Nenek Dan Sisir Tua (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 9 April 2018

Kupasang headseat di kedua kupingku, kusenderkan bahu dan kepalaku di jok mobil yang aku tumpangi sambil mendengarkan musik rock kesukaanku.
Hari ini aku benar-benar merasa sangat lelah. Sekujur tubuhku terasa sakit semua. aku berharap bisa segera sampai ke jakarta dan segera mendatangkan tukang pijit ke rumahku.

Aku melirik samping kananku, kulihat zakka sedang fokus menyetir lalu kutengok ke belakang mobil, ada ami dan roro yang sedari jogya sudah tertidur pulas.
“mereka berdua benar-benar juaranya tidur?” ucapku pelan.
“ya begitulah” sahut zakka enteng
“zak, aku tidur dulu sebentar” kataku pada zakka yang sedari tadi menyetir. Zakka mengangguk.

Laju mobil yang kencang dan sunyinya malam membuatku semakin terlarut dalam suasana malam. Ditambah alunan musik rock yang kudengar membuatku tak bisa menahan lagi untuk terlelap. Tapi entah apa yang terjadi, baru saja aku mulai bisa tidur tiba-tiba mobil yang kami tumpangi berhenti mendadak di tengah jalan yang sepi dan gelap dan di sekitarnya dikelilingi pohon jati yang tinggi dan lebat.

“ada apa zak?” tanyaku dengan nada berat karena masih terasa kantuk.
“gak tau nih, sepertinya bahan bakar mobil habis” jawab zakka sekenanya.
“ah.. sial. Padahal perjalanan pulang masih jauh, ditambah tempat ini sangat sepi dan sunyi. Aku tidak yakin bisa bertemu seseorang di sini” ucapku mulai cemas.
“apa kamu tadi lupa mengisi bahan bakar?” tanyaku
“mana mungkin aku lupa, kamu kan tahu sendiri dari tadi kita tak menemukan pom bensin satupun yang ada malah jalan sepi yang penuh dengan pohon jati yang menyeramkan” balas zakka membela diri.
“sudahlah, ayo kita turun! Kita cari seseorang barangkali ada yang bisa kita tanya!” ajakku.

Aku dan zakka turun dari mobil dan berdiri di depan mobil. Aku mencoba menelepon mobil derek untuk menarik mobil kami sampai ke pom bensin terdekat, tapi sayang sekali usahaku sia-sia karena hari sudah terlalu larut malam jadi mobil derek tak bisa segera datang, mereka bisa datang besok pagi atau subuh. Ah.. rasanya sangat menjengkelkan.

“bagaimana ini? Tempat ini sangat sepi, gelap dan menakutkan” ucap zakka mulai cemas dan panik.
“sifat pengecutmu kapan bisa berubah?” sindirku
“apa maksudmu? Di situasi seperti ini seharusnya kamu tidak memancing kemarahanku” bentak zakka
“sudahlah, aku hanya bercanda. Yang terpenting ayo kita pergi. Kita cari seseorang yang bisa kita mintai pertolongan” ujarku

Kami berdua melangkah maju menjauhi mobil yang kami parkirkan di bahu jalan, kami tinggalkan ami dan roro. Kami hanya berpikir untuk urusan seperti ini tak perlu melibatkan para gadis.
Beberapa langkah kemudian, aku dan zakka melihat cahaya lampu gantung yang dibawa seseorang dari kejauhan. Aku mencoba melangkahkan kakiku mendekati orang itu, tapi zakka menarik lenganku seakan ia tak mengizinkanku pergi ke sana.
“ada apa zak?” tanyaku sedikit terkejut
“jangan pergi ke sana!” pinta zakka dengan raut wajah ketakutan
“kenapa?” tanyaku enteng seakan tak mengerti dengan jalan pikiran zakka.
“aku takut kalau dia bukan manusia melainkan hantu atau bahkan zombie yang akan memakan daging kita, kamu tahu sendiri kan kalau tempat ini sepi dan terlihat angker?” balas zakka ketakutan.dia mulai dengan imajinasi konyolnya.
“kamu ini pengecut sekali. Mana ada hal konyol seperti itu di zaman modern seperti ini. Berhentilah berimajinasi!” ucapku agak kesal, “setelah pulang dari sini aku akan segera mencarikan dokter untukmu supaya kamu tidak pengecut lagi” tambahku dengan nada menyindir zakka
“kamu menyindirku?!” ucap zakka kesal.
“sudahlah. Jangan memperburuk suasana. Ayo kita dekati orang itu!”
“kamu yang memperburuk suasana” gerutu zakka

Aku dan zakka berjalan mendekati orang itu, aku sesekali meneriaki orang itu dan menyuruhnya berhenti agar kami bisa mendekatinya lebih cepat. Aku juga menyuruh zakka melakukan apa yang aku lakukan tapi dia malah merajuk, wajahnya ditekuk dan tak menyauti saat aku ajak bicara, sepertinya ia masih kesal dengan ucapanku tadi.
“permisi?!” sapaku dengan sopan setelah mendekati orang yang membawa lampu pijar itu. orang itu berhenti dan mendekati kami. Wajah orang itu semakin terlihat setelah lampu pijar ia dekatkan ke wajahnya. Orang itu melotot lalu tersenyum sinis. Jelas saja hal itu membuat aku dan zaka sangat kaget. Aku merasakan buluk kudukku merinding begitu juga dengan zakka yang dari tadi memegang erat lenganku. Tapi ternyata orang itu seorang nenek-nenek tua yang sedang berjalan hendak masuk ke hutan jati.
“ada apa cu?” tanya sang nenek dengan nada suara yang aneh. Kami semakin merinding dibuatnya
“begini nek, mobil yang kami tumpangi kehabisan bahan bakar dan sepetinya tempat ini jauh dari perkotaan karena dari tadi siang kami tak menemukan pom bensin satupun. Kami sudah menghubungi mobil derek untuk menarik mobil kami tapi kata pihak yang bersangkutan katanya tidak bisa dilakukan malam ini juga, mereka bisa memulai pekerjaannya besok subuh” jawabku memberanikan diri untuk menjelaskan apa yang terjadi kepada nenek tua itu.
“oh begitu. Kalau begitu ikutlah denganku! Aku akan memberimu tumpangan gratis jangan lupa ajak 2 temanmu juga yang ada di dalam mobil” sahutnya dengan tenang.
Aku dan zakka kaget ketika nenek mengetahui kami meninggalkan ami dan roro di dalam mobil. Keadaan semakin membuat bulu kuduk kami berdiri.

“untuk pertama kali aku setuju dengan imajinasi liarmu itu. wajah nenek itu menyeramkan dan kamu lihat sendirikan bagaimana beliau tersenyum, benar-benar seperti hendak memangsa kita. Jika yang di pikirkanmu benar, kuharap kamu dulu yang dimasak olehnya” bisikku pelan di telinga zakka
“kamu ini! Jangan membuatku semakin takut!” bentak zakka. Dia kesal karena dari tadi aku menggodanya terus

“Kenapa cu, apa ada masalah?” tanya nenek secara tiba-tiba
“oh, tidak apa-apa nek. Kami hanya bercanda” ujarku sekenanya
“kalian jangan suka bercanda di tempat seperti ini, apa kalian ingin seseorang datang menculik kalian lalu orang itu membunuh kalian, memotong, merebus dan menyantap daging kalian sebagai cemilannya?” sambung nenek
Buluk kuduk kami semakin merinding, zakka memegang lenganku dengan sangat kencang dan sesekali menarik lenganku seakan memberi isyarat supaya aku meninggalkan nenek itu. tapi aku mencoba untuk berpositif thinking dan meyakinkan zakka supaya dia tenang dan tak bertindak ceroboh.

Aku mencoba menerima tawaran nenek itu, tapi tidak dengan zakka ia menolak dengan keras ajakan nenek itu bahkan ia mengancam akan tidur di mobil bersama ami dan roro dan membiarkanku menginap di rumah nenek sendirian. Sifat zakka yang pengecut membuatku kewalahan dan tak habis pikir. Aku mencoba memikirkan cara agar ia mau menginap bersamaku dan juga yang lainnya. Setelah berpikir lumayan lama, akhirnya aku menemukan sebuah cara. Aku ingat betul ada sebuah rahasia zaka yang hanya diketahui oleh aku dan dia. Dia tak mau kalau rahasianya itu bocor ke orang lain. Akhirnya dengan sedikit mengancam, aku memaksa zakka untuk mengikuti permintaanku, atau kalau ia menolak rahasianya akan bocor ke satu kantor.

“kamu ini kekanak-kanakan. Beraninya mengancamku seperti itu. awas nanti kalau aku bisa menemukan kelemahanmu, akan kubeberkan ke semua teman kerja kita” gerutu zakka. Raut wajahnya benar-benar terlihat sangat kesal.
“sudahlah. Jangan menggerutu terus, ajak ami dan roro ke sini. Apa kamu mau rahasiamu aku bongkar?!” kataku mengancam
Akhirnya zakka meneruti perkataanku. Ia pergi untuk membangunkan dan mengajak ami serta roro kemari.

Tak lama kemudian mereka bertiga datang menghampiri kami. Kulihat wajah ami dan roro yang masih mengantuk. Jujur sebenarnya aku tak tega membangunkan juragan tidur itu tapi mau bagaimana lagi. Keadaannya darurat.
“kalian lama sekali” ujarku
“berhentilah sok memerintah kami” sindir zakka
“maaf, aku sangat kelelahan jadi sangat sulit untuk bangun” sambung roro sambil sesekali menutupi mulutnya yang hendak menguap.
“loh, nenek ini siapa?” tanya ami
“dia nenek yang kuceritakan barusan kepada kalian berdua. Salman memaksa kita untuk menginap di rumahnya, padalah kalian lihat saja sendiri, nenek itu sangat menakutkan dan juga mencurigakan. Aku yakin ada modus lain dibalik beliau meminta kita untuk menginap di rumahnya” bisik zakka kepada ami dan roro.
“kalau begitu bagus sekali, aku bisa melanjutkan tidurku tenang karena tidur didalam mobil membuat badanku semakin tak karuan saja. Benar-benar beruntung bisa bertemu orang baik seperti nenek ini” sahut roro sumringah sambil meraih lengan nenek dan mulai menuntunnya berjalan.
“kau benar-benar gadis yang baik” balas nenek sambil tersenyum aneh
“roro apa yang kau katakan, bagaimana kalau nenek ini ingin memasak daging kita dan menjadikannya cemilan?” ujar zaka kesal
“tidak usah berlebihan, di zaman modern seperti ini mana ada orang yang mau memakan daging orang lain. Lagi pula zamannya si sumanto kan sudah lewat?!” balas roro dengan santai.
“ami, bagaiman denganmu?” tanyaku meminta persetujuan darinya
“aku terserah kalian saja, lagipula tak ada salahnya menginap semalam di rumah nenek” sahut ami santai
“jadi bagaimana denganmu zaka? Apa kamu ingin tidur sendirian di dalam mobil dan seseorang datang menculikmu lalu merebus dagingmu?” tanyaku memberi penawaran terakhir kepada zaka
“baiklah, aku ikut” jawab zakka pasrah
Akhirnya kami sepakat untuk menginap di rumah nenek tersebut. Kami pun berjalan bersama nenek menyusuri hutan pohon jati yang gelap dan sunyi.

Tak lama kemudian, kami sampai di depan sebuah rumah. Rumah kayu yang antik dan cukup luas. Rumah itu satu-satunya yang berdiri tegak diantara pepohonan yang tumbuh kokoh di sekitarnya.
“tidak ada rumah selain rumah itu, apa itu rumah nenek?” tanyaku pelan. Sang nenek mengangguk dan tersenyum.
“nenek, jangan tersenyum seperti itu! wajahmu semakin membuatku takut!” bentak zakka
“zakka, kamu tak boleh berbicara kasar kepada nenek” balasku membela nenek
“apa nenek tinggal sendirian di sini?” tanya roro. Nenek kembali mengangguk
“pasti orang-orang yang lainnya sudah dimakan nenek!” celetuk zakka
“zaka, berhentilah berbicara omong kosong!” perintahku

Nenek membukakan pintu dan mempersilahkan kami masuk. Beliau lalu menutup pintu dan menyuruh kami duduk.
“tunggulah di sini cu, nenek akan bawakan makanan dan minuman untuk kalian. Aku tahu pasti kalian lapar dan haus setelah menempuh perjalanan yang jauh” pinta nenek. Kami serentak mengangguk seakan paham apa yang diucapkan nenek. Nenek pun berjalan masuk menuju ruang belakang.

Aku berdiri san melihat-lihat isi rumah nenek. Aku benar-benar kagum dengan keadaan rumah nenek, walaupun kecil tapi perabotan rumah tersusun rapi, ditambah banyak sekali patung-patung unik yang menghiasi tiap sudut ruangan. Tapi yang membuatku heran adalah banyaknya patung kepala hewan yang berjejer rapi di setiap dinding. Patung kepala hewan itu seakan mengawasi kami yang hendak beristirahat. Imajinasi liarku mulai bermunculan, sepertinya aku ketularan zakka. Memikirkan hal-hal yang berbau mistis.

Aku hendak beranjak naik ketangga, aku penasaran dengan lantai atas. “Mungkin aku bisa menemukan sesuatu yang berharga diatas sana” pikirku dalam hati. Roro beberapa kali melarang dan mengingatkanku agar berlaku sopan dan tidak lancang dengan memasuki ruangan tanpa seizin sang pemilik. Tapi rasa penasaranku lebih besar dibandingkan rasa takutku terhadap larangan roro.
Kudengar dari atas, roro mengomel kepada ami dan zaka.
“Ami, jangan sentuh barang itu! barang itu bukan milikmu?” omel roro
“tapi aku menyukainya” bela ami
“dan kau zaka, sampai kapan kamu mau mondar mandir terus. Duduk dan tunggu nenek di sini dengan tenang” omel roro kepada zaka

Cerpen Karangan: Ahmad Johandi
Facebook: /johand.tara (Ahmad Johandi)
hanya orang yang hobby mengarang cerita

Cerpen Nenek Dan Sisir Tua (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Perpustakaan Sekolah

Oleh:
Pagi ini langit terlihat mendung, seolah sang mentari enggan menampakkan dirinya. Dan seperti biasa, keadaan ini selalu sama, seakan tak pernah ada perubahan dari hari ke hari. Hari ini

Sama Pentingnya

Oleh:
Untuk yang kesekian kalinya aku membelalakan mata, apa ini hanya kebetulan? Atau memang cerpenku sudah dicuri seseorang? Tapi, siapa pencurinya? Aku benar-benar curiga dengan penulis cerpen ini. Rain, itulah

Diary Merah Darah

Oleh:
Seorang gadis berlari di lorong rumah sakit, seakan ada yang sedang mengikutinya. Dia melangkahkan kakinya dengan sangat cepat mukanya pucat tak karuan. “Tolong!” “Tolong, aku!” Suara rintihan minta tolong

Terkadang Kebenaran Menyakitkan (Part 1)

Oleh:
Suara tangisan berdengung dari ruangan itu, seorang pria, yang juga kepala keluarga, baru saja kembali ke pangkuan sang illahi, sang anak, Rahmad, adalah yang hatinya paling tersakiti, kematian ayahnya

Unbelieveable (Part 1)

Oleh:
Malam ini sangat melelahkan plus menyenangkan. Aku baru saja mengikuti sebuah pesta besar di sebuah kampung yang jaraknya cukup jauh dari tempat tinggalku, atau lebih tepatnya di sebuah asrama.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *