Schizophrenia

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 3 January 2014

Dunia dan aku adalah dua kenyataan yang tak pernah saling memahami. Meskipun beribu kali aku bertanya kepada diriku sendiri, aku tak pernah bisa menjawab mengapa aku harus hidup di dunia. Aku tak pernah mengerti mengapa aku harus terlahir. Aku percaya akan keadilian Tuhan, namun aku tidak mengerti mengapa aku berbeda dengan yang lain. Perbedaan ini seakan-akan menjadi sebuah tanda tanya dalam hidupku yang selalu menghantui pikiran. Mengapa aku dari milyaran manusia lain? Apakah aku yang istimewa atau aku yang ganjil?

Namaku Damian, umurku masih terbilang muda yaitu 18 tahun. Saat ini aku sedang terbaring lemah di sebuah rumah sakit entah dimana. Aku sangat kecewa sekali karena maut ajal gagal menjemputku. Ternyata semua yang ada di dunia masih ada, termasuk dia dan aku. Aku tidak takut dengan kematian seperti kebanyakan orang, malah aku menginginkan untuk bertemu dengannya secepatnya namun setiap kali aku mencoba, kegagalanlah yang kuraih seperti saat sekarang ini. Tahukah mengapa aku sangat membenci kehidupan di dunia? Karena dia selalu meyakinkanku bahwa hidup memang tidak berguna. Dia yang dari awal menyuruhku untuk bunuh diri hingga sampai detik ini dimana aku sudah mempercayainya. Namun aku tak pernah berhasil melaksanakan keingannya yang sekarang juga menjadi keinginanku.

Semuanya bermula dari hari itu. Seminggu setelah kematian ibuku.

Aku mendengar jeritan sekaligus bisikan riuh yang terus memanggilku untuk bangun. Sungguh aneh rasanya karena selama ini belum ada yang pernah membangunkanku. Suara panggilan yang aku dengar bukanlah suara ayah, bukan suara siapapun yang aku kenal. Aku masih memejamkan mata karena tak yakin jiwaku berada di antara alam bawah sadar atau memang sudah di dunia nyata. Namun suara itu terus memanggilku dan malah semakin jelas dan keras. Disaat aku mencoba untuk membuka kedua kelopak mataku, pandanganku tidak begitu jelas bahkan buram tetapi aku masih dengan jelasnya mendengar suara-suara yang memanggilku dan aku tak melihat sesosok orang pun. Entah darimana suara itu berasal jika bukan dari seseorang.

Aku masih mendengar suara panggilan itu yang makin lama makin riuh dan keras. Aku melihat sekitar kamarku dan aku tak percaya akan apa yang aku lihat, namun aku yakin aku tidak bermimpi. Jam yang berada tepat di dinding tepat di hadapanku berbeda. Jam yang biasanya mengantung manis di dinding tidak menunjukan waktu melainkan menunjukan wujud aslinya. Mata merah, hidung berlumuran darah, taring tajam, dan tangan keriput dengan kuku panjang yang mencoba meraihku. Itu yang aku lihat pada sebuah -yang sekarang aku bisa bilang sesosok- jam dinding yang tergantung di dinding kamarku. Aku langsung terbangun dan bergegas lari menuju pintu kamar dengan paniknya. Namun disaat aku memegang gagang pintu untuk membukanya, mata dengan bola mata putih dan mulut dengan lidah sangat panjang muncul. Pintu itu sekan-akan mengatakan bahwa aku tidak boleh keluar dari kamar. Aku tak peduli apa yang akan terjadi selanjutnya, aku langsung mendobrak pintu itu tanpa berpikir panjang. Namun saat aku mencoba, lidah dari mulut pintu itu melilit tanganku dengan lidahnya yang panjang. Aku tak dapat mengeluarkan satu kata pun karena rasa ketakutan yang luar biasa membuatku dunia ini seakan-akan berputar.

“Damian, damiannn!” Panggil ayah membangunkanku.
“Apa yang terjadi pa?” Tanyaku heran melihat ayah ada di hadapanku.
“Kamu ngapain coba tidur di depan pintu!” Bentak ayahku.
“Loh? Kok aku disini ya?” Tanyaku heran pada ayah dan diriku sendiri. Aku terdiam sejenak memikirkan hal terakhir yang menyebabkanku bisa tergeletak tertidur di depan pintu. Yang aku ingat hanyalah jam dan pintu dengan wujud yang sangat menyeramkan itu. Aku langsung melihat jam dinding dan pintu kamarku, namun tidak ada yang aneh, semuanya seperti biasa, normal. Aku betul-betul ingat kejadian akan pintu dan jam yang wujudnya berubah menjadi sangat… Apakah yang terjadi tadi hanyalah sebuah mimpi atau memang realitas? Namun kalau itu hanyalah mimpi, mengapa aku bisa terbaring di depan pintu?
“Heh, malah bengong! Udah sana makan dulu, ayah sudah menyiapkan sarapan untuk kamu.” Ketus ayahku dan lalu ia turun keluar kamarku menuju meja makan.

Aku tak yakin kejadian tadi memang terjadi atau tidak. Kejadian itu berada di antara alam bawah sadar mimpiku dan juga kenyataan. Namun aku tak begitu peduli, mungkin itu hanyalah sebuah mimpi aneh yang baru saja kualami. Akupun bergegas keluar kamar dan turun ke bawah untuk sarapan. Sudah ada ayahku yang menunggu untuk makan bersama. Aku hanya tinggal berdua dengan ayahku yang seorang diri. Aku memiliki satu kakak laki-laki namun sudah sejak satu tahun ini, dia pergi entah kemana. Kelakuannya memang sangat buruk, maka dari itu kakak dan ayahku bertengkar hebat hingga akhirnya ayah mengusir kakakku untuk keluar dari rumah dan semenjak itu, aku tak pernah mendengar kabar tentang kakak lagi. Sedangkan ibuku, baru saja meninggal dunia seminggu yang lalu karena kebodohanku.

Kejadian itu sangat konyol, karena itu semua ulahku. Pada malam itu, aku sedang mengadakan balapan motor kecil-kecilan dengan sekumpulan teman-temanku yang ada di dalam komunitas motor ninja. Karena kecepatan yang begitu tinggi dan aku tidak bisa mengendalikannya aku mengalami sebuah kecelakaan ringan karena menabrak sebuah trotoar dan terjatuh dari motor yang kutunggangi. Aku tidak bisa bangun karena kakiku patah, namun teman-temanku tidak berada di tempat itu, tak ada yang melihatku disana, tak ada siapa-siapa. Dan dengan bodohnya, aku malah menghubungi ibuku melalui telefon yang ada di kantong jaketku saat itu. Aku memberitahunya bahwa aku mengalami kecelakaan ringan dan kakiku patah namun tak ada seorang pun di sekitar sini yang bisa aku minta atas pertolongannya. Aku mengatakan kepada ibu untuk jangan memberitahu ayah tentang hal ini. Setelah sekian lama, aku menunggu pertolongan ibuku yang tak kunjung datang, awalnya aku berfikir mungkin ia tak mau menolongku karena aku anak yang sangat bodoh. Namun aku baru mengetahui kenapa ibuku tidak datang menolongku seberapa lama pun aku menunggu pada keesokan harinya setelah aku akhirnya mendapatkan pertolongan malam itu dan langsung dilarikan ke rumah sakit terdekat. Sepulang dari rumah sakit, aku tidak menemukan ibuku dan tak pernah bisa bertemu dengannya lagi.

Ternyata saat ia sedang menuju tempat keberadaanku tadi malam, ia mengalami sebuah kecelakaan maut. Ibuku jelas sangat panik dan langsung pergi mengendarai mobil Audi R8nya dengan diam-diam tanpa sepengetahuan ayahku. Mungkin karena panik dan terburu-buru, ia tidak bisa mengendalikan mobil yang ia kemudikan dengan baik. Ia menghatam sebuah truk dalam kecepataan tinggi dan dengan keadaan tidak memakai sabuk pengaman. Mobil yang ia kemudikan hancur tak terbentuk, sama seperti jasadnya.

Mengetahui hal itu, membuatku sangat terpuruk. Penyesalan yang begitu besar menamparku tepat di muka dengan sangat kencangnya. Aku begitu bodoh, sangat bodoh! Aku anak durhaka! Aku sangat menyesali perbuatanku. Andai aku bisa mengulang waktu kembali, tak akan aku sia-siakan sosok seorang ibu yang begitu menyayangiku. Penyesalan memang akan selalu datang terakhir, setelah kita berbuat suatu kesalahan, maka janganlah melakukan kembali kesalahan itu karena jika melakukannya kembali, kita harus bersiap untuk menghadapi penyesalan. Namun aku tak bisa berbuat apa-apa lagi karena semuanya telah terjadi. Aku juga tak bisa terus menerus terpuruk menyalahkan diriku sendiri, karena memang sudah jalan cerita kehidupan keluargaku dibuat seperti ini.

Sudahlah, jangan mengingat hal yang hanya menimbulkan tekanan, pikirku sejenak. Aku sekarang hanya duduk berdua dengan ayahku yang sedang menyantap sarapan bersamaku. Jujur saja, aku tidak begitu dekat dengannya karena memang dia sangat ketus, keras kepala dan dingin terhadap anaknya. Namun setelah ibuku pergi, ayah merubah sifat dinginnya itu. Ia seakan-akan menggantikan peran seorang ibu sembari menjadi seorang ayah yang bertanggung jawab.
“Damian! Makan dong.” Sahut ayah kepadaku. Aku pun mulai menyantap sarapan yang telah disediakan.

DUK DUK DUK.
“Loh suara apa itu ayah?” Tanyaku heran saat mendengar suara yang tiba-tiba terdengar begitu keras sekali seperti orang yang menggedor tembok.
“Suara apa? Ayah tidak mendengar suara apapun.” Balas ayahku tidak mengerti dengan suara yang aku maksud. Aku terdiam membisu, berpikir darimana suara itu berasal. Apakah aku salah dengar? Tanpa perfikir panjang, aku lanjutkan untuk menyantap hidanganku.

DUK DUK DUK BRAK BRAK DUK.
“LOH?” Sahutku reflek mendengar suara yang keras rusuh seperti yang sebelumnya kudengar. Suara apa itu? Kenapa suara itu muncul setiap kali aku sedang menyantap makanan? Ayahku menatapku dengan heran namun tak begitu peduli dengan apa yang sedang aku bicarakan dalam hati. Hanya aku yang mendengarkan suara-suara itu, sedangkan ayah tidak mendengarnya. Aku memang terganggu namun tak begitu menghiraukan suara itu namun suara itu tak kunjung berhenti setiap kali aku sedang menyantap makananku. Suara yang sangat riuh itu yang entah darimana asalnya sangat mengangguku dan akhirnya aku tidak menghabiskan sarapan yang ayah telah hidangkan untukku.

Seperti rutinitas biasa, aku segera berangkat sekolah dengan mengemudikan mobil Mercedes Benz SLK250 yang baru sebulan diberikan Ayah sebagai hadiah saat umurku beranjak 17 tahun dimana usiaku sudah cukup legal mendapatkan izin mengemudi. Sudah semester akhir aku akan lulus dari bangku 2 SMA dan naik ke kelas 3 SMA. Aku bisa dibilang sebagai anak yang cukup terkenal dalam lingkungan sekolah. Aku mempunyai banyak teman dan seluruh sekolah mengenaliku, bahkan aku tidak mengenal setiap dari mereka. Aku tak tau manakah teman sesungguhnya dan mana teman yang hanya memanfaatkanku karena harta yang kumiliki. Namun aku tak begitu peduli, karena yang penting adalah aku mempunyai banyak teman.

Sesampainya aku di sekolah, seperti biasa, teman-teman wanita yang aku kenal ataupun tidak semuanya berteriak menyambutku. Sudah jadi suatu tradisi setiap harinya aku dan teman-teman dari kumpulan persahabatanku disambut seperti itu. Entah apa yang mereka semua pikirkan sesampainya sangat menghormatiku dan teman-temanku. Aku melihat Alex, Ivan, dan William yang sudah tiba di sekolah.
“Damian!” Sapa Alex, Ivan dan Damian memanggilku.
Aku menoleh dan melambaikan tangan kepada mereka yang sedang berkumpul di sisi ujung gedung sekolah sedangkan aku berjarak lumayan jauh. Aku pun melangkah menghampiri mereka, namun aku melihat sesosok orang yang tak aku kenali, berdiri tepat di belakang mereka. Sungguh aneh, apakah itu orang baru dalam gang kami? Karena belum pernah ada yang berani ikut campur menjadi bagian dari gang kami. Aku semakin penasaraan namun ketika aku mendekati kumpulan teman-temanku, aku tak melihat sosok orang tersebut.
“Loh? Orang yang tadi mana?” Tanyaku langsung pada teman-temanku.
“Orang siapa deh?” Balas tanya William.
“Tadi disini, di belakang lo pada!” Balasku dengan nada yang sedikit panik.
“Ga ada siapa siapa yan, cuman kita bertiga doang kok dari tadi disini.” Jawab Alex.
“Lagian siapa coba yang berani sok deket sama kita ya gak?” Tambah Ivan.
“Iya juga sih, gue kira anak baru yang mau dimasukin gang kita.” Ketusku, karena memang itu yang aku pikirkan saat melihatnya.
“Enggak lah, cuman kita berempat aja yang pantas ada di gang ini.” Balas Alex.
“Mungkin salah liat kali lo!” Seru William meyakinkan bahwa memang yang aku salah lihat.
Apa iya aku salah lihat? Pikirku dalam hati. Tetapi aku melihat sosok orang itu dengan sungguh nyata meskipun dari kejauhan. Ia berdiri tepat di belakang sekumpulan temanku dan memakai jubah berwarna hitam. Ia menatapku dengan begitu tajamnya dengan bola matanya yang berwarna terang dan tersenyum memandangiku dari kejauhan. Entah itu sesosok manusia ataupun mahluk lain, aku tak peduli. Mungkin saja memang penglihatanku yang salah.

Sekolah hari ini sama seperti hari-hari yang sebelumnya, tidak ada yang berbeda kecuali sosok orang yang aku lihat tadi pagi. Aku pun bergegas memasuki mobil untuk langsung pulang ke rumah. Namun disaat perjalanan pulang, aku mendengar suara aneh yang entah darimana asalnya.
Cepat! Injak gasnya penuh! Hei tabrakan dirimu ke truk depan itu! Jangan, tabrakan saja ke pohon besar itu! Apa saja yang penting tabrakan dirimu!
“AAHHH!” Aku pun langsung menjinjak rem dan berteriak sambil memukul kepalaku dengan sangat kencangnya, untung saja tidak ada mobil di belakangku. Suara siapa barusan? Aku mendengar tiga suara biskan sekaligus yang menyuruhku untuk menabrakan diri. Suara itu mirip seperti suara jam dan pintu yang kudengar membangunkanku. Aku tak mengerti mengapa suara riuh itu berbicara kepadaku. Aku mencoba menenangkan diri sejenak dan melanjutkan perjalananku pulang.

Waktu menunjukan pukul 12.00 malam dan aku masih terbangun karena suara itu terus mengangguku.
Hei DAMIAN, ikuti perintahku! Bunuh dirimu! Loncatlah dari jendela kamarmu. Cepat sekarang! Mumpung tak ada seorang pun yang melihat!
Aku berusaha untuk mengabaikan suara itu namun, suara itu terus menghantuiku dengan tak kunjung berhenti berbicara kepadaku. Aku terus memejamkan mata dan mencoba untuk tidur, namun seketika aku mengingat jam dinding dan pintuku. Aku membuka mata perlahan dan melihat jam dinding yang tepat berada di depanku. Aku melihatnya lagi!

Tik Tok Tik Tok Tik Tok.

Jam itu meledekku dengan suara detikan jam yang begitu keras seperti sebuah ledakan bom. Aku menutup telingaku, memejamkan mata dan berteriak histeris karena sudah tak sanggup dengan semua hal aneh yang menghantuiku.
“Damian hei! Ada apa kamu ini?” Teriak ayahku sambil memegangiku karena mendengar kehisterisanku. Aku terus memejamkan mata dan berteriak histeris namun sesaat semua suara itu hilang dalam sekejap. Aku membuka mataku perlahan dan memandang wajah ayah. Ayah terlihat heran dengan apa yang terjadi padaku, dan aku tak menginginkan dia khawatir. Hanya ayahlah satu-satunya keluarga yang ku punya.
“Gak papa kok yah, cuman mimpi buruk.” Jawabku sambil tersenyum.

“Ayah, sekarang jam berapa ya?” Tanyaku memastikan.
“Jam 11 yan. Kenapa? Balas ayahku.
“Jam 11 malam atau siang ya yah?”
“Jelas siang lah yan! Kamu aja baru bangun, tuh lihat matahari lagi terik-teriknya jam segini masa malem!”
Aku terbangun pukul 11.00 siang yang dimana seharusnya matahari sedang memancarkan sinarnya dengan panasnya. Namun aku tidak melihat setitik cahaya pun yang menyinari bumi. Aku menanyakan ayah untuk memastikan bahwa waktu sedang siang begitu juga menanyakan Alex, Ivan dan William yang mempunyai jawaban sama yaitu “Jam 11 siang lah!” Aku tidak mengerti mengapa siang aku biasanya lihat terang seperti orang lain malah menjadi gelap seperti malam yang kulihat. Aku melihat sekliling jendela rumahku, dan yang kulihat hanyalah kegelapan yang menyelusuri jalanan sekitar komplek perumahanku.

“Damian! Heh kamu kenapa?” Ganggu ayah sesaat aku sedang memandangi hari yang gelap.
“Eh gak papa yah.” Balasku dengan senyuman.
“Oh ya udah, sekalian kamu kunciin pintu ya. Papa kebetulan ada tugas ketemu orang.”
“Baiklah yah, hati-hati.” Aku pun melihat ayah yang pergi bertugas meninggalkanku sendirian disaat aku membutuhkan teman. Aku pun bergegas bersiap siap untuk pergi mencari teman di siang hari yang gelap ini. Aku pun mengunci pintu rumah, dan mengendarai mobil favorit SLK250ku menuju rumah Alex yang sekomplek denganku. Aku menyalakan lampu mobil untuk menerangkan jalan karena yang ku lihat hanya jalanan kegelapan tanpa sepancar cahaya pun. Namun sembari aku berjalan, lama kelamaan cahaya lampu mobilku pudar dan pada akhirnya padam. Aku tak bisa melihat apapun karena semuanya gelap tanpa sepancar cahaya pun, layaknya seperti orang buta.

Damian. Kau tak bisa melihat apapun kan. Mati sajalah kau! Sudah kubilang ikuti perintahku! Dunia akan menjadi lebih baik tanpamu! Lagian apakah tujuan dari hidupmu? Tak ada yang memerlukan dirimu Damian. Engkau hanya seseorang yang tak berguna layaknya sampah! Enyah kau Damian!

Aku medengar suara itu lagi dan aku pun dengan tidak sengaja menginjak gas mobil karena rasa takut yang begitu luar biasa dan aku tidak bisa melihat apapun. Aku tak bisa bergerak karena begitu panik dan ketakutan. Dalam sekejap, tiba-tiba cahaya yang begitu terang memancarnya sinarnya sehingga pada aku dapat melihat kembali bahwa siang ini sangat terang. Namun di detik aku melihat siang kembali seperti biasa, aku sedang mengendarai mobilku yang melaju dengan kecepatan yang menyampai 140km/jam di perumahanku dan aku melihat sesosok wanita berpakaian gaun putih dengan rambut yang panjang tiba-tiba berada tepat di depanku. Niatku langsung menginjak rem namun tak kusangka dengan bodohnya aku malah menginjak gas dan kecepatan mobilku malah bertambah dan langsung menghantam wanita tersebut.

CIIIIT. Aku langsung mengerem begitu mendadaknya setelah menabrak wanita tersebut dan bergegas keluar mobil untuk menolongnya. Tabrakan tadi sungguh kencang karena aku merasakan mobilku menabrak tubuhnya. Aku bermaksud untunk bertanggung jawab atas wanita tersebut namun setelah aku keluar dari mobil, aku tidak melihat sosok wanita yang barusan ku tabrak. Tak ada sepercik darah, tak ada jeritan orang, tak ada siapapun selain jalanan yang kosong. Aku yakin aku menabraknya dengan sangat kencang! Aku melihatnya dan aku merasakan bahwa aku memang menabraknya! Tanpa berpikir panjang aku langsung berlari memasuki mobilku lagi.

“Tabrakanmu tak sakit.” Ucap sesosok wanita yang sudah berada di dalam mobilku. Dia memakai gaun putih panjang dengan renda dan juga berambut hitam panjang. Gaun putih yang ia kenakan dipenuhin bercakan darah merah. Wajahnya keriput dan sangat putih. Matanya hanya ada satu di sebelah kanan, sedangkan mata yang sebelah kiri sedang dipegang di tangan kanannya. Mulutnya sobek memperlihatkan tulang di sekitar giginya. Tangannya kirinya patah hingga kulit dan dagingnya juga terpisah, dan ia letakkan di pangkuannya. Tubuhnya dilumuri dengan darah karena dia adalah wanita itu. Wanita tua yang baru saja aku tabrak!

Seluruh tubuhku bergetar tanpa henti, aku serasa tak bisa menggerakan kakiku untuk berjalan dan juga mulutku untuk berteriak. Harusnya kau yang seperti itu Damian! Lihatlah perbuatanmu mahluk bodoh! Kau akan mati seperti itu! Tidakkah kau merasa bersalah? Balasan yang tepat hanya dengan membuat dirimu mati seperti dirinya. Suara itu berbicara lagi kepadaku disaat seperti ini! Aku masih memandang wanita tua tersebut dan ia tertawa lebar lalu tersenyum. Dalam sekejap aku melihatnya terbang ke atas sana namun masih bisa mendengar suara tawanya.

Minggu, 8 Januari 2013, Bakar dirimu! Nyalakan api itu! Biarkan si jantan merah berkobar di sekujur tubuhmu cepat! Kau lebih pantas menjadi abu karena kau memang tak berguna Damian!

Senin, 9 Januari 2013, Ambillah tali itu Damian, yang disana. Ikatkan tali itu ke lehermu dan gantunglah dirimu! Kau tak layak ada di dunia ini! Gantung dirimu Damian!

Selasa, 10 Januari 2013, Ambil pisau itu Damian! Beset pergelangan tanganmu! Kau akan menikmati rasa sakitnya. Kau tak berguna untuk dunia, untuk apa kau hidup?

Rabu, 12 Januari 2013, Tenggelamkan dirimmu ke dalam kali itu! Cepat sekarang, mumpung tak ada yang melihatmu! Kau akan menjadi bagisan dari air itu! Tidak ada yang membutuhkan mu Damian.

Kamis, 13 Januari 2013, Ikuti aku Damian. Lihatlah pemandangan di atas sini sangat indah bukan? Lihatlah dirimu, apakah kau layak berada di dunia yang indah ini? Mau mendengar ide bagus? Lompatlah dari gedung ini! Selagi kau bisa melihat keindahan dunia yang akan menjadi lebih baik tanpamu untuk terakhir kalinya. Dunia akan menjadi sempurna tanpa kehadiranmu. Kau tak berguna! Kau lebih rendah dari sampah yang dibuang! Lihat hanya aku yang setia menemani makhluk tak berguna ini. Maukah kau ikut denganku? Ayo Damian ikut aku. Lompatlah dari atas sini!

Angin malam berhembus kencang menerjang lapisan kulit setiap insan yang merasakan meski rembulan tampil dengan bulat sempurna meski bintang-bintang terang benderang menghiasi malam. Pemandangan yang indah menghiasi malam membuatku menyadari. Suara yang selama ini selalu menemaniku ternyata benar. Aku memang makhluk tak berguna yang tak pantas menginjak bumi ini. Untuk kali ini aku akan mengatakan iya pada suara ini. Kata-kata yang sedikit gila namun ini adanya. Selamat tinggal ayah, aku akan bertemu dengan ibu dan untuk dunia yang tak pernah aku pahami, selamat tinggal.

Damian terlahir sebagai anak laki-laki yang normal yang menjalani kehidupannya seperti anak laki-laki biasa. Hingga akhirnya muncul suara suara aneh dalam pikiran Damian. Suara itu bukan hanya aneh tetapi juga jahat. Suara itu selalu menyuruh Damian untuk melakukan bunuh diri dengan berbagai cara. Suara itu tidak perneh berhenti menghantui pikiran Damian setiap saatnya, bahkan mungkin setiap detik. Damian terlihat aneh, semakin murung dan tak pernah masuk sekolah. Ia juga tidak pernah mendapatkan pengobatan karena ayahnya tidak pernah mengetahui bahwa Damian memang tertekan. Terkadang ia tidak sanggup lagi dan pada akhirnya mencoba melakukan apa yang diperintahkan suara pada malam jumat tanggal 13 Januari 2013 untuk melompat dari sebuah atap gedung tinggi. Dari situlah setidaknya ayahnya melarikan Damian ke rumah sakit dan untuk sekedar mengetahui penyebab Damian bunuh diri. Untungnya usaha bunuh dirinya gagal dan pada akhirnya, ayahnya mengetahui bahwa Damian menderita suatu penyakit gangguan mental. Setidaknya setelah itu suara-suara itu mempunyai nama, yaitu SCHIZOPHRENIA.

Cerpen Karangan: Ristia Sastra
Facebook: Ristia Sastra

Cerpen Schizophrenia merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Misteri Rumah Angker

Oleh:
Minggu ini Yona berkumpul dengan Vela, Ricky, Hesa dan Lyla. Yona tinggal di sebuah desa terpencil yang jauh dari keramaian kota, desa yang penuh dengan kemisteriannya, dan penuh dengan

Anabel (Part 2)

Oleh:
Kami berjelan tergesa menuju kamarku dan melihat Anabel yang menjerit-jerit ketakutan. Aku menarik Anabel ke pelukanku dan menepuk-nepuk pundaknya agar tenang. Anabel masih terisak di pelukanku sedangkan Andra melihat

Deadly Murders (Murder In The Lab)

Oleh:
Detektif James sibuk! Lari-lari seperti dikejar setan, Detektif James lari menuju sekolah 26 lagi, memecahkan pembunuhan lagi. Ia langsung menuju lab lantai 2 tempat pembunuhan terjadi. Korban bernama Alicia

Kalung Liontin Merah (Part 1)

Oleh:
“Aku nggak akan menangis. Hal itu hanya dilakukan oleh orang lemah,” ucapku dalam hati. Tapi ternyata pikiranku tak sejalan dengan hatiku yang telah tergores sekian lama. Tersirat banyak luka

Tak Seorang Pun

Oleh:
“Genaa..!! Sudah jam berapa ini?” Teriakan Ibu membangunkanku di pagi hari yang dingin. Langsung ku bangkit dari kasurku yang agak berantakan dengan sprei sedikit terlepas. Dengan perasaan agak kesal

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

2 responses to “Schizophrenia”

  1. ira ws says:

    Amazing.

  2. eva ambar sari says:

    oh my god oh my no oh my waw
    sangan menakjubkan…jadi pengen tuh ngirimin cerpen

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *