Penghuni Kamar Motel No. 14 (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 22 April 2016

“Menjadi terkenal?”
“Bukan.” Bantah Teresa. “Aku hanya ingin diakui. Di dalam pergaulan, dalam masyarakat. Kau tahu? Aku tidak sering terlihat.”
“Apa maksudmu?”
“Aku tipe orang yang tertutup.” Ucap Teresa. “Bisa berbicara bebas seperti ini, rasanya sungguh menyenangkan. Aku tidak mengira akan bertemu dengan orang sepertimu hari ini.”
“Aku juga begitu.” Balas Dane.
Dane membawa Teresa masuk ke sebuah kedai. Sebuah restoran kecil yang terletak di samping sebuah pom bensin, dengan nama Waylonn. Tidak ada banyak orang di dalam kedai pada malam itu. Dane dan Teresa dapat mengobrol sesuka hati mereka.

“Ceritakan padaku!” pinta Dane sesaat setelah secangkir kopi tersaji di depannya. “Apa mimpimu?”
“Bukankah sudah ku katakan bahwa aku..”
“Kau bohong.” Potong Dane. “Gadis sepertimu, cantik, menarik, tapi tidak punya impian?”
Teresa tersenyum sesaat. Senyuman yang begitu singkat, namun ada daya pikat dalam setiap gerakannya. Yang membuat Dane nyaris kehilangan dirinya.

“Aku ingin menjadi aktris.” Ucap Teresa dengan sedikit malu.
“Bagus!” ucap Dane. “Sepertinya kau tidak akan menemui banyak kesulitan untuk mencapainya. Aku serius. Kau memiliki segala hal yang dibutuhkan untuk menjadi seorang.., aktris.”
“Tapi mimpi itu sepertinya begitu jauh bagiku.” Ucap Teresa kemudian. “Entahlah. Ada terlalu banyak masalah yang menimpaku. Hal ini, hal itu, dan hal apa lagi.”
“Kau menyerah?” canda Dane. “Jangan bercanda! Kau..”
“Kau belum tahu siapa aku, Dane.” Potong Teresa. Nada keseriusan tersirat dari cara bicara wanita itu. Kedua mata hijaunya memandang tajam ke arah Dane, yang sempat memberikan Dane sebuah gejolak di dalam hatinya. Satu gejolak, atau perasaan yang tidak menyenangkan.

“Jika saja kita bertemu lebih awal..” ucap Teresa. “Aku yakin mimpiku akan terwujud.”
“Kenapa kini terlambat?” tanya Dane. Teresa tidak memberikan jawaban atas pertanyaan itu. Bahkan hingga Dane mengajak Teresa untuk ke luar dari kedai itu, Terasa tidak banyak berbicara. Wajahnya terlihat begitu pucat, tanpa semangat. Seolah darah telah mengering dari tubuh wanita itu. Apa mungkin karena cuaca dingin di kota sepi ini?

“Katakan masalahmu padaku, Teresa.” Ucap Dane begitu ia dan wanita itu sudah masuk kembali ke dalam mobil. Dane memandangi wajah pucat Teresa. Namun wanita itu sama sekali tak mau memandangnya.
“Ada yang salah dengan kata-kataku?” tanya Dane. “Kau.., marah padaku?”
“Tidak.” Jawab Teresa lirih. “Bukan kau.”
“Teresa, ada apa sebenarnya?”
“Terlambat, Dane.” Ucap Teresa. “Semuanya sudah terlambat. Aku tidak akan bisa mengejar mimpi itu lagi.”

Dane menggelengkan kepalanya. Ia tidak mengerti dengan apa yang Teresa bicarakan, dan ke mana arah pembicaraan. Tiba-tiba saja kepalanya terasa begitu sakit. Kedua matanya berkunang. “Sebaiknya kita kembali ke motel.” Ucap Teresa. Jarum jam menunjukkan pukul setengah dua belas malam saat Dane dan Teresa kembali ke motel. Dane memarkir mobilnya di tempat semula. Tangannya kemudian bergerak cepat, menarik tangan Teresa yang hendak ke luar dari mobil. Anehnya, ia rasakan perasaan dingin saat memegang lengan gadis itu.

“Teresa..” ucap Dane.
Dane ingin melihat sekali lagi, senyuman itu. Senyuman yang dapat membakar asmara di dalam dadanya. Senyuman yang begitu menarik, bagi hati dan jiwanya.
“Dane..” ucap Teresa kemudian. “Apa kita bisa bertemu lagi? Bukan di sini. Mungkin di tempat yang lebih menyenangkan?”
“Tentu saja.” Jawab Dane.

Dane mengernyit saat Teresa kemudian memberikannya sesuatu. Teresa memasukkan benda itu ke dalam telapak tangannya. Sebuah cincin, dengan tulisan Teresa. “Kau mau menyimpannya untukku?” tanya Teresa. “Hingga kita bisa bertemu lagi. Suatu saat nanti.” Dane hanya bisa mengangguk tanpa dapat berkata apa pun. Mulutnya terkunci rapat, meski sebenarnya ia ingin mengatakan sesuatu pada Teresa. Wanita itu hanya tersenyum singkat, lalu pergi meninggalkan Dane duduk sendirian di dalam mobilnya. Dane bertanya-tanya, apakah besok pagi ia masih bisa menemui Teresa lagi?

Dane terbangun dari tidurnya keesokan harinya dengan kepala serasa dipukuli. Ia mendapatkan sakit kepala yang tak tertahankan, bahkan ia nyaris tak bisa bangkit dari tempat tidurnya. Tiga puluh menit kemudian, saat ia sudah dapat menangani rasa sakit di kepalanya, ia mulai mengepak semua barangnya dan siap pergi dari motel itu. Dane tentu saja masih ingat betul dengan apa yang terjadi semalam. Teresa. Wanita itu. Dane sempat mampir ke kamar nomor 14, namun pintunya sudah terkunci. Tidak ada tanda-tanda orang berada di dalam ruangan itu. Dane yakin benar bahwa wanita itu sudah pergi. Pria berkemeja biru yang Dane temui kemarin menyambutnya lagi saat Dane masuk ke ruang reception untuk mengembalikkan kunci. Dane sempat bertanya pada pria itu mengenai Teresa. Tamu yang tinggal di kamar nomor 14.

“Dia sudah pergi.” Ucap pria itu. “Mungkin tidak akan kembali lagi.”
“Ya, tentu.” Balas Dane. Ia pun tak mau kembali ke motel kecil seperti itu lagi jika tidak terpaksa.
Tepat pukul sembilan, saat matahari telah bersinar terang, Dane pergi meninggalkan motel Baskerville. Dengan harapan bahwa suatu saat ia bisa menemui Teresa lagi. Kapan? Dane tidak tahu. Dane mampir ke kedai Waylonn. Kedai yang ia datangi semalam bersama Teresa. Ia memesan makanan untuk mengganjal perutnya sebelum ia memulai sebuah perjalanan panjang.

“Kau sendirian kawan?” tanya seorang pria di belakang meja konter. Pria itu memandang sekilas pada Dane, sambil terus mengelapi gelas-gelas yang baru saja ia cuci.
“Ya.” Jawab Dane. “Hanya perasaanku, atau memang kota ini begitu sepi?”
“Sepi.” Ucap pria di belakang konter itu. “Blackwood selalu sepi di musim-musim seperti ini. Apalagi.., tidak. Lupakan saja!”

Dane melahap semua makanan yang ada di piringnya hingga tak tersisa. Sedetik setelah ia meminum kopinya, kedua matanya itu secara tak sengaja melihat tumpukan koran-koran tua di atas konter. Kedua mata Dante tertuju pada sebuah koran dengan tulisan ‘TRAGEDI’ di headline-nya. Ia teringat bahwa kemarin ia pun melihat koran yang sama di motel Baskerville. Dane dengan cepat menarik koran itu, lalu membaca judulnya, ‘TRAGEDI DI BLACKWOOD.’

Dane yang mulai merasa tertarik dengan kepala berita itu langsung membaca artikel yang tertulis di bawahnya. Namun, semakin lama ia membaca artikel itu, kedua alisnya semakin berkerut. Dane hampir tak mempercayai apa yang ia baca. “Seorang wanita ditemukan tewas di Baskerville Motel, di dalam kamar nomor 14 kemarin malam. Dari kartu identitas korban, korban diketahui bernama Teresa Jones, usia 28 tahun berasal dari Tuscan, Hauldnspring. Korban ditemukan dalam keadaan..” Dane seketika merasakan rasa pening di kepalanya, dan koran yang ia pegang itu jatuh ke lantai. Dane nyaris kehilangan kesadarannya, dan nyaris jatuh dari kursi yang ia duduki.

“Hei! Kau tidak apa-apa?”
Dane mengerjap. Napasnya terasa begitu berat, sementara kepalanya terus terasa berputar. Dane terkejut, dan tak mempercayai apa yang baru saja ia baca. Apakah hanya halusinasinya saja? “Kau!” seru sang pemilik kedai. Dane menoleh seketika, memandang ke arah wajah pria di balik konter itu.
“Kau tidak apa-apa?”
“Y-Ya. Aku.., baik-baik saja.” Jawab Dane tergagap.
Dane tak berani memandang ke arah koran yang terletak di lantai itu. Ia takut, dengan apa yang ia baca. Takut, dengan apa yang ia alami semalam. Apa yang terjadi? Tidak mungkin ia..

“Baskerville.., motel Baskerville.” Ucap Dane sedetik kemudian. Dane mendongak, memandang ke arah pria di belakang konter itu. “Kau tahu sesuatu mengenai motel itu?” lanjut Dane.
“Motel itu sudah satu tahun ini tutup.” Jawab pria di belakang konter itu. “Kenapa? Oh! Kau kenal dengan korban? Teresa Jones, yang katanya ingin pergi ke New Himpton untuk menjadi…”

Suara di sekeliling Dane serasa menghilang seketika saat Dane terhanyut dalam perasaan takutnya. Dane merasakan segalanya tidak normal, berputar cepat, dan ia tak bisa untuk menahan segala gejolak yang ada di dalam dirinya. Hingga akhirnya ia tak sadarkan diri. Begitu ia tersadar, ia sudah duduk di lantai. Pria pemilik kedai itu memberikannya segelas air putih, yang segera ia tenggak habis. Dane masih tidak mempercayai apa yang ia dengar. Ia bertanya sekali lagi mengenai tragedi yang tertulis di koran itu pada sang pemilik kedai. Dan berita itu benar. Teresa Jones merupakan korban yang ditemukan kamar Baskerville nomor 14 setahun yang lalu.

Dane tidak dapat menjelaskan apa yang ia alami. Semalam, segalanya terasa begitu normal. Hujan itu nyata. Bahkan ia masih dapat melihat genangan air pagi itu. Lalu apa yang terjadi padanya? Apakah ia baru saja tidur di motel yang sudah kosong itu? Dane ingin memastikannya. Ia bawa mobilnya ke depan motel Baskerville, dan ia lihat dengan jelas keadaan bangunan yang sudah tak terawat itu, dengan halaman beton yang sudah dipenuhi dengan rerumputan liar. Keadaan motel itu begitu suram. Jauh berbeda dengan apa yang ia lihat hari sebelumnya. Ini adalah pertama kalinya Jones berinteraksi dengan dunia supranatural, meski kadang ia tak mempercayainya. Namun kali ini nyata. Motel itu, pria berkemeja biru, lalu Teresa..

Dane kembali mengernyit saat ia secara tak sengaja menemukan sebuah benda di dalam saku celananya. Sebuah cincin, dengan tulisan Teresa di permukaannya. Dane tersenyum janggal. Meski semalam hanyalah sebuah petualangan supranatural, Namun Dane tetap tidak akan bisa melupakan wajah wanita itu. Teresa. Seorang wanita muda yang memiliki impian untuk menjadi seorang aktris. Kini Dane mengerti dengan apa yang Teresa ceritakan semalam mengenai impiannya yang sudah terlambat, dan tidak bisa dicapai lagi itu. Teresa telah tiada. Tapi Dane mempunyai cincin Teresa. Teresa mengatakan bahwa ia ingin bertemu lagi dengan Dane. Apakah Dane akan merasa takut jika suatu saat ia bertemu lagi dengan arwah Teresa itu? Dane rasa, jika ia bisa bertemu dengan wanita itu lagi, ia akan menggunakan kesempatannya dengan sebaik mungkin. Ia mungkin akan membawa Teresa ke New Himpton. Ke tempat impian Teresa saat ia masih hidup. Mungkin dengan begitu, arwahnya akan dapat beristirahat dengan tenang.

Cerpen Karangan: G. Deandra. W
Blog: mysteryvault.blogspot.com
Untuk cerman lain, silahkan kunjungi blog saya mysteryvault.blogspot.com

Cerpen Penghuni Kamar Motel No. 14 (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kebenaran Atau Fakta

Oleh:
Aku berjalan menaiki tangga menuju lantai dua gedung itu. Di lantai dua banyak rak-rak buku yang berbaris berhadapan dan menjulang tinggi. Beberapa diantaranya bahkan sangat tinggi untuk dijangkau, meskipun

She

Oleh:
Langit malam ini begitu hitam pekat. Hanya ada bulan dengan cahayanya yang samar tertutup hujan lebat sejak tadi sore. Zack menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. Bocah lelaki itu begitu

Hutanku Harga Mati

Oleh:
“Krek… krek…” terdengar dari kejauhan. “Suara apa itu sebenarnya?” tanya Juki pada dirinya sendiri. Sekeliling Juki tampak berkabut yang sangat pekat. Semakin terdengar jelas suara misterius itu. Selangkah. Dua

Sakura Harumi

Oleh:
Namaku Violetta, panggil saja Vio. Ada siswi baru yang pendiam di kelasku ini. Dia bernama Sakura Harumi. Sifat dingin, cuek dan misterius, tapi dia cantik, cerdas dan juga kaya.

Dying Wish (Part 1)

Oleh:
Saekokuchi Tsukasa adalah perempuan yang misterius. Itulah impresi awalku saat pertama kali kenal dengannya. Tidak, mungkin bahkan saat aku pertama kali melihatnya. Dan jika ditanyakan, sampai sekarang pun kesanku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *