Orang Gila dan Sebuah Nama

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 29 April 2013

Sering aku memilih untuk tersenyum dan tidak menangis, sebenarnya hanya karena aku tak dapat menjelaskan mengapa aku ingin menangis. Tak jarang aku memilih untuk diam dan tak bercerita, hanya karena aku tak yakin kalau masih ada alasan bagiku untuk dapat sekedar berbisik meski hanya dalam hati. Kadang aku bertanya dalam hati, mestikah deretan alasan menyertai tiap sikap dan tindakan? Haruskah kujelaskan semua yang telah, sedang dan hendak kulakukan dengan alasan-alasan tertentu?
Hari ini, aku ingin melakukan apa yang sunguh menjadi dorongam hatiku. Tak lebih. Tanpa mesti memberi penjelasan mengapa kulakukan hal tersebut.

Diam-diam aku pergi membuka ruang kosong itu lagi. Awalnya agak sulit, sebab kunci pintunya sudah mulai berkarat. Beberapa kali kucoba, namun selalu gagal. Pintu itu baru terbuka ketika aku sedikit menggunakan kekuatanku. Dari pintu yang telah terbuka, samar-samar, cahaya merambat masuk ke dalam ruang kosong itu. Sedang dari dalam, udara pengap bercampur debu menyembul ke luar menerpa tubuhku. Aku sedikit ragu untuk masuk ke dalam ruang itu.

Kurang ajar! Tiba-tiba saja kawanan kelelawar melesat keluar dari dalam ruangan. Jantungku berdetak kencang. Bunyi kepakannya bergaung di sepanjang koridor. Aku menunggu, kalau-kalau masih ada kawanan kelelawar yang menyusul keluar.
Tidak ada. Kuayunkan langkah masuk ke dalam ruang kosong itu.

Walau tak begitu percaya diri, aku terus masuk semakin ke dalam. Udara lembab menyambutku. Aku membisu, pasrah pada apa yang bakal terjadi. Kulayangkan pandangan sejauh yang dapat kujangkau. Dengan perhatian lebih, kujejaki tiap-tiap sisi dan sudut ruang kosong itu. Mataku terus mengawasi keadaan di sekitarku. Ruang kosong itu masih sama seperti ketika kutinggalkan dulu. Hanya saja kini begitu lambab, pengap dan berdebu. Di sudut-sudutnya pun telah bersarang laba-laba dan serangga-serangga lainnya. Beberapa serangga terbang, mungkin ketakutan mengetahui kedatanganku. Namun itu justru membuat jantungku berdetak semakin kencang. Aku makin cemas.

Sampailah aku di tengah ruang kosong itu. Kupejamkan mata, coba menenangkan batin. Kucoba nikmati detik demi detik dalam hening dan tanpa pikiran. Kosong. Lama kelamaan aku mulai merasa seperti ada kepakan sayap di sekelilingku. Mula-mula satu kepakan, lalu dua kepakan, kemudian tiga… enam… sepuluh… semakin banyak, hingga aku sendiri tak tahu berapa persisnya. Yang kutahu hanyalah, aku sungguh merasakan sayap-sayap itu beterbangan mengitariku. Terasa begitu dekat, bahkan beberapa kali seperti menyentuh kulitku. Begitu nyata.

Semakin lama, kepakan sayap-sayap itu bahkan mampu membangkitkan hawa yang tak biasa; hawa dingin, namun menenangkan. Hawa kenangan yang beterbangan. Kuhirup hawa itu. Satu per satu kenangan yang telah lama terkubur bangkit lagi.
Hari ini, di antara kepak sayap-sayap itu, kurasakan jarak hatiku begitu dekat dengan satu-satunya alasan untuk menangis dan tertawa, juga untuk sekedar tersenyum. Dalam hawa kenangan itu, terasa jiwaku begitu lekat dengan satu-satunya alasan untuk bercerita tentang segala sesuatu, sekaligus diam membisu, juga untuk sekedar berbisik dalam hati.

Alasan itu ada di ruang kosong itu…!
Kubuka mataku. Ku cari di sekelilingku.
Ke jendela, aku berlari. Kusibakkan tirainya. Sekejap, sinar mentari berhamburan masuk memenuhi ruang kosong itu. Debu beterbangan tak terhindarkan. Cepat-cepat, dengan lengan kulindungi mataku dari sinar mentari yang menyilaukan serta debu yang beterbangan. Pandanganku sedikit kabur. Baru setelah beberapa saat, aku dapat melihat kembali dengan jelas.
Ternyata masih ada. Masih seperti yang dulu. Alasan itu masih tertulis di sana, di jendela kaca yang berdebu. Aku terpana memandangnya. Sekonyong-konyong, kenangan tentang dia muncul kembali, beterbangan mengitari diriku. Aku diam tertegun.

Hari ini, sebelum beranjak pergi, dengan telunjukku kuperjelas lagi tulisan pada jendela kaca berdebu itu. Kuputuskan untuk tidak menutup tirai jendela, agar suatu saat nanti, jika kukembali lagi, alasan itulah yang pertama kutemukan.

Pada jendela kaca yang berdebu, ada tertulis namanya.

Cerpen Karangan: Oan Wutun
Facebook: oan wutun
bagi yang sempat baca, mohon koreksi untuk cerpenku yang satu ini…

Cerpen Orang Gila dan Sebuah Nama merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cincin Giok Biru

Oleh:
Matahari terlihat malu-malu menampakkan sinarnya dari ufuk timur. Menandakan hari masih pagi buta. Seorang dara belia nampak sedang melipat selimut dan membereskan tempat tidurnya. Namanya adalah Arni, gadis muda

Musik Tengah Malam

Oleh:
Musik piano yang membuatku terjaga di tengah malam kembali terdengar. Sudah beberapa hari ini rumahku menjadi horor karena alunan musik tersebut. Alunan musik yang entah dari mana datangnya membuatku

Dactylogram

Oleh:
Aku termenung melihat hasil forensik berupa sidik jari yang sedang aku pegang saat ini. Sidik jari ini merupakan sidik jari paling unik menurutku. Kau tahu mengapa aku memegang kertas

Manusia Manusia Gunung (Part 2)

Oleh:
Dyllan benar-benar pahlawan penyelamat. Dia tiba di halamanku tepat ketika aku melangkah pergi. “Ayo, jalan-jalan lagi.” Ajakku. Aku berjalan dengan langkah cepat mendahului Dyllan dan sepedanya. Aku yakin Dyllan

Seikat Mawar

Oleh:
Aku menatapnya kagum. Dave, lelaki yang ku kenal pendiam itu ternyata mahir memainkan sebuah lagu River flows in you. Jari-jarinya menari dengan lincah di atas tuts-tuts piano memainkan mahakarya

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *