Pembunuhan Sang Detektif

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 17 December 2015

Pembunuhan, perampokan, pemerkosaan, dan tindak kejahatan lainnya adalah panganan sehari-hari penduduk kota London. Bertahun-tahun Kota London dihantui awan kejahatan. Para penduduk selalu merasa takut untuk ke luar di malam hari. Sehingga kota tersebut layaknya kota mati saat malam hari. Polisi kewalahan karena banyaknya jumlah kejahatan yang terjadi. Hal itu terjadi karena polisi tidak mampu memecahkan motif tindak kejahatan dengan baik. Sehingga kasus baru terjadi sebelum kasus lama selesai.

Namun, keadaan itu sedikit demi sedikit dapat diatasi dengan munculnya tiga detektif berbakat salah satunya adalah Detektif Carl. Namanya tenar saat ia berhasil mengungkap kasus perampokan bank ternama di London di usianya yang ke-20. Namanya pun dengan cepat dikenal di kepolisian dan juga menjadi idola masyarakat terutama kaum hawa karena wajah tampannya. Selain Carl ada juga Detektif Sigurd dan Detektif Keith yang memiliki bakat dan umur tak jauh dari Carl. Mereka menjadi teman dengan cepat karena profesi yang sama.

Tiga tahun telah berlalu sejak zaman kelabu itu. Kini wajah London telah berubah. Tingkat kriminalitas menurun dan membuat para penduduk merasa lebih aman. Semua itu berkat bantuan dari detektif-detektif yang dimiliki kota ini terutama Carl, Sigurd, dan Keith. Mereka bertiga telah menjadi penyelamat kota ini. Namun, di antara mereka Sigurd dan Keith lebih banyak disukai oleh warga. Hal tersebut dikarenakan sikap play boy yang dimiliki oleh Detektif Carl yang membuat warga kesal. Memang dengan wajah tampannya banyak wanita yang telah hanyut oleh rayuannya. Karena alasan itu pula banyak kasus yang diserahkan kepada Sigurd dan Keith dibandingkan Carl. Hal tersebut membuat popularitas Detektif Carl menurun.

Detektif Carl semakin terpuruk saat Sigurd dan Keith berhasil menggagalkan percobaan pembunuhan terhadap Ratu Inggris yang dilakukan oleh organisasi kriminal bernama Shadow dan menangkap dua orang anggota Shadow. Hidupnya tak karuan karena tak dipercaya lagi. Ia menjadi depresi karena hal itu. Karena depresinya itu ia mengalami insomnia dan sering kali mengantuk di siang hari karena kurang tidur. Kesehatannya diperparah oleh obat-obatan yang ia konsumsi agar tetap terjaga di siang hari. Perlahan tapi pasti nama Carl tenggelam di masyarakat meskipun beberapa polisi masih menghormati jasanya sebagai seorang detektif.

Pagi itu matahari terbit dari sebelah timur cakrawala. Saat itu masih jam 5 pagi. Langit masih biru gelap dan bulan pun masih terbangun. Keheningan sangat kental di apartemen Carl bahkan suara tetesan air di tempat cuci piring pun dapat terdengar jelas dari ruang tamu. Carl masih menggunakan komputernya untuk berselancar di dunia maya dan membaca bacaan yang tak penting. Semalam ia tak bisa tidur karena mimpi buruk. Ia bermimpi bahwa temannya, Detektif Sigurd, telah terbunuh. Namun ia hanya menganggap itu sebagai bunga tidur saja. Tak lama kemudian keheningan terpecah oleh suara handphone Carl. Carl merayap dan meraihnya. Di sana tertulis panggilan dari Keith.

“Halo, Carl di sini.” Sapanya dengan nada datar.
“Carl ini gawat Sigurd telah dibunuh oleh seseorang.” Jawab Keith.
“Hah? Yang benar saja kau jangan bercanda.” Ucap Carl kaget.
“Mayatnya ditemukan di dalam bagasi mobilnya. Pokoknya cepat kau ke mari, aku butuh bantuanmu.” Jelas Keith.
“Baik-baik aku ke sana sekarang.” Carl menjawab dengan panik.

Ia langsung mengambil mantelnya dan pergi meninggalkan apartemennya. Ia memacu motornya dengan cepat menuju tempat kejadian. Karena jalan yang tak terlalu ramai, ia mampu mencapai tempat kejadian dalam waktu kurang dari 15 menit. Di sana ia melihat mobil Sigurd yang telah terbuka bagian bagasinya dan Keith yang sedang meneliti tempat kejadian. Tempat itu dikelilingi garis polisi dan beberapa warga sipil. Saat itu juga ia langsung menemui Keith.

“Hei Keith apa yang terjadi?” Tanya Carl.
“Kami menemukannya terbunuh pukul 5 pagi tadi dan sejauh ini kami hanya baru menemukan pisau ini.” Jawab Keith.
“Ini yang digunakan tersangka?” Tanya Carl.
“Ya, tapi sepertinya ia cukup pintar kami tidak menemukan sidik jarinya.” Balas Keith.
“Apa tim forensik sudah memeriksa mayatnya?” Tanya Carl.
“Ya paling cepat jam sepuluh kita sudah dapat mengetahui hasilnya.” Jelas Keith.

Keith dan Carl pun melanjutkan penelitiannya di TKP. Tak lama kemudian mereka pun memutuskan untuk berhenti mencari petunjuk di sana. Mereka memutuskan untuk mampir ke sebuah kedai kopi yang dekat dengan TKP. Di sana cukup kondusif untuk mereka mengobrol. Mereka memesan dua cangkir kopi kepada pelayan.

“Apa yang kau temukan tadi?” Tanya Carl.
“Aku hanya menemukan pintu mobilnya tak terkunci dan noda darah di jok mobilnya.” Jawab Keith.
“Oh begitu, nampaknya ini jelas bukan perampokan.” Lanjut Carl.
“Bagaimana denganmu?” Tanya Keith.
“Aku menemukan darah di lubang kunci bagasinya.” Jawab Carl.

“Darah? Tapi, tidak mungkin darahnya sampai masuk ke lubang kunci.” Jawab Keith.
“Aku juga setuju denganmu makanya aku ingin tahu apa kau menemukan kunci mobilnya?” Cakap Carl.
“Aku tidak menemukannya. Menurutmu siapa yang melakukan ini? Apa mungkin Shadow?” Tanya Keith.
“Mungkin saja, yang jelas mereka punya motif balas dendam pada Sigurd kan. Tapi kalau itu benar maka kau juga dalam bahaya.” Jelas Carl.

“Kita belum memiliki bukti pasti siapa dalang di balik semua ini jadi kita tidak bisa menuduh siapapun.” Jawab Keith.
“Aku harus pulang dan mempersiapkan semuanya, sudah lama sekali aku tidak menangani sebuah kasus.” Gumam Carl.
“Baiklah kita bertemu di kantorku jam 10.30 untuk membahas hasil forensik.”
Mereka pun berpisah di kedai tersebut. Detektif Carl kembali ke apartemennya sedangkan Keith menuju rumah sakit untuk mengambil hasil forensik. Sepanjang jalan menuju apartemen Carl terus memikirkan mimpinya yang menjadi kenyataan. Namun bukan mimpi ini yang ia inginkan untuk jadi kenyataan.

Jam sudah menunjukkan pukul 10.30 . Detektif Carl dan Detektif Keith sudah bertemu di tempat yang ditentukan. Di tangan detektif keith adalah hasil autopsi dari tim forensik. Sembari duduk di kursinya yang nyaman, Detektif Keith mengebet lembar demi lembar data tersebut. Di seberang meja, Detektif Carl sedang duduk sambil memerhatikan seorang wanita yang sibuk dengan komputer di sudut ruangan. Kemudian Keith menutup berkas tersebut dan menaruh berkas tersebut di meja. Carl mengambil berkas itu dan membacanya.

“Cukup brutal dan rapi 4 tusukan dan tanpa sidik jari.” Ucap Carl.
“Iya pelakunya pintar menyembunyikan bukti. Tanpa sidik jari di manapun.” Jelas Keith.
“Siapa yang terakhir kali bersama Sigurd?” Tanya Carl.
“Terakhir kali ia bersama pacarnya, Arnes, berdasarkan kesaksian Arnes saat itu Sigurd berniat untuk mengantarnya pulang tetapi ia menolak dan pulang sendiri. Oh iya satu lagi yaitu Christ, ia teman lama Sigurd yang bekerja di toko perangkat keras.” Jawab Keith.

“Apa hubungannya dengan kejadian ini?” Tanya Carl.
“Ia adalah seorang pemabuk. Dua bulan lalu ia pernah meminjam uang pada Sigurd, namun belum juga dikembalikan. Sore hari sebelum kejadian Sigurd menagih hutangnya. Terlebih lagi pisau yang ditemukan berasal dari tokonya.” Jelas Keith.
“Lalu alibi mereka?” Tanya Carl.
“Christ mengaku sedang menutup toko dan Arnes sedang dalam perjalanan pulang di Kereta.” Jawab Keith.
“Oke, kita akan menanyakan sesuatu pada Adik Sigurd.” Ajak Carl.

Mereka pun bergegas menuju rumah Sigurd. Tak butuh waktu lama untuk mencapai rumah Sigurd menggunakan kendaraan pribadi dari kantor Keith. Di sana suasana tampak sepi. Penduduk sekitar menjadi lebih waspada dan memilih mengurung diri di rumah setelah kejadian mengerikan itu. Rumah Sigurd pun tampak sepi dari luar. Mobil Sigurd sudah dimasukkan ke garasi yang dikunci rapat. Di rumah itu tinggal Adik perempuan Sigurd yang berumur kisaran 19 tahun. Orangtua Sigurd sudah meninggal 3 tahun lalu karena pembunuhan. Mereka pun memencet bel yang ada di depan pintu. Dari dalam Adik Sigurd membuka pintu.

“Maaf kalian berdua siapa ya?” Tanyanya.
“Saya Keith, dan ini rekan saya Carl. Kami berdua sedang menyelidiki kasus pembunuhan Almarhum Sigurd.” Jawab Keith. “Silahkan masuk.” Jawab Adik Sigurd.

Keith dan Carl melangkah masuk ke rumah Sigurd yang terbilang besar.
“Silahkan duduk aku akan mengambilkan minum sebentar.”
“Tidak perlu kami hanya ingin menanyakan beberapa pertanyaan saja.” Potong Carl.
“Baiklah kalau begitu.” Jawab Adik Sigurd sambil duduk di sofa.
“Oh iya, nama anda siapa?” Tanya Carl. Keith menatap aneh pada Carl. Ia tahu bahwa Carl adalah seorang play boy.
“Fiona.” Jawabnya.

“Saat kejadian apa kamu berada di rumah?” tanya Keith.
“Iya, saat itu aku mendengar suara mobil Kak Sigurd di depan. Saat aku melongok ke jendela aku melihat seseorang bersamanya.” Jawab Fiona.
“Siapa orang itu?” Tanya Keith.
“Aku tak bisa melihatnya dengan jelas karena orang itu menggunakan jaket. Yang pasti Kakakku kenal dengan orang itu karena mereka sempat seperti mengobrol sebentar. Dari perawakannya aku pikir ia laki-laki. Kakakku bukannya tidak melawan, ia menggunakan kunci mobilnya untuk menusuk si pembunuh.” Jawab Fiona.

“Oke, terima kasih atas kerjasamanya.” Ucap Keith sembari beranjak dari tempat duduknya.
“Tuan Keith, bisakah anda menginap di sini malam ini saja.” Pinta Fiona.
Keith dan Carl hanya menatap dengan heran.
“Ya, kejadian itu membuatku takut sedangkan aku harus menjaga rumah sendirian.” Lanjut Fiona.

Melihat ekspresi Fiona, Keith pun mengiyakan. Pikirnya kasih juga membiarkan seorang gadis sendiri di tempat rawan seperti itu. Keith dan Carl pun pergi dari rumah Sigurd dan kembali ke kantor Keith. Di sana mereka berpikir mengenai kesaksian yang diberikan Fiona sembari membaca data-data yang mereka dapatkan di TKP. Kesaksian Fiona membuat mereka menyimpulkan bahwa pembunuhan itu tidak mungkin dilakukan oleh organisasi Shadow karena Sigurd mengenal si pembunuh. Sehingga menyisakan Arnes dan Christ, sang penjaga toko peralatan keras. Namun mereka belum menyimpulkan Christ sebagai tersangka meskipun Fiona mengatakan bahwa pelakunya adalah seorang laki-laki. Mereka masih mencari bukti yang lebih pasti dari kesaksian Fiona.

“Oh iya aku rasa itu bisa dipakai.” Cetus Carl secara tiba-tiba.
“Apa maksudmu?” Tanya Keith.
“Fiona berkata Sigurd melawan dengan kunci mobilnya. Mungkin dia berhasil menusuk si pembunuh maka dari itu ditemukan darah di lubang kunci bagasi Sigurd. Darah itu bukan darah Sigurd tapi darah si pembunuh.” Carl menjelaskan.

“Kau benar juga tapi jika memang begitu kita juga tidak bisa memastikan siapa pembunuhnya karena kunci mobilnya sudah tidak ada dan juga darahnya sudah kering.” Lanjut Keith.
“Bukan dengan darahnya tapi dengan lukanya.” Jawab Carl.
“Ide bagus itu berarti kita akan tahu apakah Christ membunuh Sigurd atau tidak.” Keith setuju.

Namun, tanpa mereka sadari hari sudah mulai gelap. Mereka pun memutuskan untuk menunda pemeriksaan tubuh para terduga. Carl ke luar dari kantor lebih dulu dan pergi menggunakan motor menuju apartemennya. Sedangkan Keith pergi ke rumah Sigurd dengan mobil untuk menemani Fiona yang ketakutan. Ketika Keith sampai di rumah Sigurd, Fiona sudah menunggu dengan gelisah di ruang tamu. Ia tampak ketakutan dan tidak fokus dengan apa yang ia lakukan. Malam itu begitu sepi dan mencekam. Memang Keith ingin berduaan dengan seorang gadis, namun bukan suasana seperti ini yang ia harapkan. Ketika malam menjelang mereka bersiap untuk tidur. Keith terpaksa tidur di sofa untuk berjaga-jaga sedangkan Fiona tidur di kamarnya.

Keith tidak bisa tidur malam itu. Ia masih memikirkan siapa pembunuh itu.
“Besok aku akan tahu apakah Christ pembunuhnya atau bukan.” Kata Keith dalam hati.
Tiba-tiba ia merasa haus di tengah malam. Ia pun pergi ke dapur dan mengambil segelas air putih. Sebenarnya ia ingin membuat secangkir kopi panas yang bisa menghangatkan tubuhnya yang kedinginan. Tapi ia tidak bisa menemukan kopi terlebih lagi ini bukan rumahnya sendiri ia takut tidak sopan. Ia pun kembali ke ruang tamu dan duduk kembali ke sofa. Tubuhnya masih kedinginan meskipun sudah dilapisi selimut.

Ia pun penasaran apakah di luar turun salju hingga suhunya sedingin ini. Ia membuka sedikit tirai yang menutupi jendela lalu mengintip ke luar jendela. Ia pun tertegun karena ia melihat sosok yang sedang berdiri di seberang jalan mengenakan jaket hitam tepat di sebelah lampu jalan. Rasa penasarannya semakin memburu saat ia melihat orang itu membawa pisau. Ia pun langsung menyiapkan pistolnya dan ke luar rumah sembari berteriak dan menodongkan pistolnya.

“Siaapa di sanaaa!!” Teriak Keith.

Ekspresi tegangnya berubah menjadi heran saat ia menemukan tidak ada siapa pun di sana. Ia hanya melihat lampu jalan yang nyalanya tidak cukup menerangi jalan. Ia berniat masuk kembali ke rumah namun ia dikagetkan dengan orang misterius yang tiba-tiba berada di belakangnya dan menikamnya dengan sebilah pisau. Sontak ia melepaskan tembakan secara refleks. Untung saja tikaman pembunuh itu tidak mengenai organ vital Keith tapi lengan Keith masih terkena goresan pisau. Tembakan Keith pun mengenai bahu si pembunuh tersebut. Sayangnya si pembunuh mengenakan masker sehingga meskipun dalam jarak sedekat itu, Keith tidak bisa melihat wajahnya.

Si pembunuh pun lari terbirit-birit melihat Keith tidak segan melepaskan tembakan. Keith sempat mengejarnya namun, tak terkejar dan akhirnya ia memutuskan untuk kembali ke rumah Sigurd. Karena mendengar suara tembakan, Fiona pun bangun dan menanyakan apa yang terjadi. Keith menceritakan semuanya pada Fiona sementara Fiona membalut luka Keith. Malam itu mereka tidak bisa melanjtukan tidur mereka. Pagi pun menjelang Keith segera pulang ke rumahnya untuk mandi kemudian ia langsung menuju kantornya untuk membahas apa yang telah terjadi malam tadi. Tak lama ia datang di kantor Carl pun datang. Keith menceritakan apa yang terjadi malam tadi pada Carl. Reaksi Carl kaget.

“Ha? Yang benar?” Tanya Carl.
“Iya tentu saja.” Jawab Keith.
“Sebenarnya aku juga ingin bilang sesuatu, malam tadi aku bermimpi kau akan dibunuh.” Ucap Carl.
“Apa maksudmu?” Tanya Keith.
“Pada malam terbunuhnya Sigurd juga aku bermimpi bahwa Sigurd dibunuh menggunakan pisau.” Lanjut Carl.
“Kau jangan bercanda Carl. Apa maksudmu pembunuhan itu sebuah gurauan?” Ucap Keith kesal.
“Maaf aku sudah berbicara yang tidak-tidak aku hanya kaget mimpiku menjadi kenyataan dan bukan mimpi yang ku sukai juga.” Carl menyesal.
“Aku juga minta maaf aku sudah berlebihan menanggapimu.” Cakap Keith sembari menepuk pundak Carl.

Tiba-tiba Carl mengerang kesakitan. Lengan bajunya pun tiba-tiba merah terkena darah yang mengucur dari pundaknya. Keith kaget dan merebahkan Carl di kursi kantornya. Ia meminta bantuan pada asistennya untuk mengambil perban dan obat. Ketika Keith melihat luka tersebut ia begitu kaget terperanjak. Itu adalah sebuah luka karena tembakan. Luka tersebut berada pada bagian pembunuh itu tertembak olehnya. Melihat reaksi itu, Carl pun bertanya.
“Ada apa Keith kenapa kau nampak ketakutan?” Tanya Carl.
“Kau… Kau…” Ucapan itu hanya menggantung di bibir Keith.

Keith memanggil polisi dan menyerahkan Carl pada mereka atas pembunuhan yang Carl lakukan pada Sigurd dan percobaan pembunuhan pada dirinya. Keith memang tak percaya hal ini terjadi. Tatapi secara logika hal itu masuk akal baginya. Carl jelas punya motif dalam membunuh Sigurd. Sigurd telah merebut kepopulerannya sebagai detektif dalam 3 tahun ke belakang. Carl ikut dalam penyelidikan kasus tersebut sehingga itu memudahkan ia dalam mendapat informasi yang lebih dalam agar dapat lolos dari jerat hukum.

Tadi malam Carl juga berniat membunuh Keith yang mungkin merampas popularitasnya juga. Sekarang Carl dibawa ke kantor polisi untuk pemeriksaan lebih lanjut. Saat diinterogasi, ia tetap ngotot bahwa ia tidak mungkin melakukan hal tersebut karena Sigurd dan Keith adalah teman seperjuangannya. Namun, bukti yang ada menunjukkan bahwa dialah pelaku pembunuhan tersebut. Akhirnya Carl dijatuhi hukuman penjara seumur hidup.

Kasus pembunuhan Sigurd telah bermuara pada hukuman penjara bagi Carl. Namun, kasus belum ditutup karena ternyata setiap malam Carl bertingkah aneh di dalam selnya. Ia bertingkah lebih diam, dingin, dan fokus sangat berbeda dengan di siang hari yang biasanya ramah dan suka bercanda. Ternyata Carl mengalami gangguan jiwa yang disebut Discociative Identity Disorder. Hal tersebut karena depresi yang menimpanya belakangan ini. Kondisinya bertambah parah dengan ia mengkonsumsi obat-obatan. Akhirnya sang detektif Kharismatik harus puas mendekam di rumah sakit jiwa dalam upaya penyembuhan kejiwaannya.

Cerpen Karangan: Fajar Nugraha Saefullah
Facebook: Fajar Nugraha

Cerpen Pembunuhan Sang Detektif merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sumi (Sumur Misteri)

Oleh:
Malam ini adalah malam jum’at, seno pergi ke sumur tua yang berada tidak jauh dari pemukiman, dengan bekal sesajen dia menghampiri sumur itu, ia meletakkan sesajen di pinggir sumur,

The Secret Treasure (Harta Karun Rahasia)

Oleh:
Alex, aku tinggal bersama Kakek di Amerika tepatnya di New York City -NYC. Aku biasa bekerja mencari barang-barang bersejarah. Aku bekerja dengan beberapa teman aku, ada Troy, Ryan, Bax,

SMA Jaeguk

Oleh:
Namanya Minah dan duduk di kelas XI IPA 4 di Jaeguk High School. Ia punya teman, namanya Iren dan dia adalah siswi terpintar di kelas. Mereka bertemu sewaktu sekolah

Time Ghost (Part 1)

Oleh:
Beberapa hari yang lalu aku dan teman-teman seangkatan berhasil berperang di atas selembar kertas putih dengan bersenjatakan sebatang pensil runcing. Ujian Nasional telah kami lewati. Semua berjalan lancar. Rencana

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

5 responses to “Pembunuhan Sang Detektif”

  1. David Aji says:

    Akhir yang tak terduga. Saya kira pembunuhnya Fiona, eh ternyata malah Carl.

    • Fajar Nugraha Saefullah says:

      Terimakasih Aji, saya juga masih belajar. Semoga ini bisa menjadi batu loncatan saya untuk menjadi lebih baik kedepannya

  2. Rin says:

    Udh ketebak

    • Fajar Nugraha Saefullah says:

      Sejujurnya saya juga berfikiran ini akan mudah ditebak untuk beberapa penikmat plot twist. Terimakasih sudah komen ^_^

  3. Lyla says:

    Ceritanya bagus

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *