Pacarku Seorang Psikopat Cantik (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Misteri, Cerpen Remaja, Cerpen Thriller (Aksi)
Lolos moderasi pada: 4 August 2017

Hmm, jadi begini ceritanya.
Dua hari lalu, seorang cewek di kelasku yang namanya Rena melompat dari lantai atap gedung sekolah kami. Di bawah, dia ditemukan dengan banyak sayatan di lengannya, lengkap dengan sebuah pisau pendek di genggaman tangannya. Kejadian tersebut terjadi di sore hari, sekitar pukul 4 menurut perhitunganku.
Guru-guru telat mengetahui kejadian itu, baru datang ke lapangan, tempat TKP ketika beberapa murid kelasku melihat tubuh Rena tergeletak di pinggir lapangan. Polisi dan ambulans telat datang, mayat Rena sudah terlebih dahulu dikerubungi oleh banyak siswa yang belum sekolah -mayoritas cowok tentunya- sebelum ia sempat diperiksa polisi dan diangkut ke rumah sakit.

Esoknya, sekolah hanya berlangsung setengah hari, atau lebih tepatnya hanya sampai istirahat pertama. Pada istirahat pertama, terjadi kejadian yang lebih hebat –menurutku- dibanding kejadian sebelumnya. Kali ini, pacar Rena, Elmo, melompat -tapi aku lebih suka bilang didorong- dari lantai atap sekolah kami dan jatuh di tempat yang sama di tempat mayat Rena terletak sebelumnya, hanya saja, ketika ditemukan oleh para guru -yang langsung menutupi TKP agar para siswa tidak melihat kondisi Elmo dan menyebarkan gosip-gosip sampah -katanya Elmo sudah tidak memiliki bola mata. Dan aku, Taslim Tedji ini, bersama beberapa teman serta guru menyaksikan sendiri, sebuah toples kaca tergeletak di lantai atap, berisi dua bola mata terendam air dan darah.
Hmm, cukup menyeramkan bukan? Aku yakin ada seorang psikopat gila dibalik kedua kejadian ini!

Omong-omong kedua kejadian ini, satu SMA kami langsung diliburkan begitu Elmo ditemukan oleh guru-guru. Diliburkan sampai minggu ini selesai, berarti kami punya hari Rabu, Kamis dan Jumat waktu kosong. Meskipun begitu, kelasku, kelas asal Rena dan Elmo diwajibkan masuk bersama-sama dengan beberapa teman dekat kedua orang tersebut besok untuk diinterogasi polisi. Selain itu, kabarnya besok sore kedua temanku itu akan segera dimakamkan.

Hmm, oke, cukup ceritanya, sekarang kembali ke keadaanku saat ini. Jadi karena instingku yang agak-agak nekat, aku pergi ke sekolah, jam 8 malam bersama seorang teman, cewek, cantik, seksi, manis, rambut panjang sepinggang, mata hitam kelam. Kenapa aku membawanya dan hanya berdua? Karena dia cerdik, pintar, jago analisis meskipun dia cewek dan dia tau jalan rahasia untuk masuk ke sekolah, sebenarnya tadinya kami mengajak seorang lagi, tapi kebetulan dia tidak bisa karena keperluan mendadak tiba-tiba.
So, kami berdua masuk ke sekolah, lewat sebuah pintu kecil yang terletak di dekat gudang sekolah yang terkenal angker, aku tak pernah tau keberadaan pintu itu karena tersembunyi gedung gudang –yang tak pernah didekati siapapun karena katanya angker- dan karena tertutup sebuah beringin berbatang tebal.

Aku bersamanya melewati gerbang itu, tak ada makhluk halus atau semacamnya, tapi aku agak merinding. Mengejutkannya, sekolah kami kosong, bahkan tidak terlihat ada seorang pun menjaga koridor lantai satu, hanya saja, di lapangan sudah ada wilayah yang dibatasi garis polisi dan ditandai bentuk orang, sesuai posisi jatuh Rena dan Elmo. Tak ada yang menarik untuk dilihat di sini. Omong-omong soal sekolah yang kosong, untungnya lampu di koridor lantai satu, dua dan tiga masih menyala –beberapa- sehingga kami masih bisa melihat sesuatu, seadanya.

Kami berdua naik tanpa suara hingga ke lantai 3, lalu berjalan ke arah tangga yang menuju lantai atap sekolah,
“Tas, lu yakin kita harus ke sana? Masa sih kita harus naik? Lu ga takut?”
“Ga kok, emang lu takut?”
“Lumayan.”
“Gue yakin pasti kita bisa nemuin barang bukti ato apa gitu, terutama di koridor ini atau di atep, siapa tau ada barang jatoh gitu,” balasku sambil tersenyum, lalu melihat ke lantai. Di dekat tangga menuju lantai atap terlihat sesuatu yang berkilau, kecil, bentuknya agak bulat, seperti lonjong.
“Nah, tuh kan, apa gue bilang, nih liat gue nemuin sesuatu,” kataku sambil mengambil barang itu. Dia diam tak menjawab.
Hmm, sebuah liontin dengan rantai emas, untuk dikalungkan di leher. Aku membuka liontin itu, “Pasti ini punya pelakunya itu deh, nih liat isi..”
Lah..
Aku mendongak, “Eh, ini punya lu Van?”
Namun yang pertama kali kulihat adalah sorot matanya yang tajam, kejam dan dingin.

Taslim lari dariku. Hahaha.
Setelah dia membuka liontin ini dan menyadari apa yang terjadi aku tidak memberinya kesempatan untuk bereaksi dan langsung mendorongnya dengan keras ke tembok. Tentu saja dia berusaha menahanku, tapi, ah, dia tidak sekuat itu kok, aku masih jauh lebih kuat. Untuk memberikan efek menakutkan, aku menahan tangannya, lalu menarik tangan satunya, lalu dengan sebuah dorongan keras, membantingnya ke lantai. Tanpa ekspresi apapun, datar dengan sorot mata waspada.
“Vania?!?!”
Cuma itu kata-kata yang bisa dia keluarkan ketika melihatku membuka resleting jaketku dan mengeluarkan pisau. Menggertaknya, aku mengangkat pisau itu dan berusaha menusuknya, tentu saja sengaja agar dia bisa berkelit. Lalu, sekarang dia kabur. Hahaha. Iya, lari dariku.

Dengan berjalan santai, aku mengarah ke pintu rahasia yang sudah pasti jadi tujuan utamanya. Sampai di sana, aku melihatnya sedang berusaha menggedor dan mendobrak pintu itu, mendapati bahwa pintu itu terkunci, tidak seperti sebelumnya. Hahaha, aku ingin tertawa tapi nanti suasananya langsung berubah, jadi aku tetap mempertahankan kedataran tampangku. Begitu melihatku mendekat dengan pisau di tangan, dia langsung lari lagi, kali ini memutariku dan menuju ke arah gerbang sekolah. Sekali lagi aku berjalan santai mengikutinya.

Di sana, aku mendapatinya sedang berteriak-teriak memanggil satpam sambil berusaha membuka gerbang sekolah yang tergembok. Ah, aku ingin sekali memberitahunya kalau satpam-satpam yang ada di gerbang parkiran sekolah sedang pulas bermimpi semua karena habis minum kopi mengandung obat tidur tadi sore. Namun, sekali lagi, untuk mempertahankan kedataran ekspresiku, aku hanya memperhatikan dia yang kembali lari, menghindariku begitu aku mendekat.

Sekarang, dia lari menuju lantai dua, tak tau ke mana, tapi aku berjalan santai mengikuti arah permainan kaburnya. Tak perlu takut, Hahaha, dia tidak akan bisa keluar dari sekolah ini!
Ah, rupanya sekarang dia sudah sadar takan mampu kabur dariku, aku melihat ruang kelas kami, 11 IPS-2 terang benderang oleh nyala lampu, pasti dia ada di sana. Aku masuk dan mendapatinya sedang berdiri di ujung belakang kelas sambil melihat-lihat mading yang dibuat oleh kelas kami bertopik geografi.
Melangkah dengan lebih cepat, kudatangi dia, lalu mengangkat pisau sekali lagi dan menyerangnya. Begitu aku hendak menusuknya, dia langsung menengok ke arahku dan memandangku, pisau itu berhenti tepat beberapa senti dari lehernya.
Dia menghela nafas, lega sepertinya, “Gue tau lu ga bakal bunuh gue.”
Hahaha.
Aku tersenyum manis, lalu tertawa. Ah, menyebalkan sekali, aku jadi tidak bisa pura-pura bersikap kejam lagi deh. Gimana cara sih dia bisa yakin kalau aku tak akan membunuhnya?
Dia memandangku dengan ekspresi yang tak bisa kugambarkan, sesaat kemudian aku berbalik lalu duduk di sebuah kursi di bagian depan kelas, lalu menaruh pisauku di atas meja. Kemudian, aku menarik kursi di sebelahnya dan menepuk kursi itu, mengisyaratkan Taslim agar duduk di situ. Dan… dia pun duduk di situ tanpa ragu-ragu.

“Yakin banget gue ga bakal tusuk lu.”
“Hmm, ga tau juga, gue yakin aja.”
“Kepercayaan yang ga sia-sia, hahaha. Jadi ga bisa kejar-kejaran lagi deh.”
“Iya,” katanya sambil melirik pisau di atas meja. “Omong-omong lu hebat ya Van, bisa nyerang gue secara psikologis.”
“Hahaha, contohnya? Piso di meja ini? Hahaha.”
“Iya, gue tau lu mo nunjukin kalo misalnya sekarang gue ambil piso ini pun gue ga bakal bisa menang lawan lu kan?”
Pintar.
“Ga tau juga sih, belum dicoba juga, hahaha. Lu mau coba ga Tas?”
“Ga mau.”
Kami berdua diam sejenak. Lalu aku memulai kembali pembicaraan, “Lu ga boleh kasih tau ke siapa-siapa ya.”
“Kalo gue ga mau? Lagian lu juga ga bakal bunuh gue kan?”
Aku tersenyum, lalu menyikutnya, “Tapi bukan berarti gue ga akan berani bunuh, ehem, nyokap lu, ato bokap lu, ato ade lu ya.” Dia memucat, lalu aku melanjutkan teror yang menyenangkan ini, “Ya, lu ga mau kan liat nyokap lu terjun dari atap kantornya gitu, tanpa bola mata gitu, hahaha.”
Nafasnya mulai terengah-engah. Sekarang aku mendekatkan diri kepadanya, lalu membisikan sesuatu tepat di telinganya.
Dia menunduk lesu, aku melingkarkan tanganku ke bahunya, “Ayolah Tas, ini demi keselamatan keluarga lu juga kan?”
“Gue bisa panggil polisi.”
“Then try it. Kalo lu emang punya bakat detektif, harusnya tau kan kalo pengen nuduh seseorang butuh bukti, hahaha.”
“Gue punya liontin ini,” katanya sambil berdiri, menjauh dariku.
Aku tersenyum lagi, “Yuk pulang.”
Kami berjalan ke luar, lewat pintu tersembunyi yang kuncinya dari tadi kukantongi. Seperti saat pergi tadi, dia menyetir motorku dan aku duduk di belakang, sambil melingkarkan tanganku di pundaknya.

Seisi kelas datang ke sekolah hari ini. Aku cukup takut dengan ancamannya yang dibalut senyuman seksinya tadi malam, tapi aku yakin kalau liontin ini bisa cukup membuktikan sesuatu, dia akan ditangkap sebelum terjadi apapun yang lebih menakutkan lagi. Aku datang pertama di sekolah, seperti biasa. Sekolah sangat sepi -berhubung hanya guru-guru dan murid dari kelasku saja yang datang- dan rada angker.

Sekitar pukul 6.23, tepat lima menit sejak aku menginjakkan kakiku ke lantai kelas, Vania datang, bersama dengan Fina, serius mengobrol soal sesuatu yang segera terhenti begitu melihatku di kelas.
“Hai Taslim,” sapa Vania santai, seperti tidak terjadi apa-apa sebelumnya. Aku tak membalasnya, hanya tersenyum, lalu kembali berpikir.
Tak sampai 15 menit kemudian, setengah isi kelas sudah penuh, lalu wali kelas kami, Bu Jena masuk ke kelas dan duduk di meja guru.
“Anak-anak, hari ini kalian akan ditanyai oleh Pak Pol, jangan rusuh dan coba kalian beri tau kepada polisi mengenai yang kalian tau ya.”
“Oke Bu.” Jawab kami berbarengan. Vania terlihat santai, murah senyum seperti biasa. Senyumannya pagi ini beda dengan senyumnya tadi malam, lebih ramah dan cerah, semangat menjalani hari. Salah satu temanku yang sepertinya tertarik dengan Vania –salah satu diantara banyak yang tertarik dengan cewek cantik itu- asik mengobrol dengannya, cukup serius, sesekali dengan tawa dan candaan. Caca dan Rima, dua ratu gosip kelas kami yang centil ngumpul bareng bersama cowok-cowok yang sok membahas berbagai kemungkinan kejadian malang yang menimpa kedua teman kami itu.
“Oh iya anak-anak, jangan lupa ya nanti sore kita akan melayat kedua teman kalian di rumah duka. Ingat ya, jam 4 sore.”
“Iya Bu,” kembali seisi kelas menjawab berbarengan, tak terkecuali Vania dan Patrick yang masih asik ngobrol. Mendengar teman-temanku mencoba-coba berbagai kemungkinan kejadian membuatku kesal, terutama karena aku sudah tau siapa dibalik semua ini dan karena pelakunya juga mengancam kehidupan keluargaku –yang aman tentram dan damai- padahal tak berurusan dengannya.

Pukul 7 tepat, seluruh siswa sudah masuk, seorang polisi beserta seorang lagi berbaju hitam legam memasuki ruang kelas kami. Beberapa teman Rena dan Elmo dari kelas lain berdiri di pinggiran kelas. Hmm, aku yakin yang pakai baju hitam ini detektif polisi.
“Ya, adek-adek, perkenalkan, saya Briptu Joko Santoso dan ini Pak Indra Wirawan, beliau adalah investigator kasus ini,” jelas bapak yang berpakaian resmi polisi tersebut. “Hari ini kami ingin menanyai satu per satu kalian, di kelas sebelah, tapi sebelumnya, dari kalian semua, ada ingin bicara atau tau sesuatu?”
Refleks aku mengangkat tangan, sama seperti yang lain, Vania memperhatikanku dengan tampang penasaran. Hmm, aktingnya bagus sekali, seolah-olah benar-benar tak tau apa-apa. Sekarang aku yakin kalau dia sebenarnya adalah psikopat yang rada-rada gila, tapi cantik.
“Ya, nama adek siapa dan mau bicara apa?”
“Sa..saya Taslim Pak, saya kebetulan menemukan sebuah liontin di dekat tangga menuju lantai atap dan saya yakin…”
“Barang itu milik pelakunya?” potong Pak Indra yang sedikit menunjukkan ketertarikan. Aku makin percaya diri.
“Iya, Pak, dan ketika dibuka di dalam liontin ini ada foto dan saya yakin orang di foto ini pelakunya.”
“Sebelum saya tanya dari mana kamu dapat barang itu, memang foto siapa yang ada di dalam situ,” lanjut Briptu Joko, “Bisa tunjukkan kepada kita?”
“Bisa Pak, saya yakin orangnya ada di sini juga,” kataku dengan suara lantang, beberapa anak berdiri untuk melihat ketika aku membuka liontin itu..
Vania diam, seperti yang lain, memperhatikan dengan seksama.

Lah..
Foto di dalamnya beda. Di sana terdapat foto Rena, foto Rena ketika masih kecil. Aku yakin tidak ada yang menyentuh barang ini, kok bisa..
“Ah, Taslim banyak gaya nih, orang di dalemnya foto Rena doang,” sahut Patrick sambil menepuk-nepuk punggungku. “Yah, gue kira apa Lim, banyak gaya lu,” kata Robi yang berada di kiriku.
Belum selesai aku kaget, beberapa cewek, termasuk Vania mendatangi dan mengerubungiku.
“Mana, mana, liat dong.”
“Seriusan punya Rena?”
“Wah, lu dapet dari mana Lim?”
“Gile, serem amat lu bawa-bawa liontin orang mati.”
Namun, aku tak menggubris pernyataan semua yang berkomentar, mataku fokus ke Vania yang mendatangiku, lalu berkata dengan muka penasaran yang polos tak berdosa, “Mana Tas, gue mau liat dong.”
Tapi, mataku tidak fokus kepada apapun di sini, selain liontin berantai emas yang dipakai Vania di lehernya saat ini, benda yang tadi pagi masih ada di kantongku.

Cerpen Karangan: Bori Antonius

Cerpen Pacarku Seorang Psikopat Cantik (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Menggapai Mimpi Walau Tanpa Ayah

Oleh:
Di suatu hari ada rumah yang cukup besar yang berisi dua keluarga yaitu anak dan ibu, tidak ada sesosok ayah yang dapat menjadi kepala keluarga. Mereka berdua telah berpisah

Game Over

Oleh:
“Stoop…” Teriakan Gen membuat keributan di kelas. Anak kelas 8 itu memang suka membuat keributan di mana saja. Penyebabnya selalu sama game, game, dan game ia memang pecinta game,

Keynes (Part 1)

Oleh:
Aku pernah berpikir, apakah cinta bisa membunuhku? Bagaimana caranya ia bisa membuatku menutup kedua mata, berjalan tanpa arah dan melepaskan nyawaku untuk berkelana dalam kegelapan? Aku ingin tahu. Satu

Rasanya Cinta

Oleh:
“hey… hey… hey, semuanya dengar. Kalian udah dengar gosip hari ini?” teriak sisi saat memasuki kelas “memangnya gosip apaan, penasaran gue” tanya linda. Linda memang adalah ratu gosip di

Good Night, Miranda

Oleh:
Aku memulai hari ini dengan awal yang tak biasa. Terjatuh dari tempat tidur, terpeleset di kamar mandi, menumpahkan segelas susu di lantai dan ban sepedaku kempis. Coba tebak? Ya.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *