Sang Kakek

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 19 October 2018

Bulan terlihat temaram. Sinarnya yang lembut menenggelamkan suasana dingin yang menyeruak hingga menusuk ke dalam tulang sum-sum.

Awan yang semakin hitam, menutupi titik-titik bening yang semakin mengecil hingga perlahan berselimut kegelapan. Hanya sang bulan yang tampak sayu dan mudah dirayu oleh awan hingga langit malam benar-benar tak berbintik cahaya.
Di suatu malam. Di suatu pondok pesantren.

Tempat para anak-anak belia menimba ilmu dan belajar untuk hidup lebih mandiri. Meninggalkan keluarga, kampung halaman, hanya untuk mengecap berkah dan menabung amal agar kelak suatu hari nanti bisa berguna bagai sebatang pohon kelapa.

Di malam itu, cahaya listrik redup. Meredupkan kehidupan malam yang biasanya dipenuhi lampu-lampu yang menghiasi berpuluh-puluh asrama oleh ratusan santri. Ba’da sholat Isya’ berjama’ah, para musafir ilmu tak bisa melanjutkan aktifitas belajar mengajar seperti pada malam sebelumnya. Dikarenakan sinar yang dipancarkan oleh sebuah benda kaca berwarna putih tak menyala.

Sebagian bersorak, karena terbebas dari suntuknya belajar kitab-kitab berwarna kuning yang belum bisa mereka pahami. Dan sebagian lagi terlihat mengupayakan untuk belajar dengan cara menyalakan lilin atau lampu sentar yang sudah mereka bawa semenjak tinggal disini.

Para pengurus pondok pesantren tidak bisa berbuat apa-apa. Pemadaman listrik memang sudah menjadi hal yang lumrah dikota itu. Seperti halnya hujan yang turun tak meminta izin terlebih dahulu.

Tak hanya sekedar belajar, banyak para santri yang memanfaatkan waktu ‘mati lampu’ untuk berkumpul, membicarakan sesuatu seperti sepak bola, artis, kiriman yang belum datang, bahkan saling mengolok-olok dan menirukan cara mengajar para ustadz yang beragam gaya bahasanya. Ada yang memanfaatkannya dengan memainkan ponsel yang mereka sembunyikan dibalik bantal, ada yang bersholawat sambil menabuh terbang rebana, dan ada yang langsung menyelimuti dirinya karena cuaca dingin dan langsung pergi ke alam mimpi.

Tak ada yang marah. Selama listrik padam, peraturan dilonggarkan. Bahkan para kakak ketua asrama juga ikut berkumpul bersama adik-adik mereka. Ada pula yang dengan sabar mengajari adik-adiknya membaca Qur’an, atau bercerita tentang hantu apa saja yang menghuni pondok pesantren mereka. Dan jika telah selesai bercerita, maka para santri yang umurnya masih muda minta ditemani untuk buang air kecil ataupun sekedar gosok gigi.

Kelihatannya seru.
Memang. Semua memiliki kesibukan masing-masing. Termasuk beberapa kakak-kakak ketua asrama yang memanfaatkan waktunya dengan mencuci pakaian.
Di salah satu tempat mandi umum yang dikelilingi tembok agar para santri tidak terlihat saat mandi. Dan terdapat dua buah kolam yang besar untuk menampung air agar bisa dimanfaatkan untuk mandi dan mencuci.

Saat itu, jam mulai menunjukkan pukul 10 malam waktu setempat. Saatnya bagi para santri untuk masuk ke dalam asrama dan meninggalkan segala kegiatan mereka agar segera tidur. Biasanya pada jam ini, banyak kakak-kakak asrama yang pergi ke kolam untuk mencuci pakaian. karena air di kolam pun cukup banyak sehingga mereka berpikir untuk mencuci sekaligus mandi. Toh, esok pagi kolam akan penuh dengan para santri yang hilir mudik untuk membersihkan diri.

Keadaannya gelap. Sebenarnya tidak terlalu juga karena masih bisa melihat wajah seseorang dari dekat melalui sinar bulan yang sudah mulai terlihat sejak awan menutupinya. Ketika mereka sedang asyik membilas pakaian masing-masing. Dan ditemani dengan gurauan agar suasana tidak kaku, datang seseorang yang ketika mendengar ceritanya saja sudah membuat merinding.

Benar. Seorang kakek.
Bagaimana mungkin di pondok pesantren yang notabene ditinggali para kaum muda bisa ada seorang kakek? Dia bukan ustadz ataupun petugas keamanan. Karena tempat tinggal mereka jauh dari tempat pemandian itu. Dan untuk apa juga para ustadz ke kolam?

Tak masalah jika hanya seorang kakek yang sudah tua. Mungkin badan beliau yang mulai membungkuk, sehingga berjalan pun penuh dengan kehati-hatian. Namun yang membuat para kakak-kakak asrama itu menghentikan sejenak aktifitas mencuci baju mereka adalah, terdapat sesuatu yang sangat tidak ingin mereka lihat.
Sebuah celurit atau kapak, yang jelas mereka melihat benda tajam itu menancap di punggung si kakek.

Ironis memang. Tapi semua diam membisu. Sang kakek berjalan perlahan ke arah kolam dan meminta izin untuk mengambil air. Tidak tahu bagaimana caranya, yang pasti setelah itu sang kakek berjalan perlahan meninggalkan mereka yang bungkam seribu bahasa.

Di dalam keadaaan gelap. Dan hanya dengan bantuan sinar bulan saja, pemandangan yang mereka saksikan benar-benar diluar dugaan. Pada awalnya yang hanya berniat untuk sekedar mencuci pakaian, harus melihat kedatangan ‘seseorang’ yang mungkin tidak bisa disebut ‘orang’ lagi. Mungkin dari mereka bertanya-tanya, siapa kakek itu? Dari mana asalnya? Apakah dulunya manusia? Atau hanya jin yang sengaja menakuti mereka?
Suasana benar-benar senyap. Hanya bunyi air yang terus mengalir memenuhi kolam tersebut.

Berselang kepergian sang kakek itu yang entah raib kemana, mereka melanjutkan aktifitas mencuci tanpa membahasnya sedikitpun. Dan masing-masing dari mereka menyimpan ketakutan tersendiri. Meskipun kakak-kakak asrama itu berhasil menyembunyikan ketakutannya, namun mereka sukses membuat para adik-adik asrama bergidik, termasuk saya sendiri yang mendengar kisah merekaa dan mencoba membayangkan kejadian itu dengan mengucap, Na’udzubillahi mindzalik. A’udzubillahi minasyyaithanirrajim.

Bahkan hingga sekarang, kisah itu menjadi seperti sebuah legenda yang biasa diceritakan para santri lama kepada santri baru untuk sekedar membuat mereka takut atau mengisyaratkan untuk tidak pergi ke kolam saat mati lampu dengan seorang diri. Wallahu’alambisshawab.

Cerpen Karangan: Aziz.H
Blog / Facebook: aziz_hussein49[-at-]yahoo.co.id

Cerpen Sang Kakek merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Si Pembual

Oleh:
“Bang, bang pernah nggak lihat setan di rumah kosong itu?” tanya pemuda di samping Ghani “nggak tu!, tapi aku tau kenapa rumah itu bisa kosong” Jawab Ghani sambil mengusap

Misteri Kematian Ana

Oleh:
Tepat pukul 13.00. TENG… TENG… TENG!! Bel pulang sudah berbunyi. “Hore!!!” teriak sekelas ricuh. Kebiasaan siswa-siswi yang tak bisa hilang yakni bersorak gembira ketika bel jam pulang sekolah berbunyi.

Jam Kutukan

Oleh:
Ding… dong… ding .. Jam terus berdentang, suaranya sedikit membuat bulukudukku merinding. Rasanya sih, ingin aku membuang jam itu. Tapi kata mama dan papa itu adalah jam yang bersejarah

Manusia Manusia Gunung (Part 2)

Oleh:
Dyllan benar-benar pahlawan penyelamat. Dia tiba di halamanku tepat ketika aku melangkah pergi. “Ayo, jalan-jalan lagi.” Ajakku. Aku berjalan dengan langkah cepat mendahului Dyllan dan sepedanya. Aku yakin Dyllan

Pulau Yang Menakutkan

Oleh:
Namaku Paul. Umurku 20 tahun. Aku berkerja di kantor papaku. Ayahku seorang pengusaha. Ibuku seorang ibu rumah tangga. Aku memiliki satu kakak dan satu adik. Saat kuliah aku mengambil

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *