Rumah Tua

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Misteri, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 22 March 2017

Mentari mulai merengsek naik dari peristirahatannya. Warna kejinggaan memperindah langit timur yang dihiasi oleh bintang-bintang kecil. Hari ini hari minggu dan kebanyakan orang lebih memilih bangun siang dibanding menikmati sejuknya pagi. Mungkin karena besok sudah senin dan harus memulai aktivitas lagi, mereka lebih ingin siap dalam bekerja atau bersekolah. Tapi tidak denganku. Aku hanya berpikir bahwa tidak ada yang lebih menyenangkan dibandingkan menghirup udara segar di hari minggu. Bermain sepakbola bersama teman-teman. Berkeliling kampung dengan sepeda yang kendor rantainya. Atau bersusah payah menangkap kepiting kecil di muara sungai. Jam di kamar menunjukkan pukul 6 tepat dan saat itu pula Suryo datang mengajakku bermain sepakbola.

“Ian, ian main yuuk!” suaranya yang sangat tinggi bahkan terdengar hingga ke kamarku yang ada di lantai dua. Oh iya aku belum memperkenalkan diri. Namaku Rian Samudera. Teman-temanku biasa memanggilku ian. Sekarang aku duduk di kelas 2 SMP di salah satu sekolah favorit di kotaku.
“Iya, iya sebentar ya sur, aku ambil sepatu dulu” Balasku dari balkon rumah yang dari tempat itu aku bisa melihatnya berputar-putar dengan sepedanya di depan rumah. Saat aku turun aku telah disambut oleh segelas susu hangat buatan mama tak lupa roti lapis isi keju kesukaanku yang telah tersaji di atas meja makan. Tanpa ragu aku langsung menghabiskan susu dan roti itu.
“Aku main dulu ya ma.” Ucapku pada mama yang sedang menggoreng telur untuk bekal adikku yang akan pergi piknik.
“Iya sayang hati-hati ya.” Pesan mama padaku
“Oh iya, jangan main di sekitar sungai ya, bahaya! Kamu tahu kan arus sungai akan deras kalau lagi musim hujan?” Mama kembali mengingatkan. Tapi apadaya aku sudah berlari duluan sebelum mama selesai mengatakan pesannya untukku. Memang akhir-akhir ini kotaku sering dilanda hujan yang cukup deras. Tapi anehnya tiap minggu pagi mentari selalu bersinar cerah.

“Ayo cepat ian kamu lama banget jalannya!” Teriak Suryo dari kejauhan.
“Kamu kira aku Usain Bolt apa? Aku capek tahu. Kamu mah enak naik sepeda.” Jawabku dengan nafas yang terengah-engah.

Di tempat aku berdiri sekarang aku sudah mulai melihat lapangan yang biasanya kita gunakan untuk bermain bola. Tetapi saat aku melihatnya secara seksama seperti ada suatu acara di tempat itu. Ah iya ternyata benar. Ibu-ibu sekitar kampung sedang melakukan senam bersama di lapangan itu. Teman-temanku yang juga ingin bermain bola tertunduk lesu dan kembali pulang ke rumah.

“Hoi Suryo, Ian sini gabung sama kita!” Kata Ifar dari arah lapangan. Hah? Ikut senam sama ibu-ibu? Hahaha apakah tidak ada yang lebih seru dibanding ikut senam? Aku menolak ajakan Ifar dan pergi bersama Suryo.
“Sur, aku bonceng sepedamu ya?” Pintaku dengan memasang muka melas.
“Berat ah bawa kamu.” Balasnya dengan cepat.
“Tega banget deh kamu. Capek aku jalan terus. Atau gini aja. Kalau kamu boncengin aku, kamu aku traktir es krim di sekolah besok.” Kataku sambil berharap Suryo menerima penawaranku. Aku tahu benar makanan favoritnya. Bagaimana tidak? Aku dan Suryo selalu satu kelas sejak kelas 1 SD. Bayangkan bagaimana sudah kenalnya kita satu sama lain.
“Serius nih? Wah asyik, oke cepet naik sini.” Ucap Suryo dengan wajah yang kegirangan. Yes, penawaranku berhasil. Walau harus keluar uang, setidaknya aku tidak harus berlelah-lelah berjalan kaki untuk pulang.
“Langsung pulang aja kan kita?” Tanya Suryo sesaat aku naik ke jalu di bagian belakang sepedanya.
“Hmmm.. Kayanya nggak asyik kalau minggu pagi nggak ngapa-ngapain.” Kataku pada Suryo
“Bagaimana kalau kita mencari kepiting dekat sungai?” Kata Suryo memberi sebuah ide cemerlang.
“Ide bagus!” Kataku yang langsung menyuruh Suryo mengayuhkan sepedanya menuju muara sungai kampung kami.

Setelah menempuh jarak sekitar 1,5 km kami tiba di lokasi yang akan digunakan untuk mencari kepiting-kepiting kecil. Aku sangat senang tiap sungai bermain di muara sungai ini. Airnya yang jernih dan hawa di sekitarnya yang sangat sejuk benar-benar membuat kami merasa betah untuk berlama-lama. Aku dan Suryo langsung menanggalkan baju kami dan mencari kepiting kecil. Namun karena air sungai yang begitu sejuk membuat kami lebih tertarik untuk berenang dan menikmati indahnya muara ini. Namun tiba-tiba saja petir menyambar di atas langit. Langit yang cerah berubah menjadi kelabu yang menandakan hujan akan segera turun. Baru selesai aku memakai baju, hujan langsung turun dan membasahi sekitar. Aku dan Suryo yang kebingungan langsung mengebut sepeda dan menuju ke rumah. Tapi karena hujan turun sangar deras, kami berteduh sebentar di bawah pohon yang cukup besar. Entah pohon apa ini. Yang terpenting hujan tidak mengenai tubuhku.

“Eh ian, liat deh ada gubuk kecil di sana!” Kata Suryo tiba-tiba
“Mana-mana? Nggak keliatan sur.” Jawabku sambil melihat-melihat kea rah yang ditunjuk Suryo.
“Itu lho, Di dekat Pohon yang tumbang itu. Yuk, kita lihat ke sana.” Ajaknya
“Eh, tunggu dulu sur. Emang aman gubuk itu? Siapa tahu itu tempat penculik?” Kataku sambil mengingat film tentang penculikan yang biasanya dilakukan di hutan.
“Ah apa sih kamu ini, tenang aja kan ada aku. Ayo lah dari pada di sini. Tuh lihat kamu sudah mulai kedinginan kan karena kena angin? Hahaha.” Kata Suryo dengan nada ejekan.
“Ya udah deh aku ikut kamu aja.” Jawabku pasrah. Benar juga yang dikatakan Suryo. Air yang sudah mulai turun dari atas pohon ditambah angin yang cukup kencang mulai membuatku kedinginan.

Dengan kecepatan penuh, kami berlari menyebrangi jalanan yang sepi dan mulai mendekati gubuk tua itu. Setelah cukup dekat kami baru sadar kalau gubuk tersebut ternyata sebuah rumah tua. Terlihat di depannya terparkir sepeda motor jadul yang sudah lama tidak diperbaiki. Kami kebingungan apakah harus kami masuk ke dalam atau kembali ke bawah pohon tadi hingga hujan reda?

Belum lama kami berdiskusi, kami terkejut dengan adanya bayangan di belakang dekat pintu bagian belakang rumah. Suryo yang ternyata takut dengan hantu langsung berlari ke balik dinding teras rumah tua itu. Aku yang melihat Suryo ketakutan juga ikut panik dan membuntutinya dari belakang.
“Ian, kamu lihat bayangan tadi?” Tanyanya dengan wajah yang sangat tegang.
“Iya, aku lihat sur. Tapi kayaknya itu bayangan orang deh sur.” Jawabku yang berusaha untuk tenang.
“Serius kamu ian? Bukan hantu kan itu?” Suryo mulai meneteskan air mata. Aku yang sudah dari SD kenal dengannya baru pertama sungai melihat dia menangis seperti ini. Melihat badannya yang cukup besar sangat lucu melihatnya menangis karena takut.
“Serius kok aku, ayo kita lihat langsung aja ke sana. Lagian hantu itu kan ngga ada sur.” Sambil mencoba menenangkan Suryo.
“Oke, oke ayo kita ke sana. Tapi aku di belakangmu ya ian?” Ucapnya sambil menyeka air mata dan menarik bagian belakang bajuku.

Aku yang sebenarnya juga panikan mengambil nafas panjang sebelum berjalan menuju ke bagian belakang rumah itu. Setelah beberapa langkah aku melihat ada nyala lampu petromaks dari dalam rumah tersebut. Aku yang semula agak takut mulai berani untuk melihat lebih jauh tentang rumah tua yang seperti tak berpenghuni ini. Saat benar-benar berada di depan pintu aku mencoba mengetuk tapi Suryo menahanku.
“Jangan diketuk dulu ian!” Dengan suara bisikan yang terlalu berisik untuk sebuah bisikan.
“Lebih baik kita lihat dulu sekitar rumah ini. Siapa tahu kita bisa menemukan sesuatu yang penting di sini.” Katanya menambahkan. Aku yang dari tadi sudah menggigil tidak peduli dengan permintaan itu dan melanjutkan untuk mengetuk pintu itu.

“Permisi ada orang di rumah ini?” Ucapku sambil terus menggedor pintu.
“Permisi pak, bu ada orang di rumah?” Sekali lagi dengan suara yang agak keras. Tapi tidak ada yang menjawab ketukan itu. Aku kembali mundur beberapa langkah untuk memastikan bahwa lampu yang kulihat tadi benar-benar ada. Saat aku lihat lampu petromaks itu masih menyala walaupun agak meredup. Aku masih yakin ada orang di rumah tua ini. Suryo yang dari tadi ketakutan masih terus memegangi bagian belakang bajuku.
“Permisi pak, bu ada orang di rumah? Saya dan teman saya ingin berteduh di rumah ini.” Kataku dengan suara keras. Tapi hasilnya sama. Tidak ada seorang pun yang keluar dan menemui kami.
“Oke kalau gitu sur, kita keliling rumah ini dulu. Kayaknya ini tempat yang nggak benar deh.” Kataku pada Suryo yang mulai melepaskan genggamannya dari bajuku.

Kami berjalan menyusuri rumah tua tersebut. Walau hujan masih agak deras tapi dari pada berdiam diri lebih baik melihat-lihat sekitar. Saat itu jiwa detektifku keluar dan merasa yakin bahwa aku bisa menjadi seperti detektif konan. Halaman rumah itu sangat luas dengan banyak pohon di sekitarnya. Tentu saja karena hanya itu satu-satunya rumah di tempat itu. Kami terus menyusuri dan betapa kagetnya kami saat melihat adanya gergaji dengan bercak merah di pemotongnya. Suryo yang melihat itu langsung merinding setengah mati dan matanya mulai mengeluarkan air mata.
“I.. I… Itu apa ian?” Tanya Suryo dengan terbata-bata. Pikiranku juga mulai berpikir yang macam-macam. Tapi aku berusaha tenang dan tidak panik
“Itu paling cat sur. Udah kamu ngga usah berpikir yang aneh-aneh.” Jawabku dengan tenang. Kami pun melanjutkan penyusuran di sekitar halaman tersebut. Tapi hanya gergaji yang kami lihat tadi yang kami temukan dalam penyusuran ini.

Saat hendak kembali ke pintu belakang tersebut, tiba-tiba saja ada sosok bayangan yang mendekati kami dari arah pintu itu. Suryo berusaha mengajakku untuk lari, tapi aku merasa ini adalah pemilik rumah tersebut. Bayangan tersebut makin mendekat dan mendekat. Aku yang tadinya mulai berani kembali panik. Suryo yang ingin lari tapi karena terlalu takut akhirnya pingsan di tempat. Aku yang melihat Suryo pingsan karena terlalu panik akhirnya ikut pingsan juga. Sebelum mataku tertutup aku melihat bayangan tersebut semakin dekat dan dekat.

Saat aku sadar, aku melihat tempat yang tidak asing bagiku. Ya, tempat tidurku. Ternyata petualanganku itu hanya sebuah mimpi yang tak terbayangkan.

Cerpen Karangan: Bagas Ananda
Facebook: Bagas Ananda

Cerpen Rumah Tua merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Yes! I’m Your Home (Part 1)

Oleh:
“Sudah Ki, ikhlasin Resa biarkan dia tenang di alam sana” Aku mengelus pundak laki-laki yang jongkok di samping makam. Tangannya meremas tanah makam yang basah, matanya sembab habis menangis.

Cinta Monyet

Oleh:
Langit jingga di sore ini seakan membuka lebar ingatanku tentangnya. Ingatan itu menggiringku pada sebuah lamunan tentang angan-angan aneh. Benar-benar membuatku merasa gila. Aku jatuh cinta? Apa? Di usia

Menanti Hadirmu Kembali

Oleh:
Setiap sore aku ngaji, aku mempunyai teman cowok paling rusuh, namanya Ahmad, dia beda angkatan untuk sekolah walau sekolah kita beda tapi ngaji kita satu angkatan dan dia yang

Sang Kakek

Oleh:
Bulan terlihat temaram. Sinarnya yang lembut menenggelamkan suasana dingin yang menyeruak hingga menusuk ke dalam tulang sum-sum. Awan yang semakin hitam, menutupi titik-titik bening yang semakin mengecil hingga perlahan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *