Nenek Dan Sisir Tua (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 9 April 2018

Tiba-tiba aku menemukan ruang kosong yang tertutup rapat dengan pintu bergambarkan tengkorak hitam. Sontak hal ini membuatku terkejut dan benar-benar panik. Tanpa berpikir panjang aku langsung berteriak memanggil ketiga temanku itu. ketiganya serentak datang bersamaan dan menanyakan apa yang terjadi.
“sudah kubilang kan, jangan lancang memasuki rumah orang lain. Kita ini tamu dan berlakulah sopan layaknya tamu yang baik” bentak roro.
“salman, apa yang kamu lakukan” teriak zaka ketika melihatku membuka pintu ruangan itu.
“aku hanya ingin mengetahui isinya saja” sahutku dengan santai sambil membuka pintu itu pelan-pelan.
Betapa terkejutnya aku ketika melihat isi ruangan itu. ruangan itu benar-benar luas tapi tak ada perabotan apapun selain peti kecil yang berada diatas meja dekat cendela kaca itu.
“lihat teman-teman, ada sebuah peti misterius” ucapku senang
“peti? Apa mungkin peti harta karun?” tanya ami
“ayo kita buka. Barang kali ada jawaban dari teka-teki nenek dan rumah ini” tambah zaka
“hei, jangan lakukan itu. kita akan mendapat masalah besar jika sampai ketahuan nenek” omel roro.
“jangan dengarkan roro, buka saja petinya salman. Dari tadi kerjaan roro hanya mengomel saja” ketus zaka.

Akhirnya aku memutuskan untuk mengambil dan membuka peti misterius itu. aku membukanya sangat pelan berharap ada sesuatu yang menarik kutemukan, roro yang tadinya menentang, akhirnya ikut melihat isi peti itu. tapi belum sempat kami melihat isi peti itu, seseorang datang mengejutkan kami.
“sedang apa kalian?!” tanya orang itu dengan nada marah. Ternyata orang itu adalah nenek.
“nenek?” kata kami serentak dengan wajah yang benar-benar kaget dan panik
“anu nek..” ucapku yang tak bisa melanjutkan ucapanku.
“tamatlah riwayat kita. Nenek itu pasti sangat marah. Beliau akan membunuh, memotong dan merebus daging kita” bisik zaka dengan raut wajah sangat ketakutan.
“berhentilah bersikap penakut seperti itu” balasku lirih
“maafkan kami nek telah lancang. Aku sudah melarang dan menasehati mereka tapi mereka sangat keras kepala dan tak mau mendengarkanku. Jika nenek ingin memakan kami, makanlah mereka bertiga saja dan biarkan aku hidup” ujar roro membela diri.
“roro apa yang kamu katakan?!! Apa kamu ingin mati…!!” bentak kami bertiga kepada roro.
Nenek menatap tajam kami, tatapannya benar-benar seperti elang yang hendak menerkam mangsanya. Tapi tiba-tiba beliau tertawa terbahak-bahak. Tingkah anehnya membuat kami semakin merinding.

Nenek itu berjalan mendekati kami dan merampas paksa peti yang aku pegang.
“kembalikan benda berhargaku. Seharusnya kalian bertiga mendengarkan teman gadismu ini, dan kau gadis, seharusnya kau juga tidak ikut-ikutan bersama mereka” ucap nenek marah
“maafkan kami nek” ucap kami berempat
“apa kalian tahu?! Isi peti ini sangat berharga bagiku. Aku tak mau jika ada orang asing seperti kalian mencurinya makanya kuletakan di lantai atas dan kugambar pintu ruangannya dengan gambar tengkoran sehingga orang-orang penakut sepertimu tak berniat membukanya” ucap nenek mencoba menjelaskan sambil menunjuk ke arah zakka
“tapi ternyata dugaanku salah. Nyali dan rasa penasaran kalian lebih besar daripada yang kukira” tambahnya
“tapi nenek sendiri yang menyuruh kami menginap” sela zakka membela. Nenek itu mengangguk dan tersenyum aneh.
“kau ini, selain penakut juga banyak sekali bicara. Kalau saja aku lapar, aku pasti akan memasak dagingmu lebih dulu” balas nenek
“syukurlah, zakka duluan yang dimasak. Sekarang aku bisa tenang, lagipula perut nenek kecil mana mungkin bisa muat untuk menampung empat orang, sudah makan daging zakka saja pasti sudah kenyang” ujar ami sambil menghela nafas
“apa yang kamu katakan?! Jangan menakutiku seperti itu” bentak zaka
“jangan khawatir, cepat atau lambat aku pasti akan memakan daging kalian semua” ucap nenek membuat kami semakin ketakutan.

Nenek itu lalu membuka peti misterius itu dan mengambil isinya. Benar-benar hal yang tak diduga-duga, ternyata isi dari peti itu adalah sisir tua milik sang nenek, sontak hal itu membuat kami kaget dan melongo. Kami benar-benar merasa dikerjai imajinasi kami sendiri dan nenek tua itu.
“jadi isi peti itu Cuma sisir tua yang tak berharga? kenapa nenek menyimpan sisir tua itu di dalam peti dan meletakannya di dalam ruangan kosong ini?!” bentak zaka
“kau anak muda yang tak tahu apa-apa tentang sejarah sisir ini” ujar sang nenek dengan raut wajah sedih
“jelas saja aku tak tahu, itukan sisir milik nenek bukan milikku!” ucap zakka kesal merasa tersinggung dengan ucapan nenek
“sisir ini memang sudah tua bahkan tak layak pakai, tapi benda ini sangat berharga untukku. Sisir ini adalah benda satu-satunya yang tersisa peninggalan suamiku dan juga saksi dari kejadian pilu malam itu” sang nenek sambil menatap sedih sisir tua itu.

Aku benar-benar merasa bersalah atas kelakuanku. Gara-gara kelakuanku yang tidak sopan ini, sang nenek jadi sedih mengingat kenangan masa lalunya bersama sang suami.
“kalau boleh tahu, ke mana suami nenek itu pergi?” tanya roro pelan
“entahlah. Dulu beliau berpamitan untuk berperang dan menyuruhku menunggu di rumah tapi sampai saat ini tak ada kabar darinya. Mungkin beliau sudah kalah bertempur” jawab nenek
“maaf nek, membuatmu semakin sedih” ucap roro sambil mendekati nenek dan mencoba merangkul bahu nenek
“tidak apa-apa cu” balas nenek yang terlihat tegar
“lalu jalan tadi, kata nenek sering ada orang menghilang? Apa maksudnya?” celetuk zaka
“oh yang itu, dulu tempat itu adalah daerah kekuasaan penjajah jepang. Siapapun yang melewati jalan itu akan diculik dan dibunuh lalu mayatnya dibuang di sungai yang deras atau bahkan dijurang-jurang yang curam.” Jawab nenek
“aku masih teringat jelas saat suami salah satu tetanggaku yang lewat kejalan itu. tiba-tiba tentara jepang itu membawanya pergi dan 2 hari kemudian dia ditemukan sudah tak bernyawa lagi dijalan itu” tambah sang nenek
“apakah nenek masih punya sanak saudara? Kenapa nenek tinggal sendirian ditempat yang sesunyi ini?” tanya ami ikut nimbrung
“bukan begitu, aku tak mau meninggalkan tempat ini karena banyak sekali kenangan di sini. Dulu memang tempat ini adalah kampung yang sangat ramai dan ramah. Kami semua rajin bekerja dan bergotong royong untuk menyelesaikan sesuatu pekerjaan yang berat. Dulu penjajah sering datang kemari tapi kami berhasil mengusirnya karena persatuan kampung kami. Tetapi suatu hal buruk terjadi, malam itu kebetulan aku sedang mendapatkan pekerjaan mengurut bayi di kampung sebelah. Ketika aku pulang, kampung kami hangus terbakar, orang mati terbakar di mana-mana. Itu adalah pengalaman yang sangat pilu dan menyakitkan hati. Keesokan harinya aku datang kekampung sebelah meminta bantuan untuk menguburkan mayat-mayat penduduk kampungku. Seminggu kemudian kampung ini menjadi mati seperti yang terlihat sekarang ini. Aku berusaha tegar menghadapi semua ini dan sebagai penghormatan terakhir untuk mereka, aku memutuskan untuk menjaga makam mereka dan kampung ini sendirian. Walaupun beberapa kali orang di kampung sebelah mengajakku untuk pindah tapi aku tetap menolak dan lebih memilih tinggal di sini sampai akhir hayatku” kata nenek bercerita panjang lebar tentang kampungnya

Kami benar-benar sedih dan salut kepada nenek setelah mendengar ceritanya. Aku jadi sadar dan bersyukur karena hidup yang aku jalani saat ini lebih beruntung daripada kehidupan nenek di masa lalu. Kulihat air mata menetes di pipi zaka dan ami sedangkan roro merangkul kuat tubuh renta sang nenek.

“maafkan aku nek, aku tak tahu kalau nenek ini benar-benar nenek super” ucap zaka disela-sela tangisannya. Nenek itu tersenyum mendengar ucapan maaf dari bibir zaka
“turunlah ke bawah dan makanlah singkong rebus yang sudah nenek siapkan, lalu setelah itu beristirahatlah supaya besok badan kalian segar kembali. Soal tadi, maaf nenek sudah membuat kalian menunggu, karena aku harus mencari kayu bakar dulu di luar untuk membakar singkong itu” ucap nenek
“tidak apa-apa nek, harusnya kami yang meminta maaf karena sudah merepotkan nenek, seharusnya nenek bilang kekami masalah kayu bakar yang telah habis pasti kami bantu mencarinya” balas zaka
“kamu ini, mana ada tamu yang disuruh mencari kayu bakar tengah malam begini” canda nenek
Kami pun tertawa bersama,

Keesokan harinya, wajah kami terlihat sangat segar, kami mempersiapkan diri untuk meninggalkan rumah nenek, aku benar-benar tak tega meninggalkan nenek yang sudah renta itu tinggal sendirian di tempat sesepi ini, ingin rasanya aku mengajaknya ke rumahku dan menjadikannya nenek angkatku, tapi mendengar ucapan dan janji nenek tadi malam, aku yakin nenek pasti akan menolak ajakanku.

Aku mengikat tali sepatuku tiba-tiba ponselku berdering. Aku segera mengangkatnya
“halo siapa ini?” tanyaku
“maaf pak, ini dari pihak mobil derek, kami sudah sampai dan sekarang kami bersiap untuk menarik mobil bapak” jawab seseorang di dalam telepon
Aku pun segera bersiap dan menyuruh ketiga temanku agar secepatnya bersiap. Soalnya sebentar lagi mobilnya akan berangkat.
“jadi nenek tak tertarik lagi untuk memakan daging kami?” canda zaka sebelum berpamitan
“mana mungkin aku mau memakan pemuda pengecut dan banyak bicara sepertimu?!” tegas nenek
“syukurlah, aku jadi tenang. Akhirnya nenek kembali ke jalan yang benar” tambah zakka.
“sana cepat pergi, sebelum aku berubah pikiran. Tapi sebelum itu habiskan dulu bubur hangatnya” suruh nenek
“nenek itu ternyata tak berubah, masih saja kejam seperti awal bertemu” gerutu zaka
“hahaha…” kamipun tertawa bersama
“sudahlah, ayo habiskan dan cepat pergi” tambahku.

Akhirnya tiba saatnya kami harus berpamitan dengan nenek baik hati yang kutemui ditengah jalan. Kami satu persatu bersalaman dengan nenek, memeluk dan mencium tangannya sambil mengucapkan banyak terimakasih. Kami pun meninggalkan nenek dan berjalan menuju mobil kami yang akan diderek.

Ini adalah pengalaman kesasar yang terbaik yang pernah kualami bersama dengan ketiga temanku. Semoga untuk liburan berikutnya ada pengalaman-pengalaman yang menarik lagi yang bisa diambil hikmahnya, dan untuk nenek semoga tuhan melindunginya selalu dan senantianya memberinya kesehatan dan kekuatan. Aku berharap suatu saat bisa bertemu lagi dengan nenek itu dan meneladani karakternya.

Tamat

Cerpen Karangan: Ahmad Johandi
Facebook: /johand.tara (Ahmad Johandi)
hanya orang yang hobby mengarang cerita

Cerpen Nenek Dan Sisir Tua (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


GenksBel

Oleh:
Di suatu sekolah ada sekumpulan anak-anak gaul yang terkenal disebut dengan Gengksbel terdiri dari: Wili, Febry, Edy, Sandy, Ery, dan satu perempuan Yessi. Mereka bersahabat sejak kelas X semester

Misteri Kamar Rahasia

Oleh:
Namaku Adinda Nasywa Azalea, kalian bisa memanggilku Dinda. Aku punya satu misteri di rumahku yaitu ruangan sebelahku. Aku penasaran, tapi ketika aku bertanya pada bunda, bunda malah menjawab, ‘Tunggu

Noir dan Taman Anggrek

Oleh:
Banyak siswa dari luar kota yang memutuskan untuk bersekolah di Jakarta, Ibu kota Indonesia. Edward termasuk salah satunya. Edward berpenampilan seperti mahasiswa biasa yang berkacamata tebal. Ia berasal dari

Ilusi Nyata

Oleh:
Tenotenotenonenot… jam dindingku menjerit. Wah! sudah jam 11 malam. Tak terasa sudah 2 jam aku menghabiskan waktu untuk membaca cerita horror. Suasana malam yang sunyi senyap membuat bulu kudukku

Mata Abu-Abu

Oleh:
Nama anak laki-laki itu, Bianka. Setiap pagi ia selalu berdiri sejenak di depan pintu gerbang sekolah. Menatapi setiap anak dari kumpulan komunitas putih abu-abu. Setiap anak yang memiliki titik

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Nenek Dan Sisir Tua (Part 2)”

  1. Dinbel says:

    Kerenssss, pengalaman hidup yg di urai ke sebuah cerita yg menegangkan karna berhasil membuat ku menjadi tegang saat membacanya. Good jobs untuk pengarang, di tunggu cerita selanjutnya ya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *