Rest in Peace

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 10 May 2021

“Najmi!!!”
Suara itu memekakkan telingaku, hingga nyaris jantungku menceletus ke dasar tanah. Bagaimana tidak suaranya disodorkan tepat di kupingku. Jelas, tujuannya mengagetkanku.

“Tanza, resek lu.” bibirku mengerucut memuntahkan kekesalan. Tapi, Tanza tidak peduli. Ingin rasanya kusibak senyum konyol itu.
“Hehehe … Lagian gue perhatiin dari tadi elo bengong aja, Kalau di restoran korea. Jangan bengong.” celoteh Tanza.
“Bukan begitu Tan, gue kepikiran Pi’i.” aku langsung ke inti persoalan.
“Pi’i? Memang kenapa sama dia?”
“Semalam Pi’i…” ingin kulanjutkan kalimat yang sepenggal itu, namun dadaku terasa berat dan sesak. Sepasang bola mataku mulai berembun.

“Semalam Pi’i. Hadir di mimpi gue.” aku tak kuasa menahan gejolak hebat di dalam tubuhku. Bahkan, embun yang membuat pengelihatanku buram mengubah bentuk seperti rintik hujan. berhamburan di pipiku, aku menangis. Aliran darahku statis.
“APAAAAA?! Sudahlah. Jangan biarkan mimpi buruk menguasai pikiran lo. Udah berkali-kali mimpi yang elo alami selalu kejadian. Dia cowok lo, Najmi.” Tanza mengusap air mataku yang mengalir di pematang pipiku.
“Sudah enam hari. Elo enggak ketemu Pi’i, besok gue anterin elo ke RSUD, gimana?” Sambungnya lagi.
“Makasih. Tan, elo ngertiin banget posisi gue.” tanggapku. Tanza membalasnya dengan anggukan tegas. Enam hari lalu aku bergelut dengan kesibukanku hingga, melupakan belahan jiwaku yang tengah melawan penyakit stroke separuh badannya, aku jatuh iba. Seharusnya aku menemaninya sampai kutemukan jawaban.

Ditambah lagi dengan keluarga Pi’i. Terutama ibunya, apa pun akan beliau kerahkan untuk memperjuangkan kesembuhannya. Meskipun ayahnya sudah habis-habisan, ia tidak akan berhenti. Kesembuhan Pi’i adalah fokus mereka yang utama.

Jika suatu terjadi pada dirinya, itulah penyesalanku paling kelam yang bakal terbenam di otakku selamanya. Inilah bagian yang meremukkan jantungku. Mengacaukan seluruh sistemku dan aku akan kehilangan diri sendiri. Bahkan merasakan mati setiap hari. Ketika aku bangun setiap pagi dan sadar harus menghadapi kematian lagi.

“Tanza, kalau firasat dalam mimpiku terbaca. Bagaimana dengan keselamatan Pi’i?” persetan dengan pikiran kesenangan. Aku lebih fokus dengan kecemasan yang bercokol bak parasit dalam kepalaku
“Najmi … Stoop … Stooop. Tidak akan terjadi apa-apa sama Pi’i, elo mesti buang firasat itu.” Sahutnya.

Aku memang sudah lama memiliki keganjilan yang sudah diketahui Tanza, bukan mencegah malapetak yang akan terjadi. Melainkan sekadar mengetahui mereka sudah beralih ke dunia yang berbeda dengan sebuah mimpi. Sebelum aku melihat jenazahnya.

Dalam mimpiku semalam. Aku berada di gubuk yang sudah reot. Miring ke kanan. Rangka-rangka bangunannya sebagian sudah keropos.
Posisiku mematung di depan pintu. Jika aku ilustrasikan lebih terperinci, sebenarnya yang ada di hadapanku bukan pintu. Melainkan, tikar buat orang mati. Bentuk tikar itu sudah tidak karuan dan, dilapisi tanah kuburan. Suasana menjadi mencekam.

Entah kenapa aku takut menyibak tikar untuk menggetahui suatu di dalamnya. Belum tentu kesan yang kurasakan nanti. Bagaimana jika aku semakin terluka? Apa jadinya jika ia hanya membuatku semakin terperosok? Tidak mampu kupadamkan gejolak itu.

Kakiku terpasung di tanah. Aku tidak mampu menggerakkan kakiku. Aku ikhlas jika tanah yang kupijak terbelah menjadi dua dan menelanku hidup-hidup.
Kedua bola mataku Kubiarkan gelap dijepit kelopak, tapi kubuka kupingku lebar-lebar. Aku Tidak sudi meski harus melihat suatu di dalam gubuk reot di hadapanku.

Di detik berikutnya, dalam keadaan mata masih tertutup. Kudengar suara desahan napas dari belakangku, diembuskan berkali-kali dengan berat, dengan geraman halus seperti tengah kelelahan. Mendadak aku tidak sendirian ada seseorang yang tengah berdiri di belakangku.

Embusan angin yang keluar dari sistem pernapasan ia seperti menyentuh leherku. Pada detik berikutnya buluku meremang hingga kulit kepalaku terasa dijambak. Nyaliku terbunuh saat hal-hal mengerikan menyelubungi bayanganku. Tidak bisa kuelakkan. Tubuh ini merangket. Jantung ini belum siap melonjak jika penglihatanku benar-benar merefleksikan sesuatu di belakangku.

“Najmi Ulya” terdengar suara memanggil namaku. Nadanya parau dengung-dengung di kepalaku. Bahkan aku tahu empunya nada yang menguar dari tenggorokannya. Suara itu seperti memberiku kekuatan aneh. Sanggup mendelikkan mataku, lalu kuputar tubuhku perlahan, Dibelakangku.
Tampak sosok belahan jiwaku, Pi’i. Bibir tipisnya bergetar. Kedinginan. Kumelangkah maju tepat berdiri dihadapannya. Bibirnya yang bergetar kusapu halus dengan bibirku.

Ah … Kali pertama aku mencium bibirnya. Jiwaku melambung ke angkasa. Tubuhku menjelma cahaya laksana meteor dilempar ke atas langit. Ah … Ia menghujani tubuhku dengan kecupan ganas.
Ah … Ah … Ah Anjir! gue jadi salah fokus.
Abaikan!

Dibelakangku tidak ada siapa pun. Aku dipermainkan dengan firasat mimpi busuk lagi. Kubiarkan kornea mataku mengelilingi sekitar tempat ini. Mataku hanya merekam pijar sinar rembulan. Tidak ada makhluk yang menghembuskan napas beratnya di leherku. Begitu juga tidak tampak sosok yang memanggil namaku. Mendadak tenteram, kekalutanku enyah sementara.

“Naaajmi!!” Suara itu memanggil namaku lagi, untuk kali kesekian. Terasa dekat, tapi bak datang dari langit. Kadang seperti membisik, sejurus kemudian terdengar seperti lolongan. Tak terlalu jelas, tapi alunan suaranya bagai pedang menusuk-nusuk kupingku.

“Naaajmi”
Dia membisikkan namaku! Aku tidak pernah terasa ketakutan seliar ini. Jatungku terasa berpindah ke kerongkongan. Aku tidak bisa bernapas. Sayup-sayup aku mendengar suara itu. Kakiku perlahan-lahan melangkah dengan sendirinya. Menuju inti suara yang ada di dalam gubuk. Jantungku berdegup kencang saat tidak mengerti apa yang sedang kuperbuat.

Lenganku seperti misil yang diluncurkan, memelesat ia menyibak tikar orang mati. Perlahan Kuseret langkahku menuju pintu masuk, kemudian berhenti.
Aku terperanjat, bola mataku membulat kencang. Tenggorokanku seperti dijerat rantai hingga, kehabisan oksigen.
Bendungan di kantung mataku berubah jadi gelombang, kulawan biar ia tak jebolkan tanggulku Namun, apa dayaku. Kuseka air mataku, Segala sesuatu yang kulihat di sekelilingku mendadak kuning. Kulabuhkan pandanganku pada sosok penuh cinta. Pi’i berdiri mematung menatapku nyalang, meradang. seolah-olah aku adalah mangsanya. Tak terhindarkan.

Firasat itu kembali menunjukkan kuasanya: Mengetahui mereka sudah beralih ke dunia yang berbeda dengan sebuah mimpi. Sebelum aku melihat jenazahnya.

Jiwaku menungkik ke inti bumi. Mengikat rontaan batin. Aku menangis.

Keesokan harinya.
Aku terjaga dengan hentakan bengis di dadaku. Cinta ini teramat banyak untuknya. Bayang-bayang Pi’i tak enyah ia menyelubungi onggokan kepalaku.

Isakan tangisku meletup lagi. Jika batinku terlihat dengan mata telanjang, pastilah ia hangus terbakar. Hitam berasap meninggalkan bentuk yang tak serupa. Sirna. Jiwaku tersesat semakin jauh, entah bagaimana menyatukannya kembali dengan ragaku.

Aku terkesiap pergi ke RSUD. Sekarang. Sebelum jam jenguk sudah habis.
Kuayunkan kakiku meninggalkan ruangan kamar. Tiba-tiba aku mendengar suara berdenting. Aneh! Padahal di rumah ini cuma ada diriku. Aku yakin pasti ada seseorang di sini. Kulewati ruang tamu dengan langkah segan, lalu kuhampiri pojok ruangan di sebelah kananku. Aku merasa ada kehidupan di sana, memaksaku untuk mendekatinya. Kakiku berhenti mengayunkan langkah tepat di pintu menuju ruang makan, dan… Mataku terbelalak.

“Pi’iiiiiii.” aku meneriakkan namanya dengan beludak kegembiraan yang luar biasa.
“Heii sayang! Aku sudah pulang.” Jawab Pi’i. Wajahnya sangat terang. Binar-binar itu kupungut seluruhnya dan kuletakkan di hatiku. Aku tahu firasat dari mimpi itu hanya omong kosong!
Ia menatapku sembari menyunggingkan senyum. Tangannya memegang gelas, ia yang membuat suara denting kudengar tadi.

“Kamu sejak kapan ada di sini?” tanyaku dengan takjub. Kakiku gemetar, dan aku tahu itu.
“Aku haus banget sayang, dua minggu lalu cuma dikasih makan infusan.”
Pertanyaanku tidak dijawab, suaranya terdengar normal. Tubuhnya sudah bisa digerakan seperti tidak terjadi apa-apa. Ia melangkah, lalu terduduk di meja makan.

“Nih sayang, kamu minum dulu.” tawarku sembari kutuangkan air mineral ke dalam gelasnya.
Aku duduk di seberang Pi’i dan tak berhenti merangkul senyumnya yang begitu hidup. Terima Kasih, Tuhan. Senyuman berlesung itu masih bisa kulihat.

Ponselku bergetar.
Tidak ada dering yang berbunyi, tapi aku tahu ada pesan singkat yang harus kubaca. Kubuka layarnya tapi, tidak kubiarkan pandanganku meleset pada sosok penuh cinta yang ada dihadapanku.
Ponselku kuangkat setinggi paras Pi’i, mataku menjaga keduanya agar tetap terlihat. Tak akan kubiarkan ia lepas dari cengkeraman mataku.
Kedua bola mataku sedikit bergeser ke layar ponsel. Dan, samar-samar aku masih bisa melihat sosok kekasihku masih menjelma di tempatnya.

Pesan singkat dari calon mertuaku:
Najmi, maafin Pi’i ya… Pi’i udah enggak ada.

Ponselku jatuh dan pandanganku mendadak gelap. Kepalaku membentur meja tapi, tidak hilang kesadaran.
Tubuhku lumpuh tapi, jiwaku memberontak.
Mulutku hanya bisa meneriakkan nama belahan jiwaku, tapi tidak bersuara.

Hari ini dua hari setelah Pi’i disemayamkan, aku mengerang hebat sekali. Saat kenangan manis bersamanya mengubah bentuk bilah-bilah pisau kembali melesatkan tikaman. Gendang telingaku berdengung seakan hendak pecah, seluruh sarafku merenggang menunggu terputus.

jiwaku masih digempur kegamangan. Aku kehilangan sosok yang paling aku cintai dengan menyisakan kemarahan, juga ketololanku dan penyesalan pada saat yang sama. Selamat tinggal yang tak pernah terucap dan luapan cinta yang tak pernah sampai.

Cerpen Karangan: Faisal Fajri
Blog: xfaisalfajrix.wordpress.com
Hanya untaian kata yang terselip di hatinya.

Cerpen ini dimoderasi oleh Moderator N Cerpenmu pada 10 Mei 2021 dan dipublikasikan di situs Cerpenmu.com

Cerpen Rest in Peace merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Girl In The Rain

Oleh:
Trevor Beck merupakan seorang petani biasa, dengan kehidupan yang biasa-biasa saja. Namun sebuah keganjilan yang terjadi beberapa bulan yang lalu membuat Trevor berpikir bahwa, mungkin kehidupannya sebagai petani tidak

Saat Kau Tak Disini

Oleh:
Seperti bintang-bintang Hilang ditelan malam Bagai harus melangkah Tanpa kutahu arah Aku duduk di beranda taman itu, menunggu senja menjemput. Menunggu sesosok lelaki yang aku harapkan. Lelaki yang akhir-akhir

Hal Yang Tidak Bisa Kukatakan

Oleh:
Hari itu, hari pertama ku di SMP. Aku sangat senang karena aku sekarang sudah SMP, teman baru, kehidupan baru, bahkan cinta pertama.. seseorang yang aku sangat cintai.. dia adalah

Babi Babi Berburu Emas (Part 1)

Oleh:
Rombongan babi hutan menggasak semua tanaman ubi jalar dan singkong di ladangku. Sisa-sisa akar yang tercerabut dari tanah tampak berserakan di tanah. Daun-daunnya juga terpontal-pontal ke mana-mana. Bahkan pagar

Kita

Oleh:
Aku duduk termenung di atas sebuah kursi di teras kamarku. Menatap bintang dan bulan, berharap mereka mengerti perasaanku yang tak menentu. Ya, sangat tak menentu. Beberapa bulan lalu aku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *