Puisi itu Milik Siapa? (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 12 August 2019

Kami sudah sampai pada koridor menuju kelas, kenapa sepi? Tanganku mencoba meraih ponsel di dalam tas kecilku untuk melihat jam.
“Kita terlambat 20 menit” sambar Aghlan dengan suara rendah.
“Gawat! Mr. Joeno si Dosen Killer, habislah kita…” keluhku setelah sadar dengan siapa kami akan bertemu sebentar lagi.
“Jangan khawatir, biar aku yang jelaskan. Ikuti aku dari belakang.” Aghlan membuatku bernafas sesikit lebih lega.
“Ba, baiklah” anggukku menyingkir dari hadapannya, “terimakasih malaikat” tambahku, namun kata yang ini hanya kuucapkan di dalam hati.

Kami berdua melangkah dengan gugup memasuki ruang kelas.
“Maaf Mr. Kami terlambat, terjebak macet”. Ucap Aghlan dengan penuh percaya diri, sementara aku hanya diam di belakang dengan pandangan kosong ke arah lantai.
“Ok, bagus. Jika kalian datang ke kampus lebih pagi, tidak akan ada kemacetan. Saya tambah hari libur kalian di jam mata kuliah saya, untukmu dua hari, gadis itu dua hari. Silakan keluar sekarang!” Mr. Joeno berbicara dengan nada dingin, membuatku perlahan terbelalak. What? Diskors? Dua hari? Oh ini pertama kalinya bagiku.
“Em, begini Mr. Ini salah saya. Saya sempat meminta bantuan padanya untuk menemani saya ke perpuatkaan umum, mencari buku materi, oleh karena itu dia juga terlambat. Tolong biarkan dia tetap ikut belajar, saya saja yang diskors!” jelas Aghlan membelaku.
“Ok, baik. 3 hari untukmu. Silakan keluar”.
“Aghlan kau bicara apa?” bisikku kesal padanya, dia bohong lagi.
“Sudah, turuti saja. Belajar sana! Jangan lupa catat semua materi, berikan padaku nanti.” balasnya berbisik.
“Keluar sekarang! Kau silahkan menuju kursimu” sambar Mr. Joe. Dengan tatapan sinis. Aku pun dengan cepat berjalan mebuju kursiku, sementara Aghlan sudah menghilang di balik pintu. Oh Tuhan, apa yang baru saja dia lakukan benar-benar menghapus segala prasangka burukku terhadapnya. Aku bodoh, memang kurang bergaul, kurang memperhatikan sekekiling. Hampir satu bulan di kelas ini setiap jam kuliah sampai tidak mengenal Aghlan, yang ternyata teman satu fakultas dan satu jurusan bahkan satu kelas, hanya saja dia duduk di sana pojok sekali di dekat dinding. Dosen tidak pernah absen memanggil nama. Aku juga kurang cermat mengenal wajah orang, apalagi mengingat banyak nama.

“Oh Tuhan, Hyena. Kamu beruntung!” Mela menampakkan wajah alaynya setelah mendengar ceritaku tentang Aghlan. “Gak disangka, ternyata dia yang terus mengirim puisi itu. Dia itu mahasiswa cerdas tau! Lulusan SMA favorit Dengan nilai tertinggi”. Tambah Mela kembali memuji Aghlan.
“iya! Aku sudah tau”. Aku menatapnya dengan senyum penuh percaya diri. “Aku harus menemuinya sekarang, memberikan catatan ini.” aku meraih sebuah buku berisi catatan materi siang ini.
“Ok baiklah, selamat ya! Sana.” Mela tersenyum menggoda, sembari kembali menyeruput pop ice di hadapannya. Akupun segera berlalu meninggalkan ruang kantin yang cukup luas ini.

Beberapa langkah meninggalkan kantin, sejenak langkahku terhenti, berpikir kemana aku harus mencari Aghlan? Mungkin saja dia sudah pulang, aku juga tidak punya nomor ponselnya. Dengan langkah cepat aku berjalan menuju parkiran. Mobilnya masih terparkir rapi di sana, dia pasti masih berada di kampus. Aku memutar pandangan sekeliling parkir mungkin saja dia ada di sini, namun nihil.

Tak jauh dari tempatku berdiri seorang pria berkacamata menatapku dengan raut bertanya.
“Hey! Cari siapa?!” teriaknya.
“A, aku?” Aku menunjuk diriku sendiri, untuk meyakinkan bahwa dia tengah berbicara denganku. Dia hanya menggangguk “Aghlan.” ucapku pelan dengan ekspresi mulut berisyarat jelas.
“Di lapangan Basket!” pria itu berteriak sembari memapah motor maticnya keluar dari barisan parkir.
“Thank you ya!” balasku, dengan cepat berlari menuju lapangan Basket, yang letaknya cukup dekat dari sini.

Begitu tiba di lapangan Basket, Aghlan langsung terlihat di bawah ring itu, sebab tak seorang pun yang berada di sana saat ini, hanya Aghlan. Dia dengan asiknya memantulkan bola beberapa kali kemudian syut pasti dengan mudahnya. Dengan perlahan aku berjalan sedikit naik menuju tribun penonton, duduk dengan santai seolah penonton yang tengah asik menikmati alur permainan. Sedangkan Aghlan masih terlihat sibuk dengan aktivitas berulang itu.

“Hyena! Kenapa di situ? kemarilah!” Teriak Aghlan cukup jelas menggema di setiap sisi gedung.
“eh hay..” aku melambai tangan dengan malu, sembari berjalan menuruni tribun.
“Sudah lama mencariku?” dia berhenti bermain dan melempar bolah jauh ke pintu gudang.
“Aku bukannya sengaja mencarimu. Hanya kebetulan kemari dan melihatmu sendiri”. Aku menepis rasa percaya dirinya yang berlebihan.
“hm, baiklah…” dia mengalih pandangan dariku berjalan menuju tasnya yang terletak di pinggil lapangan, meraih botol air mineral dan meneguk setengah isinya.

“Hey ini.” aku mengulurkan buku catatan yang sejak tadi sudah berada di tangan kananku.
“Oh… Bagus! Kau melakukannya” dia tersenyum puas.
“Terimakasih soal tadi siang, dan maaf karena kamu yang diskors, aku tahu pasti mata kuliah Mr. Joeno penting bagimu” aku menatapnya sungkan.
“Maka dari itu, mencatatlah dengan rajin untuk menebus maaf dariku hehe” dia terkekeh dengan tatapan menggodaku.
“iya baiklah…” aku memanyunkan bibir, seolah merasa keberatan dengan ini. “Tapi, apa kau masih mau..”
“Mau? apaan?”
“Terus menuliskan puisi untukku.”
“Kamu suka? Aku punya 1001 puisi untukmu”.
“benarkah? Akan kukoleksi semuanya.” aku berbicara tak kalah ceria darinya.

Saat itu kami berbincang lebih banyak, tertawa lepas menghabiskan waktu berdua. Akrab dengan cepatnya, seolah bukan dua orang yang baru mengenal, jauh seperti sepasang manusia yang sudah terbiasa bersama. Pulang kuliah dia kembali memaksa mengantarku, sampai vespaku pulih katanya. Hari itu cukup menyenangkan sampai aku lupa, Mela sudah lama menungguku untuk pulang bersama hingga dia meneleponku berkali-kali, argh! Maafkan aku.

Sudah hampir dua kali weekend kami dekat, aku sudah mengoleksi banyak puisi dari Aghlan. Selain dia memberiku satu lembar setiap harinya, aku juga sering memintanya menulis puisi secara langsung di depanku saat jam kosong, atau dengan sengaja membuatnya gemetar dan berkeringat dingin, dengan memintanya membacakan langsung puisi ciptaannya itu. Sekarang aku sudah tak peduli lagi siapa pemilik puisi itu, yang aku tahu sekarang semua sudah jelas tak ada yang perlu kutakuti lagi apalagi sampai merasa terancam. Pria tampan dengan senyum manis ini justru menjadi teman baru bagiku, kami seringkali menghabiskan waktu bersama dengan hobi yang sama, dengan selera humor yang cukup tinggi, atau sekedar duduk di kantin berdua, berbelanja bersama, dan belajar bersama. Sampai Mela merasa cemburu denganku, tetapi aku tahu dia akan maklum, dia seringkali mencari alasan untuk pergi saat kami bertemu.

“Selain aku siapa saja pria yang dekat denganmu sekarang?” Aghlan bertanya tanpa melihatku, pandanganya lepas ke ufuk barat, mata menyipit menahan silau matahari senja yang menusuk. Saat ini kami berada di jembatan sungai Lokan, jembatan yang biasa kami lalui untuk Joging sore.
“Ada beberapa orang” aku ikut membuang pandangan ke arah aliran sungai yang jernih, sementara dia mengalih pandangan dengan menatapku. “Ayah, paman, kakak laki-lakiku, sepupuku, si bungsu, dan kakekku.” aku melanjutkan kata dengan sedikit meggodanya. Aghlan malah menatapku tajam dengan raut kesal.
“Bercanda lagi? Bukan itu maksudku.”
“Oh.. Teman pria?”
“Mungkin…” dia masih kesal dengan membelakangiku.
“hanya kau dan tidak ada yang lain”. Aku berjalan menghadap ke arahnya, kami berdiam sejenak, kembali memutar pandangan sekeliling langit yang indah sore ini.
“Belum ada niat untuk punya pacar?” dia berbicara kembali dengan senyum coolnya.
“Entahlah, tergantung pada yang memintanya” aku membalas senyumnya dengan malu.
“Jika aku yang minta kamu jadi pacarku? Bagaimana.” kali ini dia meraih tanganku menggenggamnya dengan lembut. Mataku cukup lama terbelalak tak percaya.
“Ya sudah jika tidak bisa, aku tidak memaksa” dengan cepatnya dia menyerah lalu melepas genggamannya, membuyarkan suasana yang baru saja terasa romantis. Arghhh… Aku merasa kesal.
“Ya maaf, aku memang tidak bisa, dan kamu memang tidak bisa memaksaku”.
“ya, sudah kuduga akan begitu.” dia berjalan kecewa perlahan jauh meninggalkan aku.
“hey Aghlan! Aishhh dia malah pergi” celotehku kesal sembari berlari menghampirinya.
“Tunggu dulu.” aku menarik pergelangan tangannya membuatnya berhenti berjalan. “Dengar dulu! maksudku maafkan aku karena mau jadi pacarmu, dan aku tidak bisa menolakmu”. Aku memberanikan diri menatapnya, walau terasa jelas tanganku mulai dingin sebab gugup, terlebih lagi jantungku terus berdetak kencang.
“Haha…” dia tertawa renyah. Kemudian memelukku erat dalam dekapanya, aku membalas pelukannya dengan melingkarkan tangan di tubuhnya. “Terimakasih ya sudah mau jadi pacarku, aku sayang kamu” ucapnya dengan kata yang terdengar jelas olehku.
“Aku sayang kamu juga” balasku. Lalu tersenyum girang dibalik dada bidangnya.

Senja adalah isyarat siang, saat matahari ingin berpamitan
Ombak adalah isyarat pantai, saat angin bertiup kencang
Dan kebersamaan ini adalah isyarat cinta, saat hati menemukan pemiliknya.

Aghlan membacakan beberapa baris puisi dengan sederhana, suaranya yang sedikit serak membuat keadaan terasa semakin syahdu. Matahari tengah berpamitan meninggalkan ufuk barat menjanjikan malam dan bersedia untuk hadir kembali besok pagi.

Rasa cinta bukanlah jaminan abadi untuk kita bisa selalu bersama dalam kesetiaan, karena cinta bisa berubah setiap saat. Tetapi rasa sayang, keikhlasan, kepedulian, dan terbiasa besama, membuat kita merasa saling memiliki dan saling takut untuk dipisahkan, itulah kesetiaan.

S E L E S A I

Cerpen Karangan: Lala kayyy
Blog: lalakayyywrote.wordpress.com
Nama asli saya Lala karmila, 19 tahun, asal bengkulu utara, bengkulu. Penulis pemula.
Fb: lala kayy TL
Ig: @lala_cloud
Email: lalakayyy878[-at-]gmail.com

Cerpen Puisi itu Milik Siapa? (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Jiwa Kedua

Oleh:
Suara yang ditunggu-tunggu akhirnya berbunyi, suara bel tanda pulang sekolah. Akhirnya pelajaran akuntansi 5 jam berakhir. Ku langkahkan kakiku ke musala sekolah, mengambil wudu lalu menghabiskan waktu berlama-lama dengan

Bidadari Tak Bersayap

Oleh:
‘Koridor itu, mempertemukan aku dengannya, sesosok bidadari cantik yang mungkin sengaja turun ke bumi’ Masih jelas ku ingat saat pertama kali kami bertemu. Di sebuah koridor gelap, dan masih

Di Atas Bianglala

Oleh:
Menurut kalian, apa itu definisi nakal? Nggak ngerjain PR? Ngobrol waktu guru nerangin? Ke kantin waktu jam pelajaran masih berlangsung? Cabut mata pelajaran guru killer? Main-main waktu upacara? Atau,

Salah Paham

Oleh:
Tak diragukan lagi, cinta memang bisa hingap ke hati siapa pun. Tak terkecuali oleh pasangan kekasih Martha dan Nirwan. Mereka sangat mesra dan mencintai satu sama lain. Martha adalah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Puisi itu Milik Siapa? (Part 2)”

  1. Dinbel says:

    keren sekali ceritanya. walau penuh misterius tapi tetep soswitsss. gooc job deh untuk pengarang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *