Misteri Tangisan Malam

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 9 August 2015

Romy membuka pintu rumah dengan lelah. Ransel yang ia gendong seolah terasa ingin menelannya. Berat sekali. Ketika Romy hendak berjalan, ia tercengang kaget hampir menabrak seseorang. Gadis itu langsung menundukkan kepala.

Romy berusaha melihat wajahnya yang tak jelas karena terhalang poni yang hampir menutupi mata. Namun sepertinya wajah itu asing di kosannya.

“Lo anak baru?” tanya Romy hati hati. Hening.
“Lo anak baru?” ulangnya.

Gadis itu mengangkat wajah dengan cepat. Tatapan matanya menusuk seperti pedang. Menakutkan.
Deg! Tak ada sesuatu apapun yang dapat menahan Romy berlari.

DAK!!

Romy membanting pintu kamar dengan napas ngos-ngosan dan keringat dingin yang membuat Rangga, teman sekamarnya yang sedang membaca buku terkejut.

“Lo kenapa sih, datang-datang langsung bikin orang jantungan!” omel Rangga kesal.
“Bro! Cewek aneh itu siapa sih, bro? Anak baru?”
“Oh, Sarah?” jawab Rangga santai, “Kenapa? Cantik gitu dibilang aneh!” Rangga tersenyum kecut.
“Iya cantik, tapi lo lihat dong dia kayak setan gitu!”
Rangga menatap mata Romy. Lama.
“Ah gue ngantuk!” Rangga langsung merebahkan badan di tempat tidur membelakangi Romy.

Malam sudah semakin larut. Di tengah tengah kegelapan kamar, mata Romy tak dapat terpejam. Pikirannya selalu tertuju pada gadis tadi. Keringat dingin membasahi tubuhnya. Romy memaksakan memejamkan mata berharap cepat tidur.

Tiba-tiba telinganya menangkap sesuatu. Jantungnya berdegup kencang. Ia mencoba memperjelas pendengarannya takut hanya salah dengar. Dan ia baru tersadar bahwa suara itu adalah suara tangisan seorang wanita dari belakang kamar kosan. Matanya melotot, jantungnya berdegup semakin cepat.

Romy menutup telinganya dengan bantal. Namun suara itu malah semakin keras. Dan ia baru ingat bahwa di belakang kamar kosannya ada kuburan.

Esoknya di sekolah.
“Bro gue yakin gak salah denger! Lo harus percaya,”
Rangga fokus membaca, dan tak menghiraukan Romy.
“Lo denger gak sih gue ngomong apa?”
Rangga menoleh malas, “Halusinasi,” respon Rangga kecut dan meneruskan membaca.
Merasa tak dihargai, Romy memutuskan pergi saja.

Malam kedua.

Romy nampak sedang mencari cari sesuatu di lemari es.
“Ah payah! Masa gak ada minuman sih?” gumam Romy.

Ketika ia balik badan, jantungnya serasa berhenti berdegup ketika melihat gadis yang ia takutkan itu berdiri tepat di hadapannya. Namun kali ini entah apa yang menahannya ia berlari. Tatapan wanita itu jauh berbeda dengan tatapannya waktu pertama kali bertemu kemarin malam. Yang ia lihat hanyalah gadis biasa bermata sayu yang sedang bersedih. Romy menatap wajah gadis itu. Dan nampaknya tak ada yang aneh.

“Lo kenapa?” tanya Romy halus namun tetap jaga-jaga. Gadis itu tak menjawab.
“Lo sedih ya?”
Gadis itu menggeleng.
“Terus?”
Kali ini gadis itu berlari.

Romy duduk memeluk lutut di atas tempat tidur. Pikirannya selalu tertuju pada gadis itu, yang membuatnya semakin penasaran.

Romy melirik jam dinding, dan jarum jam menunjukkan pukul 11.00 yang artinya Romy harus segera tidur. Malam ini ia tidur sendirian karena Rangga sedang pulang kampung. Ayahnya sakit. Namun anehnya, malam ini Romy tak merasa ketakutan seperti kemarin. Padahal malam ini ia tak punya teman.

Romy mematikan lampu dan langsung memejamkan mata. Ketika ia hampir terlelap, tiba-tiba ia mendengar suara tangisan yang sama seperti kemarin. Matanya langsung terbelalak. Romy menyalakan lampu dan memberanikan diri beranjak dari tempat tidur menuju ke arah jendela.

Romy dengan dada berdebar melihat ke belakang kamar lewat celah-celah jendela. Dan matanya dibulatkan melihat seorang gadis berbaju putih putih rambut panjang sedang menangis sambil menaburkan bunga di atas kuburan. Dan ketika diperhatikan, rasanya Romy tahu siapa dia. Romy langsung berlari keluar menghampiri gadis itu.

Romy berjalan pelan mendekati gadis itu. Gadis itu masih terlihat dengan posisi yang sama seperti tadi. Tangisnya semakin menjadi-jadi.

“Permisi…” sapa Romy ragu.
Gadis itu reflek menoleh dengan cepat dan terlihat ketakutan.
“Tenang! Tenang! Gue gak akan ngapa-ngapain kok!” Romy menghampiri gadis itu.
“Sarah, kalau boleh tahu, ini kuburan siapa?”

“Ini kuburan Ibu aku. Dia korban penodongan dan orang-orang menguburkannya di tempat terdekat. Dan setelah lama kucari, akhirnya ketemu. Namun dalam keadaan seperti ini. Inilah satu satunya alasan aku nge-kost di sini,”

Romy tertegun mendengar cerita Sarah.

“Tapi.. kenapa lo gak sekolah?”
“Aku gak butuh sekolah! Aku hanya butuh Ibu. Aku gak punya siapa-siapa lagi.” ungkapnya putus asa.
“Gue Romy! Dan mulai sekarang lo bisa anggap gue sahabat lo!” Romy menjulurkan tangan, “Dan kalo lo mau, lo boleh sekolah bareng gue.”

Sarah menerima tangan Romy. Dan untuk pertama kalinya, Romy melihat Sarah tersenyum.

Cerpen Karangan: Dedeh Kurnia
Facebook: Facebook.com/dedeh.kinalova

Cerpen Misteri Tangisan Malam merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Dibalik Topeng Mu (Part 1)

Oleh:
“Tuhaaannn! Mengapa Engkau begitu kejam padaku? Apa salah ku tuhan?” teriak Seorang lelaki di Sebuah atap gedung Universitas ternama Di kota itu. “Jika ini memang takdirku, aku Terima semuanya.

Anabel (Part 1)

Oleh:
Suara tangisan seorang wanita mengganggu indra pendengaranku dan sukses membangunkanku, merinding yah itulah yang kurasakan sekarang. Tengah malam jam 11:30 dan terdengar suara tangisan wanita bukannya ini familiar? seperti

Kutunggu di Pintu Akhirat (Part 4)

Oleh:
Di hari terakhirnya dia liburan, sebelum esoknya pulang kembali ke Purwokerto, Dewi kunjungi Telaga Pucung. Sebuah telaga berair jernih tak jauh dari Curug Cipendok. Di telaga itu dia berniat

Detektif Kaca

Oleh:
Telah kuperhatikan kaca itu, penuh retakan, dan ku lihat bayanganku tak sempurna. Tercipta di otak ku rasa keingintahuan akan retakan kaca itu. Ku selalu ingin tahu apa dan bagaimana

Beringin dan Lagu

Oleh:
Lagu itu mengalun begitu pelan, merdu. Tekanan-tekanan tutsnya begitu terdengar. Lagu itu menumbuhkan aura yang begitu negatif. Membuat bulu kuduk berdiri sehingga tampak dari permukaan. Rambutku terterpa oleh angin

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *