Rahasiaku

Judul Cerpen Rahasiaku
Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 4 January 2017

“Nyebelin banget, pasien kamar 503 itu!”, suara juniorku, Dian terdengar kesal. Aku yang sedang menulis laporan melirik sambil tersenyum padanya.
“Emang!”, sekarang Mila, juniorku yang lain, yang menyahut.
“Emang kenapa lagi dia?” tanyaku tanpa mengalihkan mataku dari kertas laporan yang sedang kutulis. Ada 40 pasien di bangsal ini, dan sebagai penanggung jawab shift, tanggung jawabku tidaklah mudah. Aku harus hapal semua kondisi pasien yang kurawat dan melaporkannya kepada dokter yang berjaga bila terjadi kasus emergency. Sebenarnya aku sudah tahu apa yang akan dikatakan Dian tentang Mimi, pasien di kamar 503. Sebagai anak seorang mantan pejabat, Mimi sangatlah cerewet dan kadang berkesan merendahkan pekerjaan kami sebagai perawat di rumah sakit ini. Dia menganggap kami adalah “pembantu” yang dengan seenaknya bisa dia perintah. Hanya untuk menutup gorden atau mematikan/menghidupkan AC di kamarnya, dia akan memencet bel untuk memanggil, padahal ada orang yang menemaninya, tetap saja dia akan memanggil kami. Bukannya tidak ingin membantu, tapi apa yang dia pinta bukanlah suatu yang bersifat emergency, sehingga kadang kami agak terlambat merespon belnya. Dan kalau itu terjadi Mimi tidak segan-segan untuk mengeluarkan kata-kata yang tidak bermutu. Awalnya aku kaget karena gadis cantik dan dari keluarga terhormat dapat mengucapkan kata-kata sampah, tapi akhirnya aku mencoba maklum saja.

“Dia minta dipanggilin dokter jaga karena dia tahu dokter Ian yang jaga malem ini. Genit banget sih jadi cewek!”
“Ngapain minta dipanggil dokter jaga?! Dia kan aman-aman saja”.
“Emang cewek ganjen, Kak!” Mila menimpali omongan Dian sambil menyiapkan obat-obat yang akan dikonsumsi pasien sebelum sarapan besok. Dia pun harus mengecek stok obat pasien untuk esok apakah masih cukup atau sudah habis, serta memisahkan obat-obat pasien yang tidak terpakai lagi dan harus diretur ke apotik. Walaupun sedang sibuk, ternyata dia tetap menyimak “laporan” Dian.
“Ya sudah, nanti kalau dokter Ian kesini, Kakak ajak mampir ke kamar 503. Kamu bilang aja, ntar dokter Ian datang, sekarang lagi ada emergency di lantai 6. Dia pasti ngerti deh, secara kan dia naksir… hehehe”.
Dengan bersungut Dian kulihat berjalan kembali ke kamar 503. Aku hanya tersenyum dan melanjutkan pekerjaanku menulis laporan.

Aku menemani dokter Ian memasuki kamar 503. Kulihat Mimi ditemani pembantunya. Wajah Mimi yang jutek langsung cerah begitu melihat dokter Ian. Mukanya yang selalu masam, langsung tersenyum cerah.
Dengan manja Mimi menceritakan keluhan penyakitnya, yang sebenarnya sudah tidak ada. Dia direncanakan pulang besok oleh dokter spesialis yang merawatnya karena memang sudah sembuh. Tapi kepada dokter Ian, Mimi berkeluh macam-macam, mulai dari mual, tidak nafsu makan, pusing, masih ada sesak dan tidak bisa tidur. Pokoknya lengkap. Dokter Ian melirikku sambil tersenyum maklum.

“Kemaren masuk dengan apa sih El?” tanya dokter Ian sambil memasang stetoskop di telinganya.
“Dengan DHF, Dok. Tapi trombo sudah naik, malah dah hampir seratus. Dari dokter yang merawat direncanakan besok pulang. Tensi, nadi, suhu, semua dah normal,” jawabku sambil membantu Mimi membuka kancing baju tidurnya. Kurapikan bantal kepalanya agar dia merasa nyaman sewaktu diperiksa dokter Ian.
“Di rontgen gak?”
“Rontgen Dok. Ada cairan di paru-paru. Biasalah Dok, DHF. Rencananya besok pagi rontgen ulang, kalau hasilnya sudah OK, rencana pulang sore,” jawabku menjelaskan rencana tindakan terhadap pasien selanjutnya. Dokter Ian lalu melakukan auskultasi terhadap Mimi. Kulihat Mimi tersenyum senang. Dia sengaja menatap mata dokter Ian dengan genit. Haddeww… kupalingkan wajahku, untuk menyembunyikan senyum yang ada di bibirku. Benar kata Dian, memang genit nih cewek.

“Gimana Dok?” tanya Mimi setelah diperiksa dokter Ian. Aku segera membantunya merapikan kancing bajunya yang tadi dibuka karena akan diperiksa dokter.
“Gak ada apa-apa.. semua baik,” jawab dokter Ian.
“Nanti untuk keluhan gak bisa tidurnya, saya kasih obat tidur saja ya,” lanjut dokter Ian.
“Baik, makasih ya Dok,” kata Mimi sambil tersenyum.
“Dok, kalo kapan-kapan saya maen kesini, terus mampir ngajak makan siang, boleh dong,” kata Mimi dengan berani. Dia menatap dokter Ian dengan tajam sambil tersenyum menggoda.
“Boleh saja, kalo saya gak sedang repot,” jawab dokter Ian santai.
“Masih ada keluhan mbak? Kalo sudah gak ada, saya mau keliling lagi.”
“Oo.. gak ada.. thanks ya.. ntar minta nomer hp ya Dok.”
“Boleh.. Ntar kasiin ya El nomer hp gue sambil lue ngasih obat tidurnya,” kata dokter Ian kepadaku. Aku mengangguk. Kami lalu pamit dan meninggalkan Mimi yang masih tersenyum senang. Kulirik dokter Ian di sebelahku dengan tatapan yang hanya aku yang tau maksudnya.

Wajah-wajah kami yang kuyu terpaku di depan suster Mega. Kami tidak mengerti apa yang terjadi. Yang kami tahu, pagi ini, sewaktu membangunkan pasien buat dimandikan, Mimi sudah meninggal. Pembantunya yang menemani tidak dapat menjelaskan apa yang terjadi karena dia tertidur semalam. Dan kami pun tidak dapat mengerti apa yang terjadi terhadap pasien yang sudah sehat dan direncanakan pulang tapi akhirnya “berpulang”. Yang kami tahu, sekarang kami harus menghadap menejer perawatan dengan mata yang mengantuk dan pikiran yang melayang karena tidak tidur semalaman.
“El, kamu yang jadi penanggung jawab. Jadi kamu yang harus bertanggung jawab!” suara suster Mega yang sebenarnya lembut terdengar bagai halilintar di telingaku. Mengagetkanku, membuat aku tersentak.
Kutatap suster Mega dengan bingung. Aku tak tahu harus berkata apa. Aku mengerti makna dari kalimat yang barusan terucap dari mulutnya. Para juniorku menatapku. Aku melihat ada rasa sedih, kasihan, bingung, bersalah dalam tatapan mereka.
Kutarik napas dalam-dalam untuk menenangkan diriku. Kusunggingkan senyum untuk menenangkan mereka. Bagiku, mereka tidak bersalah. Tidak ada yang salah!!

“Baik Suster, saya akan mengundurkan diri!”. Suaraku yang terdengar tenang membuat para juniorku terhenyak. Kulihat wajah mereka yang kuyu berubah sedih, bahkan Mila sudah mulai basah matanya. Aku tersenyum kepada “adik-adikku”. “Gak papa.. Kakak gak papa.” Kupeluk mereka dengan sayang. Tangis Mila mulai pecah. Suster Mega menatap kami. Aku dapat membaca rasa beratnya untuk “melepaskan”ku.
“Baiklah, nanti kamu menghadap HRD dan menyelesaikan masalah pengunduran dirimu disana”.
“Iya Suster, terimakasih. Maaf kalau saya ada salah selama bekerja di sini. Terimakasih untuk ilmu dan kesempatan yang sudah saya dapatkan selama di sini”. Kuajak “adik-adikku” untuk berdiri, lalu kujabat tangan Suster Mega untuk yang terakhir kalinya. Suster Mega berusaha tersenyum.
Kuajak “adik-adik”ku untuk meninggalkan ruangan suster Mega. Setelah menenangkan Mila dan Dian, aku pun pamit untuk pulang. Sungguh, aku merasa sangat lelah dan puas. Aku ingin beristirahat sejenak. Melepaskan rasa yang kutahan sejak tadi.

Di kamar kostku, aku tersenyum puas. Seperti biasa, tidak ada yang tahu. Aku melakukannya dengan sangat rapi. Dan sesungguhnya “mengundurkan” diri adalah rencana yang sudah aku susun. Aku mulai merasa tidak aman, sehingga aku harus kembali “bergerak”. Aku harus pindah dan mencari suasana baru.

Kematian Mimi bukanlah “pembunuhan” pertama yang aku lakukan. Dia adalah korbanku yang ketujuh. Dan rumah sakit tempatku bekerja sekarang adalah rumah sakit ketiga yang aku masuki. Di dua rumah sakit tempatku bekerja dulu pun, aku melakukan hal yang sama. Aku “akhiri” hidup orang-orang yang tidak bisa menghargai profesiku dengan cara halus. Aku singkirkan mereka dengan cara menyuntikkan insulin ditubuh mereka tanpa mereka menyadarinya. Cukup kusuntikkan dalam selang infus yang terpasang di tangan mereka ketika mereka sedang tidur. Gampang kan?!.. Aku tersenyum puas. Aku tahu tidak akan ada yang tahu karena autopsi masih jarang dilakukan terhadap kematian pasien di negara ini. Rata-rata keluarga pasien akan menerima kematian pasien sebagai musibah dan takdir Tuhan. Bila disarankan untuk autopsi, mereka pasti akan menolak.

Aku tertawa senang. Sebenarnya ingin kulihat wajah Mimi yang sedang meregang nyawa semalam, tapi tidak kulakukan karena aku takut pembantu yang menemaninya akan terbangun dari tidur lelapnya. Aku tahu, pembantu itu akan tidur lelap malam ini karena dia telah menemani Mimi selama lima hari Mimi dirawat dan selama itu juga pembantu tersebut tidak pernah tidur di malam hari. Dan semalam adalah puncak kelelahannya. Makanya dia tertidur. Dan lagi setelah diberi obat tidur oleh dokter Ian semalam, Mimi yang biasanya tidak pernah tidur nyenyak, semalam dapat tidur dengan pulas. Saking pulasnya, dia tidak akan pernah bangun lagi.. hahaha..

Dengan rasa puas, kuambil koran “kompas” yang tadi kubeli. Kubaca ada lowongan rumah sakit yang butuh tenaga perawat di Surabaya. Baiklah, sekarang waktunya aku bertualang meninggalkan Jakarta. Membuka lembaran baru di Surabaya. Kuambil laptopku dan segera kutuliskan surat lamaran kerja ke rumah sakit tersebut. Besok aku tinggal menghadap HRD untuk meminta surat pengalaman kerja lalu berpamitan dengan rekan-rekan sejawatku. Dan tentu saja, aku pun akan berpamitan dengan dokter Ian yang tampan itu. Kusunggingkan senyum puas di bibirku. Goodbye jakarta and welcome surabaya.. I am coming..

Cerpen Karangan: Elly Yuliati

Cerita Rahasiaku merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Secret of Birth (One Night)

Oleh:
Seorang wanita berlari-lari di koridor sebuah rumah sakit sambil menggendong bayi, dia berpapasan dengan seorang suster, wanita itu menyerahkan bayinya dan menyuruh suster itu bersembunyi. Suster itu kebingungan tapi

Kau

Oleh:
Entah sampai kapan aku memikirkan dia. Sebenarnya aku tidak mau memikirkan dia, tapi dia selalu ada di pikiranku. Dia pun selalu ada di mana aku ada. Memang dia aneh.

Misteri Panreng

Oleh:
Setiap kali melewati tempat ini.. setiap kali itu juga anjing menyalak dengan penuh semangat, jika diperhatikan tempat ini cukup menyeramkan, rumah panggung khas bugis makassar, namun di sana-sini kayunya

Misteri Cinta Mautmu

Oleh:
“Selamat bagi kalIan semua yang telah lolos mengikuti tes dan berhasil untuk sekolah di sini. Untuk itu, MOS tahun ajaran 2009/2010 dinyatakan, dibuka!!” Demikian pernyataan yang telah diserukan ketua

Tidaaak!

Oleh:
New York, USA “Kau siap?” tanya seseorang dengan jas putihnya “Siap prof” “Tapi resikonya tinggi. Keluargamu tak akan mengenalimu lagi” “Tak apa, demi misi ini aku rela mempertaruhkan nyawa

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

2 responses to “Rahasiaku”

  1. Puput says:

    Gila tokohnya !!

  2. fira says:

    Ceritanya ngerii

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *