Pencopet Angkutan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Misteri, Cerpen Slice Of Life, Cerpen Thriller (Aksi)
Lolos moderasi pada: 27 March 2019

Baru pernah aku beli sekotak kue dengan harga sangat mahal. Tapi tidak apa-apa lah. Daripada nanti aku tidak jadi beli malah penjualnya marah. Soalnya tadi sudah kutawar banyak kali dengan harga yang menurutku terjangkau, tapi tetap saja tidak mau. Biarlah, yang penting anakku akan senang di hari ulang tahunnya yang ke dua belas!

Toko kue itu tak jauh dari terminal. Sehingga aku bisa langsung pulang tanpa berjalan jauh seperti biasanya. Biasanya aku dari kantor berjalan jauh menuju terminal. Kan ini hari Minggu jadi aku tidak ke kantor. Aku langsung saja menyeberang menuju terminal, menaiki angkutan kota, dan duduk sembari menunggu si sopir menjalankan mobilnya. Katanya penumpangnya baru sedikit.

Jarak rumahku dari sini tidak begitu jauh sih. Paling hanya sepuluh menit naik angkutan kota ini. Biasa lah, saking seringnya naik angkutan, aku sampai hafal nama para sopir itu hingga warna handuk di belakang leher yang mereka kenakan. Seberapa cepat dia mengemudikan angkutannya, dan lainnya. Setiap hari mereka mewarnai hariku dari pulang kantor.

Tapi untuk yang kali ini, ketika angkutan sedang menunggu di terminal, aku tidak mengetahui siapa sopirnya. Rasanya asing bagiku, karena aku baru pernah melihat angkutan yang ini dan sopirnya. Dandanannya sama sih, handuk di belakang leher, celana panjang yang lututnya bolong, sebuah korek api dan sebungkus rokok di belakang setir mobilnya, dan sandal jepit yang dipakai. Mungkin dia sopir baru di sini. Tapi tak apa, itung-itung aku menambah kenalan sopir angkutan.

Kapan bakalan jalan, penumpangnya baru tiga orang. Aku ingin protes pada sopir itu, tapi aku belum kenal seperti sopir lainnya. Takutnya sopir yang baru ini orangnya mudah marah, dan lainnya. Setahuku sopir di sini semuanya humoris, tapi tidak tahu untuk yang satu ini. Makanya aku tidak jadi protes menyuruh angkutan itu jalan.

Aneh. Banyak sopir di luar yang sudah menjalankan angkutannya dan menyapanya. Namun si sopir ini diam saja dan tidak membalas sapaan dari mereka. Dan yang lebih aneh lagi, sopir ini memiliki kernet yang berada di samping pintu keluar. Memang seorang kernet memudahkan sopir bekerja, tapi hampir semua sopir di terminal ini tidak ada kernetnya. Hanya angkutan kota ini. Aku saja hafal kok. Masih bisa aku mengatakan maklum karena dia orang baru. Pokoknya aneh.

Kue itu aku taruh saja di bawah kursi agar aman. Tidak kupegang dan kupangku di atas pahaku. Bukan apa-apa sih. Aku khawatir saja akan segala keanehan yang ada di angkutan kota itu. Auranya sudah berbeda. Dari awal aku memijakkan kaki di tangga angkutan itu, hingga sekarang. Sopir itu selalu diam membisu, hanya mengatakan kita tunggu di terminal dulu karena penumpangnya baru sedikit tadi.

“Kemana bu?” kata si kernet yang sedang berada di luar.
“Pasar salak. Sampai ke sana kan?”
“Sampai bu, tenang saja.”
“Berapa ya?”
“Dua ribu lima ratus saja”
“Ya sudah, saya naik.”
Seorang nenek-nenek, ya belum tua amat lah. Anting-anting yang mencolok, sebuah ponsel android di tangannya, dengan rambut yang diikat satu tidak sampai bahu. Lebih aneh lagi bukan? Atau aku turun saja dari sini dan mencari angkutan kota lain?
Tapi tidak. Berpikir positif, berpikir positif. Memangnya mau ada apa!
“Pasar, pasar! Yo… yo… Pasar!” teriak si kernet itu.
“Alun-alun sampai, alun-alun sampai!”
“Taman kota, taman kota!”

Baru pernah aku melihat di terminal ini, ada seorang kernet di luar teriak-teriak. Padahal angkutan kota lainnya tidak ada. Tadi kan aku sudah bilang?
Akhirnya yah ada juga yang mau naik ke angkutan kota ini. Rupanya rombongan, aku tidak peduli siapa mereka. Yang penting setelah ini jalan saja, aku sudah ditunggu oleh pembantuku untuk mempersiapkan ini semua.

“Ibu kemana bu?” tanya si kernet.
“Saya Gang Gripit.”
“Saya pasar salak.”
“Pertigaan Timur.”
“Rumah sakit.”
Setelah bertanya seperti itu, si kernet diam dan, yah sampai beberapa menit lah. Tapi bagaimanapun aku tetap waspada akan keanehan di sini. Sering muncul senyuman iblis dari si kernet yang baru saja melihat si sopir dari cermin di atas depan sopir. Sembari sopir mengemudikan mobilnya, sembari si kernet menghitung uang bayaran, sembari mereka melihat cermin itu dan mengeluarkan senyuman aneh beserta bahasa isyarat mungkin. Karena kulihat matanya beserta alisnya bergerak-gerak. Mereka sedang apa sih.

“Hey kernet, buka jendelanya di paling belakang. Mereka pasti kepanasan.”
Wah, si sopir mulai berbicara dari yang tadinya diam saja!
“Siap! Permisi ibu…”
Si kernet rupanya humoris dan enak dipandang. Tapi tetap saja aneh. Nada dari kata-kata yang dilantunkannya seperti pelawak yang ada di televisi-televisi. Tetap saja aku harus waspada. Untung saja aku tidak duduk di bagian belakang tempai si kernet membuka jendela tadi. Yah untuk mendinginkan suasana tegangnya hatiku, aku iseng saja tanya ke orang di sampingku.
“Mau kemana bu..?”
“Ke rumah sakit ini, ibu kemana?”
“Gang Gripit bu… Siapa yang sakit ya bu?”
“Ayah saya, sudah dua hari menginap di rumah sakit. Ini saya baru mengambil peralatan yang ada di rumah.”
“Semoga cepat sembuh bu…”
“Mulakan!!!” teriak si sopir dari depan!

Apa yang terjadi ini? Kenapa pintu samping kernet ditutup?
Sebentar, aku melihat orang yang sedang duduk di pojok angkutan ini. Ia mengambil ponselnya selagi si kernet tidak melihat.
“Call, 911, Roger! Ke Perempatan Bunga Mawar sekarang! Laju cepat!”
“Diam!”
“Letakkan semua barang di bawah sini!”
“Kau mencoba teriak, berarti kau mencoba terluka!”
Pencopet rupanya, eh ataukah perampok, pokoknya itulah! Kernet itu adalah pencopet, bersama sopirnya. Senyuman iblis itu benar. Bahasa isyarat yang dikeluarkan oleh mereka benar. Kecurigaanku lebih benar!
“Tidakkah kau lihat aku membawa pisau di sini!”
Pisau itu ditodongkan kepada seluruh penumpang yang ada di belakang, tidak ada yang duduk di depan bersama sopir. Semua takut, termasuk nenek yang tadi memakai anting-anting. Itu adalah barang yang pertama di rampok oleh si kernet. Sedangkan aku? Apa? Dia mau merampok kue ulang tahun? Haha! Aku tidak membawa dompet! Aku hanya membawa sejumlah uang di dalam saku, dan itu pun habis untuk membeli kue ulang tahun tadi.

“Mana yang kau punya?”
“Aku punya ini, kue ulang tahun untuk anakku.”
“Jangan bohong! Mana dompetmu!”
“Aku tidak membawa dompet!”
“Rogoh semua sakumu!”
“Sudah kan? Aku sudah merogohnya dan tidak ada dompet atau ponsel atau apapun!”
“Nasib baik kau wanita. Kalau kau pria, sudah aku rogoh sendiri saku celanamu. Dan pasti aku akan menemukan lebih banyak dompet!”
Benar juga, nasib baik aku wanita. Tapi aku tidak membawa apapun dalam saku. Masih saja tidak percaya.

Kulihat ibu yang tadi aku tanya juga dirampok olehnya.
“Apa yang kau punya!”
“Ini, ambil saja. Barang-barang yang akan kubawa ke rumah sakit.”
“Gelas… teko air… jaket… selimut… lumayan lah! Sudah, kalau kau teriak kau akan terluka!”

Kulihat itu juga terjadi pada semua penumpang. Hingga pada akhirnya penumpang terakhir yang ada di pojok, si pria yang tadi menelepon siapa entah, aku tidak tahu. Tapi kulihat tubuhnya kekar, kepalanya gundul, tinggi, dan wajahnya setengah panik. Seperti lulusan angkatan militer pokoknya.
“Apa yang kau punya, serahkan padaku!”
“Apa, aku tak bawa apa-apa.” padahal tadi dia menelepon menggunakan ponsel.
“Bohong!”
“Aku hanya bawa ni duit dua ribu lima ratus rupiah tuk bayar ni angkutan!” sepertinya dia orang Melayu.
“Tidakkah kau lihat ini?”
“Pisau?”
“Iyalah! Memangnya ini apa?”
“Ada apa dengan pisau?”

Kulihat ini semakin sengit ketika si pria melawan si kernet. Semua penumpang tegang dan panik akan perkelahian ini. Dan angkutan tetap berjalan sesuai rute. Tidak ada yang berani mengganggu sopir, karena senjata yang ditodongkan si kernet.
“Aku akan lukai tubuhmu sekarang juga. Serahkan!”
“Itu je?”
“Eh?”
“Hah, apasal korang takut ni?”
“Siapa yang takut!”
“Itu je? Tengok ni!”
“Pistol? Korang nak masuk penjara ke?!” kulihat si kernet juga ikutan menggunakan bahasa Melayu.
“Eh, bukankah korang ke yang kudu masuk penjara?”

Kulihat si pria menodongkan pistol itu ke kepala si kernet. Tapi tidak mungkin dia menembak di sini. Paling juga tidak ada pelurunya.
“Eh, jangan main-main!”
“Korang keluar tak! Bersama sopir korang tu!”
“Apasal kudu aku yang keluar pulak? Korang yang kudu keluar lah! Korang dah gagalkan rencana kita orang!”
“Eh, mana aku gagalkan rencana korang? Rencana korang berjaya kan?”
“Kau ganggu aku!”
“Dah terlambat lah. Kau lihat kawan aku!”
“Mana!”
“Tu kak samping kau.”

“Call, 911, Roger! Congkel pintu angkutan ni sekarang! Pecahkan kaca ni! Butakan sopir kak depan tu!”
Ternyata dia adalah seorang tentara. Pantas saja. Dia menelepon polisi tadi ketika mengeluarkan ponsel. Dia orang Melayu, bahasanya sudah kelihatan.
“Jaga kau!”
“Eh, bukankah aku ke yang kudu jaga korang kak penjara?”

Cerpen Karangan: Muhammad Hafidz Agraprana
Facebook: facebook.com/muhammad.agrapranaii
Nama: Muhammad Hafidz Agraprana
Umur: 16 tahun

Cerpen Pencopet Angkutan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Misteri Rumah Kosong

Oleh:
Pada suatu hari di sebuah pedesaan, ada rumah kosong yang menurut warga di sana memang ada penunggunya, dan bila ada orang yang melewati rumah itu dia seringkali melihat penampakan,

My Son Is My Brother

Oleh:
Masa liburan belum tiba tapi karena aku akan lulus tahun ini jadi aku dan teman-temanku bisa berlibur lebih cepat untuk menghilangkan penat setelah ujian selesai. Hari ini kami putuskan

Crazy Autumn (Part 1)

Oleh:
Musim gugur. Daun-daun ketika itu juga dilihat dengan berbagai macam pandangan. Ia terlihat indah ketika melayang, meliuk, berhembus lembut menggapai tanah. Tak hanya itu, kerap kali beberapa orang yang

Tragedi

Oleh:
Dini terbangun mendengar suara gaduh di lantai bawah. Ia keluar kamar mencoba memastikan suara gaduh tersebut. Namun, apa yang dilihatnya di bawah sangat membuatnya takut. Keringat dingin mulai membasahi

Pisau Daging

Oleh:
“Shannon, jangan lupa! nanti malam datang ke pesta ulang tahunku ketujuh belas ya?” Laffy menyodorkan sepucuk undangan berwarna merah muda itu kepada Shannon. “Tentu saja! Terima kasih, Laffy!” Shannon

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *