Story Of A Sly Girl

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 6 June 2018

Sore itu aku bertemu ketua kelas di tengah jalan di atas jembatan.

Di sebelah kanan, di bawah jembatan, air berwarna coklat mengalir dengan lambat dan tenang menuju ujungnya, di sana, matahari nyaris meredup meninggalkan bercak kekuning-kuningan bercampur violet di langit yang keemasan. Kendaraan di samping kiri melintas tak mengindahkanku yang berhenti, sebelah kakiku menyanggah setengah berat sepedaku di atas aspal. Selebihnya sejauh mata memandang membentang tanaman padi yang hampir menguning dan rumput liar dan perumahan di kejauhan.

Rambutnya hitam sampai pinggang meliuk-liuk bersama gaun terusan putih di atas lutut, ujung tepi gaunnya tampak bergelombang karena tertiup angin sore. Ia menoleh ke arahku. Pelan-pelan bibirnya mengulas senyum pertanda senang melihatku tapi matanya tidak. Jejak air masih mengalir di kedua pipinya.

Apa ini… adegan romansa film drama?

Lalu mataku tertuju ke satu arah. Kakinya.

Sejak kapan kaki manusia tak menyentuh tanah. Melayang. Aku baru sadar tubuhnya pun agak transparan.
Apalagi ini, adegan flashback atau film horor?

“… ah, kau melihatnya. Keliatan serem ya. Maaf ya, hehe…” dia terkekeh, dipaksakan.
“tadinya aku mau…” suaranya terhenti, “eh, kamu kenapa pulang telat? sekolah kan udah pulang dari tadi. Tumben banget kamu betah di sekolah …ada apa ini? aku nggak percaya seorang…” dia mendekat, berhenti beberapa langkah. Setengah badannya merunduk menjajarkan jarak di antara kepala kita, mendekatkannya beberapa jengkal dari wajahku. Ia menatapku seolah menerawang jauh ke dalam diriku.

“apa jangan-jangan kamu kena hukuman lagi, heh. Hayo ngaku….?”

Dia mengenalku. Beberapa minggu ini dia memaksa untuk mengenalku. Dia suka hadir di hadapanku tanpa diundang, kadang suka mengurusi ketidak-cuekan-urusan-sekolah terhadapku. Dan kadang dia suka menggodaku. Seperti sekarang.

Aku ingin berkata, kenapa kamu di sini? Kenapa kakimu melayang? ke mana saja selama sebulan ini? apa kamu sudah jadi hantu? Pertanyaan yang banyak. Tapi sayang, aku bukan tipe orang yang punya banyak waktu. Untuk basa-basi. Yang paling penting…

“Kenapa menangis di sini?” tanyaku. Kupastikan suaraku jelas dan praktis.
“Wouw… seperti biasa haha… tidak ada basa-basi. Ngena, dingin, dan langsung menusuk begitu. Dasar tuan Sakamoto.” Dia terkekeh lagi. Kali ini tidak dipaksakan.

Namaku bukan Sakamoto. Aku bukan keturunan jepang apalagi hero dalam kisah ini. Namaku Jupi. Kelas 11 IPA. Ya, namaku kampungan. Jarak tempat tinggal dan sekolahku terletak cukup jauh dari perkotaan. Warga sini mayoritas petani, Bapakku suka mencangkul dan menanam padi sedang Ibuku gemar menanak nasi. Mereka soulmate.

Aku suka anime, game, dan lain-lain. Pokoknya banyak kegiatanku yang asalnya dari Negeri sakura itu. Sayangnya aku cuma sebatas penikmat. Sekali lagi kutegaskan, aku bukan karakter utama di sini. Aku bahkan hampir tak punya waktu selain melakukan sesuatu yang kuanggap utama. Seriously, 24 jam itu bagiku kurang. Sangat kurang. Amat sangat kurang. Dan Sakamoto yang dia sebut tadi adalah karakter utama sebuah film anime. Karakter cool, cooler, coolest, begitu kata narasi opening-nya. Dahiku makin berlipat menjadi keriput dini saat nonton anime tersebut dan dia terbahak setiap kali Sakamoto bergerak, sambil menudingku. Kubilang bergerak karena benar-benar anime itu isinya-gerakan-gerakan-kelewat sakamoto semua. Ah, narasi ini terlalu panjang.

“Jadi, kenapa?” aku sebenarnya tak terlalu ingin tahu. Semua orang pasti punya saat-saat suram. Meskipun hantu… mungkin. Bedanya ada orang (atau… hantu?) yang merasa lebih baik saat menceritakan kisah (beban) mereka pada orang lain, tapi ada juga yang tidak. Aku tak tahu ketua kelas tipe yang mana.

Ketua kelas memicingkan matanya, tertegun cukup lama.

“Sehubung kamu sudah tahu aku telah menjadi hantu, bagaimana kalau temani aku ke pondok es krim?” dia nyengir khasnya. Cengiran yang mampu menekan tombol entah-arteri-mana yang menyebabkan darah menuju ujungnya. Kalau kau tahu maksudku.

Oh, ya, aku lupa bilang, para siswa cowok meng-katogorikan cewek ini cantik. Dia sering menjadi topik utama obrolan harian mereka. Meskipun si pemilik nama tak tahu menahu… mungkin.

“yuk!!”
“Huh?” belum sempat aku menjawab, dia sudah mendorong sepedaku dari belakang, membuatnya oleng ke kiri dan kanan.
“Ayo jalaaan…!!!” serunya, selagi terus mendorongku.
“Oke oke, lepasin. Bahaya tau!” bentakku. Dia tergelak. Tapi tetap lagi-lagi aku menuruti maunya. Ia menempelkan pantatnya di boncengan.

Dalam hati aku merutuk. Cewek ini sangat pintar memonopoliku.

Aku khawathir dengan masa depanku.

bersambung…

Cerpen Karangan: Mella Amelia
Blog / Facebook: Ma mumei
komen dan kritik, oke.

Cerpen Story Of A Sly Girl merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Perempuan Penembus Hujan

Oleh:
Hujan masih meninggalkan jejak pelariannya di tanah ini. Kharisma berbalut angin sepoi yang menerbangkan asa tiap individu. Jejak pelarian hujan, bagaimanapun jua, akan tercium bahkan oleh mikroorganisme di luar

Sekarat

Oleh:
“Mimpi itu lagi,” gerutuku. Baru saja bangun tidur sudah disuguhi mimpi seram. Ah, tidak boleh terlalu dipikirkan. Lagi pula, banyak kerjaan kantor dan mengajar di kelas yang mesti ku

22:22

Oleh:
Langkah pertama. Mataku melirik ke belakang. Angin kencang berhembus di belakangku. Aku merasakannya. Aku mendengarnya. Tapi, bukan angin. Kedua tanganku mulai terkepal. Napasku tercekat. Mataku menatap lurus ke depan.

Aku Kakek dan Foto

Oleh:
Sudah lebih satu jam ku bolak-balikan lembar foto yang berserakan di atas meja kerjaku. Aku lelah dan mulai putus asa. 113 foto, karya terbaiku sudah aku tunjukan, tapi belum

Hanya Cerita Sesaat (Part 2)

Oleh:
“Apa itu?” tanya Mieko kemudian ia menyeruput kuah mie. “Bukan apa apa. Apa itu lezat?” aku balik bertanya pada Mieko. Lalu kumasukkan jepit rambut yang kumainkan ke dalam saku.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *