Selena (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Misteri, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 23 January 2018

“Pranggg..” suara gelas jatuh memecah keramaian kantin. Semua mata tertuju pada arah suara itu. Aku yang duduk di pojok kantin hanya menatap kejadian itu sembari menghabiskan segelas es teh dan semangkuk bakso yang tinggal sedikit.

“Hei kalau jalan lihat-lihat dong! Jalan pakai mata!” ujar gadis pertama bersungut-sungut kesal, namanya Michelle. “Heh di mana-mana jalan pake kaki!” ujar gadis yang kedua sembari membersihkan noda jus jambu yang jatuh itu dari seragam abu-abunya, namanya Hasha. Gadis bernama Michelle itu tertegun, kemudian pergi bersama teman-temannya tanpa mengucapkan sepatah kata maaf, pada Hasha. Hasha dan Michelle, kedua gadis yang, .. Populer. Sekilas, wajah mereka memang mirip namun, sifat mereka sama sekali tidak sama. Aku tidak terlalu memperhatikan kejadian setelahnya, aku lebih memilih untuk segera meninggalkan kantin dan menuju kelas.

Sepanjang lorong, beberapa teman menyapaku. Walaupun aku baru di sini, ada beberapa yang sudah mengenalku. Ya… Aku murid baru di sini, ini pekan kedua ku di sini, walaupun beberapa orang mengetahui namaku, tetap saja. Tak ku miliki satu pun teman dekat. Kujumpai beberapa orang yang terlihat bergegas setengah berlari, waktu istirahat 10 menit lagi berakhir. Ruang kelasku berada di lantai 2. Bangunan sekolah baruku ini memang cukup besar. Butuh waktu lama untuk mengelilinginya. Kelasku sudah di depan mata. Aku segera masuk dan duduk di kursiku.

Aku menyapu pandanganku ke seisi kelas, sepi. Hanya beberapa murid yang sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Kuputuskan untuk membaca novel yang kubawa. Hobiku membaca. Baru sekitar 2 halaman kubaca, tiba-tiba ada yang berdiri di sampingku. Aku merasakan adanya nafas yang berhembus di samping kepalaku.

“Hai, namaku Selena” ujar gadis itu ketika aku menoleh padanya. Aku membalasnya dengan senyuman. “Sebenarnya aku juga sudah tau namanya, kenapa pula dia memperkenalkan diri?” batinku. Seperti tahu pikiranku dia menjawab “Aku tahu, kamu pasti sudah tau namaku, tapi tak apa”. Aku mengalihkan pandangan pada novelku kembali.

“Kamu hobi baca?” tanyanya, kini dia memutuskan untuk duduk di sebelahku yang kebetulan kursinya kosong. Aku mengangguk pelan, menoleh pada Selena. Dia tersenyum menatapku lamat-lamat. Aku menghentikan membaca novel dan menyimpannya di kolong meja. “Hey, di sini membosankan mau ke taman?” ajaknya padaku. Aku diam sejenak “Bukankah waktu istirahat sebentar lagi berakhir?” batinku. Lagi-lagi dia seperti tau pikiranku, “Tak apa, guru-guru rapat, seluruh kelas XI free class sampai siang”. Aku akhirnya mengangguk setuju.

Selena sudah berjalan di depanku, aku mengikuti langkahnya yang cukup cepat. Butuh waktu 5 menit untuk sampai di Taman. Bangunan sekolah ini besar, ya aku sudah mengatakannya tadi. Gedung pertama untuk ruang kelas. Gedung kedua untuk fasilitas seperti Lab, kantin, perpustakaan, ruang guru, Aula, dan sebagainya. Sedangkan lapangan ada 3. Lapangan basket, futsal dan sepak bola serta lapangan serbaguna. Taman berada di pojok sekolah di samping lapangan basket.

Kami akhirnya sampai. Udara di sini segar dan sejuk. Ada beberapa pohon cemara besar yang berdiri gagah. Beberapa bangku taman pun tersedia. Aku betah bila disuruh berjam-jam di sini. “Sejuk yaa” ucap Selena. Aku mengangguk setuju. Kami berbincang-bincang banyak, rupanya Selena orang yang asik. Setelah 1 jam berbincang, Selena menawarkan diri agar menjadi tour guide untukku mengelilingi seluruh sekolah. Aku setuju saja sepertinya melihat Selena bertingkah seperti itu lucu.

Hari sudah cukup sore dan mendung ketika kami selesai mengelilingi sekolah. “Hari sudah sore, langit juga mulai gelap sebaiknya kita pulang” ucap Selena sembari menarik tanganku menuju kelas. Setelah membereskan meja dan tas kami bergegas lari. Hujan mulai turun walaupun rintik-rintik ketika kami berjalan setengah berlari di lapangan serbaguna.

Kami mempercepat langkah, khawatir hujan akan semakin deras. Aku berjalan menuju trotoar jalan menunggu angkutan umum. Kupikir Selena akan dijemput oleh supir pribadi dan mobil mewah, ternyata tidak. Selena itu gadis yang misterius. Banyak hal yang terlihat ditutupi olehnya, namun aku tidak ambil pusing.

Sekitar 3 menit menunggu akhirnya angkutan umum merapat ke trotoar jalan. Di dalamnya hanya ada 3 orang penumpang ditambah aku dan selena. Sekolah sudah sepi sejak 1 jam yang lalu, sehingga tak ada yang naik angkutan umum selain aku dan Selena. 10 menit perjalanan, penumpang sebelum kami sudah turun dan bergegas lari ketika sudah membayar ongkos. Hujan semakin deras begitu kami naik ke angkutan umum.

200 meter di depan, tempat aku turun. Namun Selena tak kunjung turun, rumahnya di mana? Aku bertanya-tanya dalam hati. “Nanti juga kamu tahu” ujarnya dengan senyuman misteriusnya. Aku tersenyum pasrah. Aku bergegas lari setelah membayar ongkos. Hujan mulai reda, namun masih rintik-rintik. Aku tak banyak bicara setelah turun dari angkutan umum dan mempercepat langkah khawatir hujan turun lagi. Selena menyejajari langkahku yang semakin cepat.

Di persimpangan jalan aku berbelok kanan, Selena mengikutiku. Itu berarti rumahnya masih 1 komplek denganku. 50 meter di depan, rumahku sudah terlihat, tapi Selena tak kunjung memberi tanda bahwa rumahnya sudah dekat atau tidak, dia terlihat santai.

“Sel, aku duluan yaa” pamitku sembari membuka gerbang. “Iyaa, aku juga sudah dekat kok” jawabnya. “Ya, hati-hati, sampai jumpa besok” ucapku dengan lambaian tangan. Aku naik ke teras yang cukup tinggi sehingga bisa melihat ke arah jalan. Selena sudah menjauh 30 meter, namun masih terlihat. Kemudian dia berbelok ke jalan setapak di seberang jalan. “Apa? dia berbelok ke sana? untuk apa?” batinku terkejut. Yang membuatku lebih bingung lagi adalah di sana sudah tidak ada rumah dan itu jalan buntu! Untuk apa dia ke sana, batinku bertanya-tanya.

Penasaran kan jangan lupa baca chapter berikutnya

Cerpen Karangan: Cippuy
Facebook: Syifa murdiyanto
Hy” namaku cippuy ^^
Maaf ya klo jelek masih Amatiran :v

Cerpen Selena (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sahabat Bumi

Oleh:
Hai, Kawan. Penahkah kalian bayangkan bagaimana keadaan bumi kita tahun 2040? Tahukah kalian bagaimana hidup manusia modern pada tahun tersebut? Baiklah. Jika kalian tak bisa membayangkannya biar aku yang

Teka Teki Si Klimis

Oleh:
“Sil, lihat tuh Fajar sama Bela loh,” Sila hanya bisa tertegun mendengar perkataan temannya itu. Ya, mungkin ada perasaan menyesal bercampur lega yang memenuhi dadanya sehingga terasa sesak. “Hahaha,

Pilihan Kami dan Pilihan Mereka

Oleh:
Keadaan mula-mula berjalan dengan sangat lancar dan sangat amat baik, dari jam pelajaran pertama dan seterusnya. Tapi keadaan mulai menjadi sebuah bencana bagiku saat pelajaran bahasa Indonesia, ibu guru

Kau Temanku Hartaku

Oleh:
Kami adalah teman yang tak pernah lepas dari genggaman. Selalu bersama itulah kami. Bukan teman masa kecil, bukan pula teman dekat rumah, dia adalah temanku semenjak masuk bangku SMA,

Be My Best Friend (Part 1)

Oleh:
Kesempurnaan. Mungkin itulah kata yang tepat untuk menggambarkan kehidupanku saat ini. Harta, paras yang cantik, fasilitas yang mewah, nilai yang selalu di atas rata-rata, dan kebutuhan hidup yang serba

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *