Sial yang Untung

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Anak, Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 22 December 2016

“Mama! Buka pintunya!” teriak Afri sambil menggedor-gedor pintu bercat putih itu.
Tapi tak ada sahutan sama sekali dari mama. Lampu di beranda dan di ruang depan terlihat telah padam. Pintu rumah pun sudah dikunci. Sialnya ia tak membawa kunci cadangan. Sudah beberapa kali ia menggedor-gedor pintu rumah, tapi hasilnya tetap sama, pintu tak kunjung terbuka.
“Hah, jam 11 malam! Pantas aja lampu sudah dimatikan semua, pasti mama udah tidur. Gimana nasib aku? Masa tidur di luar sih,” keluh Afri melirik jam tangannya.
Afri pun tak kehabisan akal. Ia mengambil hp dari saku celananya dan menghubungi mamanya. Tapi sayangnya hanya terdengar “suara nomor yang anda hubungi sedang tidak aktif.”

Angin malam berhembus agak kencang membuat tubuh Afri kedinginan. Ia tak menyangka keputusannya belajar kelompok di rumah Desi malam hari akan membuatnya tidur di luar. Ia tak pernah bisa menolak ajakan Desi. Gadis yang sudah lama disukainya, tapi Desi tak pernah tau perasaanya. Jangankan menyatakan perasaannya, mengobrol dengannya pun ia sudah sangat gugup.

Rumah terlihat sangat sepi. Maklum saja hanya ada Afri dan mama saja yang tinggal di rumah. Ayahnya masih sibuk mengelola cabang rumah makannya yang baru saja buka di luar kota. Sedangkan si adik masih menikmati liburannya di rumah nenek.
“Mama!” panggil Afri dengan pasrah sambil menggosok-gosok kedua tangannya.

Kreeett…
Pintu rumah tiba-tiba terbuka. Tak terlihat sosok mama yang membukakan pintu untuknya. Yang terlihat hanyalah gelap. Dengan perlahan-lahan Afri masuk ke dalam. Hanya beberapa langkah saja, pintu tiba-tiba tertutup kencang. Ia sangat terkejut dan langsung berjalan ke arah pintu. Ia mencoba membuka pintu, tapi pintu tak bisa dibuka. Ia menjadi takut. Tak biasanya pintu rumah terbuka dan tertutup dengan sendirinya.

Berbekal cahaya hp, Afri melangkah masuk menelusuri setiap ruangan yang ada di rumah. Tak ada apa pun yang mencurigakan. Bahkan mama yang seharusnya ada di rumah pun tak ada. Ia kemudian mencoba menggapai saklar lampu. Tapi tak ada satu pun lampu yang menyala. Padahal lampu di rumah tetangga menyala.

Di kamar yang gelap, Afri mencari-cari senter. Seluruh isi kamar ia obrak-abrik.
“Afri!”
Afri menengok ke belakang. Tapi tak ada siapa-siapa disana. Digubrisnya rasa takut yang mulai tadi sudah menjalar ke seluruh tubuhnya.
“Afri!”
Lagi-lagi suara itu memanggilnya. Ia pun sontak menyorotkan senter yang baru saja didapatnya di sekitar tempat ia berdiri. Lagi-lagi ia tak menemukan siapa-siapa. Afri yang ketakutan langsung menutup pintu kamar dan bersembunyi di balik selimutnya yang hangat.

Suasana yang gelap dan sepi membuat suasana semakin mencekam. Samar-samar terdengan suara langkah kaki beberapa orang menuju ke arahnya.

Kreeett…
Pintu kamar terbuka. Afri membuka sedikit selimutnya dan menyorotkan senter ke arah pintu. Terlihat sosok wanita tua mengenakan pakaian serba putih. Ia terlihat berjalan menuju tempat Afri bersembunyi. Mulut Afri tak henti-hentinya komat-kamit membacakan ayat-ayat Al-Qur’an yang dihapalnya.
“Pergi! Pergi sana! Jangan ganggu aku! Aku nggak pernah ganggu kamu, pergi!” ucapnya ketakutan dengan mata tertutup.
Wanita itu menarik selimutnya dengan paksa. Ia lalu mendekatkan wajahnya pada Afri yang ketakutan. Terdengar suara jantung Afri yang berdetak cepat. Keringat pun tak terasa membasahi tubuhnya. Wanita itu lalu berbisik pada Afri “Selamat ulang tahun sayang.” Spontan saja Afri langsung membuka kedua matanya.
“Happy birthday Afri, happy birthday Afri, happy birthday, happy birthday, happy birthday to you!” Afri dikagetkan dengan lagu itu.
Sebuah kue yang dihiasi dengan lilin yang menyala kini berada di hadapannya. Saat lampu dinyalakan, terlihat dengan jelas ibu memakai pakaian serba putih tersenyum dengan memegang kue ulang tahun. Afri tak dapat berkata apa-apa. Perasaannya campur aduk. Terlebih ayah dan adik ada sudah di rumah. Begitu pula dengan teman-temannya yang juga tiba-tiba muncul dengan membawa kue ulang tahun dengan lilin yang sudah siap ditiup.
“Ibu! Jadi Ibu yang pakai baju serba putih mirip hantu tadi. Berarti yang manggil aku tadi juga Ibu?” tanyanya malu.
“Yap. Ibu tau kamu itu orangnya penakut, apalagi mendengar suara seperti itu saat gelap begini,” ucap Ibu tersenyum.
Afri senyum-senyum sendiri, menahan malu pada teman-temannya yang terus melihatnya.

Afri akhirnya menikmati pesta ulang tahunnya. Dia agak malu apalagi sekarang teman-temannya sudah tau kalau ia sangat penakut.
“Maaf ya! Aku terpaksa ikut ngerjain kamu,” ucap Desi menghampiri.
“Jadi kamu juga…”
“Belajar kelompok itu cuma alasan agar kamu pulangnya malam. Jadi keluargamu dan teman-teman bisa menyiapkan semuanya,” jelas Desi sambil menyerahkan sebuah kado cantik untuknya.
Afri sangat senang menerima hadiah dari Desi. Afri dan Desi akhirnya bisa mengobrol dan tertawa bersama dalam ramainya pesta.

Cerpen Karangan: Betry Silviana
Facebook: Betry Silviana

Cerpen Sial yang Untung merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Alone

Oleh:
Banyak sekali orang-orang yang membuatku kesal di dunia ini. Jujur saja, aku jenuh dan muak dengan sikap mereka yang selalu memperlakukan ku seolah aku bukanlah manusia yang pantas mereka

Mystery of a Game

Oleh:
“Main apaan ya?” tanya salah satu dari mereka. “Aku juga tak tahu,” jawab satunya lagi. Ya. Mereka adalah sekelompok sahabat yang sedang terdiam di bawah pohong yang rindang. Kicauan

Gemblong Buatan Nenek

Oleh:
“Anak-anak, jangan lupa ya! Besok bawa gemblong ke sekolah! Ibu pengen lihat! Seberapa besarnya kalian mencari gemblong,” kata Bu Dede. Kringgg… Jam pelajaran usai, aku pun mencium tangan guruku.

Maafkan Kami Melati

Oleh:
“Uh! aku benci kali sama New Student itu!!!”. Pada saat istirahat, Sepasang sahabat, Bhinta dan Trika membicarakan anak baru di kelas mereka. Nama anak baru tersebut Ialah Putrisa Melatia

Misteri Kertas Hilang

Oleh:
Aku, Icha, Anisa, Endhita dan Leony adalah satu regu di ekstra kurikuler sekolahku. Aku dan teman-teman sepakat untuk memberi nama kelompok kita dengan nama “Melati”. Setiap ada kegiatan Pramuka

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Sial yang Untung”

  1. Puput says:

    Lumayan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *