Musik Tengah Malam

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 16 December 2017

Musik piano yang membuatku terjaga di tengah malam kembali terdengar. Sudah beberapa hari ini rumahku menjadi horor karena alunan musik tersebut. Alunan musik yang entah dari mana datangnya membuatku takut jika berada di rumah sendiri.

“Kak, suara itu terdengar lagi. Kakak cepat pulang, ya, aku takut.” Aku memberi tahu akan masalah ini pada seseorang yang lima tahun lebih dewasa dariku melalui pesan singkat. Hanya ia yang bisa menghilangkan takut yang sedang kurasakan.
“Iya, kakak segera pulang. Kamu tunggu, ya.” Ia membalas lima menit kemudian aku mematikan ponsel lalu kembali berbaring di atas kasur sambil menutupi seluruh tubuh dengan selimut.

Kakak, begitulah aku memanggilnya. Seorang lelaki tampan berkulit putih juga bersih adalah kakak sekaligus orangtua untukku setelah mereka ke luar kota mengurusi pekerjaannya setahun lalu. Selama itu, ia yang menemani dan menjagaku dari hal apapun yang akan terjadi. Tapi, sudah seminggu terakhir ia jarang menemaniku di rumah karena kesibukkannya sebagai mahasiswa.

“Dek!” Suaranya yang lembut ketika memanggilku sudah terdengar dari luar kamar. Aku langsung menuruni kasur dan membukakan pintu untuknya.
“Kakak, suara itu terdengar lagi. Aku takut, Kak.” Aku berkata sambil memeluk tubuhnya yang ideal itu.
“Sudah, jangan takut. Ada kakak di sini.” Jawabnya yang membalas pelukkanku.
Aku merasa seperti anak kecil ketika di dekap olehnya, padahal adiknya ini sudah kelas satu SMA.

“Tugas kuliah kakak kapan selesainya? Aku tak mau lagi sendiri di rumah.” Tanyaku tentang kesibukkannya itu.
“Sebentar lagi selesai, kok. Sudah, jangan takut. Kakak, kan, ada di sini.” Ia menjawab sambil mengelus lembut rambutku.
“Kakak serius?”
“Iya, Dek.”
Lalu, kakak menyuruhku naik ke kasur. Seperti ucapannya, ia menemaniku meneruskan tidur sampai kilauan sinar matahari kembali membangunkanku.

Kakak masih tertidur dengan wajahnya yang terlihat sangat lelah. Apa kakak tidak tidur semalam hanya karena menemani juga menjagaku? Oh kakak, maafkan aku. Namun, ketika hendak berangkat sekolah ia terbangun, dan langsung berkata.
“Sudah mau berangkat sekolah, Dek? Ayo kakak antar.”
“Tak perlu, Kak. Aku berangkat sendiri saja.” Jawabku yang menolak tawarannya karena tak mau membuat repot.
“Ya sudah, hati-hati, Dek.”
“Iya, Kak.”

Aku selalu berharap sekolah tidak ada jam pulangnya karena di rumah yang kedua ini ada teman-teman yang mampu membuatku tertawa bahagia selain kakak. Mereka dapat melupakan pikiran tentang alunan musik tengah malam yang membuat takut juga menjadikan rumahku tercium horor. Sampai akhirnya suara bel yang menandakan pulang tiba setelah delapan jam belajar.

Aku melakukan aktivitas seperti biasa sepulang sekolah hingga hari menjadi gelap dan mengharuskanku untuk tidur. Tapi, lagi-lagi alunan musik itu membuatku terjaga di tengah malam. Aku langsung kembali memberi tahu ini pada kakak. Namun, kali ini kakak tidak berkata untuk segera pulang, ia malah menyuruhku mendatangi sumber suara tersebut. Aku terkejut. Apa maksudnya? Apa ia sudah tidak lagi peduli denganku sehingga lebih mementingkan kesibukkannya dan membiarkanku dalam ketakutan seperti ini?

Suara itu semakin lama semakin kencang, aku semakin takut mendengarnya. Kakak, tolong aku. Aku harap ia datang saat ini juga. Namun, bukan dirinya yang datang, melainkan pesan masuk yang datang darinya.
“Cepat datangi sumber suara itu, Dek. Kakak pasti menolongmu.” Demikian isinya. Apa? Kakak tahu suara hatiku. Lalu, apa maksudnya?

Karena tak mengerti maksud dari pesannya, aku menurut untuk mendatangi sumber suara tersebut. Dengan perlahan tapi pasti aku berjalan menuju ruangan kosong yang berada di lantai dua yang merupakan tempat dari suara itu berasal. Alunan musik tersebut tiba-tiba berhenti ketika kuhendak membuka pintu ruangan tersebut.

“Luna!” Aku membelalakkan mata mendengar suara demikian yang seketika membuat jantungku berdebar kencang. Suara siapa itu? Selain diriku, tidak ada orang lain di rumah. Kakak? Tidak, ia sedang tidak di sini.
“Mau lari ke mana kamu?” Orang tersebut berkata kemudian. Hah? Dia tahu aku ingin lari? Sebenarnya siapa dia?
“KAKAK!” Aku berteriak sambil segera berlari meninggalkan ruang menakutkan itu.

Aku terus berlari sampai tak sadar bahwa semua lampu yang ada mati, hingga membuatku terjatuh karena tak bisa melihat sekeliling.
“Awww!” Teriakku kesakitan karena lutut yang lebih dulu mendarat di lantai.
Aku mencoba untuk bangkit, namun tidak bisa. Lututku terasa sangat sakit. Aku menangis.

Ketika sedang menangis, alunan musik kembali terdengar dengan suara panggilan seseorang yang tidak kuketahui.
“Luna!”
“Mau lari ke mana kamu?”
Mataku terbelalak mendengarnya.
Aku mencoba untuk bangkit kembali, namun tetap tidak bisa. Alunan musik dan panggilan itu lagi-lagi terdengar. Aku pun menyeret kaki menuju kamar sambil berteriak.
“KAKAK, TOLONG AKU!”

Selesai

Cerpen Karangan: Siti Mariyam
Facebook: Siti Mariyam

Cerpen Musik Tengah Malam merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Di Balik Jendela

Oleh:
“Kring… kring… kring” suara alarm jam weker yang berdering di dekat telingaku. “Bangun sayang, apa kau tak dengar jam wekermu telah berbunyi.” celoteh dari mama yang membangunkanku. Seperti biasanya,

Misteri Gelang Kaki (Part 1)

Oleh:
Kriiinnggg…!!! Bunyi alarm mengejutkanku yang sedang dalam buaian mimpi indah. Dengan gerak lambat dan agak malas, aku bangkit dari tempat tidur menuju kamar mandi. Pukul 06.30 aku sudah rapi

Midnight Clown (Part 2)

Oleh:
Mengapa aku tidak bisa melihat masa lalu dan masa depanku sendiri, lantas buat apa Tuhan memberikanku suatu kelebihan, jika aku tidak bisa menolong diriku sendiri, pikiranku pun masih terbang

Doppelganger

Oleh:
Aku tidak mengerti apa yang terjadi padaku, tapi yang jelas aku mungkin sebagian dari kata unik itu sendiri. Luapan emosiku yang meluap-luap sering membuatku tak habis pikir tentang apa

Dendam Gitar Lusuh

Oleh:
Malam itu Daniel yang pulang sempoyongan karena pengaruh minuman keras di tengah jalan kota dengan resleting yang masih terbuka tak ia hiraukan dan tak ia sesali apa yang telah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

2 responses to “Musik Tengah Malam”

  1. Kayyisah Tsabitah says:

    Serem euy

  2. Ritta aprilia says:

    Seru cerita nya,mending dilanjut lagi cerita. Soalnya bikin penasaran

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *