Sosok Cantik Dalam Mimpi

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 21 November 2013

Akhirnya bel sekolahku berbunyi. Pelajaran matematika pun otomatis berakhir. Setelah lama rasa penat mengumpul di otakku. Buku-buku yang tadinya berserakan, kurapihkan segera dan kumasukkan ke dalam tas. Aku pun langsung menghampiri sahabatku di kelas 85 yang tak jauh dari kelas yang ada di 83.

“Nang, bareng nang!” teriaku dari luar kelas 85.
“Iya sabar, lagi masukin buku nih!” ucapnya sambil menggerutu. Nama sahabatu ialah Yosua Monang dan biasa di panggil Monang alias “Monyet Nangkring”. Begitulah setiap hari kami memanggil namanya. Biasanya kami pulang berlima. Tetapi sahabatku yang lain sedang ada urusan di kelasnya masing masing.

“Ayo balik. Kita berdua ajah nih?” tanyanya.
“Yoman masbrow” jawabku dengan gaya reagge. Kami pun melanjutkan perjalanan kami. Tidak lupa rutinitasku, membeli cimol bang Jones setiap pulang sekolah. Entah kenapa aku selalu berselera setiap melihat bang Jones menjajakan dagangannya.

Sambil berjalan, kami menghabiskan cimol kami. Disaat ingin membeli minum, kami berjumpa dengan Awan. Teman akrab kami sewaktu kelas 7.

“Wan, bareng tidak? Tanya Monang pada Awan.
“Ya udah. Aku juga lagi sendiri nih.” jawabnya. Kami pun kembali melanjutkan perjalanan kami memasuki gang, jalanan menjadi lebih sepi dan sunyi. Padahal jam segini anak-anak sudah pulang sekolah.

Cimolku pun habis. Begitu pula cimol Monang. Seraya meneguk segarnya air mineral, kami melihat ada 3 Pria berseragam SMA. Yang satu orang sedang berjongkok sambil memegan HP, dan yang lainnya duduk di motor sambil memandangi kami dengan tatapan sinis. Sebelumnya tidak ada rasa curiga di benakku. Tapi setelah beberapa saat, tingkah mereka mulai aneh.

“Te, hati-hati. Jangan sampai kepancing.” ucap Awan menenangkan diriku. Aku pun memberanikan diriku untuk berjalan paling depan. Ku rilekskan tubuhku agar tak memancing rasa curiga. Tiba-tiba seorang Pria yang berambut gondrong mencegatku.

“Hey anak muda, cepat beri kami uang.” ucap laki-laki yang berkacamata. Penampilannya yang kece, kurasa tidak cocok sebagai pemalak.

“Maaf bang, saya tidak ada uang lagi. Nih tinggal buat ongkos.” ucapku berbohong.
Aku pun lolos dari pemalakan tersebut. Tak berselang lama, Awan pun juga lolos dari kepungan anak muda tersebut. Namun Monang sepertinya mengalami kesulitan untuk melewati orang orang itu. Terlebih uang seratus ribu di sakunya menonjol keluar. Tentu saja orang orang itu tidak mempercayai kata kata Monang.

“Nang, jangan kasih uangnya nang!!” teriak Awan membela Monang sambil berlari ke arah Monang. Ia kemudian menarik tangan Monang dan berlari menjauhi pemalak tersebut. Tapi tak disangka pukulan keras melayang ke wajah Awan. Pukulan itu membuat dirinya tidak seimbang dan hampir terjauh. Ternyata seorang pria yang berkumis tipislah yang memukul Awan. Spontan, insting pria sejati dalam diriku bergejolak.

“Hey, Sialan kalian!!!” teriaku sambil berlari menghampiri pemalak tersebut. Kupukul sekeras kerasnya pria yang memukul Awan tadi. Pria itu kesakitan sambil memegang bibirnya. Kulihat bibirnya yang berkumis tipis menngeluarkan darah segar. Urusannya makin gawat ini, ucapku dalam hati. Ingin rasanya aku kabur secepat mungkin namun aku tak tega meninggalkan kedua sahabatku ini.

Tiba tiba seorang pria dengan rambut gondrong mengeluarkan sebilah parang dari dalam sweater gombrongnya itu. Sepertinya aku tau kenapa banyak anak STM yang mengenakan sweater gombrong. Ia pun menodongkan parangnya tepat ke arah dadaku.

“Apa maksudmu memukul temanku? Mulai lancang kalian ya.” ucapnya sambil mengancamku. Seketika tubuhku terbujur kaku. Namun tidak ada rasa penyesalan terhadap diriku. Peristiwa tadi membuat rasa percaya diriku semakin tinggi dan semakin menggebu gebu.

“Tadi teman abang duluan yang memukul temen saya. Saya tidak terima bang diperlakukan seperti itu.” belaku.
“Sudah mulai ikut campur kalian. Cepat keluarkan dompet dan HP kalian! Jika tidak, akan kubelah kepala kalian!! gertak pria itu. Aku bingung harus berbuat apa, sementara disana kedua temanku sedang terkapar setelah di gebukin oleh pria yang berkacamata dan pria yang berkumis tipis.

“Sumpah bang uang saya tinggal seribu rupiah. Pas sekali untuk ongkos. Tega sekali kau bang.” ucapku memelas. Namun pria itu malah merogoh rogoh saku kantongku, dan dia pun menemukan dompetku.

“Nah, ini dia. Kalian tidak akan bisa menipu kami” ujarnya. Dia pun menyimpan dompetku di dalam sakunya. “Sekarang ikut kami. Jangan melawan, turuti saja perintah kami” ajak pria itu sambil menodongkan parangnya ke punggungku. Entah kami mau dibawa kemana kami pasrah saja. Sebab tak ada yang bisa kami lakukan selain berdoa dan meminta pertolongan.

Kami pun sampai di sebuah rumah kosong. Di dalam rumah itu kuihat ada beberapa pria yang sedang berpesta nark*ba. Seketika jantungku berdegup kencang. Seperti getarnya daring HP ku. Ya, HP ku bordering di saat yang tidak memungkinkanku untuk menjawab panggilan itu.

“Nah, itu ada suara HP. Keluarinlah cepet keluarin!” pria itu menyuruhku sambil tersenyum. Saat aku akan mengeluarkan HP, ku tukar HPku dengan sebuah pulpen yang ada di tasku.

“Ciaaattt!!!” kutancapkan pulpen runcing itu kuat kuat ke paha pria yang berambut gondrong. Tapi tidak sampai menembus tulangnya.
“Argghhhh… Sakit!!!” jerit pria itu. Aku pun mengeluarkan jurus yang pernah diajarkan guru bela diriku. Aku pun memukul kedua pria yang memegang kedua temanku. Tapi tidak berhasi. Tingkahku itu hanya memperbesar masalah. Akupun dibawa ke rumah kosong dan dipukuli beramai ramai. Rasa sakit yang kurasakan membuat adrenalinku semakin berpacu. Nafasku tersengal sengal karena kekurangan oksigen.

Mereka pun menghentikan aksinya. Mereka memegangku beramai ramai dan mengikat lengan kananku dengan sebuah tali. Lalu pria dengan kacamata mengambil sebuah suntikan yang sudah diisi obat. Akupun memberontak semakin keras, namun itu hanya membuat diriku kehabisan stamina. Saat akan disuntik, aku merasa kaki kananku terasa lepas. Kesempatan itu aku gunakan untuk menendang suntikan itu sampai terlempar keluar rumah.

Tiba tiba seorang pria dengan wajah menyeramkan dan membawa samurai yang panjangnya kira kira 1,5 m datang dari bilik kamar kosong. Sepertinya pria itu sudah memperhatikanku sejak tadi.

“Beraninya kau! Apa kau sudah bosan hidup? Lebih baik kau tidak melawan daripada nanti aku harus mengakhiri hidupmu.” ucapnya mengancamku. Aku bingung sekali. Kulihat Monang dan Awan sudah terikat kuat di sudut ruangan. Mereka pun belum sadarkan diri sejak tadi. Aku benar benar bingung dan sangat bingung.

“Hikaru, ambilkan suntikan tadi. Anak ini harus di beri pelajaran” Ucap pria tadi pada salah satu temannya.

“Siap boss.” pria yang bernama Hikaru pun mengambil suntikan yang tadi ku tendang sampai terlempar keluar. Mereka pun memegang erat kedua kaki dan tanganku. Pria yang memegang samurai, mengambil suntikannya dan menyuntikku. Rasa sakit yang kurasakan sangat menyakitkan. Kepalaku seperti mau meledak. Aliran obat yang mengalir lewat pembuluh darahku, membuat detak jantungku semakin melemah. Perasaan rileks kemudian meyelimutiku. Tubuhku terasa ringan. Aku mulai berhalusinasi. Aku melihat semua teman temanku sedang mengelilingku. Mereka semua tampak bahagia sambil memegang segelas alkohol di tangan mereka. Tiba tiba mereka semua berpamitan dan pulang. Mereka keluar lewat pintu depan dan meninggalkan ku seorang diri. Tak lupa yang terakhir keluar, menutup pintu itu. Aku merasa kesepian. Aku menunggu seseorang datang menjemputku dan membawaku keluar dari rumah kosong ini. Tak berselang lama, seorang wanita membuka pintu dan masuk menjemputku. Wanita itu terlihat cantik dan menawan. Wajahnya yang cantik jelita, mengalihkan duniaku. Aku belum pernah bertemu dengannya, namun dia merasa akrab denganku.

“Hai Ote. Maaf ya membuat kamu menunggu lama.” suaranya yang indah membuatku terhipnotis. Hmmm… Mungkin inilah yang namanya jatuh cinta pada pandangan pertama hahaha.

“Te, kok kamu malah senyum senyum. Ayo kita pulang. Aku sudah sangat rindu ingin bercanda tawa denganmu.” ujarnya. Kenapa dia bisa rindu padaku? Padahal aku sendiri belum tau namanya. Bagaimana dia bisa kenal denganku.

“Ehmm.. Maaf sebelumnya. Aku belum kenal dirimu. Mungkin aku lupa atau kita benar benar belum pernah bertemu. Bisa tolong perkenalkan dirimu?” tayaku padanya. Bukannya aku kepo, tapi memang aku ingin kenal lebih dekat lagi.

“Ote, kamu amnesia yah? Ikhh becanda mulu. Emang nih kamu gak pernah berubah dari dulu hahaha. Ayo te, jangan lama lama. Udah gerimis tuh” ujarnya sambil menunjuk langit langit rumah yang bocor karena air hujan. Aku benar benar bingung darimana bidadari berasal. Aku pun menurutinya dan mengikutinya. Saat sedang menyusuri jalan setapak, kulihat seorang pria tengah menunggangi kuda putih. Pria itu datang menghampiri kami.

“Maaf Ote, wanita yang di sampingmu harus menjalankan tugasnya lagi. Sampai sini kau harus melaluinya seorang diri.” ucap pria itu. Wanita itu pun naik ke kuda putih.

“Te Maaf ya. Sepertinya kita tidak bisa berlama lama. Mungkin lain waktu kita akan bertemu kembali” salam perpisahannya membuat hatiku terasa dingin. Mereka pun pergi. Kulihat kabut putih mulai menutupi kepergian mereka. Kini aku sendiri lagi. Rintik hujan mulai bertambah deras. Aku ingin berteduh, namun tak ada satu pun rumah disini. Kepalaku mulai terasa pusing. Tubuhku mulai terasa berat.

“Haahh!!” aku terbangun dari ketidaksadaranku. Kulihat sekelilingku masih seperti rumah kosong tadi. Sepertinya orang orang tadi sudah kabur dan meninggalkan kami. Monang dan Awan sedang berusaha melepas ikatan mereka.

“Nang, sorry nang soal tadi. Ayo kita kabur, tempat ini gak aman.” aku pun berusaha membuka ikatan Mereka. Dan akhirnya berhasil. Kami pun segera berlari menuju ke rumah kami dan bersiap melaporkan kejadian tersebut. Hari sudah mulai gelap. Namun hiruk pikuk jalanan tetap saja tidak pernah hilang.

Kami pun segera naik angkutan 03. Saat masuk, aku melihat wanita yang tadi masuk halusinasiku. Mungkinkan atau kebetulan. Aku pun memberanikan diriku untuk bertanya.

“Maaf nona, apa kita pernah bertemu?” tanyaku padanya. Aku yakin wanita ini sama dengan wanita yang ada di halusinasiku tadi.

“Maaf mas, sepertinya tidak pernah” jawabnya. Kenapa dia tidak mengenalku? Kenapa keadaan jadi terbalik. Aku bingung sekali. Ah, biarkan sajalah. Mungkin itu hanya kebetulan saja. Aku tidak lagi memikirkan hal itu.

Tiba tiba sebuah truk container menabrak angkutan kami sampai terjungkal ke bibir jalan. Kulihat teman temanku dan penumpang tadi sudah tidak ada. Aku bingung dan merasakan sakit kepala yang luar biasa.

“Te, bangun te. Jangan tidur terus. Dari jam pelajaran pertama kamu gak bangun bangun” suara Vita membangunkanku. Ternyata semua itu cuman mimpi. Mimpi yang cukup buruk. Aku pun terdiam memikirkan hal tersebut. Aku hanya memandangi ruangan UKS yang cukup usang ini. Aku sangat bingung dengan semua ini. Aku tidak tahu kenapa ini bisa mempengaruhi pola berfikirku. Aku hanya terdiam dengan tatapan kosong. Menunggu wanita itu datang untuk ketiga kalinya.

TAMAT

Cerpen Karangan: Otniel Frederik
Facebook: Frederick Otniel Silaban
Follow us : @Otniel_FS

Cerpen Sosok Cantik Dalam Mimpi merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ternyata Dia

Oleh:
“Teng… Teng… Teng…” bunyi jam di rumahku tepat menunjukan pukul 00:00 wib, tiba-tiba, “Aaa…” terdengar suara jeritan dari sebelah rumahku. Aku ketakutan, dan tak dapat tidur semalaman… “Kriing… Kriiing…

Penunggu Lorong Kelas (Part 1)

Oleh:
Sekolah merupakan tempat yang penuh dengan pengalaman masa muda. Tak terkecuali pengalaman horor dan mengerikan. Banyak diantara kita sering mendengar kisah-kisah horror yang disebar melalui bibir ke bibir oleh

Penolong Misterius Rara

Oleh:
Hal yang paling ibu khawatirkan tengah terjadi saat ini. Dua orang pria berbadan besar dan berpakaian hitam terus saja berlari di belakangku. Sepertinya mereka orang jahat, entah apa yang

Five Islands

Oleh:
Jaka menyeka bulir-bulir keringat di keningnya sambil duduk di bawah salah satu Rock Mushroom yang menjulang di sekitar puncak Brahma. Rock Mushroom adalah bebatuan vulkanis yang tercipta dari lava

Hanya Cerita Sesaat (Part 1)

Oleh:
Mentari pagi yang hangat begitu menyilaukan pandangan ini. Jendela kamar yang sengaja kubuka, tampak memantulkan sinar dan menerangi kamarku yang masih berantakan. Kulihat ke arah jam dinding, sudah menunjukkan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *