membantu mereka untuk bisa menjadi kaya dengan jalan pintas! Agaknya bukan syahrini saja yang penasaran dengan “sesuatu” itu, aku pun merasa jika ini adalah “sesuatu” yang tak wajar. Sejak awal aku memang sudah curiga, tapi setiap kali kuajak ngomong tentang hal ini, suamiku cuma tersenyum dan geleng-geleng kepala, seolah mentertawakan ceritaku yang mungkin dianggap fiktif belaka! Dan hal ini buat aku kesal luar biasa. Mereka yang nota bene hanya tinggal seharian di rumah, jarang keluar, tanpa kerja kantoran atau bisnis sampingan, tanpa harta warisan dari orangtua, kok bisa-bisanya gonta ganti mobil setiap saat, bahkan rumah tua warisan mertua yang mereka tempati sekarang ini, sudah disulap jadi rumah megah dengan arsitektur ala eropa.

Tiap kali aku main ke rumah mereka dengan alasan minta salah satu bumbu dapur yang lupa kubeli atau sekedar pinjam gunting, jarum atau apa saja yang buat aku bisa leluasa melihat aktifitas mereka untuk mencari tahu apa saja yang mereka lakukan sebenarnya, namun tak ada yang spesial, aku cuma melihat wulan asyik di depan latopnya, tapi aku yakin paling Wulan cuma main game atau buka-buka internet untuk baca berita gossip selebriti atau berburu barang on-line, biasa Ibu rumah tangga yang gak ada kerjaan, dia cuma keluar rumah kalau lagi beli sayur di tukang sayur yang lewat depan rumah, lalu masuk ke rumah dan gak keluar-keluar lagi sampai besok paginya, sedangkan suaminya Seno selalu asyik dengan hobi lamanya baca buku yang tebalnya berlapis-lapis, entah apa yang dia baca seharian, pantesan saja kaca matanya makin tebal terus!

Iparku itu memang terkenal kutu buku, dulu waktu aku dan suamiku baru menikah dan kami masih tinggal serumah, Seno memang jarang keluar kamar, paling keluar buat mandi, makan terus masuk kamar lagi, dia cuma keluar rumah kalau akan kuliah saja, Entah apa yang dia kerjakan seharian di kamarnya. Itu sudah menjadi bukti kuat, bahwa harta yang mereka dapatkan sekarang ini dari sesuatu yang gak bener!

Aku dan iparku tinggal bersebelahan, rumah kami hanya dibatasi tembok yang di belakangnya ada pintu penghubung agar kami bisa saling berkunjung dengan mudah. Suamiku tiga bersaudara, dia anak paling sulung, adiknya Seno dan Atika, satu-satunya anak perempuan yang sudah menikah ke solo. Mertuaku sudah meninggal keduanya. Sebelum meninggal, Ayah mertuaku sempat membuatkan rumah buat suamiku. Katanya kalau Seno menikah, agar masing-masing punya rumah.

Sebenarnya suamiku lebih memilih tinggal di rumah orangtuanya, karena dia seorang pegawai negeri, mungkin dia berpikir bisa merenovasi rumah ini kelak, dan merasa kasihan dengan adiknya yang belum bekerja, jadi dia ingin Seno yang tinggal di rumah baru yang dibuat mertuaku. Tapi aku waktu itu ngotot pingin tinggal di rumah baru ini. Karena dari segi bentuk, rumah baru ini lebih bagus, dan lebih bersih walaupun pada dasarnya memiliki ukuran luas dan panjang yang sama dengan rumah mertuaku. Meskipun suamiku mencoba membujuk aku untuk tetap tinggal di rumah tua, tapi aku tetap kekeuh untuk pindah ke rumah baru, setelah kuancam dengan kata-kata cerai jika dia tak mau pindah ke rumah baru, akhirnya suamiku mengalah dan mengikuti kemauanku untuk pindah ke rumah baru.

Dari fakta-fakta yang kulihat selama ini, aku berusaha mengkait-kaitkan kejadian yang satu ke kejadian yang lainnya, kemudian mencoba menyimpulkan sendiri dan akhirnya aku bisa menemukan jawabannya, kenapa iparku bisa cepat kaya dengan jalan yang pintas! Tak salah lagi pasti guci tua yang cukup besar yang ada di ruang keluarga itu penyebabnya.
Dugaanku ini bukannya tanpa alasan. Sering aku melihat iparku Seno bersama istrinya wulan membersihkan guci itu bak merawat seorang bayi saja. Bahkan aku yakin, anaknya pun tak ada yang menerima perlakuan spesial seperti yang mereka kerap lakukan pada guci tua itu. Mereka menggosoknya dengan perlahan dan telaten sekali. Seakan takut tergores dan khawatir kalau-kalau masih ada setitik serpihan debu yang tertinggal. Dan yang membuat aku semakin yakin dengan dugaanku adalah ketika pada suatu hari aku pergoki Seno duduk menghadap guci tersebut sambil komat-kamit sendiri, matanya menerawang ke arah guci tersebut, tanpa menyadari kalau aku berdiri tak jauh dari tempatnya duduk. Apa lagi itu namanya kalau bukan mengucap mantra mencari pesugihan dengan bantuan guci tua itu. Pasti dalam guci tua itu ada jin nya, dan Seno sedang melakukan suatu transaksi dengan Jin itu, yang cuma dia dan wulan yang bisa melihatnya. Pasti! tak salah lagi. Aku harus sampaikan hal ini pada suamiku, dan kali ini dia harus percaya, karena aku punya buktinya. Hal ini harus dihentikan sebelum ada tetangga dan keluarga yang tahu! Karena hal ini pasti sangat beresiko, aku tak mau aku dan keluargaku yang kena imbasnya!

Guci tua itu sudah ada di rumah mertuaku sebelum aku dan suamiku menikah. Setelah menikah dan tinggal serumah dengan mertua, aku hanya menganggap kalau guci itu cuma hiasan rumah belaka. Mertuaku juga tak terlalu memperlakukan guci itu dengan istimewa. Cuma sesekali beliau membersihkannya, dan berpesan pada cucunya, anakku Bram yang waktu itu masih berumur tiga tahun, untuk berhati-hati bila bermain di dekat guci itu. Aku hanya menganggap hal itu wajar-wajar saja, mungkin mertuaku tak ingin jika guci besar kesayangannya itu pecah. Aku juga tak terlalu tertarik untuk bertanya dengan suamiku, dimana mertuaku membeli guci tersebut. Paling-paling juga di pasar seni yang tak jauh dari rumah, Guci seperti itu tak sulit untuk menemukannya di kota tempat kami tinggal. Dan jika kini guci itu sudah berubah fungsi, lain lagi ceritanya, hal ini adalah sesuatu yang menarik luar biasa dan harus aku pecahkan segera teka-teki dibalik guci ini.

“Beneran pah, mereka mencari pesugihan dengan memelihara Jin yang mereka sembunyikan di dalam guci tua milik ayahmu, aku melihat dengan mata kepalaku sendiri kalau Seno duduk di depan guci itu sambil komat-kamit!” kataku mencoba meyakinkan suamiku pada suatu siang. Aku berharap kali ini dia akan percaya dengan apa yang aku katakan. “Terus apa kamu melihat juga kalau Jin nya keluar dari guci itu?” tanya suamiku dengan mimik wajah yang menahan senyum. Seolah ingin mentertawakan apa yang sudah kukatakan tadi. “Ya gak mungkinlah aku bisa melihat Jin itu dengan mataku pah, yang cuma bisa melihatnya kan cuma Seno dan Wulan saja, wong mereka Tuannya!” jawabku ketus. “La kenapa tidak kamu tuggui saja sampai Jin nya keluar, baru kamu tinggal, atau kamu foto sekalian dengan kamera di hpmu” ujar Mas Susanto masih dengan mimik wajah yang sama. “Aku keburu gemetar pah, aku takut kalau Seno memergokiku sedang mengintipnya berkomunikasi dengan Jin dalam guci itu, makanya buru-buru aku tinggal, itu sudah jadi bukti yang cukup kuat kan? masa kamu gak percaya sih sama istrimu sendiri!” lanjutku makin ketus. Namun dalam hati aku mengutuk kebodohanku yang waktu itu tak punya pikiran untuk mengabadikan apa yang kulihat dengan kamera di hpku. Pasti Mas Susanto akan lebih percaya lagi jika ada bukti kuat! Aku keburu gemetar karena kesal melihat kelakuan iparku yang mencari pesugihan dengan cara yang gak halal! darahku keburu naik ke ubun-ubun, rasanya pingin gampar Seno saat itu juga! biar kapok dia! biar sekalian semua orang tahu apa yang sudah iparku lakukan selama ini. Memuja Jin untuk mendapatkan harta! Sarjana kok pikirannya sempit banget! Mau kaya ya kerja, jangan ngumpet saja di kamar! Dan kekesalanku semakin menjadi-jadi ketika melihat suamiku malah ngeloyor masuk kamar seolah apa yang sudah aku sampaikan tadi cuma cerita isapan jempol belaka! Kenapa sih susah banget buat suamiku percaya, apa dia tunggu sampai ada kejadian besar yang justru mempermalukan keluarganya! benar-benar gak habis pikir aku jadinya. Semua benda yang ada di sampingku aku tendang semua untuk menumpahkan kekesalanku.

Tin… tin… suara klakson mobil terdengar nyaring, aku segera menghentikan aksi tendanganku yang membabi buta tadi, segera aku menengok lewat jendela, ternyata itu suara mobil Seno yang memasuki halaman rumah mereka. Aku melihat Seno dan Wulan keluar dari mobil, kemudian Wulan membuka garasi mobil dan … wow apa yang kulihat membuat aku semakin iri pada mereka, bagasi mobil mereka penuh dengan tas-tas belanjaan, sepertinya mereka habis shoping di suatu tempat. Memang sudah dua hari ini aku tak melihat Seno dan Wulan ada di rumah, tapi karena hujan, aku malas keluar mencari tahu ke mana perginya mereka. Aku sempat berpikir kalau mereka pergi ke orang pintar buat nambah pesugihan lagi. Dan benar kan baru datang dari bepergian saja mereka sudah shoping besar-besaran, belanjaannya menuhi mobil dari bagasi sampai tempat duduk belakang, belanja udah kayak dunia mau kiamat saja, semua diborong.

Cerpen Karangan: Gex Agung Ratih
Blog / Facebook: gexagungratih[-at-]ymail.com

Cerpen Misteri Pesugihan di dalam Guci Tua (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Dream Dark

Oleh:
Beberapa hal terjadi padaku tahun lalu, benar-benar terjadi-sesuatu yang luar biasa dan tidak mungkin, seperti bohong. Aku menemukan pacarku adalah seorang supernatural, Cenayang dengan kutukan. Dia membaginya dalam melodi

Grup Detektif VAR

Oleh:
Namaku Muhammad Vito Pratama sebenarnya aku tidak tertarik dengan dunia detektif sampai suatu ketika aku ditawari temanku. Seperti biasa aku menghabiskan waktu untuk membaca buku, lalu selang beberapa menit

Liontin Rahasia

Oleh:
Aku sedang memandangi sebuah kalung dengan liontin berbentuk hati. Bukanlah bentuk hati itu yang membuatku terus memandangi kalung itu, melainkan benda yang ada di dalam liontin itu. Sebuah benda

Rick (Masa Depan)

Oleh:
Ada cerita yang tak boleh kamu ceritakan. Dan inilah ceritaku yang tak boleh aku ceritakan. Tapi mungkin aku memang membutuhkan seseorang untuk menemaniku bercerita. Indonesia, 2002 (keynes memiliki seorang

Rumah Kosong

Oleh:
Waktu itu pukul menunjukan jam 22.00. Entah mengapa ibu dan ayah memutuskan membeli rumah dan pindah di samping rumah yang menurutku seram dengan lingkungan yang gelap. Aku terdiam melihat

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *