Misteri Pesugihan di dalam Guci Tua (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 22 January 2019

Tak lama kemudian aku melihat Kedua anak Seno yaitu Oki serta Ika berlari keluar menyambut kedatangan orangtuanya. Mereka terlihat bahagia sekali. Semua barang mereka turunkan dari mobil, lalu aku mendengar Seno berbicara pada istrinya, “Ma jangan lupa, oleh-olehnya bagi ke Mbak Ningrat dan Mas santo juga Bram dan Nila”, lalu Wulan terdengar memanggil anaknya yang tadi sudah masuk ke dalam rumah. Sambil membawa tas yang sarat akan isi wulan berkata “Oki tolong bawa tas ini ke rumah tante Ningrat ya, itu oleh-oleh dari Mama dan Papa. Juga itu bok yang ada gambar sepatunya, buat Mas Bram dan Mbak Nila” kata Wulan sambil mengumpulkan beberapa tas yang masih tersisa di bagasi.
Mendengar itu aku segera menarik wajahku dari jendela depan. Dalam hati aku janji gak bakal memakan ataupun memakai oleh-oleh yang nanti mereka berikan. Aku gak mau makan harta yang haram, begitu juga aku akan mengingatkan anakku untuk tidak memakai sepatu pemberian mereka. Karena itu aku harus sembunyikan barang-barang yang akan Oki berikan ke aku.

“Tante ini ada oleh-oleh buat Tante, Om dan kakak. Mama baru datang dari Jakarta” kata Oki sambil menyerahkan barang-barang tersebut. Kepikiran untuk menolak langsung pemberian mereka, supaya mereka tahu kalau aku gak suka dengan cara mereka mencari uang dan harta, tapi aku mengurungkan niatku ketika tiba-tiba suamiku sudah berdiri di sampingku dan mengulurkan tangannya mengambil tas yang diberikan oki pada kami. “Wah banyak banget oleh-olehnya buat Om, makasi ya Oki” kata suamiku sambil membelai rambut ponakannya. “Sama-sama om, Oki pulang dulu ya”, dan dia pun berlari menuju rumahnya.

“Hm ada pizzanya mah, pasti enak nih, makan pizza musim hujan begini, eh ini ada daster juga, pasti untuk kamu, warnanya cantik, wah aku kebagian sarung sama kaos nih, hehehe pintar juga Seno pilih warna, dia masih ingat warna kesukaan kakaknya, nah ini pasti sepatu dan pakaian buat Bram dan Nila, wah komplit semua dapat oleh-oleh, ayo ma kita makan pizza nya, harumnya buat perutku laperrr” kata Mas santo sambil menarik kursi untuk duduk.

“Eit… jangan dimakan!” kataku sambil menarik kotak pizza yang akan dibuka suamiku. “Kenapa ma? orang papah mau makan pizza kok dilarang, bawa sini!” katanya lagi. Dengan gerakan super cepat aku segera memasukan kotak pizza itu ke dalam tas plastik dan mengikatnya kuat-kuat! sembari berkata “Gak, aku gak mau kita makan makanan yang gak halal!, nanti papah ketiban sial! dan oleh-oleh ini semua akan mama buang, jangan sampai Bram dan Nila melihatnya apalagi memakainya, pokoknya mamah gak rela keluarga kita kena kutukan Jin gara-gara makan dan pakai barang haram!” jelasku panjang lebar. “Astaga mah kamu ini mikir apa sih?, makanya jangan kebanyakan nonton sinetron, kena pengaruh pikiran kamu. Habis masak langsung stel tv, cari sinetron yang ditayangin dari pagi sampe sore, gini nih akibatnya, terpengaruh!” kata suamiku sambil geleng-geleng kepala. “Papah ni gimana sih, bukannya belain mamah malah belain yang gak benar, susah banget buat kamu percaya! kalau sudah kejadian baru tau rasa!” lalu tanpa menunggu jawabannya, aku langsung pergi membawa semua bungkusan di meja. Aku tak peduli suamiku mau bilang apa lagi, terserah! Aku benar-benar keseeeel dengan semua ini. Keluarga kecilku harus diselamatkan dari barang-barang haram ini!.

Sore ini Atika, adik suamiku yang menikah ke solo datang berkunjung bersama suami dan kedua anaknya. Mereka datang atas undangan Seno dan Wulan yang hendak melakukan syukuran. Biasanya dia akan menginap di rumahku. Tapi kali ini dia memilih menginap di rumah Seno dan Wulan. Katanya sekalian bantuin Seno bikin persiapan selametan untuk besok. Alasan yang cukup masuk akal tapi tetep aja buatku terlalu berlebihan! Dalam hati ada rasa geram yang bercampur aduk rasa iri. Mentang-mentang Seno dan wulan kaya, Atika lebih memilih untuk menginap di rumah mereka. Ok, gak masalah, asal hati-hati aja kalau nanti kesurupan Jin Pesugihan yang ada di dalam Guci tua itu. Aku berharap banget ada kejadian yang membuka mata semua orang terutama keluarga besar suamiku, atas apa yang Seno dan istrinya lakukan selama ini, mencari pesugihan dengan memuja jin dan setan, iiih tau rasa kalian nanti! Senyum kemenangan sudah mulai aku perlihatkan!.

Seno dan Wulan memang berencana untuk membuat syukuran atas kemenangan putranya si Oki dalam olimpiade matematika di Kota ini. Kuakui, anak berumur sebelas tahun itu memang pintar! Jika dia bisa menang di Jakarta nanti maka dia akan lanjut berkompetisi di singapura. Menurut berita yang kudengar dari wulan, katanya sih sekalian juga mereka syukuran atas rejeki berlimpah yang mereka terima selama ini. Yang bener aja sih, masa rejeki dari Jin disyukuri segala. Benar-benar buta tuh orang!

Meski kesal, iri, kecewa dan geram, namun sebagai bagian dari keluarga ini aku harus ikut bantu-bantu persiapan syukuran di rumah Wulan. Aku harus menyembunyikan apa yang aku rasakan dan aku pikirkan untuk sementara ini. Sesekali mataku melirik ke arah guci tua yang diletakkan di sudut ruang keluarga. Kebetulan persiapan membuat kue dilakukan di ruang ini. Dalam hati aku berdoa, semoga Jin dalam guci itu keluar dan menampakkan wujudnya, supaya semua yang ada di ruangan ini melihat dan kabur, biar sekalian juga pesta syukurannya batal total! Aku juga berencana akan memberi tahu Atika tentang hal ini, dia harus tahu, supaya dia bisa bantu aku ngomong tentang ini ke suamiku. Namun aku belum menemukan saat yang tepat. Atika masih sibuk bantu-bantu di dapur sejak pagi tadi.

Baru saja aku hendak menuang adonan tepung ke cetakan kue, tiba-tiba aku mencium bau asap. Seperti ada benda yang terbakar. Dan aku terkejut bukan main, ketika kulihat guci tua di sudut ruangan ini mengeluarkan asap. Dan di samping guci itu, berdiri Putra anak Atika yang masih berumur empat tahun. Aku segera berteriak sekencang kencangnya untuk memanggil semua orang yang ada di rumah ini. Tak ayal lagi semua orang yang ada di dapur, ruang tamu dan halaman belakang berlarian menghampiri aku.

“Ada apa mah” kata suamiku sambil berusaha menenangkan aku. Sementara keluarga lainnya juga sudah mengelilingi aku. “Itu pah, Guci itu keluar asap… pas.. pas.. pasti ada…”, belum selesai omonganku, Suamiku dan keluarga yang lainnya segera menghampiri guci tua itu, mereka menarik Putra yang berdiri di samping guci itu. “Astaga… apa yang kamu lakukan nak” kata suami Atika khawatir. Dia segera menjauhkan Putra dari guci itu. Sementara aku lihat Seno sibuk memadamkan api yang keluar dari guci tua miliknya. Rasain kamu Seno, semua orang di rumah ini pasti akan membenci kamu setelah kejadian ini. Ketahuan belangmu. Pasti kamu lupa kasi makan Jin peliharaanmu, makanya dia marah dan mengeluarkan api!

Aku segera menghampiri Putra yang masih digendong ayahnya. Ini kesempatan aku buat bertanya pada anak itu. Biasanya anak kecil yang masih lugu dan polos bisa melihat makhluk halus. Pasti ceritanya akan sangat heboh!.
“Putra apa yang kamu lihat tadi waktu dekat-dekat guci itu nak?” tanyaku dengan suara yang agak keras, berharap semua orang di ruangan ini akan mendengarnya. “Tadi Putra mainan api mbak, dia membakar Koran dengan korek api yang dia temukan di meja. Dia memang suka penasaran kalau liat korek api, makanya isengnya keluar. Tapi itu berbahaya nak, jangan lakukan itu lagi ya” kata Cahyo suami Atika yang menjawab pertanyaanku. Tadinya aku berharap kalau Putra yang akan menjawabnya, tapi malah disamber Cahyo.

Aku segera memutar otak dan langsung melayangkan pertanyaan kedua, kali ini pasti umpanku berhasil!. “Lalu kenapa kamu membakar Koran itu dan memasukannya ke dalam guci, apa kamu melihat sesuatu di guci itu?” tanyaku lagi masih penasaran. Sementara itu suamiku yang berdiri di sampingku refleks menoel pinggangku, seakan tau kemana arah dari pertanyaan aku itu. “Tadi aku lihat banyak semut yang keluar dari guci itu tante, makanya aku bakar Koran dan memasukannya ke dalam guci, supaya semut-semut itu mati” jawaban Putra langsung membuat sendi-sendi tulangku lemas, bagai tak bertenaga aku segera keluar dari ruangan itu. Bukannya jawaban heboh yang aku dapatkan dari Putra tapi malah jawaban lugu anak kecil yang selalu pingin tahu. Ah batal deh niat aku buat bongkar rahasia Si Seno dan Wulan. Sebel!

Syukuran keluarga Seno dan Atika sangat meriah. Yang mengejutkan aku adalah begitu banyak wartawan dari berbagai media yang hadir. Bak selebritis Seno dan Wulan mengadakan jumpa pers yang diliput sangat eksklusif. Aku hanya berdiri termenung melihat mereka begitu bahagia saat memberikan keterangan kepada wartawan yang hadir tentang karya-karya besar mereka.

Aku kini menyadari jika apa yang aku pikirkan selama ini adalah keliru. Rasa dengki dan iriku telah membujuk pikiran aku untuk menghasilkan analisa yang salah total tentang keberhasilan mereka. Seno dan Wulan ternyata seorang penulis skenario yang handal. Karya-karyanya banyak diburu produser untuk dibuat film atau sinetron. Dan mereka baru saja menghasilkan sebuah karya besar yang memenangkan sebuah penghargaan bergengsi untuk seorang penulis. Aku benar-benar ketinggalan berita. Justru orang lain di luar sana yang tahu duluan siapa Seno dan Wulan. Sementara aku yang sibuk berprasangka buruk, malah menutup mata, telinga bahkan hatiku, jika aku memiliki sepasang ipar yang kini menjadi kebanggaan keluarga besar kami.

Dan inilah salah satu karya tulis yang dihasilkan Seno dan Wulan yang dituangkan kedalam sinetron di televisi, sebuah sinetron yang diam-diam menjadi salah satu sinetron terfavoritku. Dan yang membuat aku sering tersenyum sendiri jika menonton sinetron ini adalah, entah kebetulan atau tidak, jalan ceritanya persis sama dengan apa yang aku tuduhkan pada mereka selama ini. Guci tua di sudut ruang keluarga kami telah melahirkan ide di benak mereka. Guci yang ternyata dulu telah mempertemukan Mertuaku hingga berjodoh. Karena orangtua mertua perempuanku kebetulan seorang penjual guci di tokonya, dan mertua lelakiku seorang kolektor guci tua. Wajar jika Seno dan Wulan menjaga guci itu dengan sepenuh hati. Karena itu amanat mertuaku sebelum beliau dipanggil Yang Maha Kuasa. Guci tua yang sudah berjasa menyatukan hati mereka berdua. Sinetron itu berjudul “MISTERI PESUGIHAN DI DALAM GUCI TUA”

Cerpen Karangan: Gex Agung Ratih
Blog / Facebook: gexagungratih[-at-]ymail.com

Cerpen Misteri Pesugihan di dalam Guci Tua (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sepatah Kata Seribu Bencana

Oleh:
Gemerlap kelap-kelip cahaya pasukan bintang di angkasa raya, suguhan panoramanya begitu indah tak boleh dipandang sebelah mata. Akan tetapi, bertolak belakang dengan keadaan di sepanjang jalan Pangeran kornel ini.

Sang Miliuner

Oleh:
Pernahkah kau bermimpi untuk menjadi dirimu sendiri? Pernahkah kau merasa tidak sanggup membedakan antara esensi diri dan batas imajinasi? Kutenggak kaleng b*r kedua yang kubeli sore ini. Setelah pulang

MyCerpen 2: Rumah Tua Bawa Petaka

Oleh:
Gak kerasa, sekarang udah 2 tahun lebih dari kematianya Erin. Dilain sisi aku gak akan pernah bisa ngelupain semua hal tentang Erin, namun nyatanya, dikelas 3 SMK ini aku

Puisi

Oleh:
Coklat panas..!! Tidak, mungkin saja memang direktur muda itu menyukai coklat panas sepertiku. Aku tak bisa memperkirakan hal seperti itu. “kenapa kamu melihat coklat panas saya? Kamu mau coklat

Sosok Misterius di Ruang Laboratorium

Oleh:
Namaku Ryan. Aku seorang mahasiswa jurusan teknik di sebuah institut terkenal di kota Bandung. Saat ini aku sedang menyelesaikan tugas akhir dan biasanya, seperti mahasiswa tingkat akhir lainnya aktivitas

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *