Saman

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 17 February 2014

Malam itu kira-kira pukul 19.30 di pertengahan juli.. Aku dikagetkan dengan dering hp yang kusimpan di saku kemejaku.. Drreettt… Siapa ini ganggu orang nonton bola saja..
Ku buka sms itu dan aku baca..
Ngopi yuk..
Yaa seorang teman. Rumahnya berjarak kira-kira 11 km dari tempat tinggalku dan mengajakku untuk pergi ke luar.. Oke, aku tunggu di tempat biasa.. Balas ku.

Kira-kira 10 menit berselang aku sudah sampai di tempat yang kita janjikan.. Ya biasa anak muda sukanya menghabiskan waktu di kedai kopi dan membicarakan hal-hal yang tak penting..
“Monggo mas”, “ohh nggeh pak”. Kopi yang dipesan temanku tadi sudah jadi. Memang malam itu sangat dingin, tepat rasanya bila ditemani secangkir kopi panas.. “Ehh al..” Panggil temanku sang bersedekap karena kedinginan dan menungguku dari tadi.. “Hemm..” Sahutku..
“Laptopku hilang”. “Hahhh… Kapan? Di curi ta?” Timpalku penasaran. “Iya, 3 hari kemarin saat aku keluar kost” jawabnya.. “Na sudah kamu cari?” “Udah semua aku sumpah satu-satu mereka pada berani sumpah semua, padahal di laptop itu ada ketikan skripsiku yang tingggal di print, dan 2 minggu lagi aku ujian skripsi, kalau buat lagi ya nggak mungkin cukup waktunya soalnya aku nggak punya back up nya.. Adanya cuma print proposal, dan itu masih kurang banyak.. Aku bisa stress al kalau tahun ini tidak lulus kuliah”.
“Hadeeehhh… Kok bisa sih. Udah di cari ke semua kamar ta?” “Yaa udah semua tapi nggak ada..”

“Bisa anterin aku sekarang nggak al?”
“Kemana” jawabku..?
“Ya nyari laptopnya..”
Tak tau kok ya aku jawab iya. Padahal ilangnya dimana, nyarinya dimana, nggak nyambung. Akhirnya kami beranjak pergi dari kedai itu. Temanku yang mengemudikan motor dan aku tinggalkan motorku disana..

Setengah jam sudah perjalanan kita lalui, tapi belum ada tanda tanda temanku akan menghentikan laju motornya.. Emm mungkin mau ke rumah temannya nanya sesuatu tentang orang-orang yang di curigainya..

Ternyata benar dugaanku, kita berhenti di sebuah rumah di dekat area persawahan..
Ini rumah kok sendirian nggak ada tetangganya apa enaknya punya rumah disini batinku..
“Ayo..” Sahut temanku..
“Ini rumahnya siapa” tanyaku penasaran
“Ini rumahnya pak maryan..” Jawab temanku.
Kami pun memarkir motor di halaman rumah dan temanku mengangguk pada seseorang yang sedang duduk di teras rumah tersebut..

“Aku tunggu dari tadi dek, katanya mau kesini jam 8..” Kata bapak yang sedang duduk di teras tadi.. “Iya pak mohon maaf tadi nunggu teman saya” jawab temanku.
“Ayo silahkan masuk..”
Kami pun masuk ke rumah bapak tadi yang pasti namanya pak maryan seperti kata temanku.. “Oh jadi temanku sudah janjian sepertinya tadi, makanya kok sampai ditunggu..”
Hufff baru sebentar masuk rumah saja rasanya udah panas sekali udaranya.. Padahal rumahnya dekat sawah..
Beberapa langkah dari pintu kita sampai ke ruang tamu dan aku memutar badanku hendak duduk..

“Lohhh… Mau kemana ini orang?” Agak bingung kenapa temanku dan pak maryan terus saja berjalan ke dalam rumah. Sontak aku pun urungkan niatku untuk duduk dan mengikuti mereka..
“Silahkan duduk..” Kata pak maryan.
“Iya pak” sahut temanku..
Ternyata ada ruang tamu lagi di dalam rumah, tapi sedikit gelap sih..

Aku diam saja karena sedang melihat lukisan wayang yang terpajang di dinding sembari mengambil posisi duduk..
“Sebentar dek ya bapak tak ngambil pulpen dulu”,
“Iya pak” jawab temanku sambil melihat pak maryan yang membuka pintu kamarnya..

Astaghfirulloh hal adziim…
Aku langsung memalingkan mukaku.. Bau kemenyan.. Yang sangat menusuk hidungku..
Apa ini..?.. Teman yang aku anggap cerdas juga percaya dukun ternyata..
Sialan… Entah kenapa aku serasa di bohongi oleh temanku ini. Aku kan anti sama yang beginian.. Jadi kesini mau tanya dukun..
Hufff…

Ahhh suntuk banget pikiranku.. Baru mau mau nyikut temanku karena kesal ternyata pak maryan sudah keluar dari kamarnya..

“Ada perlu apa memangnya dek..?” Tanya pak maryan..
“Ini pak, laptop saya hilang di kost saat saya keluar kamar.. Saya sudah cari kemana-mana tapi belum ketemu, padahal didalamnya ada data penting yang mau saya pakai secepatnya pak”, jawab temanku..
“Ohhh… Hilangnya hari apa?” Tanya pak maryan singkat.. “Hari minggu pak”, jawab temanku..
Pak maryan sambil menulis sesuatu di kertas yang dibawanya..
“Emm.. Adek besok coba cari ke arah barat dari kostnya adek.. Bukan temannya adek yang ngambil. Adek jalan saja kesana jam 7 malam.. Bisa ketemu kok.. Barang adek itu mau dilempar ke barat..”
Nahh.. Kan.. Bener dugaanku, sialannn..
“Ohh begitu pak ya, iya pak besok saya akan ke kost saya”. Sahut temanku..
“Saya izin ke depan dulu pak..”
“Mau apa dek?” Tanya pak maryan..
“Ohh, beli rokok pak”
Sambil membisiku..
“Ehh aku beli rokok sebentar ya sambil mengambil kunci motor yang di taruh di meja..”
Aku hanya melirik ke temanku.. Masih kesal sebenarnya hatiku.. Hampir nggak ada kata kata yang keluar dari mulutku di sana.. Aku hanya diam dan melihat ventilasi pintu kamar pak maryan yang terlihat keluar asap dari dalam..
“Dek.. Sebentar ya bapak tinggal sebentar”, pak maryan berbicara kepadaku.. “Di minum dek”, sambil mempersilahkan minuman yang dari tadi sudah ada di depanku..
“Iya pak”, jawabku sambil tersenyum penuh kepura-puraan..

Lalu pak maryan memasuki kamarnya dan ahhh… Aku memalingkan muka lagi, aku benar-benar tidak suka dengan aroma kemenyan yang membuatku ingin muntah ini..

Beberapa menit kemudian waktu berselang aku di kagetkan oleh teriakan pak maryan dari dalam kamarnya.. Dari nada bicaranya sepertinya dia sangat marah entah dengan siapa, karena sepengelihatku aku tak menjumpai ada orang lain di kamar pak maryan. Lagi pula pintu kamar pak maryan berhadapan dengan tempatku duduk, kalaupun ada orang lain, seharusnya aku tahu…

“Duarrrr…” Pak maryan seperti membanting sesuatu sembari berkata ..
“Keparat… Apa kurang yang kuberi padamu..? Bilang.. Sekarang kau minta apa..?”
“Aku tak peduli urusanmu.. Apa..? Kamu minta apa hah..?”

Duuaaarrr… Pak maryan seperti melempar sesuatu lagi. Lalu tiba-tiba suasana menjadi hening.. Aku benar-benar bingung apa yang sebenarnya terjadi. Rasa penasaranku sangat besar, tapi tak sopan kiranya bila aku ikut campur urusan orang lain di rumahnya.. Jadi aku putuskan untuk diam saja dan memperhatikan apa yang akan terjadi..

Srrrkkk… Terdengar suara berserakan dan pak maryan seperti berduel dengan seseorang..
Saat inilah aku sudah tidak tahan dengan keanehan di rumah ini. Aku segera beranjak keluar untuk mencari temanku. Berniat mengajaknya pulang saja.. Tapi sebelum sampainya aku melewati pintu, langkahku terhenti dengan suara pak maryan yang serak dari dalam kamarnya ..

“Tunggu dulu al iz…”

(deggg..) waktu seakan berhenti, rasanya seperti disambar petir di siang hari, aku merasa kaget, dari mana dia tahu namaku..?, Padahal aku tidak pernah menyebutkan namaku kepadanya.
Lalu terdengar bunyi pintu terbuka.. Ya pintu kamarnya pak maryan.
Dari sini perasaanku sudah mulai tak enak. Ada rasa sedikit takut dengan kejadian yang tadi terjadi. Namun kuberanikan diri untuk menoleh kebelakang memastikan sebenarnya siapa yang memanggilku tadi.. Ternyata benar pak maryan yang berada disana.. Dia berada di sudut ruangan yang gelap jadi yang nampak dariku hanyalah sosok dia yang sedang menunduk..

“Kesinilah…”
Kata pak maryan yang sedari tadi masih saja menunduk..
Aku tak tahu apa yang sedang terjadi, semuanya serasa mistis, tapi… Apa aku harus takut? Apa pak maryan akan mencederaiku? Bertemu juga baru hari ini.. Batinku..

Akhirnya .. Kuberanikan diri untuk mendekati pak maryan yang hendak duduk..
Astaghfirullohhaladziim..
Bau kemenyan lagi.. Semakin menusuk hidungku karena pintu kamar pak maryan dibiarkan terbuka.. Terlihat banyak benda berserakan di lantai kamar pak maryan, termasuk tempat pak maryan membakar kemenyan pun hancur berserakan..

“Tak ku sangka kita bertemu lagi..” Kata pak maryan sambil meringis, dan wajahnya masih saja menunduk.. Sepertinya dia sedang menutup mata..
Ya jujur pikiranku saat itu kosong.. Apa yang kulihat tidak bisa dicerna otak ku.. “Maksudnya..?” Jawabku keheranan..
Lalu pak maryan mengangkat kepala sembari membuka matanya dan menatap tepat di mataku..

Astaghfirulloh hal adziim.. Aku memalingkan mukaku..
Tatapan mata itu..
Sungguh membuat hatiku takut, matanya merah dan pandanganya tajam.. Seakan hendak membunuhku.. Entah apa yang terjadi, hanya dengan tatapan mata yang berbeda wajah pak maryan seakan berubah tak seperti sebelumnya..
Aku masih saja berdiri dan berhadapan dengan pak maryan yang sedang duduk..

“Buyut mu sudah mati..?” Tanya pak maryan sambil meringis..
Ahh.. Apa lagi ini.. Aku semakin bingung. Dari sejak masuk rumah ini yang ada di pikiranku cuma tanda tanya besar.. Kenapa dia tanya buyutku, aku sendiri saja sudah lupa bagaimana wajahnya.. Apa yang sebenarnya terjadi sih..? Lagi-lagi tanda tanya besar di kepalaku..

“Duduk..”
Seketika itu juga aku lantas duduk, entah kenapa aku menurutinya. Yang ada di pikiranku cuma semoga ini cepat berakhir dan aku tau apa yang sebenarnya terjadi..

“Mungkin kamu tak tau aku siapa, tapi aku masih ingat corakmu.. Kamu al iz kan..”
“Iya. Saya al iz. Bapak tau dari mana? Kita kan belum pernah bertemu sebelumnya” jawabku..
“Dari kamu kecil aku sudah tau..”
Haahh..? Dari kecil? Tadi nggak kenal, sekarang bilang kenal, ada apa ini? Batinku..
“Pak maryan kenal saya?” Tanyaku..
“Iya.. Aku tau”
“Tapi kenapa aku belum pernah dengar nama pak maryan sebelumnya?” Sahutku..
“Aku bukan maryan..”
Aduhh.. Rasanya seperti di sambar petir, bulu kuduk ku berdiri.. Aku sampai nggak bisa bicara waktu itu..
“Aku saman.. Aku di pelihara buyut mu dulu..”

Mendengar kata-katanya tubuhku bergetar kuat.. Rasanya panas dingin sekali badanku.. Aku merinding luar biasa sekali berkali kali… Aku mulai mundur dari tempat duduk ku berada.. Apapun itu yang pasti aku tidak sedang berhadapan dengan manusia.. Lebih baik aku pergi..

“Jangan takut.. Duduk lah lagi.. Aku tak akan menyakitimu..”
Entah kenapa meskipun aku merasa seram, tapi aku menurutinya..
“Aku di buang buyutmu.. Padahal aku suka ikut buyutmu..”

Mendengar kata di buang. Aku jadi ingat sesuatu.. Iya aku ingat. Jadi ini dia.. Jin yang diceritakan ibuku..
Ceritanya dulu. Buyutku mempunyai gong. Dan jin ini yang disuruh menjaga gong itu. Buyutku memeliharanya cukup lama, ya jaman dulu jaman yang sangat syarat dengan klenik.. Ibuku pernah bercerita padaku tentang jin ini, jin ini sering mencuri, kadang mencuri ikan dan uang dari orang yang menyewa gong lalu di letakkan di dapurnya buyut. Buyut tidak suka dan menyuruh untuk mengembalikan curianya. Kalau tidak buyutku mengancam akan beli garam satu karung.. Dan besoknya ikan dan uang curian itu hilang begitu saja.. Buyutku tau niat jin peliharaanya baik ingin memberi sesuatu ke buyut, tapi buyutku tak suka caranya. Sampai akhirnya kemarahan buyutku memuncak, saat jin itu menampakkan mukanya ke diriku. Waktu itu aku masih kecil dan sedang sholat magrib. Tiba-tiba jin itu menampakkan wajahnya yang buruk rupa tepat di hadapanku.. Mukanya jelek dan matanya keluar lalu jatuh.. Aku langsung lari dan menangis karena ketakutan hingga aku sakit beberapa hari.. Tau akan hal itu buyutku marah setengah mati, lalu membuang jin itu ke gunung.. Emm jadi ini jin yang menakutiku dulu..

“Setelah itu, aku pelihara orang di hadapanmu ini.. Sekarang aku ingin ikut denganmu..”
“Untuk apa?” Jawabku..
“Aku bisa membantumu..”
“Tidak.. Tidak usah.. Aku tak perlu bantuanmu..”
“Kembalilah.. Di jalan seharusnya kamu berada.. Aku tau ini bukan dirimu..”
“Apa kau perlu bantuanku.. Aku tak minta banyak. Aku cuma minta makan..”
“Tidak.. Tidak perlu, aku tidak mau..”
“Hatimu gelap.. Kamu pasti sedang mendurhakai alloh.. Sadarlah.. Hidupmu bukan yang seperti ini.. Buyutmu pasti kecewa bila bisa melihatnya..”

Aku hanya bisa diam mendengar perkataanya.. Sepertinya dia tau apa yang kurasakan..

“Yaa aku tau.. Terlihat jelas di corakmu..”
“Sudahilah apa yang engkau rencanakan.. Kau sedang menyakiti dirimu sendiri.. Aku tau kamu tak bisa memberhentikanya.. Makanya aku ingin membantumu.. Apapun yang kau mau aku bisa melakukanya.. Beri saja aku makan..”
“Tidaak.. Aku tak butuh bantuanmu..” Teriakku.. “Jangan pernah berniat untuk mengikutiku.. Aku tak mau berurusan dengan mahluk sepertimu..”
“Dulu buyutmu memeliharaku, memberiku makan dan menyuruhku shalat. Aku punya hutang yang yang tak bisa terbalas.. Sekarang aku melihat cucunya seperti ini. Mungkin ini jalanku untuk membalasnya..”
Tanpa pikir panjang lalu aku bangkit dari duduk ku dan pergi.. Tapi tiba-tiba saman yang merasuki tubuh pak maryan mencegahku dengan menarik tanganku.. Akan tetapi tubuhnya tiba-tiba bergetar dasyat seperti orang yang sedang terkena serangan jantung.. Sampai dia terjatuh.. Dia menatapku dengan wajah ketakutan..

“Dosa apa yang telah kau lakukan al iz..?” Teriaknya… “Sebegitu gelapnya hatimu sampai aku tak tahan melihatnya..”

Jujur aku tau apa yang dia maksudkan. Tapi ini bukan urusan dia.. Aku beranjak lari meninggalkanya.. Dan kebetulan temanku pun sudah sampai, singkat cerita lalu aku rebut posisi menyetirnya dan mengajaknya pulang.. Temanku keheranan dan bertanya-tanya apa yang telah terjadi.. Namun aku hanya diam dan semakin mempercepat laju motor yang kukendarai..

Awal agustus, hari yang muram, kira-kira dua minggu setelah kejadian itu. Hari-hari sebelumnya aku jadi susah tidur.. Teringat ucapan saman.. Ini sungguh-sungguh terjadi atau cuma perdaya iblis..? Kejadian itu masih lekat di benak ku. Dan aku belum bisa melupakanya.. Apakah yang dikatakanya benar..? Masih menjadi tanda tanya bagiku..

Aku melalui hari-hari seperti biasa.. Kuliah dan kuliah demi menuntul ilmu semoga secepatnya aku bisa kerja.. Namun dalam keseharianku itu ada hal yang aneh… Benar-benar aneh.. Sejak aku bertemu saman waktu itu setiap aku mengucapkan sesuatu tentang barang yang aku inginkan, besoknya barang itu sudah ada di meja kamarku.. Aneh kan..
Dan saat aku berkata “kembalikan” Esok hari barang itu sudah tidak ada.. Hal itu sudah terjadi 3 kali tanpa sengaja.. Untuk membuktikanya terkadang aku mencobanya hingga terjadi 5 kali. Dan sepertinya aku tahu ini perbuatan siapa..

Semenjak kejadian itu aku tak pernah mengucapkan keinginanku lagi sampai saat ini.. Meskipun aku tak melihatnya. Tapi aku yakin dia masih ada di sampingku..

Saman..
Yaa.. Dia memang mengikutiku…

Cerpen Karangan: Al iz Kusuma
Facebook: https://www.facebook.com/aliz.kusuma

Cerpen Saman merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Gagak Hitam

Oleh:
“Kalian tidak tahu sisi lain dari diriku. Sisi lain dari diriku sangat tertutup. Sisi lain diriku gelap. Kalian tidak akan pernah tahu diriku yang sebenarnya,” — Pagi ini terlihat

Pria Di Bawah Hujan

Oleh:
‘Sret’ ‘sret’ suara langkah kaki itu begitu jelas dan nyata jelas bukan ilusi atau lainnya. Ini entah keberapa kalinya aku lagi-lagi mengintip lewat jendela kamarku, penasaran pada seorang pria

Penolong Misterius Rara

Oleh:
Hal yang paling ibu khawatirkan tengah terjadi saat ini. Dua orang pria berbadan besar dan berpakaian hitam terus saja berlari di belakangku. Sepertinya mereka orang jahat, entah apa yang

Lady Blood

Oleh:
“Hai rey” sapa James “Hai jugaa” jawab reyna “mau maghrib gini kamu mau kemana? Awas lohh.. Nanti kamu diculik hehe” “ahh cuma ke warung depan kok” “mau kutemani?” tanya

13 Desember

Oleh:
Malam ini, seorang wanita berambut gelombang tengah berjalan dengan tergesa-gesa melewati jalanan yang begitu sepi. Terang saja, karena jam sudah menunjukan 11.45. wanita tersebut memakai pakaian khas winter, kedua

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

5 responses to “Saman”

  1. cheryl angeline says:

    Ini kisah nyata kak?cerita ini bagus kak,tapi serem banget untukku.Soalnya aku masih kelas 6 SD kak.

  2. Al iz kusuma says:

    nyata dek..

  3. niken pribadi says:

    Gak ad yg gak horor yaa .. Suka baca cerpen blog org2 tpi takut klo serem ..

  4. enna says:

    dan sekarang, keadaan kak Al Iz msh kyk gtu ?

  5. enna says:

    aku gak ngrasa serem klo kisah nyata macam begitu, soalnya udah pernah ngadepin jg meskipun gk se’heboh’ itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *