Promissue (Misi Tersembunyi) (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 10 May 2016

Sebuah rumah bercat putih berdiri di samping pohon beringin. Halamannya sangat luas, dipenuhi bunga-bunga, di samping rumah terdapat kebun yang tak terawat. Kebun itu telah berubah menjadi hutan, semak-semak belukar menjadi properti utama kebun itu.

“Ayah, jangan pulang terlalu lama…” ucap seorang gadis menyalami ayahnya yang hendak pergi bekerja. Pekerjaan ayahnya ialah mendagangkan barang-barang ke kota. Kadangkala, ayah pulang setelah berdagang berbulan-bulan.
“Ayah akan pulang segera,” ucap sang ayah mencium dahi anaknya. Gadis itu tersenyum, kemudian melambaikan tangan pada kereta kuda ayahnya.

Sepi. Sunyi. Mungkin itulah yang terjadi. Gadis itu tinggal bersama bibi-bibi yang membantu kerja di rumahnya.
“Eva, makanlah. Sarapanmu sudah siap,” ucap seorang bibi meletakkan sepiring nasi goreng di meja makan keluarga Eva, gadis itu.
“Terima kasih,” ucap Eva sembari duduk di kursi dan melahap sarapannya.
“Ayo, makan sama-sama,” ajak Eva di sela makannya.

Cukup mengerikan tidur sendiri di rumah besar nan tua peninggalan keluarga dari generasi ke generasi. Rumah Eva memang besar, namun pencahayaannya redup. Ketika malam tiba, saat para bibi di rumahnya pulang, tinggallah Eva seorang diri, di dalam kesunyian rumah tua ini. Dulu, Eva tinggal bersama Ibu dan kakak perempuannya, namun ibunya pergi ke kota untuk mencari pekerjaan. Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, ibu tak kunjung datang. Eva mulai gelisah, ibunya telah lama meninggalkannya. Hingga tibalah kabar dari seorang teman ibu dari kota yang mengabarkan bahwa ibu telah meninggal dunia.

Kakak Eva bernama Euglena, terkadang dipanggil Kak Gena. Kak Gena adalah seorang pianis, penulis, dan seorang komikus. Banyak karya Kak Gena yang telah tersebar, namun pada suatu hari, Kak Gena sakit dan ia tidak bisa melanjutkan karirnya sebagai komikus dan penulis. Namun Kak Gena tetap bersemangat bermain piano di depan adiknya, Evangelina. Kian hari, keadaan Kak Gena kian memburuk. Hingga seminggu setelah kabar meninggalnya ibu, Kak Gena ikut menyusul, Kak Gena meninggal, dan Eva tak tahu bagaimana bisa kakaknya meninggal. Eva melangkahkan kakinya menuju dapur, kemudian membantu Bibi Grace memasak.

“Eva?” Bibi Grace tersadar dari kegiatan memasaknya, Eva berdiri di sebelahnya sambil tersenyum.
“Ada yang bisa ku bantu?” tanya Eva berharap. Senyumnya, mengingatkan Bibi Grace pada Kak Gena.
“Eva beristirahatlah, pasti Eva sangat lelah,” Bibi Grace tersenyum membalas senyuman Eva.

TEEETTT!!!

Alarm kebakaran berbunyi. Paman Watson datang dengan wajah pucat pasi.
“Kenapa, Watson?” tanya Bibi Grace penasaran.
“Apa yang terbakar? Ini bukan waktu yang tepat untuk berbicara! Kita harus selamatkan diri!” ucap Eva mulai gopoh.
“Tidak, Eva. Bukan kebakaran, tetapi…” Paman Watson menggantung kalimatnya membuat Eva dan Bibi Grace penasaran.
“Bibi Lily bunuh diri,”

JDAR!!!

Eva langsung terkejut. Bibi Lily adalah bibi yang bertugas di kebun. “Ke-kenapa? Apa yang terjadi?” tanya Eva mulai lemas. Paman Watson dan Bibi Grace membantu Eva duduk. “Bibi Lily berbicara dengan paman tentang kabar Ibumu di kota, dia tidak tahu kalau Ibumu meninggal. Bibi Lily syok karena Ny. Zelina tidak pulang dan tidak ada kabar. Lalu…” Paman Watson kembali menggantung kalimatnya.
“Ia tak sanggup bekerja, karena ia berkata bahwa ia punya janji besar pada Ny. Zelina dan ia tak dapat menepatinya, ia takut Ny. Zelina marah besar padanya, dan kemudian… ia bunuh diri.” Eva stres akibat kejadian ini, sepenting apa janji itu sehingga membuat Bibi Lily bunuh diri?

Halaman belakang rumah Eva masih terlihat menyeramkan, tali bekas Bibi Lily gantung diri masih terikat sempurna di pohon beringin. Keanehan mulai terjadi sejak Bibi Lily meninggal, beberapa asisten rumah tangga kian berhenti bekerja. “Kenapa semuanya nggak mau kerja di rumah Eva, Bi?” tanya Eva dengan nada sedih. Bibi Grace melihat kedua mata Eva yang berair, “Sejak Bibi Lily meninggal, mereka berpikiran bahwa Bibi Lily masih ada dan mengganggu rumah ini akibat janji itu, janji itu yang membuatnya bunuh diri. Dia sangat menyesal tak bisa menepati janjinya.”

Eva menangis, perasaan sedih dan takut bercampur menjadi satu. “Eva tidurlah dulu, Bibi akan segera pulang. Malam sudah larut,” Bibi Grace mengantarkan Eva ke kamar. Kemudian Bibi Grace berjalan ke luar. Rumah ini bagaikan kuburan saat malam, sepi sekali. Banyak lorong gelap di setiap sisi, dan banyak foto dari keluarga besar Eva yang terpampang rapi nan berdebu di dinding.

“Aku menyesal…”

Suara itu terdengar dari lorong gelap di belakang Bibi Grace. Suara ini sangat khas, Bibi Grace kenal suara ini. Bibi Grace tak sanggup melihat ke belakang, ia berlari menuju pintu luar. “Apakah Eva akan aman sendirian?” tanya Bibi Grace dalam hati. Bibi Grace gagal melangkahkan kakinya ke luar, seseorang menarik tangannya untuk terus di dalam.
“Bibi Grace…” panggil Eva menarik tangan Bibi Grace.
“Eva takut sendirian…” Eva memperlihatkan wajah pucatnya.
“Di sini seram, Bi,” sambung Eva gemetaran. “Eva nggak mau tinggal sendiri.”

Bibi Grace sejujurnya juga takut berada di rumah ini, cahaya redup, banyak kamar kosong, dan sangat sunyi, makhluk astral tentunya mengisi kesunyian. “Bibi akan segera ke sini besok pagi,” ucap Bibi Grace meninggalkan Eva sendirian. Bunyi jangkrik lenyap setelah Bibi Grace pergi, suara burung hantu yang berkicau kian sunyi menyisakan tangisan serak dari sudut rumah.

“Akkhh!!!” Eva berteriak saat seseorang mencekik lehernya, kukunya sangat panjang sehingga melukai Eva. Eva tak dapat berbicara, lehernya tercekat. Perlahan ia lemas dan jatuh ke lantai, kepalanya mungkin terbentur saat terjatuh. Orang itu pergi seolah tanpa dosa, ia lenyap seketika saat angin kencang berhembus. Samar-samar Eva melihat seorang wanita berjubah putih menghadap ke belakang, jubahnya penuh bercak darah, dan di belakang jubahnya tertulis ‘Gaeluen’, tapi Eva berpikir… bukan wanita ini yang tadi mencekik lehernya. Lalu, siapa? Penglihatannya remang-remang sebelum akhirnya.. semua hitam, dan tidak ada yang terlihat lagi.

Aku terbangun di sebuah ruangan serba putih. Di mana tangan kiriku tertancap infus, dan di leherku terdapat alat medis yang tak ku tahu namanya. Aku hanya melihat seorang wanita paruh baya di sampingku, menangisiku? Mungkin saja. Aku tak tahu namanya, aku tidak tahu. Aku tidak mengenali wanita ini, aku melupakan bagaimana aku bisa melupakannya.

Aku melihat tangan kananku, cakaran wanita ganas nan mengerikan semalam, aku tak melihat wajahnya, kemudian aku… Akh! Kepalaku terasa ditimpa beton! Aku tidak mampu berpikir lagi, mungkin tidur adalah cara terbaik.

Eva terbangun dan tak menemukan seseorang pun yang dapat menjelaskan keadaannya sekarang. “Lily…” Eva mengeja nama itu, ia merasa pernah menyebut nama orang itu di masa lalunya. Hanya nama itu yang menempati posisi pertama di memorinya, hanya orang itu, dan Eva tak tahu siapa orang itu.

“Hai, Eva? Bagaimana kabarmu?” tanya seorang wanita. Eva tersenyum, ia berteriak dalam hati bahwa wanita ini dapat menjelaskan keadaannya. “Eum… Nyonya? Bisakah anda katakan sesuatu tentang keadaanku? Dan katakan bagaimana aku bisa seperti ini?” tanya Eva.
“Eva? Jangan seformal itu, aku Bibimu, Bibi Lily,” ucap wanita itu tersenyum. “Kau pingsan saat terjatuh di tangga, dan mungkin ingatanmu sedikit membingungkan, bukan? Tak apa, waktu mungkin akan membantumu mengingat ingatan yang kau lupakan kembali,” ucap Bibi Lily tersenyum. Eva sadar, bahwa ia tak dapat lanjutkan percakapan, karena menurutnya percuma, ia tak tahu lebih dalam tentang Bibi Lily.

“Bagaimana kabarmu, Ev?” tanya seorang gadis yang lebih tua darinya.
“Dia Kakakmu, biasanya kau memanggilnya Kak Gena,” Bibi Lily berucap kembali.
“Kau terlalu konyol bermain di anak tangga, Ev, ingatanmu bermasalah. Sungguh terlalu kau melupakan aku,” Kak Gena membanggakan diri, seakan dialah yang paling penting dalam hidup Eva.
“Ya,” Eva merespon Gena dengan mengiyakan saja.
“Evangelina…” panggil seorang wanita ke arah Eva, itu adalah Ny. Zelina, ibu Eva.
“Ibu?” Eva langsung memeluk ibunya seakan tak ingin melepaskan pelukan itu. “Eva, Ibu akan bicara dengan Bibi Lily, tetaplah di sini bersama Kak Gena,” ibu berlalu sembari meninggalkan Eva dan Kak Gena di ruangan itu.

“Berjanjilah padaku untuk menjaga kedua anakku, Ly..” ucap Ny. Zelina dengan mata berair.
“Aku akan mengusahakan itu, nyonya. Tapi, aku tidak bisa berjanji padamu, terlebih Gena sudah memiliki riwayat penyakit mematikan itu, dan saya tidak bisa menjaga mereka seperti keinginan nyonya,” Bibi Lily masih menolak perkataan Ny. Zelina.
“Aku akan pergi sangat lama, dan aku tidak bisa berjanji akan kembali lagi. Tolonglah, aku ingin mereka bahagia di sini, walau aku tak bisa bersama mereka,” Ny.Zelina berusaha meyakinkan Bibi Lily.

“Baiklah, nyonya, aku berjanji akan merawat Eva dan Gena semampuku hingga nyonya datang.”
“Jika kau melanggar janjimu, aku tidak bisa berkata apa pun. Aku tidak akan memaafkanmu, Lily,” kalimat terakhir terdengar mengancam. Ny. Zelina pergi menuju stasiun untuk mencari pekerjaan ke kota. Bibi Lily menatap kepergian majikannya, Ny. Zelina adalah wanita yang sungguh baik hati pada para asisten rumah tangganya, sehingga ia tak mampu menolak janji itu.

“Bibi? Di mana Ibu?” tanya Kak Gena seraya melontarkan pertanyaan bertubi-tubi pada Bibi Lily.
“Ibumu baik-baik saja, beliau pergi untuk beberapa waktu.”

Waktu berlalu sangat lambat. Eva masih dirawat di rumah sakit, lehernya belum begitu sembuh, namun lumayan membaik. Hari ini, Eva harus mandiri, Bibi Lily akan mengurus Kak Gena di rumah. Drrrttt, Drrrtt (getaran ponsel).

“Halo?”
“Halo, Eva? Ini Bibi Lily,”
“Oh, Bi Lily, ada apa?”
“Bibi akan segera ke rumah sakit bersama Nona Gena,”
“Loh? Bukannya Kak Gena sakit, Bi?”
“Nona Gena pengen ketemu sama Eva,”
“Oh, nggak apa-apa. Eva tunggu, ya…”
Sambungan telepon terputus. Eva bertanya-tanya dalam hati, apa yang membuat Kak Gena ingin bertemu dengannya?

Seorang gadis yang nampak lebih tua beberapa tahun dari Eva tiba di kamarnya. “Kak Gena?” Eva terkejut kala melihat piano yang dibawa Bibi Lily.
“Satu lagu untukmu,” Kak Gena merapikan syalnya, kemudian membantu Bibi Lily meletakkan piano. Ia memainkan satu lagu spesial untuk Eva.
“Sebuah kata terucap… tak bisa ku lihat, hanya dirasa dan hanya didengar. Masih sama, masih seperti dulu. Kala janji itu menjadi kesepakatan…” lagu itu mengalun merdu diiringi nada piano yang lembut. Kak Gena terlarut dalam indahnya lantunan lagu, hingga membuatnya menitikkan air mata.

BANGG!!!

Nada itu dipencet sembarangan, Kak Gena tergeletak sebelum menyelesaikan lagu. Eva yang berniat menolong, lupa bahwa tangannya tertancap infus. Infus itu terlepas saat ada tarikan dari tangan Eva. Darah menetes, dan lehernya teramat sakit. Bibi Lily bingung mana yang harus ia tolong terlebih dahulu, namun ia menghampiri Eva dan berteriak memanggil dokter. Sedangkan Kak Gena terbaring di samping pianonya, dan saat itu juga Kak Gena telah bersama ibu. Kak Gena telah meninggal dengan damai.

“Kak Gena!!” teriak Eva.
Eva terbangun dari mimpi panjangnya. “Eva?” Bibi Grace dan Paman Watson bersamanya.
“Paman? Bisa katakan janji Bibi Lily pada ibunya Eva?” Eva langsung bertanya tentang apa yang terjadi di mimpinya.
“Janji itu… Maaf, Eva, Paman tidak bisa katakan janji itu. Kedua belah pihak yang mengikat janji telah meninggal, rasanya tak pantas untuk membicarakan janji itu lagi.”

“Akkhh…” Eva memegangi lehernya yang terpasang sebuah alat yang aneh. Kemudian ia berpikir, siapa wanita yang mencekik lehernya malam itu?
“Eva? Berhentilah melamun, atau makanan ini akan segera dingin…” Bibi Graca menyuapkan bubur kepada Eva.
“Bi, boleh ku tanya?” tanya Eva ragu.
“Silahkan,” Bibi Grace tersenyum.
“Apa penyakit Kak Gena sehingga pada saat aku sakit di rumah sakit, Kak Gena meninggal?” tanya Eva penasaran.
“Nona Gena tidak meninggal di rumah sakit, ia meninggal karena kecelakaan, Eva,” jawab Bibi Grace.

Mimpi itu dengan jawaban Bibi Grace berbeda, mana yang sebenarnya terjadi? Apakah mimpi itu punya tujuan lain? Ataukah bibi Grace berbohong atas kematian Kak Gena?
Eva harus mencari tahu mengapa ia lupa ingatan di dalam mimpi itu, ia harus mencari tahu.

“Paman Watson?” Eva memanggil Paman Watson yang sedang membaca surat kabar di samping ranjangnya.
“Hmm, ada apa?” Paman Watson mencoba mendengarkan Eva.
“Aku tidak tahu harus berkata apa sebelum menanyakan ini, tapi rasanya pertanyaan ini harus dijawab oleh paman. Kak Gena meninggal karena apa?” tanya Eva. Paman Watson tersentak, namun ia pandai menyembunyikan ekspresi terkejutnya itu. “Nona Gena meninggal karena kecelakaan, ia meninggal di lokasi kejadian,” jawab Paman Watson kemudian pergi.

Mimpi itu mengatakan bahwa Kak Gena meninggal di rumah sakit dan saat itu menjenguknya sekaligus membawakan lagu untuknya, tetapi Paman Watson dan Bibi Grace bilang Kak Gena meninggal karena kecelakaan. Lantas, apa tujuan mimpi itu? Pikir Eva semakin penasaran. Eva menidurkan diri, berharap menemukan petunjuk di dalam mimpinya.

Bersambung

Cerpen Karangan: Ghina Syakila
Facebook: Ghina Syakila Pyromaniacs SonExo-l

Cerpen Promissue (Misi Tersembunyi) (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Fake After School

Oleh:
Hari ke-131, 1 Agustus 2014 “Awaaaas.” Aah, peristiwa ini terjadi lagi. Sebuah truk merah muncul dari perempatan jalan, kelihatannya supir truk tidak melihat lampu lalu lintas berwarna merah, dan

Kejadian Yang Tidak Terduga

Oleh:
Pada saat itu, sedang ada sebuah pertunjukkan musik yang ada di sekolahku. Pertunjukkan tentang musik Indonesia. Karena hari ini bertepatan dengan tanggal 17 Agustus, hari kemerdekaan Indonesia. Penampilan yang

Misteri Kue Keju

Oleh:
“Kue keju Eyang hilang, Nur! Hari ini tak ada kue keju buatmu.” DUARRR!!!! Rasanya seperti tersambar petir ketika mendengar Eyang Ayu mengatakan itu. Hilang? Tak ada kue keju? Aduh,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *