Shadow

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Pertama, Cerpen Misteri, Cerpen Thriller (Aksi)
Lolos moderasi pada: 28 July 2017

Tentang seorang detektif dan seorang psikopat. Ini tentang mereka. Juga tentang masa lalu mereka.

“Distrik lima mengalami masalah. Segera kirim bala bantuan!” monitor di dalam kantor berukuran 10×10 menyala-nyala. Penghuni dari kantor ini, yang tadinya tertidur tiba-tiba terbangun. Kaget dengan pesan suara singkat yang dikirimkan oleh Lena, Kepala Distrik Lima. Lulu segera mengotak-atik komputernya guna mengirim pesan balasan.
Kemudian tangan mungilnya bergerak menelepon sana-sini untuk memintai bantuan seperti Palang Merah, dan juga beberapa tentara lagi untuk berjaga-jaga. Lulu, seorang ahli hacker jenius yang dimiliki kantor pusat ini adalah seorang perempuan. Berwajah mungil.
Pantas saja jika dirinya selalu tak dipercayai oleh teman bahkan keluarganya sendiri kalau dia adalah seorang peretas. Maklum saja, otak jenius be-IQ 145 ini adalah turunan dari Sang Kakek yang hanya diketahui oleh dirinya. Dibandingkan ilmu yang lainnya, dunia hacker adalah hal yang paling menonjol dalam dirinya.

“Apa kau ingin kopi?” suara itu mengaburkan lamunan Lulu. Dari arah pintu masuklah seorang lelaki berbadan tegap, Gilang. Salah seorang detektif kebanggaan kantor pusat.
“Eum, boleh juga. Akan kuganti uangmu nanti,” Gilang mengibaskan kepalanya kemudian mendekat dengan dua buah cup kopi di kedua tangannya.
“Tidak usah diganti. Minum saja ini,” Lulu tersenyum manis menanggapi ucapan Gilang.

“Kali ini kenapa lagi?” tanya Gilang sambil mengamati monitor komputer yang menampilkan sejumlah nama yang tak diketahuinya. Namun jika ditebak, mungkin saja ini nama pemberontak ataupun nama korban.
“Korban meninggal di distrik lima.”
Ucapan Lulu sontak membuat Gilang mendelik. Ia kemudian memfokuskan diri pada monitor yang lainnya, gambarnya berganti menjadi sebuah peta dengan banyak titik berwarna kuning yang artinya siaga juga beberapa titik merah yang artinya bahaya. Oh, ada satu lagi. Titik hitam yang berarti daerah mati. Dan titik hijau yang berarti aman.
“Korban meninggal katamu?” Lulu hanya mengangguk. Jari-jari lentiknya memainkan mouse guna memindahkan data.
“Korban meninggal apa maksudmu?” tanya Gilang—lagi.
“Setahuku korbannya meninggal secara misterius. Tidak ditemukan jejak pelaku selain ukiran kata ‘Moon’ di lengan kiri korban. Sampai sekarang motifnya masih terus diselidiki,” penjelasan Lulu membuat Gilang termenung.

Distrik lima memang yang paling rawan dari semua distrik. Banyak harta yang terpendam di dalamnya dan itu memancing nafsu musuh untuk terus mengeruknya. Itulah mengapa penjagaan diperketat oleh pemerintah. Gilang berpikir, mengapa pelakunya meninggalkan jejak Moon? Ada apa dengan Moon?

“Gilang ke kantorku sekarang juga!”
Perintah dari atasannya membuat Gilang terdiam sebentar. Kemudian ia mengambil topi favoritnya lalu bergegas ke kantor Sang Atasan di lantai 10 gedung ini. Untung sajalah gedung ini memiliki fasilitas lift.
Ia menunggu lift sampai dengan perasaan gusar. Sudah pastilah ada tugas berat yang akan dilimpahkan padanya untuk distrik nomor lima ini. Seminggu yang lalu setelah berbincang dengan Lulu, paginya distrik lima kembali dikejutkan dengan penemuan mayat yang diketahui berjumlah tiga orang di sebuah rumah penduduk. Dan ternyata tiga mayat tersebut adalah seorang penyelundup senjata gelap.
Sejauh ini Si Pelaku menargetkan korbannya pada orang-orang yang bermasalah, seperti penyelundup, pencuri besar, dan yang lainnya. Sejauh ini memang hanya orang-orang bermasalah, namun siapa yang tahu jika Si Pelaku akan mengincar orang baik juga?

“Silahkan masuk.”
Suara dingin dan tegas terdengar di telinga Gilang. Gilang sudah terbiasa dengan suara-suara tak bersahabat itu. “Seperti yang kita tahu, keadaan di distrik lima semakin parah. Anggota detektif yang kuutus pun belum membuahkan hasil. Si Pelaku ternyata begitu samar, seperti bayangan saja!” Atasan bernama Pak Dana itu menggerutu. Gilang hanya diam untuk menyimak.
“Jadi saya putuskan kalau kamu akan mengambil tugas ini! Segera berangkat ke distrik lima pukul dua belas siang nanti.”
Gilang menghela napas. Ia sudah bisa menebak arah pembicaraan ini.

Pukul dua belas tepat. Gilang sudah sampai di distrik lima tujuannya dengan menumpang mobil Palang Merah yang kebetulan menuju ke distrik ini. Gilang mengedarkan pandangannya, ini adalah salah satu titik aman di kota ini. Kota yang hampir mati.
Gilang memutuskan untuk beristirahat sejenak sambil memikirkan banyak strategi. Mulai dari strategi sederhana sampai strategi paling gila. Misalnya, menjadikan dirinya umpan.

Malamnya ia kemudian menghubungi Lulu untuk meng-hack keberadaan Pelaku karena dirinya sudah punya strategi yang menurutnya ampuh.
“Tolong lacak keberadaan Pelaku padaku. Berikan informasinya malam ini juga!” tegas Gilang. Entah hasrat apa yang menghantui dirinya. Ia ingin sekali menangkap Pelaku yang kemungkinan besar seorang psikopat. Dan mengenai ukiran ‘Moon’ ia yakin itu adalah petunjuk terbesarnya.
“Pelaku berada di titik hitam sebelah utara. Pergerakannya lambat menuju ke arah timur. Aku tidak tahu kenapa Pelaku itu menuju ke titik itu. Aku minta kau berhati-hati.”
Gilang menghela napas. Ia memutuskan untuk memakai siasat tergilanya. Menjadikan dirinya umpan. Ia akan memasang chip pelacak yang dibuat oleh Lulu minggu lalu. Jadi, para tentara akan bisa melacaknya dengan mudah. Meski begitu, kecerdasan Pelaku jangan pernah dianggap remeh.

“Jangan mengikutiku terlalu jauh. Aku akan memberikan sinyal jika keadaan sudah sangat berbahaya lalu kalian datang dan segera tangkap pelaku. Menurut opiniku, kemungkinan besar Pelaku adalah seorang psikopat.”
Itulah penjelasan yang Gilang berikan. Ia segera berjalan mengendap-endap menuju sebuah rumah kosong. Menurut alat pelacak yang ia pegang, pembunuhnya menuju tempat ini. Dan itu semakin dekat dengan pintu rumahnya. Ia kemudian membuka pintu rumah tua yang ternyata terbuat dari besi.

Gelap.
Kesan pertama yang ia berikan adalah gelap.

Klik. Brak! Lampu menyala bersamaan dengan pintu yang terkunci.
“Long time no see, Gilang.”
Gilang membatu. Bagaimana mungkin Pelakunya mengetahui namanya dengan begitu mudah? Dan lagi, suara ini adalah suara perempuan. Suara yang samar, entah kenapa terasa begitu dikenalnya. Ia berbalik. Mendapati seorang perempuan dengan hoddie-nya yang berwarna merah bata. Samar ia bisa melihat luka baretan di pipi kiri gadis itu. Mengingatkannya pada seseorang.
“Miss me, huh?” gadis itu berujar congkak. Gilang mengernyit, tak mengerti dengan arah pembicaraan gadis itu.
“Moon?” ucapan Gilang membuat gadis itu terkikik geli.
“Kau melupakanku? Ah sayang sekali…” ucap gadis itu dingin.
“Mengapa kau membunuh mereka?” tanya Gilang tenang. Sementara jauh dalam pikirannya ia masih bergulat memikirkan siapa gadis ini.
“Karena mereka memang pantas mati.”
Jawaban gadis Moon itu membuat Gilang geram. Ia mengacungkan pistolnya ke arah Gadis itu namun entah kenapa, ketika gadis itu tersenyum lirih Gilang membeku. Ia segera ingat siapa gadis itu.

“Bulan?” lirih Gilang. Belum pernah ia berujar selirih ini pada orang. Ia ingat, Moon itu berarti Bulan. Sahabatnya yang tak pernah ia kira.
“Akhirnya kau mengingatku,” terpancar aura kemarahan dalam tatapan itu. Gilang menurunkan pistolnya. Gilang ingat. Dan opini tentang Si Pelaku yang adalah seorang psikopat itu memang benar. Karena sahabat masa kecilnya ini, memang seorang psikopat.

“Mengapa jalanmu menyimpang? Bukankah kamu sudah janji ingin mengejar mimpimu bersamaku?” ucap Gilang tegas.
Bulan terkikik sinis. “Kau meninggalkanku sepuluh tahun lalu. Ingat? Lagipula aku sudah memenuhi mimpiku. Melenyapkan orang-orang yang bersalah.”
“TAPI CARAMU ITU SALAH BULAN!!”
Bulan masih berdiri tegap. Ia kemudian berjalan mendekati Gilang yang bergetar. Sedetik kemudian ia sudah berdiri di belakang Gilang. Dengan mengacungkan pisau lipat di leher Gilang. Namun tanpa ia sadari, Gilang juga mengacung pistol dekat dengan titik ginjalnya.

“Kenapa kamu melakukan ini Lan?” ucap Gilang mengulur waktu.
“Karenamu.”
Srek…
Bulan mengayunkan pisaunya…
DOR!
…dan di saat yang bersamaan Gilang melesatkan pelurunya. Ia bahkan sudah lupa mengabari bala tentara yang berjaga di sekitar rumah ini.

Mereka dulu adalah sahabat dekat. Saling melengkapi satu sama lain. Dan tanpa sadar di hati Gilang hanya ada Bulan, Bulan, dan Bulan. Meskipun Bulan psikopat, namun bagi Gilang, Bulan adalah cinta pertama… dan terakhirnya.

“Kalau begitu, mari.. ki.. ta.. mati… be..r..sama,” lirih Bulan dengan susah payah. Gilang menggenggam tangan Bulan. Lehernya benar-benar kebas karena sayatan dalam yang Bulan buat. Begitupun Bulan yang kian melemah karena tembakan tepat di ginjalnya.
1… 2… 3… mereka menghembuskan napas terakhir mereka di waktu yang bersamaan. Bersama angin hampa.

Siapa sangka jika Sang Detektif akan mati di tangan Sang Psikopat, si cinta pertamanya. Begitupun sebaliknya. Mereka pergi dengan mengubur semua kelengkapan puzzle misteri ini.

Cerpen Karangan: Sheny Dzalika
Facebook: Shenyy

Cerpen Shadow merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cowok Kacamata

Oleh:
Aku percaya kalau di kelas ini tidak ada bullying. Jasmani rohaniku sudah kebal menahan permainan ‘meniadakan seseorang’ selama 2 minggu terakhir. Ini adalah permainan dimana salah seorang dari 42

Anabel (Part 2)

Oleh:
Kami berjelan tergesa menuju kamarku dan melihat Anabel yang menjerit-jerit ketakutan. Aku menarik Anabel ke pelukanku dan menepuk-nepuk pundaknya agar tenang. Anabel masih terisak di pelukanku sedangkan Andra melihat

Rumah Gagak

Oleh:
Berikut adalah salinan dari buku catatan yang ditemukan di Rumah Gagak pada tanggal 21 Maret 2014 atas nama Sarah Lenora. Rabu, 9 Januari 2014 “Sarah, kita akan pindah besok

Kak Ardian

Oleh:
Kring.. Kring… Kring.. Terdengar suara telepon rumahku berdering, yang berada di sudut rumahku dekat lemari berisi penyimpanan gelas-gelas antik koleksi mamaku. Waktu menunjukkan hampir tengah malam. Orang-orang di rumahku

Diary Bernoda Merah

Oleh:
Ini sudah kesekian kalinya aku mengubrak-abrik meja belajar dan lemariku. Namun, tetap saja benda berbentuk segi-empat itu tidak kutemukan. Aku coba mengingat-ingat di mana terakhir kali aku meletakkan buku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *