Pacarku Seorang Psikopat Cantik (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Misteri, Cerpen Remaja, Cerpen Thriller (Aksi)
Lolos moderasi pada: 4 August 2017

Melelahkan, aku pulang ke rumah setelah kebut-kebutan di jalan utama perumahanku dengan motorku yang super keren itu. Ah, tadi siang, polisi cukup gencar menanya-nanyai kami soal pembunuhan Rena dan Elmo, tapi ya, aku sih tidak bicara banyak ketika diinterogasi sendirian. Namun, detektif yang ada bersama Pak Pol itu memperhatikanku dengan seksama, sepertinya mengenali siapa aku. Ah, tapi biarlah, lagipula kalau dia rese kan tinggal dibunuh saja, ya kan?

“Hai Vania, gimana sekolahnya hari ini?” sahut Wendy, gadis muda, setahun lebih muda dariku, tetanggaku. Rumah di sebelah kanan rumahku dihuni oleh seorang kakek tua bernama Wilson, dia tinggal bersama cucunya yang dititipkan untuk bersekolah di Jakarta, Wendy. Aku berteman baik dengannya sejak pertama kali dia tinggal di sini, 5 tahun lalu, dia mengenalku dengan sangat baik.
“Baik Wen, lu sendiri?” tanyaku balik sambil menghampirinya yang sedang membaca buku di bangku yang terletak di taman gang kami yang cukup luas.
“Haha, gue sih fine-fine aja sejauh ini, gimana rencana lu? Berhasil? Cerita-cerita dong.”
Sembari duduk di sebelahnya, aku pun mulai bercerita, “Oh Hahaha, oke deh, jadi tadi tuh tadi Pak Pol interogasi satu-satu anak kelas gue, bawa-bawa detektif juga.”
“Terus lu ketauan atau apa gitu?”
“Ya engga lah, hahaha, mana mungkin.”
“Jadi gimana kelanjutannya? Oh iya, gimana tuh liontin lu yang kemaren dibawa Taslim? Dia keluarin?”
Aku tersenyum, “Iya dia keluarin, tapi setelah paginya gue copet dan gue tuker dengan liontin isi muka Rena, hahaha. Nih, sekarang gue udah pake liontin gue lagi,” jelasku memamerkan rantai emas di leherku.
“Terus Taslim? Hahaha, cuma diem doang tuh pasti dia. “
“Iya, terus Pak Polnya bilang, ga papa dek, saya tau kamu ingin membantu polisi, bagus sekali kamu bisa menemukan barang milik korban.”
“Kasian Taslim, lu parah banget ya gitu sama dia, sengaja-sengajain supaya dia malu.”
“Ih biarin aja, lagian bentar lagi kan… dia..” aku tersenyum nakal, Wendy pun memperhatikan dengan serius.
“Dia bentar lagi apa? Hahaha.”
“Ah, lu tau lah, itu loh. Hahaha.”
Mengerti maksudku, Wendy mengangguk-angguk mengerti lalu tertawa bersamaku.

Omong-omong soal Aku dan Wendy, rumah kami berada di kompleks rumah-rumah kecil di daerah ini. Di gang kami, gang buntu, hanya terdapat 4 rumah, 3 rumah terisi dan 1 rumah kosong yang pemiliknya hanya datang setiap 6 bulan sekali. Kebetulan sekali tetangga-tetanggaku, Wendy dengan kakeknya dan seorang cowok kuliahan anak IT yang tinggal dengan adik-adiknya di kiri rumahku merupakan orang-orang yang baik dan pengertian kepadaku.

Sembari kami tertawa-tawa di bangku taman, si anak IT, Heri Hartono, datang keluar dari rumahnya, bersama kedua adik laki-laki kembarnya yang berumur setahun dibawah Wendy. Nama adiknya itu, Feri dan Fero.
“Hai Vania, hai Wendy,” sahut Kak Heri, begitu aku memanggilnya, begitu melihat kami duduk bercanda di sana. Feri dan Fero langsung ikut-ikutan duduk di bangku yang satu lagi, sementara Kak Heri menyalakan motornya, katanya ingin pergi ke rumah temannya.
“Wah, Kak Vania baru aja pulang nih, kayaknya ada berita bagus, hahaha, diliat dari tampangnya yang senyum-senyum mulu dari tadi,” sahut Feri. “Yoi nih, ada apa sih kak?”
Wendy angkat bicara, sebelum aku sempat membuka mulut, “Dia lagi seneng soalnya berhasil mainin Taslim, si cowok detektif itu loh.”
“Oh, yang lu bilang dateng ke sekolah selalu paling pagi itu ya?” tanya Fero memastikan. Dia selalu tertarik kalau aku membicarakan soal Taslim.
Kemudian Feri melanjutkan, “Oh iya Kak, terus si Rena sama Elmo itu gimana kak? Kapan kakak ngelayat mereka?”
“Nanti sore. Hehe.”
“Kalo gitu, kita masih sempet dong Van.”
“Sempet apa Wen?”
“Bahas rencana selanjutnya, Hahaha, ya ga Fer dan Fer?”
“Iya dong, iya kan Kak Vania?” sahut mereka berdua sambil tersenyum manja ke arahku.

“Tas, plis jangan halang-halangin jalan gue. Lu tau sendiri kan nanti malah terjadi hal-hal yang ga enak.”
Tanpa mengalihkan pandanganku ke peti mati, aku diam sejenak, berpikir, nih cewek benar-benar menyeramkan dan aku benar-benar dalam keadaan terjepit, “Maksud lu?”
“Ya lu ngerti lah, lagian ini juga demi keselamatan keluarga lu Tas,” balasnya, setengah berbisik, tapi dengan nada memelas. Dasar psikopat licik! Sekarang aku mau tidak mau harus menyanggupi permintaannya.
“Hmm, nanti gue pikirin dulu deh, jangan ganggu gue sekarang.”
Sementara itu yang lain diam, mendengarkan pidato Mama Rena di kursinya masing-masing, entah kenapa aku bisa duduk di kursi paling belakang, di sebelah cewek cantik ini pula.
“Ya, gue sih ga masalah kalo lu mau mikirin, cuma gue takut aja nyokap yang sekarang lagi jemput adek lu dari tempat les tiba-tiba ketabrak mobil atau apa gitu. Lu ga mau kan?” kali ini dia menyuarakan ancaman sialan tersebut dengan nada manis yang lebih memelas dibanding sebelumnya. Hmm, sekarang dia berhasil membuat jantungku berdetak lebih cepat.
Dia memandangku dengan pandangan meminta sesuatu, seperti anak kecil minta permen pada orangtua, aku bimbang, diam memandangnya balik.
“Oke.”
“Gue bisa pegang kata-kata lu?”
“Bisa.”
“Lu bisa janji sama gue Tas?”
“Bisa.”
“Apapun yang terjadi, ga bakal gangguin gue?”
“Iya.”
“Janji?”
“Hem.”
Dia mengulurkan jari kelingkingnya, memintaku untuk mengaitkannya dengan jari kelingkingku, tanda janji. Hmm, kalau sudah begini sih aku tak punya pilihan lain.

Sepulang melayat dan menghibur keluarga kedua temanku itu –yang kebetulan dimakamkan di tempat yang sama berhubung keluarga mereka cukup dekat- aku berjalan menuju jalan raya, mencari tempat biasa angkot mengambil penumpang.
Belum sampai semenit menunggu, aku mendengar suara motor yang rada-rada berisik, bermesin 2-tak berhenti di sebelahku. Vania memberhentikan motornya, tepat di sebelah tempatku berdiri,
“Makasih Taslim,” ucapnya dengan senyuman manis nan seksi.
Aku mengangguk saja –supaya tidak diajak ngomong lebih lanjut- tanpa memperhatikannya dengan seksama.
“Mau gue anterin ga? Sini lu gue bonceng, ato lu yang bonceng gue juga ga papa.”
“Rumah gue deket.”
“Iya, makanya gue anterin, kan deket.”
“Ga bawa helm.”
“Ah, nyampe depan kompleks lu mah ga ada polisi.”
Hmm, bener juga sih. Ya sudahlah, “Oke, kalo gitu anterin ampe rumah gue juga ya.”
Vania memberiku senyum sok kesal, “Ah, dikasih ati minta jantung.”
“Biarin,” balasku tanpa berekspresi berlebihan.
Sembari Vania turun dan aku naik, duduk di depan tentunya, dia berkata kepadaku, “Tas, udah telpon nyokap lu belom? Siapa tau ada apa-apa.”
Aku langsung tegang. “Maksud lu?”
“Yah, gue ga tau, tapi coba telpon deh, kan bisa aja emang ada apa-apa.”
Sial, tampangnya serius banget, serius sok prihatin padahal aku yakin dalam hatinya dia sedang menertawakanku. Ah! Kenapa sih aku harus bermasalah dengan cewek cantik psikopat yang penuh intrik dan drama ini? Ya, memang salahku membawanya dalam penyelidikan waktu itu sih, tapi kok malah jadi begini..
“Van, gue udah janji loh,” sahutku kesal, rada marah.
Dia langsung tersenyum, seksi lagi, “Iye iye, ah lu mah ga bisa diajak bercanda, tegang dikit napa.”
Sialan, masalahnya dia bercandanya bawa-bawa nyawa orang, bukannya aku ga bisa bercanda.

Tak menggubrisnya, aku langsung memacu motor putih ninja 2-tak kesayangannya ke arah perumahanku. Hatiku berdebar-debar mempertanyakan keadaan ibu dan adikku yang masih kecil, apa mereka baik-baik saja?
Sesampainya di rumah, aku melihat bahwa mobil Kijang ibuku sudah terparkir rapi, aman, sehat walafiat. Adikku menyambutku sambil memanggil ibuku untuk keluar dari rumah. Untung saja tidak terjadi apa-apa pada mereka.
“Wah, Tas, ga ada apa-apa ya kayaknya,” bisik suara lembut dari balik pundakku.
“Hem.”
Begitu aku turun dari motor, ibuku sudah ada di luar, lalu memanggilku,
“Taslim, akhirnya kamu pulang juga nak. Eh, ada Vania juga ya. Wah,” sahutnya mendatangi kami.
Lah? Kok ibuku bisa tau Vania?
Hmm, mencurigakan, “I..iya Ma, kok mama bisa kenal Vania.”
“Kemarin sore dia ke sini, pas kamu lagi main ke rumah Rizky.”
“Halo Tante,” sahut Vania dengan gaya standar anak cewek bertemu calon mertuanya. Eh, maksudku, bertemu orangtua temannya.
“Ayo-ayo Vania masuk dulu aja.’
Yang lebih mengerikan lagi, adik perempuanku yang masih SD kelas 4 juga menyapa cewek psikopat ini, “Halo Kak Vania, kita main lagi ya hari ini! Kemaren aku udah selesain yang bagian itu loh kak.”

Akhir pekan berlangsung dengan tenang dan menyenangkan, aku menyusun rencana bersama ketiga teman dekat sekaligus tetanggaku, bahkan kadang Kak Heri ikut membantuku.
Beberapa kali aku main ke rumah Taslim, dan setiap kali aku datang, ia tidak menunjukkan tampang ramah kepadaku, padahal ibunya dan adiknya menyambutku layaknya tamu kehormatan.

“Kayaknya nyokapnya Taslim udah seneng sama gue, Hahaha.”
“Iyalah, Kakak kan cantik, baik lagi, pasti nyokapnya seneng.”
“Ah, bisa aja kamu Fero. Eh Wen, kita malem ini bisa ke toko piso ga?”
“Eh? Bisa sih, emang kenapa? Lu butuh beli lagi?”
“Emang Kakak mau motong apa lagi?”
“Haha, kakak mau motong tangan kamu Feri, Hahaha. Gue butuh buat bikin itu loh Wen.”
“Oh, pantesan. Boleh deh, nanti ya, tuh kayaknya kakek gue juga butuh gunting rumput yang baru Hehe.”

Aku dan Wendy mempersiapkan segalanya untuk menjalankan rencana selanjutnya, di taman, bersama Fero dan Feri, kami selalu ngobrol-ngobrol soal kegiatan yang harus kulakukan. Aku tinggal sendiri, tak ada yang menemani, jadi keberadaan mereka yang mengerti aku benar-benar membuatku senang, tapi aku akan lebih senang lagi kalau rencana yang kali ini terpenuhi.

Hari Senin tiba, saatnya menjalankan rencana. Hahaha. Ah, aku yakin ini akan sangat mengasikan. Tentunya polisi sudah menyelidiki kasus keren yang kubuat dan seperti yang sudah direncanakan sebelumnya, salah satu guru kami, Pak Minto, ditangkap karena melakukan pembunuhan yang disengaja terhadap kedua muridnya sendiri. Ah, aku kasihan kepadanya, tapi mau bagaimana lagi kalau bukti-bukti yang ditemukan polisi ternyata memberatkannya? Hahaha.

“Taslim,” dengan manis aku memanggil cowok itu, cowok yang akan segera…
“Kenapa?” tanyanya ketus. Sepertinya dia masih sebal karena selama akhir pekan kemarin aku bermain ke rumahnya terus. Ah, bukan salahku sih, kan memang ibunya mengundangku ke rumah untuk bermain dan mengobrol.
“Gue denger Pak Minto ditangkep ya?”
Tiba-tiba sebuah suara menyahut, “Iya tuh, Pak Minto ternyata pelakunya, gue ga nyangka, beneran ga nyangka! Serem banget gile.” Ternyata itu Patrick. Hahaha, memang seram sih, tapi aku tidak takut kok.
“Iya, ternyata Pak Minto,” sahut Taslim dengan nada agak sarkas.
Beberapa temanku mendatangi kami bertiga dan mulai ngomongin Pak Minto yang seketika itu juga jadi terkenal layaknya jaket presiden kita yang merknya Pull & Bear.
“Gue yakin dia udah ngerencanain ini dari lama! Lu pada liat kan, dia sering marahin Rena sama Elmo, pasti dia dendam nih.”
“Bener juga lu Pas, bisa jadi iya, gue juga yakin dia ada dendam.”
“Eh, Pat, waktu itu kita liat kan pas masuk ruang guru!”
“Apa? Apa? Liat apa lu berdua?”
“Tampang Pak Minto kesel gitu pas lagi ngoreksi kertas ulangan Elmo! Seriusan.”
“Wah, itu kapan tuh? Berarti dia emang udah ga suka sejak lama dong.”
“Iya nih, pasti itu!”
“Tapi gimana kalo misalnya ternyata dia blablabla.”
“Blablabla.”
“Blablabla.”
“Blabla.”
“Blabla.”
“Bla!”
“Bla!”

Hahaha, ternyata mereka bisa sampai seribut ini karena polisi menangkap Pak Minto. Bahkan beberapa dari mereka ada yang rada-rada marah karena pendapatnya bersinggungan dengan yang lain. Aku memperhatikan Taslim yang sepertinya stres mendengarkan mereka, dia menatapku dengan muka sebal.
“Tas, sini ikut gue ke luar,” ajakku.
Dia mengikutiku tanpa syarat, Hahaha. Udah kayak Jepang aja, menyerah tanpa syarat habis di bom atom. Kami meninggalkan kerumunan orang bodoh yang sibuk dengan selebritis baru alias Pak Minto.

Di koridor lantai 2, hanya berdua,
“Taslim.”
“Apa?”
“Eh, liat deh, mataharinya bagus ya?”
“Iya, lumayan,” katanya, masih dengan ekspresi gundah gulana.
“Awannya juga keren.”
“Hem.”
“Hari ini cerah ya!”
“Iya.”
“Tapi kok lu ga cerah gitu sih? Kenapa sih Tas? Lu masih sebel gara-gara gue ngancem-ngancem lu? Terus gue main ke rumah lu? Lu sebel?”
Dia memandangku dengan ekspresi berpikir, berpikir keras seakan-akan sedang memikirkan kata-kata terakhir sebelum dipancung.
“Jangan sedih gitu lah, ayolah senyum, lagian gue kan ga salah apa-apa sama lu. Ya ga?”
“Hmm, oke deh, iya-iya gue senyum deh.”
Taslim tersenyum kepadaku, ah, aku yakin senyuman itu setengah tulus. Aku menyikutnya,
“Senyumnya beneran dong, jangan terpaksa gitu.”
“Iye… hahaha,” dia tertawa melihatku. Begini ya, aku sebenarnya tidak ingin dia jadi begini, apalagi cuma karena urusan yang tidak penting, menurutku.
“Oh iya Tas.”
“Kenapa?”
“Gue mau ngomong sesuatu.”
“Ngomong aja.”
“Jadi tuh..”
Kringgggg
Bel sekolah berbunyi.
“Nanti aja deh pulang sekolah.”

Pikiranku masih tegang sejak sepulang sekolah tadi. Bagaimana tidak? Aku ditembak! Sama cewek cantik nan licik itu! Bukan dengan revolver atau pistol ya, tapi dengan kata-kata. Dia dengan blak-blakan memintaku untuk pacaran dengannya, tadi, di depan banyak orang di kelas, dengan suara seksinya yang memikat,
“Taslim, mau ga jadi pacar gue?”
Eh?
“Iya, pacaran sama gue. Mau ga?”
Hah? Dia mendekatiku. Sementara beberapa orang sudah cie-cie di belakangku.
Dia berbisik dengan suara manis, “Demi keselamatan keluarga lu Tas”

Cerpen Karangan: Bori Antonius

Cerpen Pacarku Seorang Psikopat Cantik (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Hantu Gak Ya

Oleh:
“Wushh..” angin berhembus dengan kencang disertai curah hujan ringan. “Brakkk!! ngeung ngeung ngeung,” terdengar suara pintu dibanting angin dan engsel jendela yang digerakkan keluar masuk. “Ahh.. bukuku,” terdengar suara

Para Pencari Wi-fi

Oleh:
Jumat. Hari kejayaan bagi penghuni kelas XI IPA 5. Sering sekali mereka rasakan kejayaan di hari itu. Hampir lima jam pelajaran penuh mereka merasakan kekosongan jam. Rentetan wajah-wajah bahagia

Masa Yang Aneh (Part 3)

Oleh:
“apa-apaan ini?” kecewa Bob. “Sial mereka..” kesal Neo. “Beruang Hitam ya.. rrr!” muak Zadam. “Mereka selalu mencari gara-gara! Aku sudah sangat muak!” “Begitu juga denganku Neo” sahut Bob. “Hm

Favorite Girl

Oleh:
Namaku M. Rio Fernando, biasa dipanggil Rio. Aku menyukai seorang gadis, seorang gadis yang ku anggap unik. Dia pekerja keras, sangat percaya diri dan mudah bergaul. Awalnya aku tak

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

2 responses to “Pacarku Seorang Psikopat Cantik (Part 2)”

  1. tarsoarafa085@gmail.com says:

    cerpenya bagus..

  2. Ryuzaki says:

    Ntaps soul, jadi keinget ama gasai yuno di anime mirai nikki wkwk

Leave a Reply to tarsoarafa085@gmail.com Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *