Salah

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 22 September 2017

Pada siang hari yang cerah di pertengahan bulan Desember, seorang mahasiswi semester tiga yang bernama Anna Darasati kini tengah berada di dalam bus yang sedang dalam perjalanan dari Surabaya menuju Jakarta. Rencananya, Ia akan menghabiskan liburan akhir tahunnya selama satu minggu penuh bersama kekasih dan keluarganya. Setelah ia lulus dari SMA, Anna pun merantau ke Kota Pahlawan untuk melanjutkan pendidikan S1 nya di sebuah universitas ternama di kota tersebut.

Saat pukul tiga sore, perlahan rintik hujan pun turun, dan bus yang ia tumpangi berhenti di sebuah restoran. Penumpang-penumpang pun turun dengan berdesak-desakan, karena mereka terjebak cukup lama dalam lonjakan volume kendaraan di jalan pada penghujung tahun. Setelah beberapa menit, Anna pun turun dari bus dan langsung pergi ke tempat makanan yang telah disediakan oleh pihak bus. Ia merasa lapar.

Anna pun menaruh tas cokelatnya di sampingnya. Posisinya menghadap ke arah depan rumah makan, dan ia pun menonton berita di televisi untuk sekedar menghilangkan penat yang dialaminya. Ketika pelayan datang, ia hanya memesan sebuah roti bakar dan segelas cokelat panas. Selagi ia menunggu pesanannya datang, Ia menonton berita di sebuah stasiun televisi yang memberitakan bahwa sedang maraknya penculikan di Jakarta akhir-akhir ini.
Penculikan tersebut akan diakhiri oleh pelaku dengan meminta uang tebusan sebesar puluhan juta rupiah kepada pihak keluarga, terkadang juga pelaku mengakhiri nyawa korbannya di sebuah tempat yang sunyi dan selang beberapa hari mayat korban pun akan ditemukan. Pelaku tersebut seringkali menyamar sebagai seorang supir travel.

“Maaf, ini pesanannya.” Sapa pelayan dengan ramah.
“Baik. Terima kasih. Mas, saya mau tanya.”
“Silahkan.”
“Kalau dari sini, perjalanan ke Jakarta memakan waktu berapa lama lagi ya?”
“Kurang lebih empat jam lagi. Itu pun apabila tidak macet”
“Oh, begitu. Makasih ya.”
“Tentu.”

Setelah waktu peristirahatan supir berakhir, bus pun kembali berjalan dengan cepat. Untuk mengusir kepenatan, Anna pun mendengarkan musik-musik bergenre rock yang pernah nge-tren pada masanya seperti The Beatles, Pink Floyd, Eagles dan The Doors dengan sebuah headphone. Tak lama kemudian, Ia pun tertidur dengan lelap selama beberapa jam.

Anna pun terbangun dari tidurnya. Ia pun tersadar karena tak lama lagi, Ia akan sampai di sebuah terminal. Jaraknya tak jauh nih dari sini!, begitu pikirnya. Dengan cepat, Ia pun mengambil telepon genggamnya yang ia taruh di tasnya. Lalu, Ia menekan tombol panggilan ke kekasihnya, Kevin untuk menjemput dirinya di terminal. Lama Ia menunggu jawaban, Ia pun memutuskan sambungan panggilan tersebut, dan berniat untuk memanggilnya nanti.

“TERMINAL!” Teriakan sang kondektur bus tersebut menyadarkan Anna dalam lamunannya. Ia pun langsung turun, dan tak lupa untuk mengambil koper hitamnya yang ia taruh di bagasi bus tersebut. Lalu, Ia pun melihat ke sekitar, begitu ramai kondisi terminal malam itu. Ia pun kembali menelepon kekasihnya, Kevin.

“Halo?”
“Apa? Di sini suaramu kurang jelas, bisa kau kencangkan?”
Lalu, Anna pun menloudspeakerkan panggilan tersebut.

“Halo? Sudah jelas terdengar?” teriak Anna.
“Suaramu sudah jelas terdengar. Tapi ada yang belum jelas terdengar.”
“Apa?”
“Suara hatimu.”
“Tolol.”
“Hahaha… Maaf, maaf.”
“Iya. Jadi apakah kau bisa menjemputku sekarang?”
“Maaf. Aku tidak bisa, aku ada keperluan penting saat ini di kantor.”
“Jadi?”
“Ya jadi, sebagai gantinya aku sewakan kau supir travel. Bagaimana?”
“Dia akan menjemputku ke terminal ini?”
“Tentu. Aku akan kirimkan nomornya, namanya Pak Latif.”
“Ok, Aku tunggu.”

Beberapa menit kemudian, telepon genggam Anna pun bergetar, tibalah sebuah pesan singkat dari Kevin yang memberi nomor telepon supir travel yang ia janjikan. Lalu, ia pun menyimpan nomor tersebut, dan langsung meneleponnya.

“Halo. Pak Latif ya?”
“Iya benar. Ini Anna kan?”
“Iya. Jadi, kapan mau menjemput saya?”
“Sekarang. Mungkin sekitar dua puluh menit lagi saya akan tiba di terminal.”
“Oh oke, saya tunggu.”
Sambungan pun terputus.

Jarak dari terminal ke rumahnya berjarak kurang lebih sekitar lima kilometer. Apabila ia menggunakan taksi pun biayanya akan lebih mahal lagi. Sembari ia menunggu kedatangan supir tersebut, ia pun duduk di sebuah kursi ruang tunggu terminal tersebut yang menghadap ke loket.

Sudah tiga puluh menit ia menunggu. Namun tak lama, seseorang berbaju hitam pun memanggilnya.
“Anna ya? Saya supir travel, Pak Latif.”
“Iya. Wah, kok tau saya namanya Anna?”
“Pak Kevin tadi memberi tahu ciri-ciri anda supaya saya lebih mudah mencari anda.”
“Oh baiklah. Ini pak koper saya tolong bawakan.”
“Siap.”

Setelah menaruh koper Anna di bagasi, supir tersebut pun langsung membuka pintu, menutup, dan menyalakan mesin. Anna duduk di bangku belakang sebelah kiri, pandangannya mengarah ke luar jendela. Dan mobil pun mulai berjalan. Selama perjalanan tersebut pun mereka saling berbicara satu sama lain. Berbicara tentang pekerjaan, pendidikan, dan terkadang keluarga.

Lalu, pandangan Anna pun teralihkan pada sebuah tali dan pisau yang di sebuah kantung kecil bewarna cokelat yang terletak di sebelah kursi tersebut. Ah, jangan berpikiran negatif, pikirnya. Anna pun menanyakan kepada supir travel tersebut kenapa ia melewati jalan yang sepi dan sunyi, tidak seperti jalan yang biasanya ia lewati. Dan, supir tersebut hanya berujar “Jalan di sini nggak macet. Walaupun agak lama, sekitar selisih tiga puluh menit.”
Anna tak memikirkan hal tersebut, lagian ia tidak terburu-buru untuk sampai di rumah.

Selagi di perjalanan, ia melihat ke kirinya pohon-pohon yang menjulang tinggi. Entah kenapa, ia merasa cemas saat itu. Ia pun mengambil sebuah buku novel thriller favoritnya.
Selagi ia menikmati bacaannnya, telepon genggamnya pun bergetar. Saat ia melihat layar teleponnya tersebut, ia pun kaget. Telepon tersebut berasal dari Pak Latif. Hah, dia meneleponku? Dia kan sedang menyetir?, pikirnya. Lalu, ia pun diam untuk sementara. Tak lama, tiba sebuah pesan dari Pak Latif dan isi pesannya:

“Maaf telah menunggu lama, kok telepon saya tadi itu tidak diangkat? Ban mobil saya pecah dan harus diganti dulu, sekarang saya sedang berada di bengkel dan kemungkinan saya akan telat datang tiba ke terminal. Sekali lagi maaf.”

Jadi, supir tersebut siapa?

Cerpen Karangan: Panca Erlangga
Facebook: facebook.com/pancaerl
Seorang pelajar.

Cerpen Salah merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Seikat Mawar

Oleh:
Aku menatapnya kagum. Dave, lelaki yang ku kenal pendiam itu ternyata mahir memainkan sebuah lagu River flows in you. Jari-jarinya menari dengan lincah di atas tuts-tuts piano memainkan mahakarya

Sahabat Lamaku

Oleh:
Dulu, aku memiliki sahabat yang sangat baik. Kami sering berkomunikasi dan saling membantu, tapi akhir-akhir ini Nicholas tidak pernah menjawab SMS dariku. “Hai, Nicholas!” sapa Odie temanku. “Ya? Ada

Sosok Misterius di Ruang Laboratorium

Oleh:
Namaku Ryan. Aku seorang mahasiswa jurusan teknik di sebuah institut terkenal di kota Bandung. Saat ini aku sedang menyelesaikan tugas akhir dan biasanya, seperti mahasiswa tingkat akhir lainnya aktivitas

Kota Kecil Yang Hilang

Oleh:
Akhirnya liburan pun telah tiba, aku dan teman-temanku mempersiapkan untuk liburan di suatu pulau, mungkin pulau itu tidak terlalu besar, namun pulau itu terlihat sangat indah, pulau itu agak

Cinta di Surga

Oleh:
Aku tidak tahu Aku berada di mana kulihat semua tempat ini tampak putih dan dari kejauhan kulihat ada seorang wanita cantik menghampiriku. “Putra” sapa wanita itu “Kamu siapa?” jawabku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *