Nilai 90 Yang Tidak Lazim

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Jepang, Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 28 December 2015

Dari dalam sebuah kelas yang sudah kosong sedang duduk seorang pemuda yang tidak terlihat sibuk. Itu adalah pemuda yang memang suka duduk di kelas saat jam sekolah sudah berakhir. Dia suka membaca buku di ruang kelas sambil menikmati latihan klub baseball yang sedang bermain di lapangan luas yang bisa terlihat dari jendela kaca gedung di tingkat dua ini. Pancaran cahaya jingga yang menguasai waktu ini memasuki jendela kaca tepat di sebelah kiri meja pemuda itu. Dia membalikkan halaman buku yang sedang dia baca. Itu adalah sebuah buku yang menceritakan kasus tentang pembunuhan tiga keluarga bangsawan di tahun 1823.

SREK…
Saat sedang asyik-asyiknya membaca, tiba-tiba saja pemuda itu dikejutkan oleh suara gerakan pintu kelas yang digeser oleh seseorang. Lalu muncul seorang gadis cantik berambut sebahu yang memakai seragam olahraga sedang tersenyum pada pemuda itu. Dia mendekati pemuda itu, “Ozuki-kun. Belum pulang?” sembari menggapai tasnya yang berada di meja depan pemuda itu.
“Belum. Baru habis aktivitas klub ya, Habara-san? Kelihatannya lelah sekali.” Pemuda itu sedikit berbasa-basi.
“Em.” Gadis itu tersenyum.

Wajah pemuda yang tampak dingin dan tidak memiliki ekspresi itu sungguh tidak mendatangkan kenyamanan jika ditatap. Bagi setiap orang yang melihatnya, pemuda itu diibaratkan seperti konsep abstrak yang gagal dilukis. Tidak ada yang pernah melihat pemuda itu memasang ekspresi sama sekali. Hanya wajah kosong dengan bola mata layu dan bibir terkunci yang selalu menghiasi wajah tampannya.

Tapi walau begitu, tidak berarti dia dibenci oleh orang-orang di kelasnya. Walaupun pemuda ini kelihatan pasif dalam bersosialisasi dengan sekelilingnya pemuda ini tidak pernah mengabaikan siapa pun. Begitu pun orang-orang juga tidak pernah mengabaikannya. Alasan itu terbentuk karena pemuda ini adalah salah satu kunci utama dalam pemecahan banyak masalah yang dialami oleh teman-teman sekelasnya. Bisa dibilang dia merupakan tempat konsultasi terbaik yang akan memberikan jawaban terbaik. Namanya Ozuki Shintarou. Siswa kelas 2 SMA biasa yang tidak begitu transparan dan mudah diajak bicara.

Gadis tadi, teman sekelas yang duduk di depan mejanya, bernama Habara Ichika. Habara adalah siswa di kelas ini yang sering mengajaknya ngobrol. Alasannya karena mereka berdua tetanggaan. Kebetulan sekali, Habara itu sangat tertarik pada dunia yang disukai oleh Ozuki. Dunia pemecahan kasus. Ketidaknormalan dan sebagainya adalah topik yang sering Habara tanyakan pada Ozuki. Dia menyukai cara Ozuki memecahkan kasus.

Habara sedikit memajukan tubuhnya, melihat buku yang dibaca Ozuki. “Apa yang sedang kamu baca, Ozuki-kun?”
Ozuki memperlihatkan sampul buku tebal itu. “Massacre of Three Family. Cerita tentang kasus-kasus pembunuhan tiga keluarga bangsawan di Inggris pada tahun 1823.”
“Heeh.. menarik ya? Bagaimana ceritanya?”
“Aku tidak tahu. Makannya sedang ku baca.”
Habara tersenyum malu. “Benar juga ya. Kalau sudah tahu, tidak perlu baca lagi kan.”

Sembari pembicaraan mereka tentang buku itu terhenti, Habara bertanya banyak hal tentang kasus-kasus yang ada pada buku itu. Ozuki menjelaskan beberapa kasus yang sudah bisa dia tebak, dan tebakannya 100% benar. Seiring waktu berdetik, akhirnya jam sudah hampir menunjukkan pukul 5 sore. Waktu sekolah harus ditutup sudah tiba.
“Ku rasa kita harus pulang, Ozuki-kun. Sudah hampir jam 5 nih.” Ozuki mengangguk. Mereka berdua mengisi semua barang mereka ke dalam tas, lalu beranjak ke luar kelas. Sembari berjalan ke luar, Habara mengalihkan perhatiannya pada Ozuki.

“Oh, ya. Ozuki-kun. Sebenarnya ada yang ingin aku tanyakan.”
Ozuki merespon. “Apa?”
“Soal UTS matematika kita kemarin. Apa Ozuki-kun bisa menjelaskan sesuatu untukku?”
Ozuki mengangguk. “Tergantung apa yang ingin Habara-san tanyakan tentu saja.” Habara tersenyum. Langkah mereka pun berlanjut ke luar kelas. Sembari mengiringi kaki mereka menapak di koridor jingga yang sudah mulai menutup sore, Habara melanjutkan pertanyaan yang ingin dia tanyakan itu.

“Di kelas kita, hanya ada tiga orang saja yang bisa dapat nilai tinggi kalau soal matematika, kan.”
“Ya.” Habara menatap telak mata tidak beremosi Ozuki itu. “Aku, Ozuki-kun, dan siswi penyendiri, Fukuda-san. Tapi ada kejanggalan pada UTS kemarin itu. Apa mungkin ada sebuah kelas yang 90% lebih siswanya hanyalah orang-orang berintelejen menengah dan menengah ke bawah bisa mendapatkan nilai di atas 90 di materi ujian yang sangat sulit untuk mereka kerjakan itu?”
Ozuki terdiam. Langkahnya yang tadi stabil perlahan melamban karena pertanyaan Habara itu. Dia memegang kepalanya, dan memejamkan mata sambil memikirkan soal kejadian waktu melihat hasil UTS mereka kemarin.

Memang ada yang ganjil dari hasil itu. Seharusnya tidak ada satu pun siswa yang bisa dibilang cukup untuk mendapat nilai 90 pada ujian matematika selain Ozuki dan dua orang tadi. Tapi kenyataannya melenceng jauh. Seluruh siswa di kelas itu mendapat nilai 90 sampai 90 ke atas. Bahkan juga seorang siswa terbodoh bernama Oshima. Dia yang terbodoh malahan mendapat nilai 98 di ujian itu. Nilai ujian tertinggi kedua.

Bisa dibilang mustahil jika ada siswa yang bahkan tidak bisa mengetahui bagaimana caranya menghitung materi matematika SD kelas 5 malah bisa mendapat nilai tertinggi kedua setelah Ozuki yang mendapat 100. Jika itu Ozuki, memang tidak heran. Dia adalah murid jenius, dan kemampuannya sudah terbukti. Namun untuk siswa lain, apalagi Oshima yang bahkan tidak pernah mendapat 50 dalam ulangan matematikanya, nilai 90 itu bukanlah kata yang bisa disebut ‘normal’.

“Jadi, Ozuki-kun. Apa kamu punya penjelasan tertentu? Soalnya, jika kita pikir-pikir lagi, tidak mungkin kan tiba-tiba saja seluruh kelas bisa dapat nilai tinggi di pelajaran tersulit yang bahkan mereka tidak pernah ingin coba pelajari. Selain itu, Oshima-kun yang terbodoh malah bisa dapat 98. Tidak mungkin, kan.”
“Kemungkinan itu selalu ada. Tapi jarang terjadi. Ya, tapi tidak ada satu pun yang mempermasalahkan hal itu sama sekali. Semua orang malah merasa bangga karena hasil yang mereka sebut-sebut sebagai buah dari belajar keras mereka sebelum ujian itu. Membahagiakan. Aku tidak mempermasalahkannya juga. Apa menurut Habara-san itu memang sungguh aneh?” Suara Ozuki datar bertanya balik.

“Ya. Tentu saja. Soalnya tidak mungkin, kan. Selain itu, entah kenapa aku seperti mencium bau kecurangan pada hasil ujian itu. Soalnya hanya nilai matematika saja yang tinggi. Namun pada pelajaran lain, skor mereka sama seperti biasa. Apa menurut Ozuki-kun mereka tidak berkomplot akan sesuatu? Soalnya kalau mereka memang sungguhan belajar, kan setidaknya nilai lain juga meningkat.”
“Maksud Habara-san ada yang mencuri kunci jawaban soal, ya?”
Habara mengangguk dengan ekspresi tidak sabarannya.

Ozuki melangkah lebih cepat dari sebelumnya. Kakinya kini mulai merasa sangat tertarik dengan apa yang Habara katakan. Tanpa sadar, mereka sudah tiba di loker sepatu. Ozuki membuka lokernya, dan menggapai uwabaki-nya. Habara juga melakukan hal yang sama. Saat membuka loker sepatunya, Habara melanjutkan pertanyaannya lagi.
“Apa menurut Ozuki-kun memang ada yang membocorkan kunci jawaban ujiannya?”

Ozuki mengeluarkan sepatunya dan mengenakan sepatunya, lalu uwabaki-nya dia masukan ke dalam loker. Setelah memakai sepatunya, Ozuki memandang lekat Habara yang sedang memegang sepatu dan uwabaki-nya di kedua tangannya. Ozuki menyandarkan tubuhnya pada loker dan mulai bertanya balik.
“Habara-san, aku tidak berpikir ada yang mencuri informasi tentang kunci jawaban soal ujian itu. Tapi jika Habara-san berpikir demikian, aku tidak akan menentangnya. Hanya saja, kalau Habara-san memang menganggap semua hasil yang didapat teman-teman sekelas kita itu adalah hasil dari pencurian kunci jawaban, apa Habara-san bisa pikirkan, siapa kira-kira yang layak untuk dijadikan pelakunya?”

“Hmm…” Habara memeluk tubunya, sembari melihat ke atas, berpikir. “Mungkin saja… Oshima-kun. Soalnya dia yang dapat nilai tertinggi kedua, kan. Selain itu karena nilainya tertinggi kedua, sudah jelas ada bagian soal yang tidak diketahui teman-teman lain jawabannya. Dan itu yang membuat Oshima-kun bisa dapatkan nilai tertinggi kedua.”
“Masuk akal. Tapi kalau Oshima-kun yang mencuri kunci jawaban soal ujian itu, lantas kenapa dia tidak mencatat semua jawabannya saja. Bukankah dengan begitu dia bisa dapat nilai sempurna.” Ozuki menambahkan.

“Ya… Bagaimana ya. Mungkin waktu itu dia tidak sempat mencatat jawaban terakhir karena takut ketahuan kalau dia sedang mencuri jawaban soal di kantor guru. Makannya dia meninggalkan ruangan secepat mungkin. Atau, karena dia tidak ingin terlihat terlalu perfect, makannya dia menyalahkan satu soal. Itulah kenapa dia hanya dapat 98.”
“Ku rasa itu bisa dijadikan acuan. Hanya saja, jika ada yang mencuri jawaban soal di ruang guru, sudah jelas orang itu punya akses masuk yang sangat lancar, kan. Mereka memang bisa masuk mudah ke sekolah dengan memanjat pagar, dan menghindari penjaga malam.”

“Tapi kalau untuk masuk ke ruang guru, bukankah mereka butuh kunci ruangan itu. Jika artinya mereka mendapatkan kunci untuk masuk ke ruang guru, artinya tidak perlu takut dengan apapun, kan. Selagi mereka tidak bersuara, artinya mereka aman. Jadi, Oshima-kun tidak mencuri jawaban dari soal ujian itu.”
Habara menelengkan kepala. Bingung dengan apa yang Ozuki katakan. “Aku tidak mengerti. Lalu bagaimana Oshima-kun bisa dapat nilai tinggi kedua setelah Ozuki-kun kalau bukan dia yang mencuri kunci jawaban soal. Malah mengalahkan nilaiku dan nilai Fukuda-san juga?”
“Kalau itu mungkin karena dia menebak jawaban sisa dengan tepat.”

“Menebak?” Habara makin terlihat bingung.
“Soal ujian kita kan pilihan ganda. Ada 50 soal. 70% siswa selain kita mendapat nilai sama, yaitu 90, lalu Oshima-kun 98. Sedangkan aku 100, Fukuda-san 94, dan Habara-san 96. Lalu beberapa siswa mendapat nilai 92 sampai 94. Artinya, ada sekitar 20% lebih siswa yang beruntung karena menjawab benar pada pertanyaan di soal ujian itu.”
“Aku masih belum mengerti.” Habara tersenyum malu.

“Jika itu artinya 70% dari seluruh siswa mendapat nilai 90, artinya jawaban yang mereka telah ketahui dari soal tersebut hanya dibatasi sebanyak 45 soal saja. Karena itu kebanyakan dari teman sekelas kita mendapat nilai 90. Mereka yang melebihi 90 adalah siswa yang berhasil menebak benar 5 soal yang tidak diberi jawabannya. Karena itu tidak heran kalau Oshima-kun bisa dapat 98. Karena dia berhasil menebak 4 soal yang tidak diketahui jawabannya itu dengan benar.”
“Begitu ya. Tapi, kalau itu artinya bukan siswa, lalu siapa yang memberikan mereka jawaban soal ujiannya. Selain itu, tidak terlihat kesamaan sama sekali dari tiap kertas ujian kita. Beberapa jawabannya berbeda kan.”

“Ya. Hanya ada 5 nomor saja yang diacak berbeda dari penentuan jawaban benarnya. Karena ‘orang yang membocorkan jawaban’ tidak ingin kejahatannya tercium oleh siapa pun di luar sekongkol mereka, dia mengacak jawaban yang dia berikan pada tiap siswa dengan tiap nomor yang berbeda pada setiap siswa. Seingatku, hanya ada satu orang saja yang mungkin bisa melakukan semua itu.”
“Siapa?”
“Menurut Habara-san siapa.”

Habara sekali lagi menelengkan kepalanya. Dia berpikir dalam sembari mencoba menemukan jawaban dari pertanyaannya itu. Ada yang mengacak jawaban dari tiap siswa berbeda dan menentukan kalau semua nilai mereka paling rendah adalah 90. Jika itu murid, kemungkinan itu tidak mustahil sebenarnya. Tapi seperti yang Ozuki katakan tadi. Tidak ada murid yang mencuri jawaban ujian di ruang guru. Dan tentu saja, tidak akan ada yang melakukannya karena mereka tidak begitu peduli pada hasil UTS.

“Guru.. matematika kita, ya? Apa mungkin?” Habara menebak.
Ozuki menatap telak mata ragu-ragu Habara itu. Dia menemukan jawaban dari pertanyaannya itu sendiri.
“Ya. Guru matematika kita yang memberikan jawaban pada para murid. Kazakawa-sensei.”
“Tapi kenapa? Ini kan cuma UTS, lalu kenapa Kazakawa-sensei mau memberi jawaban dari soal ujian itu pada kelas kita?”

“Kazakawa-sensei adalah guru yang sangat mementingkan citra dari pada kualitas. Untuk guru yang semacam dia, jelas saja itu tidak mengherankan. Apalagi mengingat kalau Kazakawa-sensei akan segera pindah mengajar ke sekolah lain yang lebih elit setelah UTS berakhir. Karena itu dia mencoba untuk memecahkan suasana kepergiannya dengan hasil besar. Yaitu dengan memperlihatkan pada sekolah kita dan sekolah yang ingin dia tuju itu hasil ujian itu. Ku rasa semuanya juga dimaksudkan untuk menaikkan citranya di pandangan sekolah barunya itu. Karena itu dia memberikan jawaban soal ujian pada para siswa.”

“Begitu ya… Ku rasa kalau semua itu dia lakukan, artinya kondisi Kazakawa-sensei sebagai guru pindahan akan semakin populer karena dia berhasil menaikkan nilai ujian siswanya yang terbilang menengah itu ke hasil yang sangat tinggi. Kazakawa-sensei melakukan semua itu bukan untuk siapa-siapa, tapi hanya untuk dirinya ya. Dengan berita itu karirnya akan makin melunjak.”
“Ya. Seperti itulah kira-kira.”
“Hm… Aku mengerti. Alasan kenapa kita tidak dimasukkan dalam persekongkolan mereka, karena Kazakawa-sensei takut kalau kita akan melaporkan rencananya itu ya. Harusnya aku menyadarinya sejak dulu.”

“Yah, tidak usah dipikirkan. Setidaknya semua ini sudah berakhir, kan. Kazakawa-sensei sudah tidak mengajar di sekolah ini lagi. Berharap sajalah kita tidak dapat guru yang hanya mementingkan diri sendiri semacam itu lagi, dan mendapatkan guru yang lebih peduli pada kualitas mendidiknya untuk memajukan para siswa ke arah masa depan positif.”
Habara mengangguk sambil tersenyum oleh jawaban Ozuki itu.

“Ayo pulang.” Ozuki membalikkan tubuhnya berjalan ke arah pintu ke luar.
“Tu-Tunggu, Ozuki-kun!”
Habara yang belum mengganti sepatunya lekas-lekas memasukkan uwabaki-nya ke dalam loker. Lalu dengan cepatnya dia memasang sepatunya, dan mengejar Ozuki yang sudah berada di luar. Mereka pun melangkah pulang ke rumah yang sebenarnya searah. Satu misteri lagi dipecahkan, oleh Ozuki Shintarou.

“Kamu memang menyenangkan untuk diajak bicara ya, Ozuki-kun.”

The End

Cerpen Karangan: Faz Bar
Facebook: Fazbar Al Falah

Cerpen Nilai 90 Yang Tidak Lazim merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Missing (Part 1)

Oleh:
Hari ini saat mentari bersinar sembunyi-sembunyi. Awan pekat kehitaman mendominasi langit pagi. Namun sepekat apapun langit, hari ini tetaplah hari ini. Hari dimana semua yang kami perjuangkan selama dua

Misteri Hotel berhantu

Oleh:
Dina, Tiara, dan Fani berjalan menuju sebuah Hotel yang tak lagi dipakai. Mereka penasaran dengan hotel itu. Kemarin, ketika mereka pulang sekolah. mereka sempat mendengar pembincangan tetangga kami. Kata

Telepon dari Tuhan

Oleh:
Setelah melakukan absen di mesin ‘prik’, aku langsung menuju ruang kerjaku. Di sana, seperti biasa rekan-rekan kerja yang lain sudah lebih dulu berangkat, sudah pada ngumpul. Dan seperti biasa

Pencurian Di Sekolah

Oleh:
Lagi, lagi dan lagi. Belakangan ini sering terjadi pencurian di sekolahku. Kebanyakan korbannya adalah mereka yang tidak mau menaati peraturan sekolah. Barang yang dicuri biasanya adalah handphone milik siswa

Antara Mereka

Oleh:
“Tempat apa ini?” tanyaku dalam hati, aku bingung, dimana ini? Tempat ini seperti sebuah bangkai kapal. Namun… kapal siapa ini? Suatu suara terdengar, suara ini seperti… seperti, suara langkah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *