Petunjuk Kematian

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 30 June 2017

Seonggok mayat perempuan tergeletak di belakang halaman kampus, hanya terbungkus selembar koran. Sungguh mengerikan. Jasadnya mulai mengeluarkan aroma busuk, tangan tertusuk paku sampai menembus tanah dan darah segar masih mengalir di semua indera. Sungguh membuat mual dan jijik siapapun yang melihatnya.

Pembunuhan di salah satu kampus kota Bandung, masih menjadi misteri yang belum terpecahkan sampai saat ini. Suasana kampus yang jenjam berubah mencekam.

Salsa duduk termenu di pelataran dekat taman kampus. Linda, sang korban adalah teman satu fakultasnya. Bahkan sehari sebelum pembunuhan, mereka masih mengerjakan tugas kampus bersama.

“Hey! melamun mulu. Ayam tetangga pada mati, lho!”
“Joseph! Ish… kamu mengagetkanku saja,” Salsa tergemap, sambil memukul ringan bahu Joseph.
“Kenapa sih, Sa? Aku perhatiin akhir-akhir ini kamu banyak melamun?”
“Nggak, kok. Aku masih belum percaya aja, pembunuhan sadis Linda yang sampe sekarang masih ngambang kasusnya. Polisi juga belum menemukan bukti-bukti kongkrit atau titik terang motif pembunuhan. Apalagi mengetahi siapa pelakunya. Bahkan semua mahasiswa dan dosen sekalipun belum menemukan tanda-tanda seseorang yang mencurigakan atau patut dicurigai. Sangat aneh kan, Josh?”
“Um… tidak aneh sih kalau menurutku,” balas Joseph. Salsa mengernyitkan dahinya bingung. “Loh kok bisa gitu?”
“Pembunuhnya pasti sudah merencanakan dari jauh-jauh hari tanpa meninggalkan barang bukti sedikit pun. Karena jika ada setitik bukti saja, celah polisi untuk mengetahui siapa pelaku sebenarnya semakin besar. Sepertinya pembunuh Linda bukanlah pembunuh amatiran,” jelas Joshep. Matanya mendadak tajam. Sedang Salsa bergidik ngeri mendengar penuturan temannya.
“Hehe… aku menakutimu, ya, Sa? Sudah jangan terlalu dipikirkan. Mending sekarang kita nonton latihan band-nya Dias sama Melda di studio?”
“Ya udah, yuk!”

Malam telah menjelang, Salsa masih disibukan mengerjakan tugas kampus. Mau tak mau ia harus menuntaskannya malam ini juga, karena besok memang hari terakhir pengumpulan tugas.

Tiba-tiba sesosok bayangan remang melintas begitu saja dekat jendela kamarnya yang masih terbuka. Salsa terkesiap. Ia sempat menghentikan ketikan tangannya dan berbalik melihat jendela. Tidak ada apapun. Hanya hembusan angin malam berkelebat singkat. Tatapan Salsa kembali fokus melihat layar laptop, meskipun perasaannya terasa pelik dan takut.

Terlihat jam telah menunjukan pukul sepuluh malam. Kantuk mulai menjalar ke seluruh saraf otaknya. Ditutupnya jendela kamar yang masih terbuka, ditelusup angin malam. Entah kenapa suasana di luar rumah begitu sepi bahkan sedikit mencekam. Tidak seperti biasanya. Salsa terlihat sedikit ketakutan. Lekas berbaring dan menenggelamkan wajahnya ke dalam selimut tebal. Matanya ia pejamkan paksa. Berharap segera tertidur dan mendapati hari telah pagi.

Tak ada yang berubah dari aura kampus seminggu ini. Garis polisi masih terbentang di halaman belakang kampus dekat pohon flamboyan berbatang kokoh. Daunnya begitu rindang dan anggun. Tapi sayang, di balik keindahannya, menyimpan asrar yang dianggap tabu jika berteduh atau hanya sekedar bercokol melepas penat. Semakin kentara setelah terjadi pembunuhan Linda tepat di samping pohon itu.

Salsa, Dias, Melda dan Ririn terlihat sudah berada di depan kampus. Mereka masih menunggu Joseph yang belum terlihat batang hidungnya. Ahh, tidak seperti biasanya. Joseph selalu datang lebih awal dari mereka. Apa ia tak masuk kelas hari ini?

“Biar gue coba telpon,” seru Dias.
“Iya Di, buruan! Kita kan ada kelas pagi ini,” balas Melda berkarut.
“Hallo Josh, lo dim…, ?”
“A… apa??”
“Baik Pak, terima kasih.”
“Di, ada apa? Joseph kenapa, Di?” tanya Melda panik. Salsa dan Ririn juga tak kalah panik.
“Joseph di rumah sakit. Barusan tetangganya yang telpon. Sebaiknya kita ke sana sekarang!”

Joseph masih terbaring di rumah sakit. Kakinya terbalut kassa. Ia mengalami patah tulang ringan. Tubuhnya bergetar. Setiap lekuk wajahnya menandakan perasaan gamang. Meskipun dengan ucapan terbata, Joseph menceritakan insiden aneh yang ia alami pagi tadi sebelum berangkat ke kampus.

Josh menemukan sebuah foto yang terselip di kaca kamarnya. Foto seseorang laki-laki sudah tak bernyawa, tergeletak dengan kondisi mengenaskan. Joseph tak menaruh curiga apapun. Tapi semua kejanggalan bermunculan ketika ia membaca tulisan di balik foto. ‘kamu akan mati, seperti foto itu’. Tak lama, tiba-tiba sesosok misterius mendorong joseph hingga jatuh dari lantai dua rumahnya. Posisi yang sama persis seperti foto yang masih ia pegang. Salsa, Dias, Melda dan Ririn sangat terkejut mendengarkan penuturan Joseph. Ketakutan itu terasa menghantui perasaan mereka masing-masing.

“Apa pelakunya sama dengan orang yang membunuh Linda? Apa yang akan terjadi selanjutnya? Apa semua itu akan menimpa kita?” tanya Salsa bertubi-tubi. Rasa resah dan gelisah sungguh menggentayanginya. Bukan hanya dirinya, tapi ketiga sahabatnya pun merasakan kecemesan begitu kerap menghantui.
“Ssst… jangan berbicara seperti itu, Sa. Kita semua akan baik-baik saja.” Dias memeluk Salsa, mencoba untuk menenangkannya.

Dua minggu sudah kejadian aneh dan misterius yang menimpa Joseph. Kondisinya sudah membaik. Ia sudah dapat berjalan tanpa menggunakan alat bantu lagi ke kampus. Melda selalu menamani Josh. Bukan hal yang pelik lagi, karena memang Melda memendam perasaan pada Josh, notabene sahabatnya sendiri. Tapi ia tak mempunyai keberanian sedikit pun untuk menyatakan segala isi hatinya. Mungkin lewat perhatian-perhatian kecil, sudah mewakili kalau ia menyukainya. Banyak pertimbangan selain itu, terlebih sahabat lebih penting dari pada rasa suka. Disaat Josh masih sakit, Melda lah yang setiap hari mengantar jemputnya ke kampus. Alasan mendasar, alih-alih karena rumah mereka satu arah. Setelah mengantar Josh, Melda berniat untuk berkunjung ke Villa Ayahnya di salah satu tempat wisata alam kota Bandung.

“Apalagi ini? Huh!” rutuknya kentara diselingi desisan kesal ketika melihat panel indikator pada dashboard mobilnya mengarah pada symbol E. Mobilnya mogok, padahal belum setengah tempuh perjalan. Jalan perhutanan seperti ini mana ada sebuah eceran atau pom bensin. Melda merogoh tasnya, mencari handphone untuk menelepon saja ajudan Ayahnya.

Saat bersamaan, Melda mematung. Sorot matanya mendadak layuh. Tangannya bergetar hebat ketika ia mendapati sebuah foto seorang gadis mengenaskan di dalam tasnya. Kondisi wajah terkelupas, dadanya tertusuk pisau, tubuhnya tergolek lemas di antara hutan belantara. Dengan keberanian yang Melda kumpulkan, dibaliknya sebuah foto misterus itu. Tepat! ‘kamu akan mati, seperti foto itu.’ Kalimat terkutuk itu mampu membuat darahnya mendesir hebat. Memacu jantungnya agar mempompa lebih cepat dan dalam. Deraian air matanya mengalir deras. Siluet sosok misterius bertopi hitam berada di belakang Melda sekarang. Tangan kanan memegang erat sebilah pisau tajam.

Melda berbalik. Nafasnya tercekat. “Ka… kamu?” ucapnya terbata seakan penuh tanya. Sosok misterius itu hanya berseringai dan tersenyum miring.

JLEB.
Secepat kilat, pisau tajam itu menancap dalam tepat di jantung Melda. Lolongan terakhirnya sungguh pilu dan menyayat, bersamaan dengan burung liar yang terbang ke atas langit. Jasad Melda tergolek lemah di atas tanah berlumpur. Matanya membola dan berlinang air mata kepedihan. Belum puas dengan menancapkan pisau di jantungnya, dengan sadis sosok misterius itu mengkuliti wajah Melda, diselingi dengan tawa busuk.

Selimut duka masih dirasakan oleh keempat sahabat Alm. Melda. Candaan dan kekonyolannya masih terasa hadir di tengah mereka. Tak disangka, ia telah berpulang begitu cepatnya. Salsa dan Ririn masih menyisakan tangis mendalam. Joseph paling terpukul setelah kematian Melda yang begitu tragis dan mengenaskan. Setiap harinya hanya memandangi foto bahagia keduanya, berlatar pantai Losari. Tatapan Joseph sungguh nanar penuh kepedihan. Dias menepuk bahunya pelan, memberikan suntikan semangat. Percuma saja berlarut-larut dalam kesedihan. Toh. Melda tak akan kembali lagi ke dunia. Saat ini Melda hanya butuh doa dan ketegaran orang-orang yang ia sayangi dan menyayanginya.

Setelah kejadian Misterius yang menimpa sahabat-sahabatnya. Ririn memutuskan untuk pindah kuliah ke Surabaya dan tinggal bersama Neneknya. Ia mengalami tekanan jiwa. Tak ada lagi keseruan atau kenyamanan yang selalu ia katakan tentang Bandung. Semuanya telah berubah. Hanya sisa kepahitan dan remuk redam yang masih tertinggal di kota kembang. Hari minggu adalah hari yang paling Salsa tunggu. Biasanya ia hangout atau sekedar jalan-jalan bersama Dias, Melda, Ririn dan Joseph. Namun sayang, hari minggu sekarang dan selamanya akan menjadi hari yang paling ia benci.

Salsa menjatuhkan tubuhnya di atas sofa empuk. Guna mengusir kebosanan, dirinya menyalakan TV dan memilih-milih channel yang bisa sedikit menghiburnya. Tangannya terhenti. Matanya fokus menyimak sebuah berita. “Kasus pembunuhan di Surabaya. Seorang perempuan berusia sekitar 22 tahun tewas mengenaskan dengan kondisi tercekik sebuah kawat di dalam kamar Mandi. Tangan kananya memegang sebuah foto yang sama persis menimpanya saat itu. Terdapat tulisan di belakang foto ‘kamu akan mati, seperti foto itu.’ Korban bernama Ririn Wulandari masih diautopsi oleh tim forensik. Belum diketahui siapa dan motif apa pembunuhan yang menimpa korban. Semuanya masih menjadi misteri,” tutur salah satu reporter.

DEG! Jatung Salsa terasa berhenti seketika. Matanya menandakan ketakutan yang teramat dalam. Dengan tangannya yang masih bergetar hebat, ia mencoba menekan tombol angka satu pada layar Hp-nya yang akan langsung tersambung dengan Dias.

“Hallo, Sa, ad…”
“Di, cepatlah ke rumahku. Aku takut Di… aku takut…” suaranya mencicit. Di seberang telepon sana, Dias kentara sangat khawatir.
“Baiklah, aku ke sana sekarang. Kamu jangan ke mana-mana sebelum aku datang, ok!”

Salsa meringkuk di pelukan Dias. Isakan tangisnya semakin pecah. Dias hanya mengelus punggung Salsa, memberikan sedikit ketenangan.
“Ssst… jangan takut, Sa. Aku ada di sini. Aku akan menjagamu,” tuturnya menenangkan.
“Aku takut Di, aku takut semuanya akan terjadi padaku, kamu dan Josh” Salsa berkata parau.
“Itu semua gak akan terjadi, Sa. Lihatlah Josh, dia masih baik-baik saja kan setelah menerima foto misterius itu? Dan kita juga akan baik-baik saja. Sstt, jangan nangis lagi, ya,” ucap Dias lembut. Tangisan Salsa pun mereda setelah mendengar penuturannya. Efeknya sungguh memberikan rasa aman dalam hatinya melebihi obat hipnotika. Mata lelahnya perlahan terpejam. Pegangan tangannya melemah. Salsa tertidur dengan posisi kepala terbenam di perut Dias.

Melamun dan melamun telah menjadi hobby Salsa sekarang ini. Hari demi hari dilewatinya penuh kehampaan. Tak ada lagi senyuman bahagia yang selalu menjadi hiasan terindah di wajahnya. Tak ada lagi pertengkaran kecil dengan sahabat wanita terbaiknya. Sekarang ini, hanya Dias dan Josh sebagai tumpuan dan tempat berlindung teraman yang dimiliki Salsa. Jam tangannya menunjukan pukul 15.30. Hari senin di jam itu adalah latihan bandnya Dias di studio musik. Tadinya Salsa ingin mengajaknya jalan-jalan dan menikmati angin sore. Oh iya, Josh. Lebih baik ia mengajak Josh saja, sekalian mengantarkan bukunya yang dipinjam dirinya waktu lalu.

Rumah Josh terlihat sepi. Beberapa kali Salsa mengetuk pintu, tapi tak ada sahutan sama sekali. Matanya menangkap sebuah jendela yang terbuka. Tidak mungkin kalau tak ada siapapun jendela rumah terbuka seperti ini, pikir Salsa.

“Josh… Joseph?” panggil Salsa tepat di jendela terbuka. Tapi masih tak ada sahutan. Disibaknya tirai yang tergantung. Gelap. Sebuah ruangan gelap tertangkap pada bidikan matanya. Tapi ruangannya mirip dengan ruangan cuci cetak. Banyak sekali foto-foto hasil cetakan tergantung. Ada sebuah tangki khusus dan alat penimbul terpajang di sana. Sejak kapan Josh menyukai cetak foto manual? Seingatnya Joseph tak pernah bercerita tentang hobbynya yang satu ini. Entah kenapa rasa penasaran menggelayuti otak Salsa. Dengan hati-hati, ia masuk ke rumah Joseph lewat jendela. Siapa tau saja Josh ada di sana. Mungkin saja ia tak mendengar sahutannya.

Salsa mengamati satu per satu foto yang sedang dikeringkan. Ia menelan ludahnya kasar. Tubuhnya mendadak seperti patung. Linda, Melda dan Ririn. Kenapa foto-foto mereka berada di sana? Foto di saat pembunuhan berlangsung masih basah tergantung. Pertanyaan-pertanyaan bermunculan di otaknya.

“Jangan-jangan yang membunuh mereka?” Salsa menutup mulutnya sendiri. Tubuhnya seakan mengalami kelumpuhan. Rasa ketidakpercayaan dengan kenyataan yang ada sungguh membuatnya merasakan sayatan pisau mengkuliti hatinya perlahan. Perasaan tak kasat mata itu jauh lebih menyakitkan. Menamparnya telak. Sebuah foto laki-laki yang ditembaki tepat di kepalanya.
“Dias,” satu kata itu meluncur di bibirnya yang masih kelu. Pasti foto itu petunjuk kematian yang akan dilakukann Joseph terhadap Dias.

Dengan segala kekuatan yang masih terkumpul, ia segera keluar dan meninggalkan rumah temannya. Bukan! Tepatnya rumah pembunuh keji dan biadab.

Salsa tak mendapati Dias ada di studio musik. Ia tak datang. Pikirannya tambah kalang kabut. Ke mana laki-laki busuk itu membawa Dias. Gedung kampus. Foto penembakan itu seperti di balkon kampus. Salsa berlari dengan secepat ia bisa.

Tangisan dan lolongan terasa mengiris hati ketika dirinya melihat siluet tubuh Dias sudah terbaring lemah. Darah segar mengalir tepat di kepalanya. Beberapa kali Salsa memukul bahunya, berharap laki-laki yang ia sayangi bangun kembali. Namun naas, Dias telah meninggalkan dirinya untuk selamanya.

‘Prok… prok’
“Ouh! Sungguh pemandangan yang mengharukan,” tawa sinis seseorang tepat di belakangnya. Salsa berbalik.
“Joseph! Kenapa, Josh? Kenapa kamu membunuh MEREKA! Kenapa Josh?” teriak Salsa menggema, ditemani butiran luka yang mengalir deras.
“Karena mereka semua pengganggu! Jadi kubunuh saja mereka. Bahkan aku rela mencelakai diriku sendiri dengan menjatuhkan tubuhku dari lantai dua rumah. Dan kamu tau, perempuan menyebalkan yang terus saja mendekatiku. Iya. Linda dan Melda membuatku pusing. Jadi merekalah yang kulenyapkan pertama. Ririn, wanita jal*ng itu selalu membuat telingaku sakit dengan ocehannya. Berani sekali kabur ke Surabaya. Terpaksa aku bunuh saja di sana! Dan si Dias, laki-laki brengsek itu terus saja mendekatimu. Tadinya ingin kupotong-potong tubuhnya lalu kubirakn menjadi santapan anjing. Menembakinya saja rasanya belum membuatku puas,” Josh tertawa setan.
“Kamu binatang! Kamu psikopat, Josh! Kenapa kau tak membunuhku juga, HAH!”
“Karena aku mencintaimu, Sa! Dari dulu. Tapi Dias selalu berada di dekatmu, aku marah Sa. Tapi sekarang laki-laki brengsek itu sudah tak berguna dan menjadi mayat. Tak ada lagi pengganggu kita, Sa. Ayo menikahlah denganku dan hidup bahagia bersama”
“Menikah kamu bilang? CIH! lebih baik aku mati saja dari pada menikah dengan laki-laki psikopat sepertimu. Ayo tembak aku, tembak sesuka hatimu. Ayo, biadab!”
Mata Josh merah padam. Rahangnya mengeras. “Sa, kamu menolaku? Kamu membuatku sakit hati, Sa. Baiklah kalau itu yang kamu mau. Maafkan aku, Sa. Maafkan aku,”
Josh menodongkan pistol tepat di jantung Salsa. Ia hanya mampu terpejam menunggu detik kematian.

DORR.
Satu peluru telah bersarang di tubuh Joseph. Ternyata polisi lebih dulu menembaknya. Josh tertawa singkat lalu tersenyum memandangi Salsa, sebelum tubuhnya ambruk dan terkulai.

Pembunuhan sadis yang selalu menghantui Salsa, kini sudah terungkap bersamaan dengan perginya orang-orang yang sangat ia sayangi. Dipeluknya tubuh Dias untuk terakhir kalinya dengan diiringi rintikan hujan dan deraian air mata penuh luka. Tak akan ada lagi seseorang yang mampu membuat hatinya terasa aman dan nyaman. Kehilangan Dias bagai kehilangan sebuah tali tipis tempat menggantungkan semua kebahagiaannya. Salsa kembali terisak dalam naungan senja yang mulai hadir.

END

Cerpen Karangan: Fitri Aisyah
Facebook: Fitri Aisyah Asyahla
Lihat ceritaku yang lain di akun facbook bernama Fitro Aisyah Asyahla

Cerpen Petunjuk Kematian merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Deathless (Part 1)

Oleh:
Bunyi sirene ambulans baru saja melintas terdengar sahut-menyahut. Suaranya seolah mendengung dalam telinga, terekam menjadi sel-sel anyar dalam kepala Kazuya, sambil mengatur napas yang keluar-masuk, matanya mengerjap beberapa saat.

Mimpi

Oleh:
Derap langkahku yang berlari tergesa memecah kesunyian lorong rumah sakit yang tampak muram. “pulanglah Cleo. Papa sakit,” ucapan mamaku di telepon siang tadi masih terngiang di telingaku. Aku memang

Puisi Misterius

Oleh:
Namaku Citra, aku masih duduk di bangku kelas dua sekolah menengah atas. Sekolahku sangat besar dan terkenal, aku merasa nyaman di sini. Tetapi belakangan ini ada sesuatu yang selalu

Mysterious Admirer

Oleh:
Siapa yang tak kenal dengan Carl, cewek yang paling populer di sekolah terelit di pusat ibu kota. Tiada yang tau seperti apa keluarganya, tetapi dilihat dari cara berpakaian dan

Warisan Yang Terputus

Oleh:
Pintu tertutup dengan tiba-tiba. Lampu tua yang berdebu berkedip-kedip. Sesosok kakek tua muncul dari sisi gelap ruangan. Setelah itu menyusul si nenek dan cucunya yang kepalanya mengucurkan darah entah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

2 responses to “Petunjuk Kematian”

  1. keren eh cerpennya…
    gimana membuatnya? kayaknya susah…

  2. Sissy Wang says:

    Keren banget cerpen nya ! i love it so much

    For : Kak Fitri Aisyah
    Judul cerpen : Petunjuk Kematian

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *