Sadar

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 4 April 2018

Namaku Nannette. Orang-orang biasanya memanggilku Nan. Aku pindah dari Oxford ke Roma untuk melanjutkan S2-ku. Kota penuh cinta yang indah. Menjadi sebatang kara di negeri orang itu err —menyenangkan.

Aku tinggal di flat yang murah. Karena aku hanya mengandalkan uang yang kuterima setiap bulan dari blog dan vlog-ku. Aku juga mengumpulkan uang dari berbagai macam pemotretan. Aku terkenal sebagai gadis majalah Oxford.

Orangtuaku telah mati 10 tahun yang lalu. Mengerikan sepertinya untuk menyaksikan secara langsung pembunuhan itu. Aku dapat merasakan senyum puas dari si pembunuh ketika dia mengiris leher ayahku dan menusuk kulit kepala ibuku. Setelah itu, semuanya menjadi kabur dan akhirnya gelap.

“Hey Nan, Please do something. jangan melamun” kata Carlotta, teman Italiaku yang mahir berbahasa Inggris. “Tidak, Carlotta, tidak. Aku tidak melamun” aku tersenyum manis kearahnya. Dia hanya manggut manggut menandakan bahwa ia mengerti.

Jolanda, temanku yang lain, berjalan dengan terburu buru ke arah Carlotta. Dia mengucapkan sesuatu dalam bahasa Roma yang sama sekali tak aku pahami. Lalu Carlotta melambaikan tangannya, dan menatapku.

“Nah, Jo bilang kalau tugas kelompok yang diberikan Sra. Episcopo harus dikumpulkan lusa. Waktunya dimajukan. Jadi, nanti, kita berlima, Kau, Aku, Jo, Raffaele dan Salvatore akan mengerjakannya di perpustakaan” Kata Carlotta sambil mengemasi buku-bukunya. “Sampai jumpa jam 2, Nan”.
“Sampai jumpa”. Aku juga mengemasi buku-bukuku.

Aku memutuskan untuk duduk di taman dan melanjutkan menulis blogku sambil menunggu datangnya jam 2. Tiba-tiba aku merasa senang. Senang sekali. Entah kenapa, ketika membayangkan akan ada banyak orang di perpustakaan yang sepi, hatiku mengembang.

Sudah pukul 1.39, aku akan pergi keperpustakaan dan mengerjakan tugas kelompok dengan bahagia bersama teman teman. Ketika aku tiba di sana, mereka menyambutku dengan hangat. Oh, senangnya.

10 menit, 20 menit, 30 menit dan seterusnya sangat terasa membosankan. Hingga akhirnya aku merasa bahagia di menit ke 56.
Oh Tuhan, tidak! tanganku berdarah! berlumuran darah! Apa yang terjadi? Aku melihat ke sekeliling meja, mereka, Carlotta, Salvatore, Raffaele, Jolanda, MATI! Mereka bersimbah darah, dan apa yang aku lakukan? memegang pisau? dengan sarung tangan? CERDAS! Aku membunuh mereka. Ya, aku membunuh orang orang yang kusayangi, sama seperti ketika aku mengiris leher ayahku dan menusuk kepala ibuku.

Cerpen Karangan: Juddy Blevins

Cerpen Sadar merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Misteri Rumah Angker

Oleh:
Minggu ini Yona berkumpul dengan Vela, Ricky, Hesa dan Lyla. Yona tinggal di sebuah desa terpencil yang jauh dari keramaian kota, desa yang penuh dengan kemisteriannya, dan penuh dengan

Siapa?

Oleh:
Suasana kamar asrama sempit ini terasa begitu lengang. Hanya terdengar suara gemericik gerimis hujan yang membasahi malam. Ketiga sahabatku masih terdiam, entah apa yang mereka pikirkan. Sedangkan aku berusaha

Sang Penyelamat

Oleh:
“Andra!” Sandara merengut kesal saat seseorang memanggil namanya seperti itu. Ia berbalik dan mendapati seorang lelaki melambaikan tangan padanya. Raut wajahnya tambah kesal saat melihat pria itu. “Aku mau

Wajah di Balik Jendela (Part 1)

Oleh:
Tepat pukul 5:45 sore, sambil menatap jam dinding kuno di atasnya, Kondektur tua bermuka masam di stasiun Hualamphong, Bangkok, yang sedang melambaikan bendera merah. Di iringi jerit peluit, Eastern

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *