Ohh Ternyata Kamu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Misteri, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 11 May 2018

“Woy.. Lagi mikirin apa sih kamu?” tanya sahabatku Riana. saat melihatku hanya terdiam seribu bahasa sendiri pula.
“Seseorang” Tak kusadari kata ini terlontar begitu saja dari bibirku, yang akan membuat nasalah untuk diriku sendiri.
“Ha? Seseorang? Siapa? Baru kali ini lihat kamu kaya gini? Lagi jatuh cinta ya?” nahh kan bener, ini masalahnya sebrondong pertanyaan itu keluar dari bibir lemes sahabatku ini. Ya riana adalah anak super duper kepooo karena itu aku menjulukinya ms. kepo makannya aku gak pernah cerita rahasiaku ke dia. Termasuk rahasia yang satu ini, benar yang dikatakan riana tadi, aku sepertinya memang sedang jatuh cinta pada seseorang (laki-laki) ya tentunya, namanya dimas, masih satu kelas denganku. Anaknya yang ramah, sopan, pintar, pokoknya plus plus lah. Apalagi senyumnya yang manis itu, ngelebihin manisnya gula. #idiihh kok aku jadi lebay gini ya? Ya udahlah maklumin aja namanya juga orang lagi jatuh cinta.

Basa basi terus, kapan perkenalan dirinya? Hehe. Seperti yang udah terpampang di atas tadi, hehe. Aku suka laki-laki. Otomatis udah tau dong kalau aku perempuan? Ya namaku olivia shellin adisty sebut saja oliv. Aku siswi kelas 9 yang sekolah di salah satu SMP negeri di kotaku ini.

“Hey liv, jawab aku kamu lagi jatuh cinta ya?” tanya riana dengan ciri khas keponya itu
“Apaan sih na.. Gak usah kepo deh” jawabku sedikit ketus
“Masa sama sahabat gitu sih, ayo dong kasih tau” pinta riana dengan raut wajah memelas. Namun tak kubalas pinta riana ketika seseorang melewati pintu masuk ke ruang yang sama denganku. Ya kelas kita, dengan mengenakan jaket coklat dan tas hitam di punggungnya, dia tersenyum padaku OMG ‘tampan sekali cowok yang satu ini’ pujiku dalam hati

“Woy.. Dari tadi aku perhatiin mandangin dimas terus. Jangan.. Jangan..” tuduh si ms. Kepo
“Apaan sih kamu na, udahh sana” aku mendorong riana ke habitatnya (tempat duduknya) mencoba mengelak, karena aku merasa pipiku ini sudah seperti udang rebus karena malu.
“Cie cie oliv, liat tuh pipi kamu, uhhh merah banget. Ahahaha” ledek riana
Aku hanya diam tak menanggapi riana. Namun moodku jadi lebih drop lagi saat cowok yang satu ini berangkat. Ridho namanya teman sebangkuku. Iya aku sebangku dengannya karena wali kelasku yang mengaturnya.

“He kenapa baru berangkat? Udah telat tau” ketusku pada ridho yang baru menginjakan kakinya di dalam kelas
“Bukan urusan kamu” jawabnya singkat. Itulah yang membuatku gak suka sama dia orangnya cuek, sok, sering menyendiri gitu, tapi kalau pinter sihh dia juara satu di kelas ini. Tapi tetep aja aku gak suka sama sifatnya.
“Ihh ditanya jawabnya gitu amat, huhh” jawabku kesal.

KBM hari ini terasa begitu cepat. Bel pulang pun telah berdentang siswa siswi pun berhamburan keluar dengan gembiranya bak burung yang dilepaskan dari kandangnya. Aku pun pulang bersama riana karena arah rumah kita sama meskipun aku lebih jauh, kira kira 50 meter lah. Jauh ya? Emang. Tapi saat di depan gerbang, riana sudah dijemput oleh ayahnya, karena ada acara keluarga katanya.
“Yahh pulang sendiri deh kamu liv, maaf ya? Tunggu aja si dimas suruh anterin kamu haha, ya udah bayy”
“Apaan sih kamu, udah sana sana” aku pun menunggu angkutan umum di depan gerbang cukup lama, namun tak kunjung datang.

“Oliv” suara itu mengagetkanku dari belakang.
“Dimas? Ya ada apa?” jawabku dengan jantung berdegub sangat kencang, aku sangat grogi di depannya, aku sangat gugup berhadapan dengannya. ‘Oh tuhan sungguh menawan yang kau ciptakan ini’ batinku
“Nunggu angkut? Sama aku aja yuk? Aku anteri kok” tawarnya padaku, yang membuatku tak percaya. Dia mengajakku? Benarkah ini? Aku pun mencubit diriku sendiri, tapi aww, bukan ini bukan mimpi ini nyata, betapa bahagianya aku saat ini, wow aku bagai terbang jauh ke angkasa. Lebay, ya memang biarlahh yang penting hati ini sangat senang.
“Hey kok diem?” lanjutnya
“Emm eeee ya u..udah deh” jawabku dengan sangat gugup. Dia pun melihatku dengan heran, biarlahh aku tak peduli dia berpikir apa.

Aku pun berboncengan dengannya. dimas, dia benar benar mengantarku sampai depan gerbang rumahku
“Makasih dim, k..kamu gak mau mampir dulu?”
“Iya sama sama, gak deh makasih, udah ya bayy”
“Bayy,” jawabku melambaikan tangan

Hari haripun kulalui bersama riana, kedekatanku dengan dimas pun semakin baik, yess. #haha seneng ceritanya.
Kita sering bercanda gurau meskipun itu hanya lewat sms tapi itu udah buatku seneng binggo. Sementara Ridho? Halahh cowok yang satu ini? Tapi Akhir akhir ini dia sedikit berubah seperti sifatnya yang gak cuek lagi, dan kebiasaan buruknya yang selalu telat kini ia tinggalkan, bahkan dia berangkat lebih awal dariku. Perubahan ini sungguh drastis.
Dimas telah memberiku harapan yang begitu besar, dengan perhatiannya, dan kata kata yang ia lontarkan dari bibiirnya itu bisa melelehkan hatiku.

Bersamaan dengan kedekatanku dengan dimas, saat itu juga sering bahkan hampir setiap pagi ku mendapatkan surat cinta di bangku kelasku setiap berangkat sekolah

“Hey Ridho, kamu tau gak sih yang ngasih surat ini?”
“Enggak, waktu aku berangkat udah ada di situ, aku juga gak berani baca” jawabnya tak cuek lagi padaku
“Ohh ya udah” aku pun mengalihkan perhatianku lagi pada kertas merah jambu itu, yang berisi ungkapan isi hati, namun aku bingung siapa sebenarnya pengirim surat ini, dan pikianku tertuju pada satu nama, Dimas ‘apakah dimas? Aku kan sudah sangat dekat dengannya’ ucapku dalam hati dengan sangat PDnya

“Mungkin itu penggemar kamu” ucap Ridho, tak biasanya mengawali pembicaraan. Tapi dia salut melihat ridho yang sekarang. Ridho yang begitu sopan dan tak mengabaikan orang lagi.
“Iya nihh baca dehh” sejak kejadian itu aku dan ridho menjadi dekat, aku pun merasa ada yang aneh dari sifatnya padaku. Tapi ya sudahlahh

Hari demi hari surat itu selalu kudapat, sampai berpuluh puluh sekarang
“Lihat deh na, banyak banget surat yang kudapat” ucapku pada riana sambil menyodorkan surat surat itu
“Wuidihhh kamu dapet surat cinta sebanyak ini? Kamu kira ini dari siapa?”
“Entahlahh”
“Selama ini kamu dekat dengan siapa?”
“Emm dimas” upss keceplosan
“Ohhhhh ya kan ketawan, ahaha. Terus kamu udah ngutarain perasaan kamu?”
“Belumm.. Kan..”
“Ayolahh sebelum kau menyesal nanti, ayolah”
“Tapi kann..”

“Itu dimas lewat. Dim dimas sini deh oliv mau bicara sama kamu” panggil riana tergesa
“Ihh apaan sih na..” bisikku
“Iya ada apa liv?” tanya dimas mendekat
“Ya udah aku kekelas dulu” ucap riana segera meninggalkan kita berdua hanya aku dan dimas
Aku begitu sangat bingung, bagaimana kuawali pembicaraan ini? Bagaimana ku mengutarakannya? Aduhhh aku sungguh Geganaaa.. Hehe.

“Iya ada apa liv? Katanya mau ngomong?”
“Emm anu dim.. Anu..”
“Iya apa?”
“A..a aku suka k kamu” ku hanya bisa menundukkan wajahku, ku mengutarakan dengan terbata bata dan pipiku berubah warna layaknya bunglon. Aku malu benar benar malu. Tapi ini memang harus kulakukan.
“Tapi oliv.. Maaf aku sudah punya kekasih, dia adik kelas kita” jlep bak dia menusukan samurai ke dadaku, sesak, sangat sesak dada ini dan sakit sekali rasanya.
“Sekali lagi aku minta maaf, aku sudah menganggapmu sebagai keluargaku, ya adikku tak lebih, bukankah itu lebih baik?” jawabnya santai.
“Lalu surat surat ini? Apakah kau yang mengirimnya?” tanyaku tak bisa membendung air mata yang sedari tadi memberontak ingin keluar
“Surat? Surat apa aku tak pernah mengirim surat untukmu, oliv.. Kumohon jangan menangis, kau adikku..”
“Jadi ini bukan darimu? Lantas dari siapa surat ini?”
“benarkan, ada yang mencintamu dengan tulus, cari tau siapa pria itu, aku percaya kau kan bahagia bersamanya”.

Sejak kejadian itu, aku jadi anak yang sangat pendiam. Dikelaspun ku tak bicara apapun, riana sudah pasrah untuk membujukku, dimas pun merasa bersalah atas semuanya. Tapi kini ku sadar semua sudah ditentukan, aku pun perlahan melupakan dimas sebagai orang yang kucinta tapi hanya sebatas sahabat. Surat itu pun masih menjadi misteri.

“Duhh ridho? Masa kamu gak tau sih surat ini dari siapa? Kan kamu berangkat pagi”
“Aku bener bener gak tau ool..” jawabnya sambil mencubit pipiku. Deg, kenapa tiba tiba aku ngerasa ada yang beda ya? Ada apa nih?
“Ihh apaan sih, kamu tadi panggil aku apa ool? Awas ya kamu” aku pun mencubiti ridho dan menggelitikinya sampai dia terlihat sangat lemas, entah mengapa aku merasa nyaman dekat dengan ridho.
“Udahh udah lemes akunya..”
“Makannya huuu” aku dan ridho sekilas bertatap mata membuat baik aku maupun ridho salting, kami pun buang muka bersamaan

“Aku besok harus berangkat paling awal” rencanaku untuk bisa mengetahui si pengirim surat itu. Kemudian aku pun terlelap tidur

“Ohh belum ada yang datang, surat juga belum ada, aku harus ngumpet nih” Gumamku sesampainya di kelas
Tiba tiba terdengar suara langkah kaki menuju kekelasku, kulihat dia menuju tempat dudukku. Aku pun keluar dari persembunyianku.
“Hayooo ketauan kamu, siapa sih kamu?” tanyaku karena ku melihatnya dari belakang tak melihat wajahnya, dia hanya diam seribu bahasa tak berkata apapun. Lalu aku berlari kecil kearahnya dan siapa yang kulihat? OMG

“Ridho? Jadi..” ucapku kaget sekaligus terpotong
“Iya aku orangnya, aku sebenernya suka sama kamu, sejak kita pertama kali duduk di kelas ini, aku tak apa jika kau tak suka” ucapnya dengan wajah tertunduk lalu aku pun mengangkat dagunya dan meluruskan pandangannya
“Kau tau dho? Sepertinya aku juga suka sama kamu”
“Benarkah?” ku hanya bisa membalas dengan anggukan
“Jadi, maukah kau menjadi pacarku?”
“Iya aku mau” jawabku dengan malu malu dan pipiku seperti biasa
“Terima kasih ool..” ridho mencubit pipiku dengan ekspresi sanga sumringah terlihat jelas di wajahnya
“Ohh TERNYATA KAMU?”
“Ahahaha” kami pun tertawa bersama dipagi ini tak menyangka kejadian yang baru saja terjadi.

Selesai

Cerpen Karangan: Riskia Nadifa
Facebook: Riskia Nadifaa

Cerpen Ohh Ternyata Kamu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


OCBC Skyway (Part 1)

Oleh:
Senja telah memayungi langit kota Semarang, terlihat gadis berpakaian putih biru sedang menyusuri jalan dengan begitu malasnya. Gadis itu berjalan sambil memukuli kepalanya menggunakan genggaman tangan halusnya. Namanya adalah

28 Maret

Oleh:
Aku memang hanyalah seorang cowok yang tak bernyali besar untuk menatap matamu. Melihat wajahmu. Merasakan keindahan yang terpancar dari dirimu saat ini. Dan di sini, aku hanya bisa memandangi

Rahasia Dibalik Tatap

Oleh:
Berulang kali aku mencoba untuk menulis sesuatu yang aku harapkan dapat memotivasi seorang yang akan membacanya dengan kisah-kisah menarik yang sebenarnya aku jumpai di keseharianku. Namun, selalu saja gagal

Cinta Itu Kesetiaan

Oleh:
“Ya ampun. Kok hari ini tugasnya makalah semua. Jadi ribet ini bawanya.” Talitha menggerutu di sepanjang perjalanan menuju perpustakaan. Sesekali Ia membenahi letak tumpukan makalah di tangan kirinya. Tak

Puisi Misterius

Oleh:
Namaku Citra, aku masih duduk di bangku kelas dua sekolah menengah atas. Sekolahku sangat besar dan terkenal, aku merasa nyaman di sini. Tetapi belakangan ini ada sesuatu yang selalu

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Ohh Ternyata Kamu”

  1. Dinbel says:

    Keren, lucu. Good job

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *